Sebagian dibuat saat hujan, seluruhnya dibuat dengan secangkir kopi panas. Jadi lazim kalau absurd.
Namun ia terlalu bising.
Ingin ku mendengarkan air,
Dia mencintai seorang Putri
Aku mencintai seorang Pangeran.
Sayangnya aku bukan seorang Putri,
Dan dia tetaplah Pangerannya.
Kau tahu kenapa aku bisa mencintaimu?
Itu karena kau tidak mencintaiku.
Coba kalau kau mencintaiku...
Mungkin aku tidak akan hanya mencintaimu,
Tapi lebih dari itu.
Kau bilang aku hebat bisa meminum secangkir kopi pahit sekaligus?
Itu karena kau berada di depanku.
Ah, kali ini, ketika kau tak lagi di depanku,
Aku masih bisa melakukannya.
Itu karena kau sempurna merasuki jiwaku.
Aku berterima kasih ada kopi di dunia ini.
Karena efek candunya bisa membuat ketidakhadiranmu menjadi lebih romantis.
Cinta adalah penerimaan kenangan yang menyakitkan.
Kalau kau masih mengenangnya dengan cara menyakitkan,
Berarti kau tidak pernah mencintainya.
Kau hanya menginginkannya.
Aku tidak takut jika pada akhirnya aku tidak bersamamu.
Yang aku takutkan jika pada akhirnya aku bersamamu,
Namun kau tidak bersamaku.
Aku bukan Pujangga, Penyair, atau apapun yang mereka katakan.
Aku hanya mencintaimu.
Aku pikir dia adalah Pangeran,
Nyatanya dia hanya manusia biasa.
Iya, manusia biasa yang seperti kebanyakan, mendambakan seorang Putri.
Yang bahkan hingga Random Poetry yang kesekian,
Aku masih tetap bukan Putri-nya.
Aku tidak berpuisi tentang cinta bertepuk sebelah tangan,
Aku hanya tengah belajar mencintai kehilangan.
Hobiku hanya berimajinasi.
Pekerjaanku hanya berimajinasi.
Maafkan aku kalau kau terlalu lelah selalu terseret ke dalamnya.
Rasa kadang tak yakin, apakah sebegitunya mencintaimu.
Atau sebenarnya aku hanya mencintai imajinasiku.
Namun sebelum memastikan, apakah aku benar mencintaimu.
Tolong ajarkan aku untuk berhenti berimajinasi.
Tidak mungkin bukan?
Rasa itu kadang datang, sesekali pergi, meski sering datang lagi.
Itu kenapa aku berhenti berjuang.
Karena aku tidak mampu mengendalikan rasaku sendiri.
Aku ingin lihat, kemana rasa itu ketika aku tak berbuat apa-apa lagi.
Nyatanya ia masih disitu.
Tergugu dalam penjara hati.
Apakah puisi selalu harus bisa dijelaskan maknanya?
Lalu kenapa kau masih sering bertanya?
Kenapa kamu tidak pernah mengerti?
Itu karena kau sempurna tidak pernah terjatuh kepadaku.
Terakhir, ternyata aku salah,
Kau bukan hanya manusia biasa.
Kau memang Pangerannya.
Pangeran yang tak dirindukan oleh seorang Putri.
Putri yang merindukan manusia biasa.
Dan aku yang manusia biasa mendambakan seorang Pangeran.
Terus saja hidup, cinta, seperti ini.
Sampai kapan berakhir?
Mungkin sampai dongeng dan imajinasi tidak ada lagi.
Puisimu bagus :D
BalasHapus