Langsung ke konten utama

Letter to You


Semoga dapat menerangi hati yg temaram.










Apa jadinya jika hidupku tanpaMu?
Bagiku, keajaiban adalah bukan ketika aku dapat mengubah tongkat menjadi ular.
Keajaiban itu sederhana ada di depan mata kita.
Yaitu, ketika aku tak bisa tidur semalaman mencemaskan hari esok yang aku takuti, dan aku hanya dapat menangis, sungguh-sungguh memohon, hanya meminta satu keajaiban kepada Sang Pemilik Rasa untuk mengubah rasa gelisah dan gemuruh di dada ini menjadi rasa tenang dan damai.
Kala itu aku pasrah, karena apapun yg terjadi, jika aku masih diberi kesempatan hidup, aku tetap harus menghadapi hari esok dengan penuh tanggung jawab, dan kalau bisa bersinar dalam kegelapan layaknya kunang-kunang.
Ah, kunang-kunang.
Maafkan aku, dulu aku bertekad kuat sekali untuk menjadi kunang-kunang yg redup dan belajar dari siang yg terang dan bersinar di kegelapan malam.
Ternyata ini?
Ternyata ini konsekuensi yg harus aku jalani?
Ini berat sekali.
Semua peran antagonis seperti di film tak sungkan sungkan menampakkan diri.
Atau aku yg hanya terlalu perasa?
Berharap sih begitu.
Ah, bukankah ini Letter to You?
Lalu bagaimana jika hidup aku ini tanpaMu?
Aku tidak akan mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku, mendapat 'keajaiban' yg bagiku itu luar biasa namun mudah sekali untuk Kau lakukan.
Ya. Keajaiban yg luar biasa sekali menurutku adalah mengubah rasa.
Mengubah rasa seorang pujangga cinta menjadi pembenci. Mengubah pembenci menjadi pecinta yg dicintai banyak orang. Mengubah penakut menjadi pemberani. Mengubah pemberani menjadi penakut. Sejatinya, aku sadar aku tidak dapat menguasai itu semua, karena semua rasa itu tiba-tiba hinggap di hati kita. Maka tiap kali aku meminta, peduli amat dengan jumlah harta kekayaan yg ingin kumiliki, kalau aku masih tidak bisa menikmati hidup ini. Aku hanya meminta untuk sebuah keajaiban rasa. Jika ada penyakit hati seperti sebuah kebencian atau dendam yg tertimbun, maka tolong.. Tolong selalu ajarkanku untuk memiliki hati yg tangguh dan semua ujian itu hanya proses menyakitkan pengolahan intan menjadi berlian.
Ahhh, ujian yg kubilang? Yakin ini adalah ujianku? Atau mungkin penebusan dosa yg tak kusadari?
Karena ujian hanya untuk orang-orang yg beriman. Aku sendiri tak yakin aku seiman itu. Karena seseorang yg meminta cintaMu setengah berat zarrah pun menjadi... Ah, menyadarkanku betapa lemahnya aku ini di depanMu.
Walau begitu, tolong, tolong ajarkan aku untuk selalu kuat di hadapan manusia meski sebenarnya selangkah setelah aku keluar dari tempat yg membuatku gelisah itu, setetes demi setetes air mata itu mengalir begitu saja di pipi.
Meskipun itu menyakitkan dan sesak sekali rasanya, tapi dalam lubuk terdalam aku merasakan kedamaian. Daripada ketika hari-hariku berjalan tanpa air mata dan semua terasa kosong. Aku bersyukur masih mempunyai alasan utk menangis dan meminta. Terlebih meminta utk selalu kuat menghadapi hinaan dan cacian, bukankah Kau tidak pernah tidur? Untuk selalu kuat tidak membalas perbuatan orang lain yg menyakitiku, bukankah Kau hakim paling adil? Bukankah Kau berjanji akan menutup aib seseorang di akhirat nanti ketika aku menyembunyikan aibnya? Sekalipun itu menyakitkan sekali?
Ketika aku tidak tahan lagi dengan air mata kebencian, tidak ingin hidup seperti ini lebih lama lagi, dan ingin hidup seperti yg kuinginkan, perasaan yg tiba-tiba memuncak yg dapat membunuh perlahan itu.. Kemudian aku disadarkan dgn kalimatMu bahwa sesuatu yg aku benci boleh jadi baik bagiku dan sesuatu yg aku cintai boleh jadi buruk bagiMu. Kau mengetahui apa yg tidak aku ketahui.
Mungkin Kau memang mentakdirkan seorang wanita dgn perasaan berlebih. Dengan prasangka-prasangka yang dapat dijadikan kekuatan atau bahkan kelemahannya. Tapi ini bukan prasangkaku kan? Engkau yg mengatakan "Aku adalah dekat". Dan aku mempercayainya. Karena wanita selalu lebih tenang dgn diberi janji-janji. Bukan suatu saat untuk menagihnya, tapi untuk menghadirkan rasa damai di hati untuk sebuah kesempatan bahwa masih ada yg dapat kita percaya.
Kemarin malam aku membuka mata dari tidur yg melelahkan. Karena sebelum ku menutup mata, ada sisa kegelisahan untuk kuhadapi esok paginya meski kuakui jauh lebih tenang ketika Kau menenangkanku dengan kalimat-kalimatMu.
Aku membuka mata. Kemudian menutup mata lagi. Tapi yg kurasakan ketika membuka ataupun menutup mata sama saja. Semuanya gelap. Bahkan meski aku berkali-kali mengedipkan mata tetap saja gelap. Aku berusaha bangun layaknya orang buta yg meraba-raba sekitar mencari handphone untuk menyalakan flashlight. Belum sempat ku menemukan handphone, aku melihat jendela yg membantuku melihat sekitar. Bercahaya walau sebenarnya sama saja gelap. Aku berhasil melihat pukul berapa saat itu. Ternyata setengah 3. Aku bergegas ke kamar mandi masih dengan pencerahan handphone seadanya dan diam.. Hening.. Seperti uji nyali di dunia lain tapi entah mengapa aku tidak takut dengan hal-hal astral semacamnya yg bisa saja tiba-tiba mengagetkanku seperti di film-film. Aku bergegas menunaikan hal yg selama ini kurindukan. Dengan penerangan lampu handphone seadanya. Dan what i got here that you must try it and realize too.....
Oh, Aku merasa seperti dunia sudah berakhir. Semua makhluk telah pergi dan aku tinggal sendiri di muka bumi ini. Sepi. Aku tidak pernah mau hidup selamanya. Apalagi jika yg kualami hanya kedatangan dan kepergian orang-orang yg kucintai. Aku ingin sebuah kekekalan dan keabadian bersama orang yg kucintai. Dimana itu?
Lalu kemudian Kau menjawabnya.
Kemudian aku memutuskan utk memejamkan mata. Katanya jika kita mematikan salah satu indra maka akan menguatkan indra lainnya. Dan pendengaranku terasa lebih jernih saat itu.
Malam itu sunyiii sekali. Seperti yg kubilang layaknya dunia yg gelap tak ada seorangpun manusia lagi dan itu menyedihkan. Namun di telingaku, rasanya berisiiik sekali. Ada suara detakan yg entah berasal darimana -yg jelas bukan detakan jarum jam atau jantung sendiri. Ada suara berisik hewan yg aku sendiri tidak tahu apa dan berbagai gemuruh yg masih samar di telingaku.
Aku menikmati masa-masa itu. Masa dimana aku hanya bisa berdiam dihadapanMu berdua saja, bermesraan, tanpa ada orang lain. Sunyi yg bising. Bising yg merdu.
Ahh, kemudian hal yg membuatku lebih baper, teringat kekasihMu yg dulu tak hentinya melakukan rutinitas itu PADA ZAMAN ITU. Yang pencahayaannya belum seputih yg sekarang. Betapa lebih 'keu eung'nya saat itu. Tapi kuyakin tak ada perasaan itu dalam hati kekasihMu.
Bagaimana jika hidupku tanpaMu?
Aku ingat malam-malam penuh kerinduan terhadap makhluk ciptaanMu dan aku tak dapat melakukan apa-apa lagi karena cintanya yg hilang dan rasa dalam diri ini masih menetap.
Kemudian Engkau mengingatkanku dalam surat Muhammad (47) ayat 36: Sesungguhnya kehidupan dunia hanya senda gurau...
Aku ingat bagaimana dulu aku pernah terjatuh di lubang seperti ini juga dan aku berhasil melewatinya. Lalu bagaimana jika perasaan ini Kau karuniakan senda gurau juga? Maksudku mungkinkah rasa ini diciptakan untuk mengujiku? Kalimat ini.... Aku tak dapat menanggapinya dengan kata-kata. Dalam sekali maknanya. Semua ini hanya senda gurau dan toh semua perasaan sama saja. Maka kumohon, ijinkan aku melewati semua senda gurau ini dengan menutup mata dari kebutaan yg membuatku lupa diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.