Langsung ke konten utama

Dear KPI, Wartawan, Media Masa, dan Seluruh Masyarakat Indonesia!

Bismillahirrahmanirrahim..
Tadinya saya tidak berniat untuk menulis ini, saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menulis dan mengungkit keburukan.
Tapi setelah sekian lama hal ini menghantui saya, saya ingin sekali menulis ini.
Semoga apa yang saya tuliskan ini bermanfaat dan dapat membuka pintu hati yang membacanya.

Jujur saja, saya terkadang kesal dengan hal-hal yang dipublikasikan mengenai pasrahnya mereka terhadap zaman yang sudah "kacau" ini. Menuliskan fakta-fakta tentang kebobrokan negeri, kejahatan dan kriminalitas dimana itu membuat warga semakin pesimis dan terlalu berhati-hati dengan segala hal yang mereka lakukan. Maka disini saya tidak ingin menulis fakta-fakta itu, tapi saya ingin mengutarakan isi hati saya karena saya pikir ada yang perlu dibenahi, terutama dari media masa.




Saya menonton televisi, dari pagi, siang, sore, malam, beritanya hampir sama. Pelecehan seksual anak, pembunuhan, kriminalitas, tawuran, dan segala tindakan memalukan lainnya. Dan bahkan antara infotainment dan berita, tidak ada yang berbeda laporannya. Para kriminal bisa mendadak jadi artis sehingga masuk infotainment. Para artis melakukan tindak kriminal sehingga masuk berita.

Saya mencintai negeri ini. Saya ingin yang terbaik untuk negeri ini. Di negeri ini lah saya lahir. Di negeri ini lah saya tumbuh dan mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga dari setiap langkah perjalanan saya selama (baru) 16 tahun. 16 tahun saya disini sudah cukup menumbuhkan rasa peduli itu terhadap negeri sendiri karena saya tahu saya tidak akan mendapatkan negeri seperti ini. Sehingga saya sebisa mungkin untuk menutupi keburukan negeri sendiri. Karena saya merasa malu sendiri jika membukanya kepada orang lain. Tapi bagaimana saya bisa tahan kalau justru semua orang lah yang selalu menggemborkan berita negatif itu.

Maaf, bagi yang tersinggung. Tolong media, saya harap media tidak terlalu banyak mempublikasikan keburukan-keburukan negeri ini. Saya pikir itu hanya akan membuat masyarakat menjadi pesimis, pasrah, ketakutan untuk maju karena segala batasan dan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Iya kalau orang baik yang menontonnya, akan tersentuh hatinya dan lebih berhati-hati. Tapi kalau orang tidak kuat iman? bisa jadi inspirasi bagi seseorang meniru kejahatan itu.

Bagaimana kalau beritanya diperbanyak tentang prestasi-prestasi anak indonesia? keindahan alamnya? kesuksesan wirausaha? dan segala bentuk hal untuk membangun kembali semangat anak indonesia, bukan malah menciutkan nyalinya karena takut melangkah. Saya lihat sudah banyak acara-acara yang memotivasi menggapai mimpi dan cita-cita, kesuksesan, agama, pelajaran hidup, tapi saya pikir lebih banyak hal-hal negatif yang ditayangkan. Wasting time.

Saya bilang bukannya tidak boleh menampilkan berita-berita keburukan, kriminal, kejahatan, pembunuhan, pelecehan seksual, dan sebagainya, tapi tolong dikurangi.. Misalnya berita itu ketika jam anak sedang sekolah. Sehingga berita keburukan itu orang tua yang menontonnya, akan menyiapkan strategi untuk menjaga anaknya lebih baik atau menjaga dirinya sendiri.

Dan mengenai pelecehan, kekerasan seksual anak-anak. Saya prihatin. Mengelus dada. Sedih banget. Tapi saya rasa kejadian itu sudah lama membudaya di negeri ini, tapi kenapa baru kali ini dihebohkan? baru kali ini diperhatikan? saya rasa masih banyak korban anak-anak dari kasus itu, tapi "hanya" seratus lebih yang ketahuan di publik. Sisanya? tidak terlihat. Bahkan anak mana sih yang mau membicarakannya? itu sudah masuk ke memori jangka panjang mereka, ke keadaan mental mereka. Dan bayangkan... apabila di luar sana banyak remaja yang semasa kecilnya memiliki masa lalu yang suram karena mereka korban juga dari pelecehan dan kekerasan seksual, mereka sedang meniti masa depannya yang gemilang, bersemangat sekolah, dan sepulang sekolah mereka melihat berita.. dan isi beritanya apa? mengingatkannya pada masa lalunya! apakah ini bagus untuk mental dia?

Mungkin saja setelah bertahun-tahun dia berusaha melupakan kesedihan dan musibah yang memalukan di hidupnya itu, dan berhasil. Tapi media malah menghantui dan mengingatkannya lagi! membantunya untuk kembali ke jurang keterpurukkan. Dia masih remaja yang justru labil. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan masa lalunya.

Jadi saran saya yang perlu diperbaiki, silakan memuat berita-berita kriminalitas, tapi jangan terlalu sering. Dan dilbihkan berita itu ditujukan untuk orang tua agar orang tua lah yang berpikir untuk mengantisipasi segala jenis kejahatan. Dan untuk kurikulum sebaiknya ada pelajaran pendidikan moral, bukan sejenis pelajaran mengasah intelektual anak, tapi mengasah emosional, empati, dan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan. Tentang training, motivasi, permainan sarat makna, dan lain sebagainya.

 Saya menulis ini karena saya tidak mau hal buruk lebih terjadi lagi dari ini. Saya tau sudah terlalu banyak keburukan itu. Tapi kita bisa menguranginya dengan cara selalu menampilkan kebaikan. Satu kebaikan yang media tampilkan, bisa mempengaruhi banyak hal dan banyak orang dalam hidupnya. Maka selalu berpikir positif, lakukan yang terbaik untuk diri sendiri, untuk orang banyak dan untuk negeri ini. Percaya dan optimis bahwa suatu saat nanti negeri ini akan jaya kembali. Apa yang kita lakukan sekarang akan mempengaruhi hari esok.

Ingat, satu kebaikan yang dilakukan terus menerus akan menjadi biasa. Dan satu keburukan yang dilakukan terus menerus, kebaikan itu akan luntur dan justru terlihat sebagai keburukan. Begitupula sebaliknya. Di dunia yang fana ini, kita tidak pernah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita sebagai manusia hanya bisa memberikan waktu dan ruang untuk kebenaran itu menemukan dirinya sendiri.

Demikian dari saya(?) maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Tolong sebarkan kebaikan yang terkandung dari tulisan ini. Kesalahan dari tulisan ini murni dari saya, dan kebenarannya dari Allah. Terima kasih :)

Let's do positive things better and faster! #GoBetter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.