Cerita pendek, karya: Faridah Nur Azizah
Ada
harapan dibalik luka.
Ada
harapan dibalik kecewa.
Ada
harapan dibalik tangis.
Karel,
masih ada harapan dihatiku untuk kamu bilang, tidak.
“Kamu mengharapkan apa?” Tanyanya seakan mendengar
isi hatiku.
“Kamu bilang ‘ini semua hanya bercanda’. Kamu bilang
‘aku tidak akan pergi kemana-mana’. Kamu bilang ‘kamu akan selalu menemaniku
disini’.” Aku tertunduk lemah, pasrah akan ucapanku yang kuyakin tak akan
merubah keputusannya.
“Maaf…” Karel menatap lurus ke depan, tak mau melihat
ke arahku. Mungkin dia takut menangis melihat wajahku yang sudah terlipat-lipat
seperti ini karenanya. Karel memang malaikatku, dia selalu melindungiku dan
tidak pernah membiarkan aku menangis. Dia selalu menghiburku, menyerahkan
pundaknya untukku bersandar, mengerahkan seluruh tenaganya untuk membantuku
menyelesaikan masalah.
Tiba-tiba aku tak dapat
membendung tangisku lagi. Aku terisak dihadapannya. Bahkan aku terisak
karenanya. Pertama kali Karel membuatku menangis dan aku yakin ini bukan
keinginannya. Ah, aku tidak peduli jika harus menangis dihadapannya. Aku tidak
peduli jika harus dimarahi olehnya karena aku menangis. Ah aku tidak peduli,
karena Karel memang sahabat yang pantas ditangisi.
“Masih ada Niko. Orang yang kamu cintai dan
mencintaimu. Aku yakin kamu bisa bahagia bersamanya, tanpa aku.” Bagaimana bisa
aku hidup tanpa Karel? Kalau aku menangis karena Niko, lalu siapa yang akan
bersedia menjadi pundakku? Aku memang mencintai Niko, tapi aku tidak ingin
kehilangan sahabat terbaikku ini.
“Tolong… jangan pergi. I want you to stay.” Ucapku lirih.
“Shella, tolong jangan egois. Apa kalau aku bertahan
disini, kamu mau meninggalkan Niko dan menyerahkan masa depanmu bersama aku?”
Aku makin terisak. Tak
dapat menjawab apapun atas pertanyaan yang sulit itu. Sungguh, aku tidak pernah
menyangka bahwa suatu saat harus memilih antara Niko atau Karel. Mereka orang
penting dalam hidup aku. Tidak seharusnya salah satu dari mereka pergi begitu
saja. Aku hanya diam.
“Kamu gak bisa jawab kan? Itu karena hati kamu
memang tidak bisa memilih aku. Come on Shell,
kita hanya baru bersahabat 3 tahun. Waktu yang cukup singkat untuk kamu masih
bisa melupakan aku.” Kali ini Karel menatapku yang masih tertunduk.
Mencari-cari celah agar Ia bisa melihat ekspresi wajahku atas perkataan yang baru
saja Ia lontarkan.
“Cukup, Rel. Ga semudah itu. Kalau aku mengenalmu,
mengukir kenangan bersama, membuat memori indah selama 3 tahun.. memangnya
untuk melupakanmu juga harus terbayar selama 3 tahun? Membuat namamu terdengar
biasa saja di telingaku, membuat fotomu tidak lagi membuatku ingat akan
kebersamaan kita selama 3 tahun yang tak dapat aku rasakan lagi, membuat semua
hal yang berhubungan denganmu bukan apa-apa bagiku. Selama itu kah? Ahhh,
bagaimana dengan waktu yang sehari terasa setahun ketika kita merindukan
seseorang? Jadi jika 3 tahun terasa 3 abad, begitu? Umurku tidak mungkin sampai
3 abad, jadi kurasa aku akan terus mengingatmu sampai akhir hayat.” Ucapku, dan
aku makin terisak. Kali ini di pundaknya. Lagi-lagi Karel menyediakan pundaknya
untuk aku terisak. Pundak yang suatu saat sangat kurindukan ini.
“Kamu tidak perlu melupakanku. Aku juga tidak akan
melupakanmu. Kamu hanya perlu, merelakanku mencari kebahagiaan yang lain. Kalau
aku disini terus, aku hanya tersiksa melihat cinta sejatimu itu bukan aku. Niko
itu sangat baik, dia selalu memperjuangkanmu, melindungimu tanpa sepengetahuan
kamu.”
“Maksud kamu?” Aku mulai tertarik sedikit atas
pernyataan Karel.
“Kamu tahu kan perkenalan aku sama kamu dan kamu
sama Niko hanya berbeda satu tahun? Itu berarti kita sama-sama telah
mengenalnya selama 2 tahun. Niko tahu aku mencintaimu. Terkadang Niko gabisa
selalu jagain kamu, tapi dia selalu tahu kamu ada dimana dan dalam keadaan apa.
Dia selalu tahu disaat kamu butuh bantuan, dia selalu tahu disaat kamu dalam
bahaya. Dia tidak bisa leluasa menjaga kamu karena mamanya selalu melarang. Dia
tidak ingin menyakiti hati dua wanita yang dicintainya, jadi dia selalu
menitipkan kamu ke aku. Sekarang, dia telah memilih jalannya untuk mencintai kamu.
Mamanya sudah pindah ke Tokyo untuk bisnis, aku jadi lebih tenang menitipkan
kamu ke orang yang memang berhak miliki kamu.”
Aku terdiam, menatapnya
lekat-lekat, mencari kebenaran dalam bola matanya.
“Kamu ingat waktu kamu tersesat di suatu tempat dan
aku datang bersedia mengantarmu pulang? Itu aku disuruh Niko. Kamu ingat waktu
kamu hampir dirampok oleh penjahat-penjahat dan aku datang sebagai pahlawan?
Itu aku disuruh Niko. Aku tidak pernah keberatan jika disuruh Niko untuk
melindungi kamu, karena aku juga mencintaimu. Tapi, satu hal yang perlu kamu
tahu. Ada hal yang aku ikhlas lakuin dan merupakan inisiatif aku sendiri, yaitu
selalu menjadi pundak kamu disaat kamu menangis. Sungguh, itu bukan disuruh
Niko.”
Aku terisak lebih
keras, air mataku kali ini sangat deras membasahi kemeja merah Karel. Bagaimana
bisa aku dicintai oleh dua orang yang sangat berarti di hidupku? Dua orang itu
mengerahkan sisa hidupnya untuk mencintaiku? Dan, aku harus memilih salah satu
sebelum aku tidak punya pilihan untuk memilih lagi. Kata orang, dicintai oleh
dua orang bersamaan itu menyenangkan. Tapi tidak untukku. Ini menyakitkan.
Sungguh.
“Shell, terkadang hidup itu seperti simbiosis
manusia, tanah, dan cacing.” Aku mulai menatap keatas, kearahnya. Melihat
pandangan matanya yang lurus ke depan seperti menerawang sesuatu.
“Banyak manusia yang geli bahkan jijik dengan bentuk
fisik cacing yang basah dan selalu menggeliat. Padahal cacing sangat banyak
membantu hidupnya. Tanpa cacing, tanah tidak akan subur. Jika tanah tidak
subur, tanaman tidak tumbuh dengan baik. Kalau lama-lama seperti itu, tanaman
mati. Lalu manusia makan apa? Manusia hanya berpikir yang paling berjasa atas
tumbuhnya tanaman yang lezat disantap itu adalah tanahnya. Tanpa tanah tanaman
tidak akan tumbuh. Hanya sebatas itu. Tanpa meluaskan pemikiran bahwa tanah
subur karena cacing. Tanah juga, selalu menutupi dan menyembunyikan cacing dari
manusia. Membiarkan manusia menganggap bahwa dia-lah yang paling baik, tidak
menegur dan memperkenalkan cacing kepada manusia yang selama ini sangat
berperan penting bagi pertumbuhannya. Mengertikan maksudku?”
Aku menatap lekat-lekat
kearahnya, meminta penjelasan lebih lanjut atas pernyataannya.
“Shell, begitulah hidup. Terkadang, kita tidak
pernah tahu siapa yang benar-benar menolong kita dalam diam. Ikhlas membantu
kita tanpa harus diketahui identitas dan jasa-jasanya yang terbilang banyak.
Terkadang juga, ada orang yang sengaja menyembunyikan kebaikan besar seseorang
dan membiarkan orang lain salah paham asal diri kita sendiri tidak terganggu
dan merasa nyaman atas kesalahpahaman orang-orang. Terkadang juga, kita tidak
mau tahu tentang dunia luar yang lebih luas bahwa masih banyak yang lebih baik
dari apa yang kita anggap baik. Kita terlalu menutup pintu hati bahwa hanya dia-lah
yang paling baik. Hanya tanah-lah yang paling berjasa. Tanpa melihat cacing
yang lebih berperan penting atas kesuburan tanah.”
Aku terisak lagi, aku
mengerti. Sudah cukup, aku benar-benar mengerti.
“Karena dia, aku membiarkanmu pergi mengejar kebahagiaanmu.
Jangan buat aku menyesal, perjuangkan dia.”
Karel melepaskan
pelukanku, mengusap lembut kedua pipiku untuk menghapus air mataku. Menarik
sedikit ujung bibirku membuat aku sedikit tersenyum. Karel menginginkan aku
tersenyum, dan untuk terakhir kalinya aku memberikannya senyuman tulus yang
dapat kuberikan untuknya.
“Aku selalu punya ruang tersendiri untuk menyimpan
nama kamu, dan senyumanmu itu.”
“Aku janji tidak akan melupakanmu.”
Karel berbalik lalu
pergi menuju pesawat penerbangan ke Jepang yang telah menunggunya. Selamat
tinggal Karel, suatu saat kita harus bertemu lagi.
Bagus Far seperti biasanya. Eh bantuin aku promote dan memperbagus blog juga dong. Lupa cara ngehiasnya --"
BalasHapusmampir ya ke sofwanfaza.blogspot.com
sama-sama tulisan tapi beda tipe. Baca aja dulu, jangan lupa komentarnyaa
Bantu promotenya gimana? aku jg gabiasa promote(?)
BalasHapusSok, yg mana yg mau diperbagus?
okeoke, aku ketok rumahmu ya.