Langsung ke konten utama

Merindukanmu


Aku pernah menyesal akan hari-hari dimana kita dipertemukan. Kita? Mungkin kini telah berubah menjadi aku dan kamu. Ya, masa itu sangat indah dan tak mungkin dapat aku lupakan. Aku yang awalnya hanya iseng menyukaimu, mengagumimu, semua tentang kamu. Seperti seorang fans kepada idolanya. Mungkin itu yang aku pikirkan dalam logika akal sehatku. Tapi seiring berjalannya waktu, kamu selalu mengganggu pikiranku. Berlari-lari seenaknya dalam pikiranku, menawarkanku berjuta harapan di masa depan. Aku semakin ingin memilikimu. Ya, itulah ketika aku merasa masih kekanak-kanakkan.


Kini kamu pergi dengan meninggalkan sejuta kenangan yang tak mungkin aku lupakan, bagaimanapun aku berusaha. Kemanapun aku melangkah, selalu mengingatkanku akan itu. Meskipun aku pernah melupakanmu. Aku merasa bahwa pada akhirnya aku akan pulang dan kembali merindukanmu. Entah. Karena kamu satu-satunya lelaki yang berani membawa kenangan manis sekaligus pahit dalam hidupku. Karena begitulah kehidupan yang sebenarnya, jika ada seseorang yang hanya membawamu kenangan-kenangan indah tanpa kamu tahu kekurangannya, maka dia berbohong di hadapanmu. 

Aku tahu banyak hal tentang kekuranganmu. Tentang hal-hal yang menjadi kekuranganmu, dan kelebihan bagiku. Dan aku semakin menyayangimu, walau dalam jauh dan dalam dekap di mimpiku.

Aku rasa mungkin lebih baik seperti ini. Mencintai di masa remaja memang sesulit ini. Karena masih banyak masa depan yang menanti untuk aku dan kamu. Aku janji akan menggunakan masa-masa merindukanmu dengan hal-hal yang akan membawaku ke masa depan yang lebih baik. Kamu juga harus berjanji dengan itu, meski kamu berjuang untuk masa depanmu bukan disaat kamu merindukanku. Karena mungkin saat-saat itu tak pernah ada di hidupmu.

Aku tidak tahu apakah aku dan kamu akan dipertemukan kembali sebagai teman hidup yang akan bersama memperjuangkan hidupnya dan hidup orang-orang di dekatnya. Aku tidak tahu apakah kamu menginginkannya sekarang atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah aku menginginkannya sekarang atau tidak. Karena aku tidak tahu apa yang Tuhan tahu yang terbaik untukku dan untukmu.

Aku rasa mungkin lebih baik seperti ini. Merindukanmu tanpa berharap kamu kembali untuk saat ini. Karena itu sungguh menyakitkan. Bagiku, jauh lebih mudah merindukanmu seperti ini daripada kamu datang sekarang dan takut kamu pergi kembali. Setahun dua tahun aku telah terbiasa merindukanmu. Itu baik untukku. Aku tidak memaksa Tuhan untuk menghapuskanmu dari pikiranku. Aku hanya membiarkan saja jika kamu mau tetap tinggal dipikiranku. Karena waktulah yang akan menjawabnya. Kalau bertahun-tahun ke depan kamu tetap tinggal di pikiranku, berarti aku mencintaimu. Hanya itu. Tanpa berharap Tuhan merubah ketetapan akan jodohku.

Karena aku hanya seorang wanita untuk dipilih. Untuk kelak menghormati dan menaaati suaminya. Dan saat itu, saat aku benar-benar merasa dicintai untuk segala kekuranganku, aku akan mencintai teman hidupku, dan menghormatinya. Datanglah, jangan sekarang. Tapi nanti, ketika aku dan kamu sudah sama-sama siap. Datanglah ke rumahku dan berkata “sejak lama aku mencintaimu, dan inilah saat yang aku tunggu untuk meminangmu.”

Mungkin ini hanya mimpi bagiku. Untuk dicintai oleh orang yang aku cintai. Tapi kalaupun ada orang yang mencintaiku, itu lebih baik daripada mencintai tanpa pernah dicintai untuk seorang wanita. Terima kasih telah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Meninggalkan masa-masa indah yang tak dapat aku dapatkan bersama orang lain. Masa ketika aku merasa masih main-main seperti anak-anak yang menyukai seseorang, masa remajaku yang masih sama saja menyukai orang yang sama, dan masa dewasaku yang entah bersama siapa.

Kenapa aku seperti ini? karena ternyata aku hanya merindukan seperti sosok ayah. Sosok pria yang mencintaiku sampai maut yang memisahkan. Bukan hanya pacaran seperti remaja kebanyakan yang dapat putus, dan sudah cintanya hilang begitu saja. Karena aku tidak bisa berhenti mencintai ketika aku telah mencintai. Sampai kapanpun orang yang pernah aku cintai akan aku cintai, meskipun di tempat yang berbeda seperti orang yang benar-benar spesial dalam hatiku untuk menjadi teman hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.