Sebenernya saya ga ada ide untuk menulis. Tapi entah kenapa jari saya membawa saya ke blog ini kembali, dan mengetikkan tulisan ini begitu saja. Mungkin saya memang gaada ide untuk menulis, tapi hati saya ingin sekali rasanya menulis kembali. Sesuatu yang, membuat saya merenungi tiada habis-habisnya sampai akhir hayat saya.
Saya tahu mungkin saya terlalu kecil untuk mengerti kehidupan. Mengerti semua lika-likunya, kekejaman, kebenaran, dusta, dan segalanya yang selalu orang dewasa bilang. Saya terkadang frustasi sendiri, di umur saya yang remaja ini, tapi ternyata saya selalu merasa"berbeda" dengan remaja kebanyakan. Cara berpikir saya yang mungkin banyak yang menjudge bahwa, terlalu "kolot". Mendekati idealisme, menjauhi rasionalisme. So alim. So perfectionis. Tidak jarang saya ditentang oleh orang-orang terdekat saya dengan keidealisasian cara berpikir saya. Mungkin anda belum paham apalagi yang belum kenal dekat dengan saya. Karena ke-idealisan cara berpikir saya terlontar begitu saja ketika saya merasa apa yang saya dengar atau apa yang saya lihat tidak sesuai dengan cara berpikir saya. Saya hanya mengutarakan cara berpikir. Bukan berarti saya paling benar. Entahlah.. Mungkin kali ini juga saya sedang hanya berbicara pada keyboard-keyboard yang saya tekan. Atau layar laptop yang selalu menatap saya seakan mengatakan "kamu tidak pernah sendiri". Entahlah tulisan ini akan dibaca atau tidak, saya tidak peduli. Saya hanya ingin menulis.
Satu cara berpikir yang paling menonjol yang selalu menimbulkan konflik dalam kehidupan saya pribadi. Entah ini akan saya pertahankan atau akan saya lupakan begitu saja semakin banyak terpaan untuk mempertahankannya, sehingga saya merasa capek untuk hidup idealis. Oya, cara berpikir itu adalah, nilai sekolah. Mungkin postingan ini akan disetujui oleh beberapa murid, tapi sepertinya akan banyak ditentang oleh para orang tua karena saya mengalaminya.
Saya selalu merasa bahwa membicarakan nilai sekolah atau nilai raport adalah suatu hal yang "sakral", maksud saya, saya selalu merasa gaenak sendiri kalau membicarakan nilai raport. Saya merasa nilai raport atau ranking itu diibaratkan sebuah kasta, tetapi setiap orang bisa merubahnya. Tapi kasta ya tetap saja kasta. Membeda-bedakan, seperti ada yang lebih pintar dan ada yang lebih bodoh. Dan saya tidak mau membicarakan itu semua. Nilai dan ranking membuat murid menjadi minder atau bahkan sombong, tergantung situasinya saat itu. Sehingga murid melakukan banyak cara untuk mendapatkan nilai terbaik di raportnya. Saya terlalu muak dengan ini. Saya terpaksa membicarakan ini, untuk sekali dan tidak akan lagi.
Mungkin dulu saya sama dengan mereka, sampai saya pernah melakukan "kecurangan" di lab praktek. Saya tidak memasukkan semua sediaan yang saya buat ke dalam pot salepnya, sehingga ketawan oleh pengawas saya, dan saya dimarahi oleh beliau. Saya merasa tertampar, bukan oleh beliau, tapi oleh tangan saya sendiri. Menyakitkan. Untuk apa saya melakukannya? Untuk mendapatkan nilai terbaik karena selesai tepat waktu? Saat itu i have no idea to tell the reason. Saat itu saya sadar bahwa yang paling menyakitkan adalah ketika saya "terbiasa" melakukan keburukan tanpa sadar, padahal kita sering menghakimi orang lain bahwa mereka melakukan hal yang sama.
"Menuntut ilmu tanpa embel-embel di belakangnya. Untuk sukses. Untuk mendapatkan nilai terbaik. Untuk menjadi ini, menjadi itu. Bukan untuk itu semua, tapi untuk menikmati sensasi ilmunya demi kehidupan yang akan dijalani."
Mungkin simple dan terlalu idealis kalimatnya untuk kehidupan yang begitu pelik ini. Entah kenapa saya begitu meyakininya. Saya membiarkan hidup saya mengalir, belajar mempelajari sesuatu dengan tidak "memaksanya". Fokus pada kemampuan yang ada tanpa lupa mempelajari hal lain tapi tidak dipaksakan. Saya berusaha hidup seidealis seperti itu.
Tapi tahukah... ternyata berpikir idealis tidak semudah prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.
Kebanyakan orang lebih berpikir rasionalis, mau sih.. tapi kenapa rasanya hati saya berkata "jauhi dulu kemungkinan tersebut.
Tantangan yang harus saya hadapi sehingga menusuk hati dan akal pikiran saya seperti ini.
"Kamu terlalu berpikir idealis. Zaman sekarang tuh berpikir rasionalis! Kamu pengen masuk univ negeri, pertama dilihat apa? nilai raport kan? baru ditest hal-hal lainnya. Mau kerja pertama dilihat apa? ijazah dan prestasi-prestasi kan? baru ditest hal-hal lainnya. Yang dibutuhkan ga cuma pintar bersosialisasi, tapi otak juga jadi suatu kelebihan yg patut diperhitungkan! Dunia ini kalau berpikir terlalu idealis, kamu akan tertindas! Karena kaum minoritas tidak akan pernah menang! Intinya nilai raport sekolah itu tetap nomor satu. Untuk memilih masa depan cerah yang diinginkan."
"Tapi ada banyak orang dengan nilai raport kecil, sukses."
"Iya banyak. Tapi lebih banyak yang nilai raport memungkinkan. Seenggaknya dengan nilai raport bagus, kamu bisa melanjutkan hidup."
"Tapi saya belajar bukan untuk masa depan cerah."
"Lalu untuk apa? sia-sia semua ini yang kamu lakukan kalau begitu."
"Tidak. Saya hanya ingin memenuhi kewajiban untuk terus menuntut ilmu kehidupan dan tidak ada yang sia-sia jika belajar dengan niat ibadah."
"Terlalu idealis! tetap saja kamu harus sukses untuk bisa beribadah menyantuni orang miskin, dan melakukan kebaikan yang besar."
"Tentu. untuk kali ini benar. tapi saya gamau sukses cuma-cuma! saya belajar bukan untuk sukses. saya siap untuk kecewa. tapi saya lebih siap untuk sukses. Saya percaya akan kebesaran-Nya."
Baiklah, sepeertinya percakapan tadi tidak perlu dilanjutkan karena tidak akan ada habisnya.
Entahlah, terlalu sulit untuk menjelaskan inti dari postingan ini. Mungkin karena suasana hati saya saat ini sedang muram. Karena saya terlalu sering "berbeda" yang entahlah saya sendiri juga tidak tahu mengapa. Maafkan saya, apabila saya sering memperdebatkan sesuatu. Tapi saat ini saya lebih ingin bungkam, karena saya merasa semua kehidupan ini sudah terlihat abu-abu. Tidak jelas mana hitam atau putih. Saya memang memiliki pilihan tapi tidak akan saya promosikan seolah-olah pilihan saya yang paling benar.
Dan saya tekankan postingan ini bukan untuk "pembenaran", tapi sekedar coretan tidak penting saya.
Ketika saya mencari jawabannya, saya melihat beranda facebook postingan dari tere liye yg membuat saya merenung seperti ini:
Pada suatu hari "Kematian" dan "Kehidupan" bertemu satu sama lain, lantas mereka ngobrol:
Kematian : "Kenapa orang2 itu menyukai kamu, tapi mereka amat membenci aku?"
Kehidupan (menjawab sambil tersenyum) : "Orang-orang menyukaiku karena
aku adalah 'dusta yang indah', sedangkan mereka membencimu karena kamu
adalah 'kebenaran yang menyakitkan'."
*Saya suka dengan quote ini--entah siapa yg pertama kali menuliskannya,
beberapa bilang Kahlil Gibran, tapi boleh jadi asal quote ini lebih
lama dibanding itu. (repost)
Karena kebenaran adalah dusta yang indah. Entahlah....
Karena kebenaran adalah dusta yang indah. Entahlah....
Komentar
Posting Komentar