Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu
yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa
terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya
saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku
yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air
mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang
ingin diluapkan dengan amarah.
Nyatanya, aku tetap tak ingin mendengarkannya. Aku memilih
untuk hidup lurus. Aku memilih untuk hidup layaknya anak kecil yang memandang
segalanya secara sederhana. Dan aku ingin semua orang memahami keinginanku itu.
Aku ingin hidup sederhana sesederhana kata sederhana.
Tolong, jangan membuat rumit rumus matematika yang sudah
rumit. Hidup sudah ditakdirkan rumit dengan segala kerumitan yang kita pandang.
Satu-satunya cara untuk melaluinya dengan lebih ringan adalah dengan
mengolahnya menjadi sederhana. Apa yang bisa diolah dari hidup yang rumit? Yakni,
perasaan kita sendiri. Perasaan yang bisa kita olah sendiri.
Kita tumbuh dengan naluri kita masing-masing. Wanita dan
pria. Dua jenis kelamin yang bertolak belakang. Dua pemikiran yang amat jauh. Dua
kecenderungan yang berlainan. Tapi tolong, jangan buat itu menjadi lebih rumit
lagi. Misalnya dengan selalu membicarakan betapa bedanya jenis kelamin kita,
haha.
Setiap pilihan selalu dihadapkan dengan kenyataan. Hidup lurus
adalah ketika pilihan selalu terwujudkan dalam kenyataan. Atau kenyataan yang
memilih pilihan yang kita inginkan. Tapi sayangnya, kubilang di awal tadi,
hidup sudah tertakdirkan begitu rumit. Lebih rumit dari orang cadel belajar
huruf r. Lebih rumit dari membunyikan huruf u tanpa boleh memanyunkan bibir. Lebih
rumit dari mengucapkan bunyi m tanpa boleh menempelkan kedua bibir. Lebih rumit
dari menulis huruf i pakai tangan kanan bagi orang kidal. Lebih rumit dari
mengucapkan huruf t tanpa boleh menyentuhkan bibir kepada gigi. Dan lebih rumit
dari kata rumit itu sendiri.
Aku sering disadarkan bahwa aku masih seorang manusia dengan
akal dan hatinya. Aku masih seorang wanita dengan sensitivitasnya. Aku masih
seorang gadis kecil dengan air matanya. Aku masih seorang remaja dengan
perasaannya yang menggebu-gebu. Sayangnya, aku belum cukup tua untuk menarik
kesimpulan atas kehidupan yang sudah hampir berakhir ini. Terlepas dari semua
itu, ketika aku memikirkan hal-hal kewajaranku, aku diingatkan kembali kepada
pilihan yang pernah aku pilih. Yaitu untuk selalu berusaha hidup sederhana
sesederhana kata sederhana.
Aku tidak ingin membuat semua kesenduan menjadi lebih
tragis. Aku ingin melihat kesenduan dari sudut pandang anak kecil. Yang sedih
hanya sekejap. Sisanya bermain lagi. Meskipun perasaan orang dewasa tak pernah
sesederhana itu, bukan?
Tapi, apa salahnya memilih? Aku ingin dan selalu berharap
orang selalu bisa memahami pilihanku. Pilihanku untuk selalu berusaha menjaga
hati dan mengolahnya sendiri, semoga selalu bisa dibantu oleh-Nya.
Hati ini milik Dia, yang ada di dalam diriku sendiri. Tidak boleh
ada seorang manusia pun yang boleh menentukan kapan hati ini harus sedih dan
kapan hati ini harus senang. Meskipun kamu, dia, dan mereka berkumpul di
seluruh muka bumi ini untuk berusaha menghancurkan hatiku, tidak akan dan tidak
bisa. Pilihan kalimat itu, akan selalu aku sirami di lubuk hatiku.
Kata orang, perempuan itu rumit. Dan aku belajar untuk
menjadi sederhana. Kata orang, perempuan itu terlalu banyak kode. Dan aku
belajar untuk menjadi apa adanya. Kata orang, perempuan itu mudah membawa
perasaannya dalam segala hal. Dan aku belajar untuk menganggap semua hal itu biasa.
Perasaan sedih, senang, kecewa, marah, sepi, terpuruk, dendam, patah hati, aku
belajar menerima itu semua sebagai hal yang biasa. Sehingga jangan menghindar
jika kamu telah berbuat kesalahan atau tanpa sengaja mengecewakanku. Aku akan
menerimanya dengan wajar. Sewajar kamu hidup. Selumrah kamu bernapas. Bernapas adalah
hal yang sederhana. Jangan buatnya rumit dengan membeli oksigen di Apotek. Kecuali
takdir yang menentukan begitu.
Kata orang, perempuan itu misterius. Kalau kalimat yang satu
ini, boleh aku sanggah? Bukannya aku ingin menjadi perempuan dengan penuh paradoks
apa yang terihat dan apa yang dirasa. Aku hanya sedang dan akan terus belajar
menjadi perempuan yang mampu menyederhanakan perasaan di hatinya.
Aku percaya, sebuah teko, hanya akan menumpahkan apa isi
yang ada di dalamnya. Jika di dalam teko tersebut ada kopi, maka ia akan
mengeluarkan kopinya. Jika di dalam teko tersebut ada air mineral, maka ia akan
mengeluarkan air beningnya. Begitu pula dengan hati kita. Bagaimana pun
paradoksnya kehidupan ini, hati kita akan selalu menumpahkan apa yang menjadi
isinya. Bagaiamana pun kita berusaha menumpahkan sesuatu yang lain, pada
akhirnya orang hanya akan ‘minum’ apa yang benar-benar ada dalam ‘teko’ hati
kita.
Komentar
Posting Komentar