Hahahaha judulnya terinspirasi dari buku Tere Liye yang berjudul "Kutukan Kecantikan Mis.X", dan entah mengapa di pagi hari yang gatau cerah gatau ngga ini (soalnya masih mengeram di kamar)... tibatiba sekelumit percakapan mengusutkan otak saya dan membuat saya terpaksa harus membuangnya, disini. Ada yang mau pungut? btw, tumben sih kegalauan dan inspirasi datang di pagi hari, iya sebuah perasaan aneh ini muncul ketika udah baca blog seseorang. Ga baca detail, rada skimming tapi udah buat saya galau juga, apalagi dibaca perlahan, dan muncullah tulisan ini.... Oke, ini dia...
"Membaca tulisan-tulisannya di blog pribadinya, aku semakin sadar bahwa aku sedang mencintai bayangan yang mencintai bayangannya. Lebih menyedihkan lagi, aku seolah-olah menyaksikan kejadian-kejadian itu di depan mataku, tapi aku tak tahu persis seperti apa."
"Kamu menulis untuk siapa?" aku bertanya dengan senyum menyelidik, agar tidak terlalu dianggap serius bertanya, terlihat penasaran, tapi ingin jawaban yang mengenai sasaran.
"Hahahaha, itu seperti brainstorming. Aku hanya tinggal mengingat sebuah nama penaku, dan inspirasi itu muncul dengan sendirinya.. Apa yang aku tuliskan banyak kok yang ga sesuai dengan kenyataan. Namanya fiksi."
Bisakah seorang penulis yang berhasil mengaduk-ngaduk emosi pembacanya, menulis tanpa hati sedikitpun? bisakah semua itu hanya karangan ketika dia bahkan berhasil membuat hari-hariku lebih menyesakkan?
Aku mencoba merasakannya juga. aku mencoba menjadi penulis yang tidak menulis dengan hati. Maksudku, semua tulisanku hanya perasaan karangan biasa saja. Tapi ketika ku membacanya kembali, rasanya amat hambar. Rasanya berbeda dengan tulisan yang kutulis dengan hati. Kamu tau? aku sesensitif itu. Aku bisa merasakannya. Bahkan perasaan kamu yang belum fix you.
***
"Ibu, cinta itu apa? apakah hanya segumpal perasaan yang mudah hilang? bagaimana aku bisa tahu, itu cinta, atau hanya perasaan selewat saja?"
"Ibu, bagaimana aku harus menghadapi perasaan menggelitik di perut, debaran di dada, tidak bisa tidur semalaman, dan seperti aku hanya punya satu sudut pandang tentangnya?"
"Ibu urusan ini, bagaimana lah ini? ibu, berhenti menggodaku.. aku hanya... aaaaahhh..."
"Ibu, awalnya aku menganggap semua orang teman. Termasuk dia, kami kebanyakan basa-basi tidak jelas, hanya sebagai perantara hati temanku yang mencintainya, menceritakan semua tentangnya, dan rasanya aku gereget sekali, dia seperti kena kutukan pesonanya, membuatnya tidak pernah maju barang satu sentipun."
"Ibu, saat itu aku memilih maju. Aku memilih bertanya banyak hal tentang semua paradoks hidup ini dan hubungan mereka berdua, aku tidak mengerti semua kejadian begitu misterius. Dan aku selalu mengerti keluh kesah temanku itu, karena saat itu aku juga merasakan perasaan yang sama-sama diabaikan. Bahkan namanya sama."
"Ibu, kejadian-kejadian itu seperti takdir yang telah direncanakan. Aku tidak pernah menyangka atas pertemuan singkat itu di bawah temaram lampu malam hari, aku hanya bisa fokus melihat senyumannya, mendengar setiap kata yang dia ucapkan meskipun cuma "hehe."
"Ibu tapi aku tahu, takdir itu skenario Allah, dan aku hanya penulis amatir yang ga pernah bisa mengintip skenario itu. Aku terkadang cemas dengan kisah akhir cintaku, ah, aku juga manusia, yang sebagaimanapun aku berhasil menata hatiku, aku tetap punya perasaan itu."
***
"Kamu ingat kan? malam-malam dimana aku selalu tersungkur menangis di pojok kamar. Malam-malam dimana aku putus asa, dan sudah mencapai "titik" dari dongeng kisah cintaku sendiri. Setiap malam aku menangisi orang yang sama, jahiliyah memang, aku bodoh saat itu, tapi aku tidak pernah menyesali kebodohanku itu."
Karena apa?
Karena dia berkata, "maaf selama ini aku cuma bohong. Pura-pura."
Dan kamu tau percis juga saat itu perasaanku seperti apa. Aku seperti telah dibawa lari oleh pangeran berkuda putih, dibawa jauuuuuh, kemudian dia meninggalkanku di tengah padang pasir tanpa makhluk satupun.
Lalu tatapan mata itu apa? Lalu kebaikan-kebaikan itu apa? ahiya, aku ingat, seseorang bisa saja memberi tanpa mencintai, tapi tidak bisa mencintai tanpa memberi. Mungkin aku masuk pilihan pertamanya. Hhhh.
Dan semuanya saat itu kucurahkan kepadamu.
Saat itu, kamu sedang mengalaminya juga. Kamu sedang merasa terhantam juga, terlempar dari kenyamananmu saat itu dengan seseorang. Seseorang yang selalu mengisi malam-malammu, mengisi harimu dengan suaranya yang mungkin tidak akan pernah kamu lupakan. Dia yang kamu ceritakan itu tiba-tiba berubah, tiba-tiba pergi menghilang begitu saja, tiba-tiba seperti dia membencimu padahal baru kemarin dia "pacantelan" denganmu.
Kamu tahu? aku sudah sangat serasi denganmu, klop, itu. Karena aku merasa takdir kita banyak sama, takdir untuk memiliki hati yg sensitif seperti ini. Dimana setiap aku memberikan pernyataan, kamu berkata "iya banget!" "nah, itu!". Kami hanya saling melengkapi. aku tahu, kamu pemalu. Kamu orang yang mudah dibawa perasaan tapi selalu berhasil menyembunyikannya, tapi kau tahu? aku lah yang paling bisa merasakannya. Meskipun golongan darah kita beda, haha. Aku tahu saat kamu semakin mencintai seseorang, kamu malah ingin semakin mundur karena merasa cemas dan takut terjebak, kemudian siklus itu terjadi lagi. Dan yang kamu tahu tentang aku, mungkin tidak seperti itu. Kamu tahu, kita sama-sama pura-pura cuek, tapi kamu lebih ke diam, dan aku lebih ke pura-pura teman. Hahahaha. Makanya aku sering terjebak friend-zone, dan kamu selalu terjebak di admire-zone. Miris siapa? entah. Ukuran nasib, kupikir tidak ada yang lebih baik.
***
Kutukan pesona Mr.X
Hahahahahaha. Lucu sekali. Aku yang gemas melihat hubunganmu tidak pernah maju-maju, meminta penjelasan, pura-pura teman, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Sudah terlalu banyak usulanku dulu, tapi tak ada yang kamu lakukan. akhir-akhirnya aku lah yang jadi perantara hubungan kalian. Ah, hubungan? entahlah, mungkin perantara perjuangan hatimu.
ah, kalau rumahmu di dekat rumahku, pasti sudah aku perkenalkan setiap hari. Lebih tepatnya kalau rumah kita bertiga berdekatan, kita bisa bermain bersama selalu. Tapi siapalah kita yang tak pantas berandai-andai ini? aku merasa, semua memang sudah ditakdirkan begini.
***
Entah takdir apalagi ini, tiba-tiba ada yang menceritakan sepotong paradoks masa lalu yang sama-sama menjadi pertanyaan kita, dan selama ini kita hanya pandai berasumsi dengan perasaan, memikirkan kemungkinan-kemungkinan A sampai Z. Dan potongan itu membuatku merenung 2 hari lamanya. Serius. Semua berjalan tidak sesuai yang aku rencanakan. Idealnya semua terjadi secara transparan, kita semua sama-sama tahu kebenaran, dunia sama-sama tahu yang sebenarnya meskipun menyakitkan. Tapi, tahukah kamu? dunia lebih complicated dari itu. Ada sesuatu yang harus kita jaga. Ada prinsip yang harus selalu diteguhkan. Ada hati yang selalu bertanya. Dan, dulu seharusnya aku bersyukur atas ketidaktahuan itu, tapi aku sekarang tidak kalah bersyukur atas penemuan potongan teka-teki masa lalu itu. Mungkin ini sudah takdir, tapi kenapa kamu memilihku untuk mengetahui itu? atau ini jalan dari Allah agar aku bisa selalu memandang hidup dari sudut pandang manapun? ah, bukan, ini mengajarkanku, betapa tidak pentingnya aku berandai-andai, berasumsi sendiri, lihatlah... paradoks itu bahkan jauh dari yang kami bayangkan. Saat ini, kapanpun, kita hanya perlu bersyukur. Tidak usah selalu bertanya-tanya, semua akan ada jalannya kapan kita akan mendapatkan kebenaran.
Tapi... apakah itu sungguh kebenaran? apakah sesuatu yang kita anggap kebenaran itu, benar-benar kebenaran dari sudut pandang manapun? apa iya? bahkan kebenaran yang terungkap juga, menyimpan teka-teki yang lain, yang meski hanya 2%misalnya, mungkin itu dapat mengubah jalan ceritanya.
***
Kutukan Pesona Mr.X
Ahya, kamu benar. Senyumannya yang membuatku kikuk di kamar, mengingat-ngingat kembali, aku kena kutukan itu. Aku bahkan gabisa lebih friendly dari sebelumnya, aku ingin memangkas habis perasaan ini. Ah, kebiasaan yang buruk bukan? bertahun-tahun aku menutup hati, dan setiap kali ada yang mengetuk, hanya mengetuk, aku ingin mengusirnya pergi.
***
Tapi satu hal yang aku pegang, bagaimanapun takdir membawaku ke sebuah kebenaran hidup yang menyakitkan, aku berharap aku dapat menerimanya, aku berharap aku saja yang merasakan pahitnya, tidak dengan sahabat-sahabatku, aku saja yang harus merenungi semua ini, jangan biarkan takdir terpaksa membuatku menyakiti mereka, kalaupun memang harus seperti itu..... aku siap menerima hukum alam yang berlaku di dunia ini.
***
Dan, hei kamu! iya kamu yang membaca ini. Apa perasaan kamu setelah membaca ini? apa aku menyindirmu di tulisan ini? apa aku merasa aku sedang menceritakan beberapa tentangmu? ah, bagaimana dengan penjelasan kamu "aku menulis semuanya iseng"? jadi apakah tulisan ini ditulis dengan hati atau tidak?
Jadi tulisanmu ditunjukkan untuk siapa?
"Membaca tulisan-tulisannya di blog pribadinya, aku semakin sadar bahwa aku sedang mencintai bayangan yang mencintai bayangannya. Lebih menyedihkan lagi, aku seolah-olah menyaksikan kejadian-kejadian itu di depan mataku, tapi aku tak tahu persis seperti apa."
"Kamu menulis untuk siapa?" aku bertanya dengan senyum menyelidik, agar tidak terlalu dianggap serius bertanya, terlihat penasaran, tapi ingin jawaban yang mengenai sasaran.
"Hahahaha, itu seperti brainstorming. Aku hanya tinggal mengingat sebuah nama penaku, dan inspirasi itu muncul dengan sendirinya.. Apa yang aku tuliskan banyak kok yang ga sesuai dengan kenyataan. Namanya fiksi."
Bisakah seorang penulis yang berhasil mengaduk-ngaduk emosi pembacanya, menulis tanpa hati sedikitpun? bisakah semua itu hanya karangan ketika dia bahkan berhasil membuat hari-hariku lebih menyesakkan?
Aku mencoba merasakannya juga. aku mencoba menjadi penulis yang tidak menulis dengan hati. Maksudku, semua tulisanku hanya perasaan karangan biasa saja. Tapi ketika ku membacanya kembali, rasanya amat hambar. Rasanya berbeda dengan tulisan yang kutulis dengan hati. Kamu tau? aku sesensitif itu. Aku bisa merasakannya. Bahkan perasaan kamu yang belum fix you.
***
"Ibu, cinta itu apa? apakah hanya segumpal perasaan yang mudah hilang? bagaimana aku bisa tahu, itu cinta, atau hanya perasaan selewat saja?"
"Ibu, bagaimana aku harus menghadapi perasaan menggelitik di perut, debaran di dada, tidak bisa tidur semalaman, dan seperti aku hanya punya satu sudut pandang tentangnya?"
"Ibu urusan ini, bagaimana lah ini? ibu, berhenti menggodaku.. aku hanya... aaaaahhh..."
"Ibu, awalnya aku menganggap semua orang teman. Termasuk dia, kami kebanyakan basa-basi tidak jelas, hanya sebagai perantara hati temanku yang mencintainya, menceritakan semua tentangnya, dan rasanya aku gereget sekali, dia seperti kena kutukan pesonanya, membuatnya tidak pernah maju barang satu sentipun."
"Ibu, saat itu aku memilih maju. Aku memilih bertanya banyak hal tentang semua paradoks hidup ini dan hubungan mereka berdua, aku tidak mengerti semua kejadian begitu misterius. Dan aku selalu mengerti keluh kesah temanku itu, karena saat itu aku juga merasakan perasaan yang sama-sama diabaikan. Bahkan namanya sama."
"Ibu, kejadian-kejadian itu seperti takdir yang telah direncanakan. Aku tidak pernah menyangka atas pertemuan singkat itu di bawah temaram lampu malam hari, aku hanya bisa fokus melihat senyumannya, mendengar setiap kata yang dia ucapkan meskipun cuma "hehe."
"Ibu tapi aku tahu, takdir itu skenario Allah, dan aku hanya penulis amatir yang ga pernah bisa mengintip skenario itu. Aku terkadang cemas dengan kisah akhir cintaku, ah, aku juga manusia, yang sebagaimanapun aku berhasil menata hatiku, aku tetap punya perasaan itu."
***
"Kamu ingat kan? malam-malam dimana aku selalu tersungkur menangis di pojok kamar. Malam-malam dimana aku putus asa, dan sudah mencapai "titik" dari dongeng kisah cintaku sendiri. Setiap malam aku menangisi orang yang sama, jahiliyah memang, aku bodoh saat itu, tapi aku tidak pernah menyesali kebodohanku itu."
Karena apa?
Karena dia berkata, "maaf selama ini aku cuma bohong. Pura-pura."
Dan kamu tau percis juga saat itu perasaanku seperti apa. Aku seperti telah dibawa lari oleh pangeran berkuda putih, dibawa jauuuuuh, kemudian dia meninggalkanku di tengah padang pasir tanpa makhluk satupun.
Lalu tatapan mata itu apa? Lalu kebaikan-kebaikan itu apa? ahiya, aku ingat, seseorang bisa saja memberi tanpa mencintai, tapi tidak bisa mencintai tanpa memberi. Mungkin aku masuk pilihan pertamanya. Hhhh.
Dan semuanya saat itu kucurahkan kepadamu.
Saat itu, kamu sedang mengalaminya juga. Kamu sedang merasa terhantam juga, terlempar dari kenyamananmu saat itu dengan seseorang. Seseorang yang selalu mengisi malam-malammu, mengisi harimu dengan suaranya yang mungkin tidak akan pernah kamu lupakan. Dia yang kamu ceritakan itu tiba-tiba berubah, tiba-tiba pergi menghilang begitu saja, tiba-tiba seperti dia membencimu padahal baru kemarin dia "pacantelan" denganmu.
Kamu tahu? aku sudah sangat serasi denganmu, klop, itu. Karena aku merasa takdir kita banyak sama, takdir untuk memiliki hati yg sensitif seperti ini. Dimana setiap aku memberikan pernyataan, kamu berkata "iya banget!" "nah, itu!". Kami hanya saling melengkapi. aku tahu, kamu pemalu. Kamu orang yang mudah dibawa perasaan tapi selalu berhasil menyembunyikannya, tapi kau tahu? aku lah yang paling bisa merasakannya. Meskipun golongan darah kita beda, haha. Aku tahu saat kamu semakin mencintai seseorang, kamu malah ingin semakin mundur karena merasa cemas dan takut terjebak, kemudian siklus itu terjadi lagi. Dan yang kamu tahu tentang aku, mungkin tidak seperti itu. Kamu tahu, kita sama-sama pura-pura cuek, tapi kamu lebih ke diam, dan aku lebih ke pura-pura teman. Hahahaha. Makanya aku sering terjebak friend-zone, dan kamu selalu terjebak di admire-zone. Miris siapa? entah. Ukuran nasib, kupikir tidak ada yang lebih baik.
***
Kutukan pesona Mr.X
Hahahahahaha. Lucu sekali. Aku yang gemas melihat hubunganmu tidak pernah maju-maju, meminta penjelasan, pura-pura teman, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Sudah terlalu banyak usulanku dulu, tapi tak ada yang kamu lakukan. akhir-akhirnya aku lah yang jadi perantara hubungan kalian. Ah, hubungan? entahlah, mungkin perantara perjuangan hatimu.
ah, kalau rumahmu di dekat rumahku, pasti sudah aku perkenalkan setiap hari. Lebih tepatnya kalau rumah kita bertiga berdekatan, kita bisa bermain bersama selalu. Tapi siapalah kita yang tak pantas berandai-andai ini? aku merasa, semua memang sudah ditakdirkan begini.
***
Entah takdir apalagi ini, tiba-tiba ada yang menceritakan sepotong paradoks masa lalu yang sama-sama menjadi pertanyaan kita, dan selama ini kita hanya pandai berasumsi dengan perasaan, memikirkan kemungkinan-kemungkinan A sampai Z. Dan potongan itu membuatku merenung 2 hari lamanya. Serius. Semua berjalan tidak sesuai yang aku rencanakan. Idealnya semua terjadi secara transparan, kita semua sama-sama tahu kebenaran, dunia sama-sama tahu yang sebenarnya meskipun menyakitkan. Tapi, tahukah kamu? dunia lebih complicated dari itu. Ada sesuatu yang harus kita jaga. Ada prinsip yang harus selalu diteguhkan. Ada hati yang selalu bertanya. Dan, dulu seharusnya aku bersyukur atas ketidaktahuan itu, tapi aku sekarang tidak kalah bersyukur atas penemuan potongan teka-teki masa lalu itu. Mungkin ini sudah takdir, tapi kenapa kamu memilihku untuk mengetahui itu? atau ini jalan dari Allah agar aku bisa selalu memandang hidup dari sudut pandang manapun? ah, bukan, ini mengajarkanku, betapa tidak pentingnya aku berandai-andai, berasumsi sendiri, lihatlah... paradoks itu bahkan jauh dari yang kami bayangkan. Saat ini, kapanpun, kita hanya perlu bersyukur. Tidak usah selalu bertanya-tanya, semua akan ada jalannya kapan kita akan mendapatkan kebenaran.
Tapi... apakah itu sungguh kebenaran? apakah sesuatu yang kita anggap kebenaran itu, benar-benar kebenaran dari sudut pandang manapun? apa iya? bahkan kebenaran yang terungkap juga, menyimpan teka-teki yang lain, yang meski hanya 2%misalnya, mungkin itu dapat mengubah jalan ceritanya.
***
Kutukan Pesona Mr.X
Ahya, kamu benar. Senyumannya yang membuatku kikuk di kamar, mengingat-ngingat kembali, aku kena kutukan itu. Aku bahkan gabisa lebih friendly dari sebelumnya, aku ingin memangkas habis perasaan ini. Ah, kebiasaan yang buruk bukan? bertahun-tahun aku menutup hati, dan setiap kali ada yang mengetuk, hanya mengetuk, aku ingin mengusirnya pergi.
***
Tapi satu hal yang aku pegang, bagaimanapun takdir membawaku ke sebuah kebenaran hidup yang menyakitkan, aku berharap aku dapat menerimanya, aku berharap aku saja yang merasakan pahitnya, tidak dengan sahabat-sahabatku, aku saja yang harus merenungi semua ini, jangan biarkan takdir terpaksa membuatku menyakiti mereka, kalaupun memang harus seperti itu..... aku siap menerima hukum alam yang berlaku di dunia ini.
***
Dan, hei kamu! iya kamu yang membaca ini. Apa perasaan kamu setelah membaca ini? apa aku menyindirmu di tulisan ini? apa aku merasa aku sedang menceritakan beberapa tentangmu? ah, bagaimana dengan penjelasan kamu "aku menulis semuanya iseng"? jadi apakah tulisan ini ditulis dengan hati atau tidak?
Jadi tulisanmu ditunjukkan untuk siapa?
Komentar
Posting Komentar