Langsung ke konten utama

Konsekuensi Manusia

Aku bilang, aku mencintai manusia.

Kepada manusia biasa, dari manusia biasa.
Lalu apa lagi?

Aku tak ingin memaksamu.

Karena aku tahu, kamu manusia biasa.


Yang tak pernah tahu kemana rasa akan melangkah.

Tapi sekali lagi, aku juga manusia biasa.

Yang tak bisa kendalikan rasa yang terlanjur dipecut, terpaksa berlari, demi sang tuan.

Aku tahu kamu manusia biasa, yang tak punya apa-apa.

Pakaian di tubuhmu, bisa berubah kapan saja, semakin menyilaukan, atau justru usang.

Harta di genggamanmu, bisa berubah kapan saja, menjadi belati dan menyakiti diri, atau bongkahan berlian yang membuatmu lupa diri.

Ragamu juga sebuah pinjaman, yang bisa diambil kapan saja, satu persatu, atau sekaligus.

Bagaimana dengan hatimu?

Tentu saja aku mengerti, hatimu jika itu hati manusia,

Adalah hati yang selalu meragu
Kemana seharusnya hatimu berlabuh.


Aku mencintaimu sebagai manusia.

Itu kenapa aku tak ingin memaksa

Bukan kamu yang mengatur perasaanmu sendiri.

Bukan kamu yang ciptakan getaran dalam dadamu sendiri.

Bukan kamu yang menggelitik perutmu sendiri.

Lalu, haruskah aku sendiri yang menggelitik perutmu?

Haha.

Haha.

Tak mengapa jika aku hanya mencintai sendiri.

Karena aku sadar, aku juga manusia biasa.
Yang tak kuasa membolak-balikkan rasa.





Kepada manusia, dari manusia




위위 Jingga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.