Aku duduk termenung di
teras depan kelasku. Mataku tak lepas memandangi sosok pria yang ada di kelas
sebelahku. Ia begitu tampan, menawan, dan sangat mengagumkan. Aku
memandanginya, terus memandanginya. Hingga akhirnya dia menyadari, ada seseorang
disini yang sedaritadi memerhatikannya. Ops, aku tak mau dia tahu kalau aku
yang memerhatikannya.
Ketika dia ingin mengetahui kebenarannya, dan melihat ke
arahku. Aku membuang muka, dan berpura-pura menikmati lagu di earphoneku. Padahal tak ada yang
kudengarkan di earphone itu. Dia pun
melanjutkan mengobrol dengan temannya lagi dan sudah tak melihat kearahku. Aku
pun ingin memandanginya lagi. Tapi aku tak mau dia melihatku. Entah mengapa,
disaat aku memandanginya jauh lebih dalam, terasa sesuatu yang membuatku merasa
nyaman hanya dengan melihatnya saja. Ketika aku terus memandanginya lagi,
seketika dia melihat kearahku! Aku tak sempat membuang muka. Aku terdiam saja.
Dan ia tau bahwa daritadi aku memerhatikannya, dan Ia memberikan senyuman
kepadaku. Entah karena ia merasa GR atau memang niat memberikan senyuman
manisnya itu.
Namaku Rara. Lelaki
yang daritadi aku perhatikan itu adalah Raka. Dia sebenarnya sahabatku, tapi
kami tak pernah sekalipun mengobrol bersama. Kami hanya saling memberikan
senyuman, atau sesekalinya sapaan. Itupun aku yang memberi sapaan. Ya jadi
begitulah, kami itu bisa dibilang “Sahabat Maya”. Kami bersahabat maya sudah
cukup lama. Sebenarnya aku capek, aku bosan. Mengapa persahabatan kami hanya
“sahabat maya”? Beberapa kali aku ingin memberanikan diriku untuk memulai
duluan mengajak ngobrol Raka. Tapi apa daya, aku selalu merasa malu ketika aku
hanya memandanginya. Mungkin ada sebuah penghalang, mengapa aku malu. Karena
sesungguhnya aku bukan orang yang pemalu ke teman-teman lainnya. Hanya Raka
saja, setiap ada dihadapannya aku merasa malu. Apa kalian tau penghalang itu?
Ya! Ini mungkin sebuah perasaan yang berbeda. Sebenarnya sejak dulu aku
menyukainya.
Suatu sore, aku melihat
layar hpku menyala. Ada sebuah pesan masuk darinya. Aku senang! Sangat senang!
Sampai-sampai aku sangat lama membalas smsnya, karena sedang asyik menari-nari
merayakan kebahagiaan ini. Aku memang sedikit berlebihan, tapi ya ini buatku
memang kebahagiaan yang lebih. Karena Raka sangat jarang memulai sms duluan.
Aku pun membalas smsnya. Dari situ kami pun smsan seperti biasa.
Ketika topik sudah
habis. Aku bingung apalagi yang harus kami perbincangkan. Akhirnya aku ingin
mengetahui sesuatu, siapa wanita yang sedang disukai Raka. Aku pun mulai
mengetik smsnya.. penuh ragu, penuh cemas, aku takut kecewa. Aaaaa, rasa
penasaran mengalahkan semua rasa ketakutanku. Akhirnya tombol send telah kutekan. Laporan pengiriman
telah sampai. Jantungku berdetak kencang. Mungkin menurut kalian aku ini
daritadi sangat berlebihan, tapi ya beginilah rasa cinta tak dapat dimengerti
oleh siapapun kalau tidak dialami sendiri. Aku yakin kalian pasti mengerti
karena kalian pasti pernah merasakan cinta.
Beberapa menit sesudah
ku kirim sms itu, akhirnya dia membalasnya. Ternyata, bukan aku! Salah aku juga
berharap setinggi langit seperti itu. Tapi ya sudahlah, toh aku sadar kok bahwa
“ketika aku sanggup tuk bermimpi, aku
harus sanggup tuk terjatuh”. Yeah, buat apa aku bersedih kalau pada
kenyataannya dia tak mencintaiku? Toh, aku telah bertekad dan berjanji pada
diriku sendiri kalau cinta yang aku miliki adalah cinta yang tulus. Tak
berharap dia membalasnya. Aku cuma takut kalau dia lupa akan aku jika suatu
hari nanti Raka telah bersama seseorang yang ia cintai.
Aku pun kini mengetahui
bahwa seseorang yang Raka idam-idamkan itu adalah seseorang yang sangat dekat
denganku. Dia adik kelas, namanya Ify. Dia memang cantik, bahkan sangat cantik.
Dia lebih cantik dariku. Parasnya cantik, dan bercahaya. Aku saja sebagai
seorang wanita mengagumi kecantikannya, Apalagi Raka yang seorang lelaki. Tidak
heran jika Raka menyukainya. Kini aku telah mengetahui wanita yang
diidam-idamkan sahabatku yang kebetulan wanita itu adalah adik kelas
terdekatku. Aku berniat untuk mempersatukan mereka. Karena aku pikir, ini
adalah salah satu cara untuk melihat kebahagiaan yang sangat indah untuk
seorang Raka. Aku tak sabar melihat senyuman terindahnya Raka yang akan Ia
berikan kepada dunia ketika suatu saat nati Ify menjadi miliknya. Walaupun
sebenarnya hati kecilku sedikit kecewa, tapi itu bisa kupendam dengan perasaan
beruntungnya aku masih memiliki sahabat seperti Raka. Sekali lagi kukatakan
walau sekedar “sahabat maya”.
Telah
satu bulan lamanya, aku tak pernah mendengar kabar Raka lagi. Walau sesekali
aku melihatnya di sekolah, kini tak ada lagi senyuman manis dari wajahnya yang
sengaja ia berikan kepadaku seperti biasa. Mungkin Raka memang tak melihatku,
atau mungkin ia sudah tak perduli lagi denganku.
Karena
aku sangat merindukan Raka. Akhirnya aku membuka facebookku dan ingin melihat
profilnya Raka. Aku baru saja melihat halaman berandaku, dan melihat berita
terpopuler. Aku sangat kaget! Ternyata sejak 2 hari yang lalu, Raka dan Ify
telah berpacaran. Mengapa Raka tak memberi tahuku? Padahal aku yang memperkenalkan
Ify padanya. Kini pertemananku dengan Ify juga tak sedekat dulu. Sejaaaak,
sejak mereka bersama. Sejak mereka saling dekat. Semuanya berubah! Aku merasa
diasingkan dari kehidupan mereka, layaknya aku memang tak pernah hadir di
kehidupan mereka. Aku pun memustuskan untuk segera sign out dari facebookku.
Aku
galau! Berbagai macam perasaan kecewa ada dalam diriku. Mengapa Raka tak pernah
menghubungiku selama ini? Apa karena dia sedang asyik dengan Ify? Apalagi aku
dengan Raka hanya sekedar “sahabat maya” jadi aku tak berani jika menegurnya
dan menanyakan bagaimana kabarnya. Sahabat maya! Status ini sangat membosankan
buatku, aku capek. Mengapa aku tak bisa menjadi seorang wanita pemberani hanya
untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata? “hai” , “apa kabar?”, “mau
kemana?” mengapa aku tak pernah berani menanyakan hal-hal yang tak cukup
penting, tapi mungkin akan sangat berkesan jika aku melakukannya. Mengapa aku
tak mempunyai keberanian yang tak seberapa itu?
Setelah
aku melihat fakta bahwa ‘mungkin’ Raka telah melupakanku dan ia lebih nyaman
bersama sosok wanita cantik yang selama ini ia idam-idamkan, aku pun lebih
memilih untuk diam dan biarkan semua ini mengalir adanya. Tapi aku tetap
berusaha agar Raka sadar bahwa dia telah lupa akan aku yang selama ini ada buat
dia. Yang berusaha selalu membantunya ketika dia benar-benar membutuhkan
seseorang tuk ada disampingnya.
Setiap
kali kami saling berpapasan, aku yang memulai senyuman itu. Aku ingin
mempertahankan senyuman manis yang selalu Raka berikan padaku, tapi kini telah
berubah menjadi senyuman yang….. ah sulit kujelaskan! Aku tetap mengakui
sebagaimana buruk senyuman Raka, buat aku itu tetap senyuman terindah yang
pernah ada.
Hari
demi hari aku telah berusaha ingin membuat Raka memberikan senyuman dulunya
yang sangat indah. Sesekali aku ingin menghubunginya, tapi rasa gengsi itu
selalu ada! Rasa malu , takut ambil resiko selalu saja menghampiri. Akhirnya
aku pun memilih untuk diam. Toh, kalau Tuhan mengizinkan aku untuk tetap
bersahabat dengan Raka, pasti semuanya akan dimudahkan.
Beberapa
bulan kemudian, aku melihat perkembangan facebook Raka dengan Ify.
Dilihat-lihat mereka sudah tak sedekat dulu, itu sih menurutku. Tiba-tiba Raka online, aku pun salah tingkah dibuatnya.
Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aah apa yang harus kuperbuat?
Karena tak tau apa yang harus kulakukan lagi, aku pun hanya mengklik tombol like pada foto profilnya yang menawan
itu. Tak berapa lama, 1 pemberitahuan muncul pada facebookku. “Raka Stevano mengirimkan sesuatu di dinding
anda”. Oh aku senang sekali! Mungkin ini awal dari persahabatan kami sehingga
seperti dulu lagi. Lalalala, kami pun saling mengobrol antar dinding pada
facebook sehingga tanpa disadari profil Raka penuh dengan tulisanku. Oh aku
merasa tak enak jika pacarnya melihatnya. Tapi yasudahlah. Sekali-kali aku
merasakan kebahagiaan itu tak apa kan.
Keesokan
harinya, aku pun menunggu-nunggu kehadiran Raka di facebook. Akhirnya dia online juga, tapi tak berapa lama ada
sesuatu yang muncul di berandaku. “Raka
Stevano mengubah statusnya dari berpacaran menjadi lajang”. Hah ?! mereka
putus ? kenapa bisa? Padahal Raka sangat tergila-gila pada Ify. Sepertinya sih
Ify yang memutuskan. Seketika aku bingung apa yang harus aku lakukan. Akhirnya
aku lebih memilih untuk diam dulu agar hatinya tenang dulu, aku tak mau
mengganggunya. Aku takut jika aku hadir disaat hatinya terluka, malah akan
lebih melukai hatinya.
Pagi
itu, aku melihat Raka terduduk sendiri di tangga depan kelasnya. Ia terlihat
seperti galau. Tampak murung, perasaan sedih pada raut wajahnya sudah tak bisa
ditutup-tutupi lagi. Aku sangat sedih melihatnya. Sepertinya ini kesempatanku
untuk tidak lagi hanya menjadi “sahabat maya”, tetapi memang benar-benar
sahabat yang selalu ada disaat dia merasa kesepian seperti ini. Aaah aku ingin
menghampirinya! Sungguh aku ingin! Aku pun nekat untuk menghampirinya.. ketika
aku baru melangkahkan 1 kaki kananku.. teman sekelasnya datang menghampirinya.
Ah mungkin ini bukan waktunya. Dia punya banyak teman yang akan membuatnya
nyaman. Sudahlah, aku memang sudah ditakdirkan untuk hanya menjadi “sahabat maya”
nya saja.
Sepulang
sekolah, aku bertekad untuk memberi kabar Raka sekaligus menanyakan kabar Raka
semenjak Ify meninggalkannya. Aku pun mengirimkan sms kepadanya.
To:
Raka Sahabatku
Hei Raka, bagaimana
kabarmu? Aku khawatir memikirkanmu yang telah lama tak mengabariku L
-Rara
Aku
pasrah, dibalas atau tidak smsku yang penting aku telah berusaha. Aku Cuma
ingin dia bersandar di pundakku ketika dia benar-benar butuh pundak untuk
mencurahkan isi hatinya. Aku ingin menjadi sahabat terbaiknya. Tak berapa lama,
hpku berdering. Tak kusangka dia membalas smsku.
-1
new message-
From:
Raka Sahabatku
Hei
juga Rara. Ohya, maaf beribu-ribu maaf ya selama ini aku lupa sama kamu L
Rara sahabatku, kumohon maafkan aku yaaa. Kali ini aku benar-benar
membutuhkanmu. Maukah kamu mendengarkan curahan hatiku?
Sedikit
perasaan senang menghampiriku. Oh ternyata aku masih dibutuhkan oleh Raka,
syukurlah. Aku pun membalas sms itu dan mendengarkan semua curahan-curahan
hatinya, kekesalannya, dan semua kesedihannya. Aku mendengarkan semuanya dan
mengerti apa yang dirasakannya. Kami terus mengobrol di sms, sampai seketika
dia mengirim sms yang membuatku merasa senang.
-1
new message-
From:
Raka Sahabatku
Oh
ya Rara, sungguh aku merasa bersalah atas perbuatanku selama ini yang telah
menyia-nyiakanmu sebagai sahabatku. Kini aku menyadari betapa pentingnya arti
kehadiran sahabat dalam kehidupanku. Kamu yang selalu ada saat aku membutuhkan.
Kamu yang menerima segala kekurangan aku. Terima kasih ya sahabatku J
Secepat
kilat aku membalas sms itu, dan aku mau mengatakan yang sejujurnya. Eits, bukan
tentang perasaan! Ini tentang persahabatan J
To:
Raka Sahabatku
Raka,
aku cuma minta 1 permintaan kalau kamu memang ingin berterima kasih kepadaku.
Aku cuma ingin persahabatan kita tidak sekedar di dunia maya saja, aku ingin
persahabatan kita layaknya persahabatan-persahabatan yang lain. Yang pada
kenyataan, bukan pada dunia maya. Raka, maukah kamu memenuhi permintaan
sederhana itu? Aku mohon J
Seketika
aku mengirimkan sms itu. Akhirnya dia mau memenuhi permintaanku. Sejak saat itu
kami bersahabat layaknya persahabatan pada umumnya. Aku dan Raka sering pulang
bersama, bermain bersama, dan mengerjakan segala sesuatu bersama. Yah walau
perasaan sebenarnya yang kusimpan pada dirinya adalah sayang yang melebihi dari
seorang sahabat. Bagiku semua itu butuh proses. Dan kuyakin persahabatan akan
lebih kekal dan abadi dibanding hanya cinta yang mungkin hanya selewat. Tuhan,
terima kasih atas karuniamu yang terlalu indah ini. Terima kasih engkau telah
ciptakan makhluk indah sepertinya yang akan mengisi hari-hariku yang sangat
bermakna ini.
-Tamat-
Komentar
Posting Komentar