Langsung ke konten utama

Aku (juga) Ingin Melindungimu

Sebelumnya, terima kasih telah melindungiku.

Dari kehadiran yang terlalu dini.

Dari perasaan yang belum saatnya.

Dari harapan yang terlanjur tumbuh.

Terima kasih telah memangkasnya habis.

Meski kau lupa, akarnya masih di dalam tanah, tersisa hidup begitu saja.

Terima kasih telah pergi, atau bahkan kau sebenarnya belum pernah datang?

Kamu sudah terlalu banyak melindungiku.

Karena kamu bukan pria yang penuh janji, satu persatu memangkas harapan itu. Meski aku juga lagi-lagi lupa untuk memangkasnya hingga ke dasar akarnya.

Aku ingin membalas kebaikanmu.

Selama ini, sekarang, dan ku harap sampai waktu terhenti, aku masih melindungimu.

Dari tatapan yang menarik perhatianmu.

Dari keindahan yang membuatmu berangan-angan.

Dari kemolekan tubuh yang membuatmu terbuai.

Aku menutup diri, karena aku mencintai diri sendiri, dan juga, kau tahu? Karena aku mencintaimu.

Agar apa yang aku perlihatkan dan apa yang kau lihat tidak akan melukai kita sebelum saat itu tiba.

Aku bertahan, dari tawa ejekan yang berkata menutup tubuh adalah yang malas merawat diri.

Aku bertahan, dari tawa ejekan yang berkata menutup tubuh akan lama dapat jodoh.
Aku bertahan, dari tawa ejekan yang berkata menutup tubuh adalah menutupi 'keborokannya'.

Aku bertahan, karena aku ingin melindungi kita.

Ketika kau datang, ingin rasanya aku menangis sejadi-jadinya di bahumu.

Menceritakan semua yang selama ini tak dapat kuceritakan.

Bolehkah aku manja sekali saja?

Karena aku yakin, kamu, masa depanku, tak akan membiarkan aku hanya bergantung kepadamu.

Yang perlu kamu tahu, sekarang, dengan penuh lebam di dalam, aku berusaha untuk taat. Aku yakin kamu mengerti, akan banyak godaan untuk menuju itu.

Dan kau tahu? Aku tetap saja tulang rusuk yang bengkok.

Yang butuh bimbinganmu untuk taat.

Yang butuh menyempurnakan separuh agamaku dari kehadiranmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.