Langsung ke konten utama

Rindu

Lagi-lagi aku menuliskan tentang rindu.
Tidak, kali ini bukan seseorang yang sedang berada di benakku ketika aku hendak menuliskan ini.
Aku rindu..
Aku rindu, bersuci.
Aku rindu, bersimpuh.
Aku rindu, menangis.


Saat-saat dimana aku menangis karena iman, disitulah aku merasa kuat.
Karena aku merasa ada yang sedang mengelus-elus kepalaku.
Aku ingin menangisi ketidakmampuanku.
Aku ingin menangisi kerinduanku ini.
Aku rindu untuk sendiri dan benar-benar merasa dekat denganNya.
Seorang psikolog menohokku dengan kalimat, "ketika seseorang tidak dapat menangis, dia lemah."
Dulu aku merasa cengeng, lemah, dengan air mata yang mudah sekali terjatuh itu.
Tapi saat-saat dimana aku merasa semua hambar.
Karena semakin hari, aku semakin memiliki banyak mimpi.
Semakin banyak yang harus aku minta.
Semakin banyak kebutuhan dan keinginanku.
Tapi, imanku masih disini-sini saja, atau malah turun?
Aku hanya merasa makhluk dzalim yang hina.
Aku menulis ini bukan untuk apa-apa, hanya karena aku ingin menangis.
Aku sedang mencari, aku sedang berusaha menampar diriku sendiri sebagai hamba yang tidak tahu malu yang terkadang masih 'mempertemankan' syaitan yang terkutuk itu, untuk kemudian merasa hambar karena tahu bahwa syaitan itu tengah menertawakanku karena termakan rayuannya.
Aku rindu tanah suci.
Aku rindu dekat denganNya.
Tidak peduli meski orang menganggapku freak.
Tidak peduli meski orang menganggapku berlebihan.
Tapi terkadang aku sendiri merasa tidak pantas untuk semua itu.
Suatu kebencian amat mendalam entah kepada diri sendiri yang lemah atau kepada syaitan yang sedang menertawakanku, ketika itu aku merindukan lempar jumrah. Saat aku benar-benar ingin sekali melempari syaitan dengan batu-batu hingga mereka kesakitan, meskipun mereka hanya akan kesakitan justru saat aku banyak menyebut namaNya.
Aku benci mereka.
Aku hanya seorang insan, yang seperti artinya, insan adalah pelupa.
Pelupa sebenar-benarnya pelupa, untuk pada akhirnya menyesali perbuatannya.
Aku tertunduk, aku malu, aku merasa kecil, aku ingin sekali bersembunyi, tapi Dia tetap melihatku dimanapun aku berada.
Dia tetap melihat perbuatan kejiku, Dia juga melihat air mata ini yang kian mengalir deras.
Dan aku sungguh-sungguh merasa malu.
Hari ini aku belum bisa bersimpuh di atas sajadah, aku merindukan itu, maka aku hanya bisa menuliskan ini, tidak peduli tidak ada yang membaca, aku hanya ingin menangis, menangis, karena malu.
Dia sungguh Dzat Maha Penyayang, Lihat! Dia mengizinkanku untuk menangis, Dia mengizinkanku untuk menulis apa yang ingin aku tulis supaya aku bisa 'menyembuhkan' diri.
Dia sungguh Dzat Maha Segalanya, aku insan yang tak luput dari kesalahan ini, masih saja diberi kesempatan untuk meminta maaf, Dia tak pernah lelah, Dia tak bosan mendengar maafku yang hanya itu-itu saja kesalahan yang kuperbuat.

Ah, aku tidak sanggup lagi menuliskannya. Setidaknya, hatiku sudah lebih tenang saat ini. Aku sudah bisa menangis. Karena ketika aku tidak bisa menangis padahal banyak sekali kekhilafan yang aku lakukan, maka disitulah aku merasa manusia paling lemah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.