Dalam perjalanan hidup, aku adalah orang yang selalu bertanya.
Salah satunya mengenai, makna cantik, apa yang dimaksud cantiknya seorang wanita?
Kenapa wanita harus terlihat cantik? atau berusaha cantik?
Kalau sudah cantik, lalu mau apa?
Bagaimana cara mengukur kecantikan?
Dalam perjalanan hidup, kemudian aku "dipertemukan" dengan Kak Laisa.
Aku ingat, ketika dia meminta izin kepada mamak untuk berhenti sekolah demi membantu mamak menyekolahkan adik-adiknya.
Aku ingat, ketika dia satu-satunya orang yang percaya pada Dalimunte dan menjadi malaikat bagi inspirasi kincir airnya.
Aku ingat, ketika dia disakiti oleh adiknya, Wibisana dan Ikanuri, dicemooh, diejek bukan kakak kandungnya karena dia berbeda dari yang lain, tapi setelahnya, dia menyelamatkan mereka dari kandang harimau.
Aku ingat, ketika dia tersungkur di bawah hujan badai gelapnya malam, mencari obat demi kesembuhan Yashinta.
Dia selalu berlari, ingin menjadi orang pertama untuk menolong adik-adiknya.
Dia selalu menjadi orang yang pertama maju membela adik-adiknya.
Dia selalu menjadi orang yang pertama mempercayai adik-adiknya, tidak peduli meski sering dikecewakan, dia tak menyerah untuk mendidik adik-adiknya dengan baik.
Dia tidak menyerah pada jodoh, tapi bukan menjadi satu-satunya tujuan hidupnya.
Dia terlalu cantik bagi dunia yang penuh penilaian kuantitatif.
Aku ingat, ketika dia dengan rela 'dilangkahi' oleh adik-adiknya untuk menikah.
Aku tahu, perasaan itu sangat tidak mudah, tapi baginya.. baginya.. melihat adik-adiknya cantik dan tampan, sukses dan bahagia, adalah kebahagiaan dan kesuksesan terbesarnya.
Aku ingat, ketika katanya seorang ahli agama ingin melamarnya, memberikan harapan untuk Kak Laisa. Dan katanya, penampilan fisik bukanlah yang utama, kecantikan hati yang ia cari.
Nyatanya? Dunia sama saja. Pria itu mundur ketika benar-benar melihat penampilan fisik Kak Laisa. Bukan menunjukkan buruknya Kak Laisa, tapi menunjukkan siapa pria itu sebenarnya.
Lagi-lagi, ini bukan hal yang mudah lagi bagi Kak Laisa. Tidak ada pria untuk wanita secantik dia.
Dan dipenghujung hayatnya, dia menjadi orang nomor satu di hati adik-adiknya. Sebetapapun pertemuan penting mereka saat itu, sedikit saja kabar dari Kak Laisa, sedikit saja permintaan Kak Laisa, maka tanpa berpikir panjang, adik-adiknya selalu mematuhinya, menghormatinya. Kak Laisa adalah malaikat bagi adik-adiknya.
Bang Tere Liye, boleh "kugigit" Kak Laisa?
Aku ingin seperti dia, yang meskipun kini aku belum melanjutkan kuliah seperti teman-teman lainnya, aku ingin seperti dia, mengerahkan semua kemampuanku untuk membantu ibu menyekolahkan adik-adikku setinggi mungkin.
Aku ingin seperti dia, yang meskipun beribu-ribu kali disakiti oleh ucapan-ucapan adiknya, aku tidak berhenti mendoakan kebaikannya.
Aku ingin seperti dia, yang meskipun takdir seolah selalu tidak berpihak, tapi harapannya tidak selalu pupus. Yang bahagia karena hal sederhana, melihat adik-adiknya bahagia.
Aku ingin seperti dia, yang sibuk dengan kebaikan-kebaikan, tidak peduli jika tidak ada yang memperhatikan, bahkan menatapku jijik. Itu mungkin lebih baik daripada cantik rupawan namun ditatap nafsu.
Aku ingin seperti dia, yang yakin bahwa setiap satu hal kesulitan yang melebihi sebelumnya, justru meningkatkan derajat kita, bukan malah berpikir bahwa kita adalah orang sial.
Aku ingin "menggigit" Kak Laisa. Meyakini bahwa semua takdir, jodoh, hidup dan mati adalah kehendak Allah. Tidak berprasangka macam-macam, sibuk melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.
Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (QS Al-Waqiah: 22),
Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita (QS Ar-Rahman :70),
Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (QS Ash-Shaffat: 49).
Dalam epilog novel ini, Bang Tere-Liye menulis:
“Dengarkanlah kabar gembira ini.
Wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga
puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah
(mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah
‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan
wajah), yakinlah, wanita-wanita shalehah yang sendiri, namun tetap
mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur,
kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan
kabar baik itu pastilah benar. Bidadari surga parasnya cantik luar
biasa.
Setelah menutup halaman terakhir, aku menemukan jawaban. Cantik itu Kak Laisa. Cantik itu tidak terlihat. Cantik itu tersimpan amat baik. Cantik itu, bahkan tidak disadari bahwa itu cantik. Bagai emas, semakin murni semakin mahal.
*Ditulis untuk mengikuti Gramedia Blogger Competition

Komentar
Posting Komentar