Sebelumnya, terima kasih telah melindungiku.
Dari kehadiran yang terlalu dini.
Dari perasaan yang belum saatnya.
Dari harapan yang terlanjur tumbuh.
Terima kasih telah memangkasnya habis.
Meski kau lupa, akarnya masih di dalam tanah, tersisa hidup begitu saja.
Terima kasih telah pergi, atau bahkan kau sebenarnya belum pernah datang?
Kamu sudah terlalu banyak melindungiku.
Karena kamu bukan pria yang penuh janji, satu persatu memangkas harapan itu. Meski aku juga lagi-lagi lupa untuk memangkasnya hingga ke dasar akarnya.
Aku ingin membalas kebaikanmu.
Selama ini, sekarang, dan ku harap sampai waktu terhenti, aku masih melindungimu.
Dari tatapan yang menarik perhatianmu.
Dari keindahan yang membuatmu berangan-angan.
Dari kemolekan tubuh yang membuatmu terbuai.
Aku menutup diri, karena aku mencintai diri sendiri, dan juga, kau tahu? Karena aku mencintaimu.
Agar apa yang aku perlihatkan dan apa yang kau lihat tidak akan melukai kita sebelum saat itu tiba.
Aku bertahan, dari tawa ejekan yang berkata menutup tubuh adalah yang malas merawat diri.
Aku bertahan, dari tawa ejekan yang berkata menutup tubuh akan lama dapat jodoh.
Aku bertahan, dari tawa ejekan yang berkata menutup tubuh adalah menutupi 'keborokannya'.
Aku bertahan, karena aku ingin melindungi kita.
Ketika kau datang, ingin rasanya aku menangis sejadi-jadinya di bahumu.
Menceritakan semua yang selama ini tak dapat kuceritakan.
Bolehkah aku manja sekali saja?
Karena aku yakin, kamu, masa depanku, tak akan membiarkan aku hanya bergantung kepadamu.
Yang perlu kamu tahu, sekarang, dengan penuh lebam di dalam, aku berusaha untuk taat. Aku yakin kamu mengerti, akan banyak godaan untuk menuju itu.
Dan kau tahu? Aku tetap saja tulang rusuk yang bengkok.
Yang butuh bimbinganmu untuk taat.
Yang butuh menyempurnakan separuh agamaku dari kehadiranmu.
Komentar
Posting Komentar