Rehan, jalan hidupmu teramat keras.
Dan kamu, tak kalah kokohnya.
Rehan memaki apa yang sepatutnya ingin ia maki.
Rehan membenci apa yang sepatutnya ingin ia benci. Walau semua kebenciannya ternyata kekeliruannya.
Rehan, kamu, dan juga mungkin aku dan semua orang di bumi ini, masing-masing memiliki pertanyaan besar dalam hidupnya.
Dan Rehan, adalah salah satu manusia di bumi ini yg selalu jujur atas pertanyaan-pertanyaannya.
Apakah hidup ini adil kau bilang? Mungkin pertanyaan itu juga milik semua orang di atas bumi ini, namun aku tidak pernah berani mempertanyakannya pada siapapun, pada apapun.
Tapi kau selalu mengatakan kejujurannya, bertanya meski pada rembulan yang menggantung di langit malam dari atas ketinggian.
Untuk kemudian pada akhirnya kau lagi-lagi jujur, betapa hidup ini adil dan kita lah yang terkadang bodoh tidak tahu dimana letak keadilannya.
Aku mungkin tidak bisa sepertimu, saat mengetahui tingkah pemilik panti yang gila gelar haji itu, kamu jujur, kamu berbeda, kamu pergi dari panti, demi terbebas dari kemuakanmu atas kemunafikan yang kamu lihat setiap harinya di panti.
Aku mungkin tidak bisa sepertimu, saat kamu membalas dendam kepada orang yang telah menyakiti anak-anak sekolah jalanan, saat terpancar spontanitas keinginanmu melindungi mereka semua. Walau pada akhirnya kamu tahu, perbuatan yang kau anggap kecil itu malapetaka bagi yang lain.
Sedangkan misalnya aku yang memiliki jalan hidup seperti itu, aku mungkin hanya bisa memaki keadaan, memaki diri sendiri dalam hati tanpa melakukan hal konkrit yang logikaku inginkan.
Namun yang aku tahu, ada sebuah kesamaan Rehan dengan aku yang menjadi titik dasar jalan cerita ini.
Ah, bukankah kita sama-sama tersungkur? Terduduk lemas ketika baru mendapatkan kebenaran dan keadilan hidup? Tentang bagaimana kita bertindak sesuai keinginan kita, tanpa pikir panjang, tanpa kita tahu, bahwa hidup adalah sebab akibat. Akan saling menyakiti satu sama lain.
Meski bukan itu hakikatnya. Hidup memanglah siklus roda yang berputar. Aku dan Rehan, adalah tokoh yang sama bodohnya tidak menyadari letak keadilan hidup selama ini. Bahwa mau tidak mau kita akan memerankan peran antagonis bagi hidup orang lain meski tidak ada yang menyadarinya.
Rehan, seperti malam-malam yang kau keluhkan, maupun malam-malam yang kau syukuri. Dialog bisu antara Rehan dengan rembulan.
Kini, rembulan itu.. Telah tenggelam di wajahmu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi tunggu!!!!!
Bisakah Rehan menungguku?
Atau rembulan itu menungguku?
Atau bisakah dua rembulan tenggelam dalam 1 bentang langit malam?
Kalau begitu aku mau satu.
Setidaknya, ajarkan aku.
Agar, Rembulan (juga) Tenggelam di Wajahku.
*Ditulis untuk mengikuti Gramedi Blogger Competition
*Ditulis untuk mengikuti Gra
*Ditulis untuk mengikuti Gramedi Blogger Competition
*Ditulis untuk mengikuti Gra

Good 😁👍
BalasHapus