Bertepatan dengan pesta demokrasi itu, ternyata hatiku pun sedang berpesta. Sampai pada akhirnya pesta itu berakhir dengan suasana duka.
Tatapan matanya tidak sama seperti dulu. Tatapan teduh itu. Tatapan dalam dan hangat itu kini berubah menjadi tatapan iba. Tatapan datar yang ingin cepat-cepat menyelesaikan semua janjinya. Terpenuhilah sudah hari itu.
Aku tahu dia mengajakku makan disini tidak lain karena hanya ingin memenuhi janjinya. Maka akupun berusaha sepenuh hati untuk tidak terbang hanya karena diajak makan. Dari pagi moodku sudah porak poranda, sehingga aku berniat untuk menelfonnya, dengan miss call 2kali, dan untuk yang ketiga kalinya barulah ia angkat.
Aku merindukan suaranya itu. Suara yang selalu membuat aku tiba-tiba mulas, karena deg-degan jantung sudah terlampaui tahapnya. Selalu saja begini. Ketika aku telah menyiapkan beribu kata yg ingin kusampaikan, ternyata ketika dihadapi oleh orang yang kita cintai, tidak semudah itu untuk membuka mulut. Bibir tiba-tiba terkunci. Kelu. Seperti bisu.
Ah, di percakapan kaku itu, tiba-tiba aku menitikkan air mata dan nada suaraku berubah. Tidak, aku tidak ingin dia mendengar isakku jika aku tetap menelfonnya, sebaiknya aku matikan telfonnya sehingga dia tidak pernah tahu betapa hancurnya hati ini hanya ketika mendengar suaranya. Karena aku terlalu merindukannya, setelah sekian lama tertimbun dalam hati.
Tiba-tiba dia mengajakku makan, dengan keterangan "nanti". Absurd banget maknanya membuat moodku saat itu naik turun. Disatu sisi aku senang, tapi disisi lain aku takut kecewa untuk yg kesekian kalinya.
Akhirnya aku memilih tidur dan berusaha melupakan itu.
Aku terbangun pukul 02.30, dan bertanya kembali, "kapan?"
Kemudia dia menjawab, jam 3. Aku terkejut dan langsung bergegas dengan perasaan linglung karena nyawa belum terkumpul sepenuhnya. Seringkali aku salah ambil baju dan panik-sepanikpaniknya. Jam 02.55 dia otw dan jam 03.09 dia sampai. Cepat sekali. Dandananku pun tidak maksimal. Padahal dia orang spesial. Tapi biarlah, aku tidak perlu menjadi orang lain.
Sudah sekian lama tidak bertemu, aku canggung dengannya. Perasaan antara marah karena kecewa, dengan senang karena bisa melepas rindu. Aku duduk di belakangnya, memegang saku jaketnya, memejamkan mata, dan menikmati setiap desahan angin yg menerpa wajah. Aku mencintainya seperti udara. Membantuku hidup sampai aku mati. Meski udara itu terkadang, berpolusi.
Sampai di tempat makan yang pernah dia janjikan. Dia selalu berjalan di depanku, seperti hanya pergi sendiri, dan menganggapku tidak ada disini. Meski sering kali melihat ke belakang, aku tetap merasa terasingkan. Separuh hatiku ingin pulang karena aku sudah tahu jawabannya, bahwa aku tidak dihargai lagi. Tapi separuh hatiku ingin tetap disini bersamanya, meskipun saat itu waktu harus berhenti berdetak.
Aku membuang jauh-jauh perasaan kalut dan sedih. Aku mencintainya tulus. Tidak peduli dia mencintaiku atau tidak, karena cinta yg tulus selalu bahagia hanya karena tahu bahwa dia baik-baik saja.
Entah kenapa aku tiba-tiba merasa mual. Maagku kambuh. Baru ingat dari pagi belum makan. Sudah biasa sih. Tapi kali ini beda. Harusnya tadi pagi aku sarapan agar bisa makan dengan baik ketika bersamanya. Tapi apalah daya, dari pagi moodku kurang baik sehingga tidak nafsu makan juga. Akhirnya aku tidak menghabiskan makanannya, karena tidak kuat lagi.
Sepanjang perjalanan makan, aku dan dia (bukan kita) hanya mengobrol seperlunya. Sebenarnya hati tlah berkata banyak, tapi ketika kusadari bahwa aku hanya mengeluarkan sepatah kata yang tak jelas.
Aku merutuk diri sendiri. Marah pada diri sendiri. Tidak seharusnya aku seperti ini.
Aku menyuruhnya menghapus semua conversation aku dan dia meski ku-cancel karena terlalu lama. Aku hanya ingin tahu respondnya. Dia mau saja aku suruh begitu. Aku saja susah payah menghapusnya karena sayang sekali dgn sms itu, tp dia dengan entengnya menuruti permintaanku.
Aku menyuruhnya memotretku dgn kamera handphonenya dan melarangnya utk menghapusnya. Aku hanya ingin dia selalu mengingatku sebagai orang yg selalu mengingatnya. Aku berusaha memotretnya juga, aku menyuruhnya tersenyum tapi dia tidak mau. Apakah dia tidak pernah bahagia ketika bersamaku? Kulihat foto dia bersama teman yg lain selalu tersenyum. Tapi ketika bersamaku? Mungkin bukan aku yg dapat membuatnya tersenyum. Tapi dia dapat membuatku tersenyum. Meski dia tidak melakukan hal lucu utk membuatku tersenyum, tapi begitulah cinta. Hati yg bahagia dengan hanya mencintai, sudah menjadi kunci senyuman ikhlasku.
Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin hari ini berakhir. Tidak ada jawaban.
Aku mengatakan bahwa aku hanya ingin sama kamu. Tidak ada jawaban.
Aku putus asa. Ada tatapan kelelahan dalam matanya. Seperti lelah mendengar bualan-bualan sampahku. Tidak bisakah dia membedakan mana yang tulus dan dusta?
Aku dan dia pulang.
Diperjalanan sebenarnya aku hanya ingin memejamkan mata agar aku tidak pernah mengingat kejadian ini sebagai masa lalu yg tidak dapat kembali. Aku takut di masa depan, aku hanya mengingat masa lalu.
Aku pun mulai menyerah. Aku memilih untuk bahagia. Aku membuka mata kembali dan melantunkan lagu-lagu jkt48, lagu penyemangatku selama ini. Karena meskipun liriknya berduka, nada pembawaannya tetap bahagia. Itu kenapa aku tetap bisa tersenyum walau air mata kian deras mengalir di pipi.
Dia mendengar aku menyanyikan lagu sister group favoritnya. Sister group yg selalu dia kejar kemanapun konsernya. Begitu besarkah pengorbanannya? Aku terenyum, dia pejuang yg tulus. Meski bukan aku yg diperjuangkannya.
Diperjalan aku terus bertanya tentang banyak hal kepadanya, karena kupikir ini saat-saat terakhirku bersamanya dan aku tidak boleh menyianyiakan kesempatan untuk bertanya banyak tentangnya. Dia hanya menjawab seperlunya. Meskipun sedih, tapi aku tidak mau kesedihan menyetirku begitu saja.. Aku tetap bertanya dengan nada ceria.
Sampai di rumahnya, aku turun dari motornya.
"Makasih, ya." ucap aku dan dia bersamaan. Aku pun tersenyum. Senyum terakhir yang begitu bahagia. Are you thinking what I'm thinking?
Matanya seperti diary, digembok, rahasia. Sehingga aku sulit menerka-nerka.
Setelah hari itu, aku mendapatkan jawaban atas berbagai macam pertanyaan besar yg aku sendiri tidak pernah tahu pertanyaannya, apalagi jawabannya.
Ternyata pertanyaan besar itu:
Apa sih yang kamu inginkan tentang dia?
Jawabannya:
1. Aku ingin selalu berada disampingnya kala dia kesusahan.
2. Aku ingin dia selalu memberiku kabar kala dia bersedih.
3. Aku ingin selalu melihat dia bahagia. Bahkan melihat dia tertawa saja tidak pernah. Siapapun yg dapat membuatnya tersenyum, aku ikhlas merelakannya.
4. Aku ingin dia sukses dunia dan akhirat.
5. Aku ingin dia menjadi anak sholeh yg berbakti.
6. Aku ingin menjadi teman terbaik dalam hidupnya.
7. Aku ingin dia selalu berada pada jalan yg benar.
8. Aku ingin dia selalu mengingatku sebagai orang yg selalu mengingatnya, dan tersenyum hanya karena mengingatku.
Intinya aku ingin dia bahagia, dengan, atau tanpa aku.
Karena hal yg paling menyakitkan di dunia ini adalah ketika orang yg kita cintai, tidak bahagia bersama kita meskipun kita selalu merasa bahagia bersamanya.
Satu-satunya hal yg membuatku bisa bertahan mencintai tanpa perlu dicintai adalah: tahu diri. Siapa sih aku ini sampai orang lain harus mencintaiku?
Rabu, 30 April 2014.
nOTANJUBI OMEDETOU!!
Tatapan matanya tidak sama seperti dulu. Tatapan teduh itu. Tatapan dalam dan hangat itu kini berubah menjadi tatapan iba. Tatapan datar yang ingin cepat-cepat menyelesaikan semua janjinya. Terpenuhilah sudah hari itu.
Aku tahu dia mengajakku makan disini tidak lain karena hanya ingin memenuhi janjinya. Maka akupun berusaha sepenuh hati untuk tidak terbang hanya karena diajak makan. Dari pagi moodku sudah porak poranda, sehingga aku berniat untuk menelfonnya, dengan miss call 2kali, dan untuk yang ketiga kalinya barulah ia angkat.
Aku merindukan suaranya itu. Suara yang selalu membuat aku tiba-tiba mulas, karena deg-degan jantung sudah terlampaui tahapnya. Selalu saja begini. Ketika aku telah menyiapkan beribu kata yg ingin kusampaikan, ternyata ketika dihadapi oleh orang yang kita cintai, tidak semudah itu untuk membuka mulut. Bibir tiba-tiba terkunci. Kelu. Seperti bisu.
Ah, di percakapan kaku itu, tiba-tiba aku menitikkan air mata dan nada suaraku berubah. Tidak, aku tidak ingin dia mendengar isakku jika aku tetap menelfonnya, sebaiknya aku matikan telfonnya sehingga dia tidak pernah tahu betapa hancurnya hati ini hanya ketika mendengar suaranya. Karena aku terlalu merindukannya, setelah sekian lama tertimbun dalam hati.
Tiba-tiba dia mengajakku makan, dengan keterangan "nanti". Absurd banget maknanya membuat moodku saat itu naik turun. Disatu sisi aku senang, tapi disisi lain aku takut kecewa untuk yg kesekian kalinya.
Akhirnya aku memilih tidur dan berusaha melupakan itu.
Aku terbangun pukul 02.30, dan bertanya kembali, "kapan?"
Kemudia dia menjawab, jam 3. Aku terkejut dan langsung bergegas dengan perasaan linglung karena nyawa belum terkumpul sepenuhnya. Seringkali aku salah ambil baju dan panik-sepanikpaniknya. Jam 02.55 dia otw dan jam 03.09 dia sampai. Cepat sekali. Dandananku pun tidak maksimal. Padahal dia orang spesial. Tapi biarlah, aku tidak perlu menjadi orang lain.
Sudah sekian lama tidak bertemu, aku canggung dengannya. Perasaan antara marah karena kecewa, dengan senang karena bisa melepas rindu. Aku duduk di belakangnya, memegang saku jaketnya, memejamkan mata, dan menikmati setiap desahan angin yg menerpa wajah. Aku mencintainya seperti udara. Membantuku hidup sampai aku mati. Meski udara itu terkadang, berpolusi.
Sampai di tempat makan yang pernah dia janjikan. Dia selalu berjalan di depanku, seperti hanya pergi sendiri, dan menganggapku tidak ada disini. Meski sering kali melihat ke belakang, aku tetap merasa terasingkan. Separuh hatiku ingin pulang karena aku sudah tahu jawabannya, bahwa aku tidak dihargai lagi. Tapi separuh hatiku ingin tetap disini bersamanya, meskipun saat itu waktu harus berhenti berdetak.
Aku membuang jauh-jauh perasaan kalut dan sedih. Aku mencintainya tulus. Tidak peduli dia mencintaiku atau tidak, karena cinta yg tulus selalu bahagia hanya karena tahu bahwa dia baik-baik saja.
Entah kenapa aku tiba-tiba merasa mual. Maagku kambuh. Baru ingat dari pagi belum makan. Sudah biasa sih. Tapi kali ini beda. Harusnya tadi pagi aku sarapan agar bisa makan dengan baik ketika bersamanya. Tapi apalah daya, dari pagi moodku kurang baik sehingga tidak nafsu makan juga. Akhirnya aku tidak menghabiskan makanannya, karena tidak kuat lagi.
Sepanjang perjalanan makan, aku dan dia (bukan kita) hanya mengobrol seperlunya. Sebenarnya hati tlah berkata banyak, tapi ketika kusadari bahwa aku hanya mengeluarkan sepatah kata yang tak jelas.
Aku merutuk diri sendiri. Marah pada diri sendiri. Tidak seharusnya aku seperti ini.
Aku menyuruhnya menghapus semua conversation aku dan dia meski ku-cancel karena terlalu lama. Aku hanya ingin tahu respondnya. Dia mau saja aku suruh begitu. Aku saja susah payah menghapusnya karena sayang sekali dgn sms itu, tp dia dengan entengnya menuruti permintaanku.
Aku menyuruhnya memotretku dgn kamera handphonenya dan melarangnya utk menghapusnya. Aku hanya ingin dia selalu mengingatku sebagai orang yg selalu mengingatnya. Aku berusaha memotretnya juga, aku menyuruhnya tersenyum tapi dia tidak mau. Apakah dia tidak pernah bahagia ketika bersamaku? Kulihat foto dia bersama teman yg lain selalu tersenyum. Tapi ketika bersamaku? Mungkin bukan aku yg dapat membuatnya tersenyum. Tapi dia dapat membuatku tersenyum. Meski dia tidak melakukan hal lucu utk membuatku tersenyum, tapi begitulah cinta. Hati yg bahagia dengan hanya mencintai, sudah menjadi kunci senyuman ikhlasku.
Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin hari ini berakhir. Tidak ada jawaban.
Aku mengatakan bahwa aku hanya ingin sama kamu. Tidak ada jawaban.
Aku putus asa. Ada tatapan kelelahan dalam matanya. Seperti lelah mendengar bualan-bualan sampahku. Tidak bisakah dia membedakan mana yang tulus dan dusta?
Aku dan dia pulang.
Diperjalanan sebenarnya aku hanya ingin memejamkan mata agar aku tidak pernah mengingat kejadian ini sebagai masa lalu yg tidak dapat kembali. Aku takut di masa depan, aku hanya mengingat masa lalu.
Aku pun mulai menyerah. Aku memilih untuk bahagia. Aku membuka mata kembali dan melantunkan lagu-lagu jkt48, lagu penyemangatku selama ini. Karena meskipun liriknya berduka, nada pembawaannya tetap bahagia. Itu kenapa aku tetap bisa tersenyum walau air mata kian deras mengalir di pipi.
Dia mendengar aku menyanyikan lagu sister group favoritnya. Sister group yg selalu dia kejar kemanapun konsernya. Begitu besarkah pengorbanannya? Aku terenyum, dia pejuang yg tulus. Meski bukan aku yg diperjuangkannya.
Diperjalan aku terus bertanya tentang banyak hal kepadanya, karena kupikir ini saat-saat terakhirku bersamanya dan aku tidak boleh menyianyiakan kesempatan untuk bertanya banyak tentangnya. Dia hanya menjawab seperlunya. Meskipun sedih, tapi aku tidak mau kesedihan menyetirku begitu saja.. Aku tetap bertanya dengan nada ceria.
Sampai di rumahnya, aku turun dari motornya.
"Makasih, ya." ucap aku dan dia bersamaan. Aku pun tersenyum. Senyum terakhir yang begitu bahagia. Are you thinking what I'm thinking?
Matanya seperti diary, digembok, rahasia. Sehingga aku sulit menerka-nerka.
Setelah hari itu, aku mendapatkan jawaban atas berbagai macam pertanyaan besar yg aku sendiri tidak pernah tahu pertanyaannya, apalagi jawabannya.
Ternyata pertanyaan besar itu:
Apa sih yang kamu inginkan tentang dia?
Jawabannya:
1. Aku ingin selalu berada disampingnya kala dia kesusahan.
2. Aku ingin dia selalu memberiku kabar kala dia bersedih.
3. Aku ingin selalu melihat dia bahagia. Bahkan melihat dia tertawa saja tidak pernah. Siapapun yg dapat membuatnya tersenyum, aku ikhlas merelakannya.
4. Aku ingin dia sukses dunia dan akhirat.
5. Aku ingin dia menjadi anak sholeh yg berbakti.
6. Aku ingin menjadi teman terbaik dalam hidupnya.
7. Aku ingin dia selalu berada pada jalan yg benar.
8. Aku ingin dia selalu mengingatku sebagai orang yg selalu mengingatnya, dan tersenyum hanya karena mengingatku.
Intinya aku ingin dia bahagia, dengan, atau tanpa aku.
Karena hal yg paling menyakitkan di dunia ini adalah ketika orang yg kita cintai, tidak bahagia bersama kita meskipun kita selalu merasa bahagia bersamanya.
Satu-satunya hal yg membuatku bisa bertahan mencintai tanpa perlu dicintai adalah: tahu diri. Siapa sih aku ini sampai orang lain harus mencintaiku?
Rabu, 30 April 2014.
nOTANJUBI OMEDETOU!!
nice1
BalasHapusthanks1
BalasHapus