Langsung ke konten utama

Yang Tak Terlihat

Aku hanya seorang penulis yang tak peduli tulisanku dibaca atau tidak. Yang tidak bisa memastikan kebenaran akan tulisan-tulisanku. Yang ilmunya belum ada seujung kuku pun. Aku hanya ingin menulis sesuai dengan pengalaman-pengalaman kehidupan yang telah aku lewati. Pembelajaran hidup agar tidak terjatuh ke lubang yang sama, meskipun selalu saja ada lubang-lubang yang menggiurkan tapi aku tahu bahwa itu tetap akan menjerumuskan. Aku hanya ingin menulis tentang perasaanku, logikaku, yang ketika teman-teman membaca tulisanku, bukan berarti harus menyetujuinya, karena terkadang setuju atau tidak setuju, hati kita lah yang berbicara mengatakannya, meskipun akal menyangkal, tapi hati tetap mendominasi.

Kini aku ingin menulis tentang sesuatu yang tak terlihat. Sesuatu yang mungkin ketika teman-teman membaca ini, teman-teman tidak dapat melihatnya dengan kasat mata dan logika, karena ini akan terbisik dari hati. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu saat nanti sampai terbatasi oleh jarak ruang dan waktu, atau justru dibatas ruang dan waktu itulah kita baru menyadarinya.

Pernahkah kita merasa terpuruk ketika kita sadar bahwa tidak ada lagi yang dapat mengerti kita?
Pernahkah kita merasa tidak ada cara lain untuk meluapkan emosi selain menangis? Karena amarah sudah tak lagi berarti? Karena membanting-banting benda di sekitar kita sudah tak memperbaiki emosi? Karena bernyanyi-nyanyi seperti orang gila dapat memperburuk keadaan mental kita? Dan yang dapat kita luapkan saat itu hanyalah air mata yang tak disuruh oleh akal sehat, bahwa logikanya air mata pun tak dapat mengubah apapun.

Tapi sadarkah kita bahwa menangis yang baik, adalah ketika semua perkataan hendak diucapkan, tapi justru sakitnya di dalam dada, semua umpatan kita lontarkan hanya di hati, untuk kemudian kita menyesalinya. Setelah itu, kita merasa lebih tenang setelah menangis. Seolah-olah ada "sesuatu" yang mengelus-elus kepala kita dan berkata, "kamu tidak sendiri." Seperti ada seorang teman yang benar-benar mengerti seluk beluk kita, dan itulah yang kumaksud tak terlihat.

Seperti yang tertulis di subtitle blog ini, bahwa yang tak terlihat oleh mata, bukan berarti tak pernah ada. Mungkin ini tidak akan disetujui oleh orang-orang yang meninggikan logikanya. Tapi sungguh kita harus percaya ini jika kita percaya Tuhan itu ada. Karena sesungguhnya kita pernah merasakan-Nya dalam isak tangis kita, dalam hati kita, dan dalam diri kita.

Contoh lain yang akan sering sekali terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, adalah ketika kita menunjukkan seseorang adalah kebenaran. Mungkin kita dapat menentukan sebuah kebenaran, sifat yang benar dan sifat yang salah, karena itu tertulis pada kitab umat beragama, meskipun banyak manusia yang belum mengetahuinya. Tapi bisakah kita menentukan kebenaran dari seseorang? Membangga-banggakan seseorang, memuji-mujinya? Ketika kita menemukan satu kesalahannya yang menurut massa adalah dosa besar, kita baru menghujatnya? Begitukah rasa sakitnya terlalu meninggi-ninggikan seseorang untuk mengetahui kecewanya kita terhadap kelemahannya? Menuduh bahwa di dunia ini tidak ada lagi yang dapat dipercaya? Tidak ada orang yang benar dan suci? Lagipula siapa yang sudah merasa seperti itu? Aku pun merasa jauh dari suci dan sempurna dihadapan-Nya.

Ketika kita sibuk memuji orang lain, maka kita akan kecewa karena satu kesalahannya yang tidak pernah kita bayangkan. Tapi ketika kita sibuk memuji Nama-Nya, Tuhan yang tak dapat kita lihat sekarang tapi kita dapat merasakannya, maka kita tidak akan pernah kecewa terhadap-Nya. Sekalipun kita kecewa akan takdir buruk yang terkadang membuat manusia menghujat-Nya.

Fabiayyiaalaairobbikumaatukadzibaan, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Q.S. Ar-Rahman.

Pantaskah kita menghujat-Nya ditengah semua kasih sayangnya memberikan nikmat kehidupan. Semua masalah itu tergantung bagaimana kita melihatnya, yang terpenting jangan sampai kita menghujat-Nya tidak perduli terhadap kita, karena itulah yang akan terjadi.

Iman manusia terkadang naik turun. Percayalah, bahkan kiai dan ustadz pernah merasakan godaan keimanan yang sangat tinggi. Karena godaan setan terhadap manusia tergantung seberapa kuat iman kita. Semakin kuat iman seseorang, semakin tinggi level setan yang akan menggodanya, karena orang-orang yang kuat iman tidak akan tergoda oleh setan dgn godaan level rendah, justru godaan setan yang tinggi datang untuk orang-orang beriman.

Iman manusia terkadang naik turun. Bukan berarti ketika iman kita turun, kita menuruti apa kata logika kita, kata iman yang turun itu. Tapi senantiasa rapal lah doa, terus merapalnya, meskipun kita tidak lagi merasakan "esensi" keberadan-Nya. karena terkadang memang begitu, Tuhan begitu terasa amat jauh, dan jangan pernah berhenti untuk meminta bahwa kita ingin dekat kembali dengan-Nya, meski apa yang kita lakukan tak sesuai dengan apa yang kita ucapkan. Setidaknya kita selalu memohon dengan hati terhadap apa yang kita harapkan untuk mengisi kekosongan hati. Selalu ucapkan, meminta agar Tuhan selalu mengajari kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, memiliki hati yang cantik, meskipun tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Karena ketika kita telah mendapatkannya, kita tidak perlu khawatir terlihat jelek di depan orang lain, tapi kita takut terlihat jelek di hadapan-Nya.

Ada orang yang bilang fanatik itu tidak baik, benar. Tapi ada orang yang tidak sadar bahwa tidak fanatik yang berlebihan adalah bentuk kefanatikan itu sendiri. Hidup itu adalah pilihan, memilih baik atau buruk. Tapi ada orang yang tidak sadar bahwa tidak memilih adalah sebuah bentuk pilihan. Meskipun tidak memilih tidak akan membuat hidup kita lebih baik, atau lebih buruk.

Aku selalu berkata kita pada tulisan ini, karena aku sering mengalaminya. Merasa hina dihadapan-Nya akan kesalahan yang terulang, hati yang tidak seputih kapas. Tapi yang terpenting selalu melakukan tindakan yang disuruh-Nya meskipun belum dengan hati. Karena untuk menuju petunjuk dan pintu hidayah-Nya adalah tergantung dari langkah kita saat ini, yang terpenting adalah taat, yang kedua baru ikhlas.

Selamat berjuang menapaki jejak kehidupan di jalan-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.