Semoga dapat membuatmu lebih bersyukur.
Ini mungkin akan menceritakan beberapa tentangmu. Karena jujur saja sulit sekali utk menceritakan tentangmu. Karena terlalu universal dan luas sekali bahasan ini. Aku harus menceritakan semua orang yg kurangkum menjadi satu. Tapi aku harus melakukannya karena ini adalah salah satu dari tiga bagian mode yg kumiliki.
Jadi ada tiga mode rasa dalam hidupku. Mode agamis yg biasa kalian lihat, mode minder yg berharap kpd manusia sesuatu yg ngga-ngga, dan mode sombong yg selalu membela dirinya sendiri. Kalau yg kamu lihat selama ini tulisanku agamis, itu hanya lg aktif salah satu mode dari dua mode lainnya yg berusaha aku sembunyikan.
Meskipun seringkali gagal. Seperti kali ini misalnya. Aku akan menjelaskannya. Jangan terkejut membacanya ya.
Pesan terakhirku di grup line teman-teman yg pernah menjadi bagian dari masa-masa terbaikku, "sampai jumpa di depan kawan, insyaallah." Kemudian aku left group dan meninggalkan teman-teman yg kucintai itu. Meskipun cuma di line tapi sejatinya mereka selalu ada di hatiku.
Kenapa aku left? Banyak sekali yg berputar di kepalaku. Aku merasa sudah bumi dan langit sekali dengan mereka. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa keren yg sedang berada di tempat impian mereka meskipun aku tahu untuk bertahan disana mungkin butuh perjuangan yg tak dapat aku bayangkan.
Aku merasa berbeda sekali dengan mereka. Rasa minder tiba-tiba bergemuruh. Aku tahu, mereka pasti mendoakan kebaikanku utk juga bisa kuliah di tempat yg kuinginkan. Tapi...
Tidak perlu kawan. Apa ya, di satu sisi aku mengakui bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing, tapi di sisi lain ada sesuatu yg berbisik bahwa aku tidak pantas untuk mereka.
Aku hanya ingin menyerahkan alur hidupku kepada Sang Pemberi Skenario terbaik dan menikmati setiap kesulitan yg harus aku jalani, dan aku tidak mau teman-temanku yg keren itu terbawa. Biarlah aku sendiri di bumi ini tanpa seorang sahabat yg menemani dalam suka maupun duka. Biarlah mereka sibuk meniti masa depan dengan orang-orang hebat di sekelilingnya. Biarlah aku menjadi orang yg terlupakan agar tidak menjadi beban hidup siapapun.
Biarlah kalian duluan saja yg sukses di depan memiliki cerita-cerita yg dapat dibanggakan. Aku disini ikut tersenyum mengetahui kabar-kabar baiknya.
Aku? Bukannya tidak berambisi utk bersaing dgn mereka, atau menjadi sekeren mereka. Tapi kau tahu kan daun jatuh mengikuti alur angin yg berhembus?
Aku merasa harus move on dulu dari mereka meski sebenarnya sulit. Aku rindu kamu. Kamu yg aku rindukan ternyata sudah bersama teman-teman baru.
Ini juga untuk kamu, iya kamu yg lg kuliah s1 pgpaud:')) kau tahu? Suratmu waktu SMP masih selalu aku simpan di dompet untuk dibaca lagi. Sesuatu agar aku tidak sampai lupa diri. Kamu sering dengar kan kalimat "bahagia itu sederhana"?. Bahagia itu memang sederhana. Salah satunya ketika aku bisa bersamamu seharian penuh, membicarakan semua hal tentang kita maupun bukan. Hingga aku selalu bilang "cangkeul mulut" setiap bersamamu karena tak henti-hentinya kita bercerita. Aku menyukai berisik maupun diammu. Ketika diammu, aku mendapatimu sedang sholat dhuha dalam perjalanan, hal-hal sederhana yg membuat aku terhenyak. Ketika aku merasa hidupmu jauh lebih beruntung, maafkan aku, mungkin aku hanya belum tahu lebih jauh rasa sakitmu, tapi aku bercermin, mungkin bukan hidupku yg tidak lebih beruntung dr kehidupanmu, tapi ibadahku yg lebih cacat dari ibadahmu. Itu kenapa aku tidak ingin melepas teman sepertimu. Kamu seperti teman tempat aku pulang. Meski mungkin bukan aku yg menjadi teman tempatmu pulang.
Ini untukmu juga yg teduh sekali saat melihatmu. Aku mungkin belum mengenal siapa dirimu. Hanya tahu namamu dan melihat parasmu. Bukan. Kamu bukan seorang laki-laki yg kubicarakan dan kudambakan. Kamu adalah seorang wanita sederhana, dengan senyum dan rasa malunya yg membuatmu menjadi lebih terhormat. Di camping itu, kamu adalah titik balik inspirasi hijab syar'iku. Meski hijabku mungkin masih jauh dari sempurna. Darimu, aku percaya bahwa hal besar bagi seseorang datang dari hal kecil yg dilakukan dgn sederhana. Bukan dgn menggurui, tapi dengan mencontoh.
Ini juga untukmu. Yg lagi kerja sambil kuliah jurusan bisnis menejemen. Kamu adalah orang baik walau bukan yg terbaik. Believe me, mungkin kamu sekarang sedang menyangkalnya dalam hati "aku tidak sebaik yg kamu prasangka kan", iya kan? Begitu pun aku, aku juga tidak sebaik yg kamu duga. Kamu mungkin bukan titik balik aku menujuNya dan tidak ada niatan sama sekali untuk itu. Tapi bagaimanapun itu aku selalu mengkaitkannya, karena setiap yg terjadi dalam kehidupanku merupakan titik balik tersendiri yg aku tarik benang kusutnya. Kamu mungkin tidak mengajarkanku bagaimana mendekati Tuhanku. Tapi kamu mengajariku dgn sederhana mengenai nilai-nilai itu. Nilai kesederhanaan dan paradoks kehidupan. Entah bagaimana caranya aku seolah bisa temukan paradoks hidupmu meski aku tidak tahu apa-apa. Kalau secara fisik kamu hanya satu-satunya, secara kepribadian kamu bisa lebih dari satu. Kepribadian yg ingin kamu tunjukkan, dan kepribadian yg aku lihat. Karena sulit sekali utk kulakukan karena sering bersatu dengan prasangka. Kamu tenang saja, tidak perlu geer, aku tidak sebegitunya mencintaimu karena aku punya mode rasa ini dalam diriku: Minder. Maka aku bisa menghilang dan tidak mengganggumu lg. Anggap saja aku tidak pernah ada di bumi ini. Pergilah sejauh yg kamu mau. Kembalilah jika kau ingin menetap, bukan meminta maaf. Terima kasih atas perjalanan berharganya. Lupakan aku dan kembali bersinarlah.
Ini juga untukmu yg sedang bekerja di industri farmasi dan sudah nyaman di tempatnya bekerja. Yg waktu sekolah jadi teman yg paling peka kalau aku lapar:") kalau aku butuh tumpangan:") yg mau direpotin terus sama aku. Kamu adalah pendengar yg baik. Ah, baiknya kebangetan yg membuat aku merasa buruk. Lupakanlah aku dan kembali bersinarlah, kamu akan menuai apa yg telah kau tanam kepadaku selama ini. Tidak ada kebaikan yg tidak berbuah manis. Sekalipun itu mungkin rasa sakit yg kau tahan karena aku. Karena mungkin kita hanya akan saling menyakiti jika terus bersama.
Untukmu teman-teman sekolahku yg masih sering meet up bareng dan update di sosmed. Senang sekali ya bisa ketemu temen sekolah, main, menghabiskan waktu bersama sahabat lama? Sedangkan aku disini sepi menanti kehadiran seorang teman dekat. Maafkan aku, bukan, bukan aku tidak ingin meluangkan waktu bertemu karena menolak ajakan main bersama. Tapi karena aku disini masih punya tanggungan yg masih harus aku tuntaskan. Aku disini seolah belum lulus sekolah. Aku belum boleh memikirkan diriku sendiri untuk banyak bermain. Maafkan aku. Untuk telah menjadi teman yg canggung yg tidak easygoing mudah diajak have fun meski sebenarnya ingin sekali. Tapi mungkin saat aku siap memanjakan diri, kamu sudah tidak perlu keberadaanku lagi. Lupakan saja aku. Anggap aku tidak pernah ada hingga aku benar-benar tiada.
Aku dibawa perasaan dalam perjalanan pulang kampung ini, melihat sekumpulan anak muda yg juga sedang melakukan perjalanan jauh bersama. Kompak sekali mereka. Terasa persahabatan dan kekeluargaan yg hangat. Ahh bagaimana rasanya? Aku jd ingat geng ABC -nama samaran- yg aku dengar dr cerita-cerita teman. Bagaimana rasanya memiliki sahabat yg seperti keluarga sendiri? Memiliki banyak teman dekat yg saling memahami dan mendukung. Kenyataannya aku masih sering merasa sepi walau ramai sekali kehadiran kamu dalam memori ini.
Ini untukmu juga, semua sahabat-sahabatku yg sedang sibuk-sibuknya kuliah maupun kerja dan doing such a great thing. Tersenyumlah, bersyukurlah, karena di luar sana -sebut saja itu aku- dan banyak orang yg sepertiku, yg ingin memiliki hidup sepertimu.
Aku pergi dulu. Sampai jumpa kawan. Semoga kita bertemu di depan. Insyaallah.
Terakhir kawan, bila suatu saat kau tak temukanku di surga, tolong cari aku di neraka dan katakan padaNya bahwa aku adalah orang yg selalu mencintaimu dalam diam.
Ini mungkin akan menceritakan beberapa tentangmu. Karena jujur saja sulit sekali utk menceritakan tentangmu. Karena terlalu universal dan luas sekali bahasan ini. Aku harus menceritakan semua orang yg kurangkum menjadi satu. Tapi aku harus melakukannya karena ini adalah salah satu dari tiga bagian mode yg kumiliki.
Jadi ada tiga mode rasa dalam hidupku. Mode agamis yg biasa kalian lihat, mode minder yg berharap kpd manusia sesuatu yg ngga-ngga, dan mode sombong yg selalu membela dirinya sendiri. Kalau yg kamu lihat selama ini tulisanku agamis, itu hanya lg aktif salah satu mode dari dua mode lainnya yg berusaha aku sembunyikan.
Meskipun seringkali gagal. Seperti kali ini misalnya. Aku akan menjelaskannya. Jangan terkejut membacanya ya.
Pesan terakhirku di grup line teman-teman yg pernah menjadi bagian dari masa-masa terbaikku, "sampai jumpa di depan kawan, insyaallah." Kemudian aku left group dan meninggalkan teman-teman yg kucintai itu. Meskipun cuma di line tapi sejatinya mereka selalu ada di hatiku.
Kenapa aku left? Banyak sekali yg berputar di kepalaku. Aku merasa sudah bumi dan langit sekali dengan mereka. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa keren yg sedang berada di tempat impian mereka meskipun aku tahu untuk bertahan disana mungkin butuh perjuangan yg tak dapat aku bayangkan.
Aku merasa berbeda sekali dengan mereka. Rasa minder tiba-tiba bergemuruh. Aku tahu, mereka pasti mendoakan kebaikanku utk juga bisa kuliah di tempat yg kuinginkan. Tapi...
Tidak perlu kawan. Apa ya, di satu sisi aku mengakui bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing, tapi di sisi lain ada sesuatu yg berbisik bahwa aku tidak pantas untuk mereka.
Aku hanya ingin menyerahkan alur hidupku kepada Sang Pemberi Skenario terbaik dan menikmati setiap kesulitan yg harus aku jalani, dan aku tidak mau teman-temanku yg keren itu terbawa. Biarlah aku sendiri di bumi ini tanpa seorang sahabat yg menemani dalam suka maupun duka. Biarlah mereka sibuk meniti masa depan dengan orang-orang hebat di sekelilingnya. Biarlah aku menjadi orang yg terlupakan agar tidak menjadi beban hidup siapapun.
Biarlah kalian duluan saja yg sukses di depan memiliki cerita-cerita yg dapat dibanggakan. Aku disini ikut tersenyum mengetahui kabar-kabar baiknya.
Aku? Bukannya tidak berambisi utk bersaing dgn mereka, atau menjadi sekeren mereka. Tapi kau tahu kan daun jatuh mengikuti alur angin yg berhembus?
Aku merasa harus move on dulu dari mereka meski sebenarnya sulit. Aku rindu kamu. Kamu yg aku rindukan ternyata sudah bersama teman-teman baru.
Ini juga untuk kamu, iya kamu yg lg kuliah s1 pgpaud:')) kau tahu? Suratmu waktu SMP masih selalu aku simpan di dompet untuk dibaca lagi. Sesuatu agar aku tidak sampai lupa diri. Kamu sering dengar kan kalimat "bahagia itu sederhana"?. Bahagia itu memang sederhana. Salah satunya ketika aku bisa bersamamu seharian penuh, membicarakan semua hal tentang kita maupun bukan. Hingga aku selalu bilang "cangkeul mulut" setiap bersamamu karena tak henti-hentinya kita bercerita. Aku menyukai berisik maupun diammu. Ketika diammu, aku mendapatimu sedang sholat dhuha dalam perjalanan, hal-hal sederhana yg membuat aku terhenyak. Ketika aku merasa hidupmu jauh lebih beruntung, maafkan aku, mungkin aku hanya belum tahu lebih jauh rasa sakitmu, tapi aku bercermin, mungkin bukan hidupku yg tidak lebih beruntung dr kehidupanmu, tapi ibadahku yg lebih cacat dari ibadahmu. Itu kenapa aku tidak ingin melepas teman sepertimu. Kamu seperti teman tempat aku pulang. Meski mungkin bukan aku yg menjadi teman tempatmu pulang.
Ini untukmu juga yg teduh sekali saat melihatmu. Aku mungkin belum mengenal siapa dirimu. Hanya tahu namamu dan melihat parasmu. Bukan. Kamu bukan seorang laki-laki yg kubicarakan dan kudambakan. Kamu adalah seorang wanita sederhana, dengan senyum dan rasa malunya yg membuatmu menjadi lebih terhormat. Di camping itu, kamu adalah titik balik inspirasi hijab syar'iku. Meski hijabku mungkin masih jauh dari sempurna. Darimu, aku percaya bahwa hal besar bagi seseorang datang dari hal kecil yg dilakukan dgn sederhana. Bukan dgn menggurui, tapi dengan mencontoh.
Ini juga untukmu. Yg lagi kerja sambil kuliah jurusan bisnis menejemen. Kamu adalah orang baik walau bukan yg terbaik. Believe me, mungkin kamu sekarang sedang menyangkalnya dalam hati "aku tidak sebaik yg kamu prasangka kan", iya kan? Begitu pun aku, aku juga tidak sebaik yg kamu duga. Kamu mungkin bukan titik balik aku menujuNya dan tidak ada niatan sama sekali untuk itu. Tapi bagaimanapun itu aku selalu mengkaitkannya, karena setiap yg terjadi dalam kehidupanku merupakan titik balik tersendiri yg aku tarik benang kusutnya. Kamu mungkin tidak mengajarkanku bagaimana mendekati Tuhanku. Tapi kamu mengajariku dgn sederhana mengenai nilai-nilai itu. Nilai kesederhanaan dan paradoks kehidupan. Entah bagaimana caranya aku seolah bisa temukan paradoks hidupmu meski aku tidak tahu apa-apa. Kalau secara fisik kamu hanya satu-satunya, secara kepribadian kamu bisa lebih dari satu. Kepribadian yg ingin kamu tunjukkan, dan kepribadian yg aku lihat. Karena sulit sekali utk kulakukan karena sering bersatu dengan prasangka. Kamu tenang saja, tidak perlu geer, aku tidak sebegitunya mencintaimu karena aku punya mode rasa ini dalam diriku: Minder. Maka aku bisa menghilang dan tidak mengganggumu lg. Anggap saja aku tidak pernah ada di bumi ini. Pergilah sejauh yg kamu mau. Kembalilah jika kau ingin menetap, bukan meminta maaf. Terima kasih atas perjalanan berharganya. Lupakan aku dan kembali bersinarlah.
Ini juga untukmu yg sedang bekerja di industri farmasi dan sudah nyaman di tempatnya bekerja. Yg waktu sekolah jadi teman yg paling peka kalau aku lapar:") kalau aku butuh tumpangan:") yg mau direpotin terus sama aku. Kamu adalah pendengar yg baik. Ah, baiknya kebangetan yg membuat aku merasa buruk. Lupakanlah aku dan kembali bersinarlah, kamu akan menuai apa yg telah kau tanam kepadaku selama ini. Tidak ada kebaikan yg tidak berbuah manis. Sekalipun itu mungkin rasa sakit yg kau tahan karena aku. Karena mungkin kita hanya akan saling menyakiti jika terus bersama.
Untukmu teman-teman sekolahku yg masih sering meet up bareng dan update di sosmed. Senang sekali ya bisa ketemu temen sekolah, main, menghabiskan waktu bersama sahabat lama? Sedangkan aku disini sepi menanti kehadiran seorang teman dekat. Maafkan aku, bukan, bukan aku tidak ingin meluangkan waktu bertemu karena menolak ajakan main bersama. Tapi karena aku disini masih punya tanggungan yg masih harus aku tuntaskan. Aku disini seolah belum lulus sekolah. Aku belum boleh memikirkan diriku sendiri untuk banyak bermain. Maafkan aku. Untuk telah menjadi teman yg canggung yg tidak easygoing mudah diajak have fun meski sebenarnya ingin sekali. Tapi mungkin saat aku siap memanjakan diri, kamu sudah tidak perlu keberadaanku lagi. Lupakan saja aku. Anggap aku tidak pernah ada hingga aku benar-benar tiada.
Aku dibawa perasaan dalam perjalanan pulang kampung ini, melihat sekumpulan anak muda yg juga sedang melakukan perjalanan jauh bersama. Kompak sekali mereka. Terasa persahabatan dan kekeluargaan yg hangat. Ahh bagaimana rasanya? Aku jd ingat geng ABC -nama samaran- yg aku dengar dr cerita-cerita teman. Bagaimana rasanya memiliki sahabat yg seperti keluarga sendiri? Memiliki banyak teman dekat yg saling memahami dan mendukung. Kenyataannya aku masih sering merasa sepi walau ramai sekali kehadiran kamu dalam memori ini.
Ini untukmu juga, semua sahabat-sahabatku yg sedang sibuk-sibuknya kuliah maupun kerja dan doing such a great thing. Tersenyumlah, bersyukurlah, karena di luar sana -sebut saja itu aku- dan banyak orang yg sepertiku, yg ingin memiliki hidup sepertimu.
Aku pergi dulu. Sampai jumpa kawan. Semoga kita bertemu di depan. Insyaallah.
Terakhir kawan, bila suatu saat kau tak temukanku di surga, tolong cari aku di neraka dan katakan padaNya bahwa aku adalah orang yg selalu mencintaimu dalam diam.
Komentar
Posting Komentar