Langsung ke konten utama

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.
 
Nyatanya, aku tetap tak ingin mendengarkannya. Aku memilih untuk hidup lurus. Aku memilih untuk hidup layaknya anak kecil yang memandang segalanya secara sederhana. Dan aku ingin semua orang memahami keinginanku itu. Aku ingin hidup sederhana sesederhana kata sederhana.

Tolong, jangan membuat rumit rumus matematika yang sudah rumit. Hidup sudah ditakdirkan rumit dengan segala kerumitan yang kita pandang. Satu-satunya cara untuk melaluinya dengan lebih ringan adalah dengan mengolahnya menjadi sederhana. Apa yang bisa diolah dari hidup yang rumit? Yakni, perasaan kita sendiri. Perasaan yang bisa kita olah sendiri.

Kita tumbuh dengan naluri kita masing-masing. Wanita dan pria. Dua jenis kelamin yang bertolak belakang. Dua pemikiran yang amat jauh. Dua kecenderungan yang berlainan. Tapi tolong, jangan buat itu menjadi lebih rumit lagi. Misalnya dengan selalu membicarakan betapa bedanya jenis kelamin kita, haha.

Setiap pilihan selalu dihadapkan dengan kenyataan. Hidup lurus adalah ketika pilihan selalu terwujudkan dalam kenyataan. Atau kenyataan yang memilih pilihan yang kita inginkan. Tapi sayangnya, kubilang di awal tadi, hidup sudah tertakdirkan begitu rumit. Lebih rumit dari orang cadel belajar huruf r. Lebih rumit dari membunyikan huruf u tanpa boleh memanyunkan bibir. Lebih rumit dari mengucapkan bunyi m tanpa boleh menempelkan kedua bibir. Lebih rumit dari menulis huruf i pakai tangan kanan bagi orang kidal. Lebih rumit dari mengucapkan huruf t tanpa boleh menyentuhkan bibir kepada gigi. Dan lebih rumit dari kata rumit itu sendiri.

Aku sering disadarkan bahwa aku masih seorang manusia dengan akal dan hatinya. Aku masih seorang wanita dengan sensitivitasnya. Aku masih seorang gadis kecil dengan air matanya. Aku masih seorang remaja dengan perasaannya yang menggebu-gebu. Sayangnya, aku belum cukup tua untuk menarik kesimpulan atas kehidupan yang sudah hampir berakhir ini. Terlepas dari semua itu, ketika aku memikirkan hal-hal kewajaranku, aku diingatkan kembali kepada pilihan yang pernah aku pilih. Yaitu untuk selalu berusaha hidup sederhana sesederhana kata sederhana.

Aku tidak ingin membuat semua kesenduan menjadi lebih tragis. Aku ingin melihat kesenduan dari sudut pandang anak kecil. Yang sedih hanya sekejap. Sisanya bermain lagi. Meskipun perasaan orang dewasa tak pernah sesederhana itu, bukan?

Tapi, apa salahnya memilih? Aku ingin dan selalu berharap orang selalu bisa memahami pilihanku. Pilihanku untuk selalu berusaha menjaga hati dan mengolahnya sendiri, semoga selalu bisa dibantu oleh-Nya.

Hati ini milik Dia, yang ada di dalam diriku sendiri. Tidak boleh ada seorang manusia pun yang boleh menentukan kapan hati ini harus sedih dan kapan hati ini harus senang. Meskipun kamu, dia, dan mereka berkumpul di seluruh muka bumi ini untuk berusaha menghancurkan hatiku, tidak akan dan tidak bisa. Pilihan kalimat itu, akan selalu aku sirami di lubuk hatiku.
Kata orang, perempuan itu rumit. Dan aku belajar untuk menjadi sederhana. Kata orang, perempuan itu terlalu banyak kode. Dan aku belajar untuk menjadi apa adanya. Kata orang, perempuan itu mudah membawa perasaannya dalam segala hal. Dan aku belajar untuk menganggap semua hal itu biasa. Perasaan sedih, senang, kecewa, marah, sepi, terpuruk, dendam, patah hati, aku belajar menerima itu semua sebagai hal yang biasa. Sehingga jangan menghindar jika kamu telah berbuat kesalahan atau tanpa sengaja mengecewakanku. Aku akan menerimanya dengan wajar. Sewajar kamu hidup. Selumrah kamu bernapas. Bernapas adalah hal yang sederhana. Jangan buatnya rumit dengan membeli oksigen di Apotek. Kecuali takdir yang menentukan begitu.

Kata orang, perempuan itu misterius. Kalau kalimat yang satu ini, boleh aku sanggah? Bukannya aku ingin menjadi perempuan dengan penuh paradoks apa yang terihat dan apa yang dirasa. Aku hanya sedang dan akan terus belajar menjadi perempuan yang mampu menyederhanakan perasaan di hatinya.

Aku percaya, sebuah teko, hanya akan menumpahkan apa isi yang ada di dalamnya. Jika di dalam teko tersebut ada kopi, maka ia akan mengeluarkan kopinya. Jika di dalam teko tersebut ada air mineral, maka ia akan mengeluarkan air beningnya. Begitu pula dengan hati kita. Bagaimana pun paradoksnya kehidupan ini, hati kita akan selalu menumpahkan apa yang menjadi isinya. Bagaiamana pun kita berusaha menumpahkan sesuatu yang lain, pada akhirnya orang hanya akan ‘minum’ apa yang benar-benar ada dalam ‘teko’ hati kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.