Bismillahirrahmanirrahim...
Membaca sebelum menulis. Mendengarkan sebelum menyampaikan. Aku seorang remaja yang bahkan diberi kesempatan untuk memilih pun, belum. Ya, usiaku kini masih hampir 17 tahun. Dan aku telah dikaruniai perasaan itu. Perasaan yang membuatku seperti tertusuk di dada ketika aku merapal kalimat-kalimat bahwa aku mencintai negeri ini dengan segenap hati, jiwa, dan ragaku. Bahkan dengan bisikan-bisikan tetangga maupun orang dalam yang selalu mencaci maki negerinya sendiri, itu tidak merubah pendirianku untuk tetap mencintai negeri ini.
Aku mencintai negeri ini. Negeri tempat dimana aku dilahirkan. Negeri tempat aku tumbuh dan mengenal banyak hal di dunia ini. Nusantara yang kini menjadi Indonesia. Aku bersyukur dapat terlahir di negeri ini, tidak peduli meski banyak warga negaranya yang menyesal kenapa mereka tidak terlahir di negeri orang.
Meski aku belum tahu banyak hal tentang dunia pemerintahan, dunia politik apalagi yang sedang memanas saat ini. Aku berusaha netral dengan tulisan ini, bukan untuk kampanye, meninggikan salah satu kandidat capres atau bahkan menjatuhkannya. Tulisan ini bukan untuk itu. Tulisan ini berusaha untuk mengajak semua WNI untuk dapat tetap berpikir jernih dan perbedoman dengan pancasila khususnya sila ke-1 "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang kini sepertinya hanyalah sebuah tulisan yang kurang dihayati dan dimaknai bahkan diimplementasikan mengingat kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.
Aku sempat menggaruk-garuk kepala, mengacak-acak rambut, menopang dagu, termelengo, memperhatikan situasi saat ini. Yang aku pelajari di pelajaran PKN sejak SD, salah satu tujuan negara adalah "Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia". Apa sih yang harus dilindungi? segenap bangsa Indonesia, bukan? Berarti seluruh unsur-unsur yang ada di dalamnya. Tidak hanya melindungi kebudayaan yang telah dirampas oleh negeri lain saja. Siapa sih yang bertugas melindunginya? Pemerintah saja? Pantaskan semua beban dan tanggung jawab hanya dilimpahkan kepada pemerintah saja, tapi masyarakatnya apatis terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintahnya itu? Apalagi jika masyarakat di dalam saja sudah menjelek-jelekkan negeri sendiri, bagaimana negeri lain akan sungkan dengan kita?
Toh, begini logikanya. Sebuah negara diibaratkan seperti manusia. Kita misalnya yang membaca tulisan ini. Kita mencintai diri sendiri, bukan? Kalau kita tidak tahu, kita bisa cek apakah kita sakit hati ketika dihina? Ya, berarti kita mencintai diri kita sendiri. Ada saat-saat dimana kita berada di titik terbawah, bukan? titik dimana kita merasa jauh dengan Tuhan. Titik dimana kita merasa membenci diri kita sendiri karena apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan kata hati kita, tapi kita tetap melakukannya. Titik dimana rasanya kita hina menampakkan diri di hadapan-Nya. Kalau anda pernah merasakan seperti itu, maka beruntunglah, rahmat-Nya telah datang. Tetapi kita selalu memiliki pembelaan terhadap diri kita sendiri, dengan selalu melakukan kebaikan dengan harapan melunturkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Tapi sayangnya banyak orang yang kurang mengerti, menghakimi kita begitu saja seolah-olah kita lah orang paling hina. Toh tidak ada manusia yang sempurna, bukan? memangnya anda tidak pernah melakukan kesalahan?
Bertanggung jawab? Itu harus. Tapi sebagai sesama umat muslim, kita hanya ditugaskan untuk mengingatkannya. Itu kewajiban kita. Tapi tentu saja dengan cara yang baik. Bukan seenaknya menjatuhkan harkat martabatnya. Karena "Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya." (HR. Ibnu Majah).
Cintailah negeri kita seperti mencintai diri kita sendiri. Sebetapa buruk di dalamnya, kita tetap menyembunyikan aibnya tanpa berhenti mengingatkan dengan cara yang baik dan mendoakannya. Sebetapa buruk di dalamnya, kita selalu mengingatkan kebaikan-kebaikannya yang meskipun terkadang tidak terlalu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup kita, setidaknya pandanglah dari segi lain. Orang-orang yang disenangkan karena perbuatannya.
Salah satu unsur negara adalah warga negaranya, dan warga negara adalah unsur paling dominan yang dapat menggerakkan negaranya. Kalau warga negara adalah sesuatu yang bergerak, dan negara adalah sesuatu yang tidak bergerak. Lalu apa yang sebenarnya dapat menggerakkan negara kita ke arah yang lebih maju?
Tepat.
Warga negaranya.
Yang pernah saya pelajari di pelajaran IPS mengenai integritas, kesatuan yang utuh. Bagaimana untuk negara ini lebih maju? Integritasnya. Kalau menjelang pemilu saja, dua kubu yang terlalu fanatik terhadap capresnya, sehingga menjatuhkan lawannya, lalu dimana integritasnya?
Saya tahu masyarakat Indonesia sudah cerdas memilih, tapi bukan berarti terlalu percaya dengan pilihan kita. Karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hati mereka. Allah yang maha membolak-balikkan rasa bisa menghendaki apa saja. Dan ingat, beliau-beliau juga manusia biasa yang tidak sempurna. Tapi kecintaan beliau dan semangat patriotisme dan nasionalisme nya lah yang mengantarkan mereka sehingga siap untuk menjadi capres dan cawapres.
Menjelang pemilu ini, saya khwatir sekali. Dalam persaingan pasti ada yang menang dan yang kalah. Yang saya khawatirkan disini, ketika ada kubu yang kalah tidak menerima kenyataan, dan semakin menjelek-jelekkan capres yang menang. Jaga lisanmu. Jaga lisanmu. Jaga lisanmu. Ketika kita hendak menjelek-jelekkan seseorang, berpikir, apakah kita termasuk orang seperti itu? atau suatu saat nanti kita tiba-tiba termakan bujuk rayu setan untuk melakukan hal yang sama? astagfirullah, naudzubillahimindzalik. urungkanlah. urungkanlah.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. Bukhari Muslim)
siapa yang beramal mengharap puji manusia | kecewa pula bila amalnya dicela manusia
siapa tambah semangatnya bila dijunjung manusia | melemah pula dirinya bila dihina manusia
bila capai cita-cita dunia saja dengan darah dan airmata | cita-cita akhirat jelas bukan dengan sia-sia dan berleha-leha
penilaian manusia bisa benar mungkin salah | namun penilaian Allah pasti berujung indah
biar manusia mencela kita cukup berkarya | sedang bagi yang menghina kita cukupkan doa
orang lemah menutupi kesalahannya dengan alasan | dan alasan yang paling sering ialah menyalahkan orang lain
kufur itu destruktif | iman itu produktif
Manusia diberikan akal untuk berpikir membedakan mana yang baik dan yang buruk.
Apalagi kita sebagai Indonesia yang mayoritas muslim, apa saling menjatuhkan masih pantas di negeri ini? Tolong, malu. Tolong, perlihatkan kepada negeri lain bahwa kita dapat lebih baik. Mulai dari diri sendiri dengan cara tidak 'membuang sampah' ke negeri orang, tapi 'mengolah sampah' di negeri sendiri.
Ayo, Indonesia Bangkit! Selamatkan Indonesia! Indonesia Hebat!


Komentar
Posting Komentar