Aku menulis tulisan ini ketika aku berumur 16 tahun lebih 4 bulan 14 hari. Sengaja kutuliskan agar suatu saat nanti ketika aku membaca tulisan ini kembali, aku merasakan adanya perubahan cara berpikir yg lebih baik lagi dari saat ini. Agar aku tidak menjadi manusia yang merugi.
Sebenarnya aku juga bingung apa inti yg akan kutuliskan di tulisan kali ini, yg jelas aku berniat untuk mengutarakan sebuah makna. Sebuah perjalanan panjang kehidupanku selama 16 tahun lebih ini.
Telah banyak hal yang kulalui. Aku akan menjadi manusia yg merugi jika tidak pernah merenungkannya.
Setiap manusia pernah memiliki titik jenuh. Titik dimana mencari-cari sesuatu yg mereka sendiri tidak tahu apa.
Kadang aku bertanya-tanya, kehidupan itu apa? apa sebenarnya yg sedang aku cari?
Selama perjalanan kehidupan ini aku terus saja mencari, dengan menambah ilmu pengetahuan setiap harinya
Ketika aku menginginkan penampilanku dikagumi banyak orang, ketika hal itu terjadi... lalu apa? apa sih? toh, begitu saja rasanya.
Ketika aku menginginkan menjadi juara kelas, ketika hal itu terjadi... lalu apa? apa sih? toh begitu saja rasanya.
Ketika aku menginginkan punya uang banyak, ketika hal itu terjadi... lalu apa? untuk apa semua uang ini? toh begitu saja rasanya.
Padahal baru 16 tahun roda itu berputar, menyadarkanku akan banyak hal. Mungkin semua keinginanku itu, adalah ego dan nafsu belaka. Karena sejatinya, aku tahu, bahwa bukan itu yg aku cari. bukan. ada sesuatu yg lebih berharga dari semua keduniawian itu.
Ternyata aku tidak butuh semua hasil keduniawian itu kalau ternyata hati selalu saja tidak puas. Seperti hanya disetir oleh nafsu setan. Ternyata aku tidak bahagia hanya karena mendapatkan kekuasaan, penghargaan, dan hal-hal yg membuat mual dengan puji-pujian orang lain.
Jawabannya sederhana, aku hanya membutuhkan senyuman kebahagiaan dari setiap orang.
Aku ingin bahagia. Dan kini aku tahu bagaimana cara membuat diri aku bahagia. Aku harus bisa membuat orang lain bahagia. Bahagia itu bukan tentang materi. Bukan tentang kekuasaan, kenikmatan, dan uang yg banyak. Tapi bahagia ada di dalam hati.
Tidak ada satu orangpun yg dapat menghancurkan hati yg telah bahagia. Meskipun orang itu telah dikecewakan ribuan kalinya.
Katanya, untuk dapat mengenal Tuhan, kita harus dapat mengenal diri sendiri.
Benar. Maka di tulisan ini aku sedang berusaha mengenal diri sendiri untuk dapat mengenal Allah lebih dekat. Dan kedekatan itu tidak akan bisa dikatakan dengan tulisan-tulisan, tapi hanya bisa dirasakan dengan hati.
Aku mengenal diriku, ternyata aku tidak bisa membenci satu orang pun dalam hidup ini. Aku terlalu rapuh untuk menilai seseorang buruk. Karena aku selalu percaya tidak ada orang jahat, hanya ada setan jahat yg berhasil mempengaruhi manusia. Setiap manusia memiliki hati nurani. Ada orang yg sering menyangkal hati nuraninya sendiri, ada yg mendengarkannya dengan seksama dan mengikutinya. Tergantung pribadi masing-masing.
Ketika ada manusia yang selalu menyangkal hati nuraninya, aku tidak ingin menjauhinya. Justru aku ingin membantunya. Aku ingin lebih mencintainya sebagai makhluk Allah yang butuh pertolongan.
Maka dari itu tidak jarang mereka menyebutku bodoh masih mempertahankan teman yang jahat kepadaku, yang tidak pernah memperdulikanku ketika aku selalu mempedulikannya. Entah kenapa aku selalu merasa punya tanggung jawab untuk melindunginya, meskipun sebenarnya seharusnya itu bukan tanggung jawabku.
Bencilah aku, dan aku akan lebih mencintaimu.
Mungkin segini dulu coretan unek-unek hatiku. Mohon maaf kalau aku terlihat moody, kadang rapuh, menangis. Bukan, bukan karena aku rapuh. Tapi aku selalu bertanya-tanya, apalagi sih yg aku cari ketika keduniawian itu tak lagi dapat membahagiakanku? Maka saat itu aku merindukan, surga-Nya.
Sebenarnya aku juga bingung apa inti yg akan kutuliskan di tulisan kali ini, yg jelas aku berniat untuk mengutarakan sebuah makna. Sebuah perjalanan panjang kehidupanku selama 16 tahun lebih ini.
Telah banyak hal yang kulalui. Aku akan menjadi manusia yg merugi jika tidak pernah merenungkannya.
Setiap manusia pernah memiliki titik jenuh. Titik dimana mencari-cari sesuatu yg mereka sendiri tidak tahu apa.
Kadang aku bertanya-tanya, kehidupan itu apa? apa sebenarnya yg sedang aku cari?
Selama perjalanan kehidupan ini aku terus saja mencari, dengan menambah ilmu pengetahuan setiap harinya
Ketika aku menginginkan penampilanku dikagumi banyak orang, ketika hal itu terjadi... lalu apa? apa sih? toh, begitu saja rasanya.
Ketika aku menginginkan menjadi juara kelas, ketika hal itu terjadi... lalu apa? apa sih? toh begitu saja rasanya.
Ketika aku menginginkan punya uang banyak, ketika hal itu terjadi... lalu apa? untuk apa semua uang ini? toh begitu saja rasanya.
Padahal baru 16 tahun roda itu berputar, menyadarkanku akan banyak hal. Mungkin semua keinginanku itu, adalah ego dan nafsu belaka. Karena sejatinya, aku tahu, bahwa bukan itu yg aku cari. bukan. ada sesuatu yg lebih berharga dari semua keduniawian itu.
Ternyata aku tidak butuh semua hasil keduniawian itu kalau ternyata hati selalu saja tidak puas. Seperti hanya disetir oleh nafsu setan. Ternyata aku tidak bahagia hanya karena mendapatkan kekuasaan, penghargaan, dan hal-hal yg membuat mual dengan puji-pujian orang lain.
Jawabannya sederhana, aku hanya membutuhkan senyuman kebahagiaan dari setiap orang.
Aku ingin bahagia. Dan kini aku tahu bagaimana cara membuat diri aku bahagia. Aku harus bisa membuat orang lain bahagia. Bahagia itu bukan tentang materi. Bukan tentang kekuasaan, kenikmatan, dan uang yg banyak. Tapi bahagia ada di dalam hati.
Tidak ada satu orangpun yg dapat menghancurkan hati yg telah bahagia. Meskipun orang itu telah dikecewakan ribuan kalinya.
Katanya, untuk dapat mengenal Tuhan, kita harus dapat mengenal diri sendiri.
Benar. Maka di tulisan ini aku sedang berusaha mengenal diri sendiri untuk dapat mengenal Allah lebih dekat. Dan kedekatan itu tidak akan bisa dikatakan dengan tulisan-tulisan, tapi hanya bisa dirasakan dengan hati.
Aku mengenal diriku, ternyata aku tidak bisa membenci satu orang pun dalam hidup ini. Aku terlalu rapuh untuk menilai seseorang buruk. Karena aku selalu percaya tidak ada orang jahat, hanya ada setan jahat yg berhasil mempengaruhi manusia. Setiap manusia memiliki hati nurani. Ada orang yg sering menyangkal hati nuraninya sendiri, ada yg mendengarkannya dengan seksama dan mengikutinya. Tergantung pribadi masing-masing.
Ketika ada manusia yang selalu menyangkal hati nuraninya, aku tidak ingin menjauhinya. Justru aku ingin membantunya. Aku ingin lebih mencintainya sebagai makhluk Allah yang butuh pertolongan.
Maka dari itu tidak jarang mereka menyebutku bodoh masih mempertahankan teman yang jahat kepadaku, yang tidak pernah memperdulikanku ketika aku selalu mempedulikannya. Entah kenapa aku selalu merasa punya tanggung jawab untuk melindunginya, meskipun sebenarnya seharusnya itu bukan tanggung jawabku.
Bencilah aku, dan aku akan lebih mencintaimu.
Mungkin segini dulu coretan unek-unek hatiku. Mohon maaf kalau aku terlihat moody, kadang rapuh, menangis. Bukan, bukan karena aku rapuh. Tapi aku selalu bertanya-tanya, apalagi sih yg aku cari ketika keduniawian itu tak lagi dapat membahagiakanku? Maka saat itu aku merindukan, surga-Nya.
Komentar
Posting Komentar