Aku bilang, aku mencintai manusia.
Kepada manusia biasa, dari manusia biasa.
Lalu apa lagi?
Aku tak ingin memaksamu.
Karena aku tahu, kamu manusia biasa.
Yang tak pernah tahu kemana rasa akan melangkah.
Tapi sekali lagi, aku juga manusia biasa.
Yang tak bisa kendalikan rasa yang terlanjur dipecut, terpaksa berlari, demi sang tuan.
Aku tahu kamu manusia biasa, yang tak punya apa-apa.
Pakaian di tubuhmu, bisa berubah kapan saja, semakin menyilaukan, atau justru usang.
Harta di genggamanmu, bisa berubah kapan saja, menjadi belati dan menyakiti diri, atau bongkahan berlian yang membuatmu lupa diri.
Ragamu juga sebuah pinjaman, yang bisa diambil kapan saja, satu persatu, atau sekaligus.
Bagaimana dengan hatimu?
Tentu saja aku mengerti, hatimu jika itu hati manusia,
Adalah hati yang selalu meragu
Kemana seharusnya hatimu berlabuh.
Aku mencintaimu sebagai manusia.
Itu kenapa aku tak ingin memaksa
Bukan kamu yang mengatur perasaanmu sendiri.
Bukan kamu yang ciptakan getaran dalam dadamu sendiri.
Bukan kamu yang menggelitik perutmu sendiri.
Lalu, haruskah aku sendiri yang menggelitik perutmu?
Haha.
Haha.
Tak mengapa jika aku hanya mencintai sendiri.
Karena aku sadar, aku juga manusia biasa.
Yang tak kuasa membolak-balikkan rasa.
Kepada manusia, dari manusia
위위 Jingga
Kepada manusia biasa, dari manusia biasa.
Lalu apa lagi?
Aku tak ingin memaksamu.
Karena aku tahu, kamu manusia biasa.
Yang tak pernah tahu kemana rasa akan melangkah.
Tapi sekali lagi, aku juga manusia biasa.
Yang tak bisa kendalikan rasa yang terlanjur dipecut, terpaksa berlari, demi sang tuan.
Aku tahu kamu manusia biasa, yang tak punya apa-apa.
Pakaian di tubuhmu, bisa berubah kapan saja, semakin menyilaukan, atau justru usang.
Harta di genggamanmu, bisa berubah kapan saja, menjadi belati dan menyakiti diri, atau bongkahan berlian yang membuatmu lupa diri.
Ragamu juga sebuah pinjaman, yang bisa diambil kapan saja, satu persatu, atau sekaligus.
Bagaimana dengan hatimu?
Tentu saja aku mengerti, hatimu jika itu hati manusia,
Adalah hati yang selalu meragu
Kemana seharusnya hatimu berlabuh.
Aku mencintaimu sebagai manusia.
Itu kenapa aku tak ingin memaksa
Bukan kamu yang mengatur perasaanmu sendiri.
Bukan kamu yang ciptakan getaran dalam dadamu sendiri.
Bukan kamu yang menggelitik perutmu sendiri.
Lalu, haruskah aku sendiri yang menggelitik perutmu?
Haha.
Haha.
Tak mengapa jika aku hanya mencintai sendiri.
Karena aku sadar, aku juga manusia biasa.
Yang tak kuasa membolak-balikkan rasa.
Kepada manusia, dari manusia
위위 Jingga
Komentar
Posting Komentar