Kata orang, sabar itu ada batasnya.
Kemudian seseorang menjawab, bagaimana dengan kesabaran Rasulullah?
Tak terbatas kah?
Kemudian seorang manusia menjawab lagi,
Aku bukan rasul.
Yang imannya semakin bertambah.
Aku bukan malaikat, yang selalu taat dan tak pernah melanggar.
Aku juga bukan setan yang terkutuk.
Aku, manusia biasa.
Yang imannya fluktuatif.
Aku, manusia biasa yang seringkali terpeleset hatinya. Meminta uluran tangan seorang manusia.
Sahabat, hidup ini benar-benar paradoks.
Dua orang bisa saja saling mencintai tapi tak pernah saling mengerti.
Dua orang bisa saja memiliki rasa sepi yang sama tapi tak bisa saling mengisi.
Dua orang bisa saja saling merindukan tapi tak bisa saling menyapa, walau dalam imaji sekalipun.
Dua orang bisa saja ditakdirkan bersama, cerminan bagi satu sama lain, tapi tak saling mencintai.
Atau dua orang bisa saja saling mencintai tapi hanya ditakdirkan dalam hatinya saja, bukan hidupnya.
Tapi, sahabat, hidup bukan hanya tentang dua orang. Tapi bisa tiga, empat, dan seterusnya..
Seperti Hujan yang mencintai Angin, namun Angin tak kunjung datang. Sibuk membisikkan hangat yang membuat pipi merona bagi siapa saja yang terkena bisikkannya.
Tidak pernah tahu bahwa Hujan terus menantinya. Menanti Angin menujunya dan membiarkan Hujan terjatuh sejatuh-jatuhnya, menderaskan kerinduan yang lama tertahan oleh gumpalan Awan.
Ah, bagaimana nasib Awan?
Dia selalu menopang Hujan. Menopang Hujan yang terus saja berkeluh kesah membendung Awan. Tak peduli meski ia kedinginan, merindukan secarik Matahari yang biasanya menghangatkannya.
Demi sang Hujan, ia mau membantu bendungan kerinduannya.
Namun lagi-lagi kali ini Hujan yang tidak tahu. Ada yang selama ini menahan dinginnya, demi menopangnya agar tidak terjatuh begitu saja. Agar pertahanannya tidak hancur. Meski pada akhirnya akan jatuh juga. Namanya juga Hujan. Kalau tidak jatuh, bukan Hujan.
Meski kata orang hidup adalah pilihan, sejatinya dalam situasi tertentu, ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih. Seperti posisi menjadi Angin, Hujan, Awan, atau Matahari. Hanya kita bisa memilih, ketika takdir memilihkan kita salah satu, apa yang akan kita lakukan.
Rasa cinta, rindu, sabar, mereka tidak terbatas. Tidak berujung.
Hanya saja kita sebagai manusia seringkali lengah di tengah perjalanannya. Menyimpulkan inilah batas kesabarannya. Inilah batas kerinduannya.
Tapi meski sabar tak terbatas, ada kalanya kita harus sengaja menjatuhkan bendungannya. Bendungan sang Hujan yang telah lama sang Awan berusaha topang.
Bila aku adalah sang Awan, yang mencintai Hujan, mungkin inilah batasnya. Batas sang Awan harus merelakan Hujan terjatuh sejatuh-jatuhnya.
Meskipun tidak ada yang sadar, kala Hujan terjatuh seperti yang dia inginkan, di saat yang sama Awan terpaksa harus menghilang. Luruh bersama derasnya air yang terjatuh.
Ah, bila aku sang Awan, aku tidak ingin terjatuh begitu saja. Aku harus berubah. Menjadi matahari misalnya. Yang bersatu bersama Hujan dan menghasilkan Pelangi bersama.
Bila kamu mencintai Hujan, jadilah Matahari.
Kepada wanita yang menyimpan Hujan. Dan pria yang menyimpan matahari. Pada keduanya aku merajut Impian. Bersama membentuk Pelangi.
Jadikan sabar, rindu, dan cinta selalu tak terbatas. Sekalipun kemampuan manusia serba terbatas.
Jadikan sabar, rindu, dan cinta selalu tak terbatas. Demi Pelangi yang dijanjikan.
위위 Jingga
wah... bagus mbak tulisannya. suka ^-^
BalasHapussemoga sabar dan shalat selalu menjadi penolong kita. ^-^