Kita adalah dua insan yang tercipta untuk saling bertemu, sekejap, kemudian saling melupakan. Melepaskan. Hingga abunya menyatu bersama debu dan iringan angin yang tak tentu arah.
Irama hujan yang menghujam, tetesan hujan yang bersamaan, berlari menuju sesuatu untuk kembali berlari menuju sesuatu. Mengejar sang mata angin yang hingga kapanpun tak dapat digenggamnya.
Bagaimana bisa? Hujan tak pernah menyangka, hingga kapanpun tak akan memiliki ide tentang wujud Angin! Tapi Hujan selalu saja berlarian, rusuh, mengejar atau dikejar, bergerak atau digerakkan bersama Angin.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita membayangkan wujud sesuatu yang tak bisa kita lihat? Dia yang menggerakkan, kita dapat rasakan, hanya itu kodrat kita. Jangan coba-coba lagi!
Kita hanya sekeping uang logam dari jumlah harta karun di dunia, lalu kenapa masih dongakkan kepala?
Pening sekali kepala ini, tapi Angin masih menggerakkan kita yang ringan ini. Angin macam apa yang membuat payung kita berubah menjadi mangkuk (penadah harta?).
Kemudian kamu menyerah, aku pasrah. Kita bersama pun tak ada gunanya lagi jika alam tetap murka. Jika alam masih tidak ridho dengan kebersamaan kita.
Hingga payung naungan kita ikut bersekongkol.
Kamu boleh balik arah, pulanglah. Atau aku yang berlari duluan?
Pergilah, berlarilah, minta padaNya untuk kita bisa saling mengenang dengan baik, tidak dengan secuil asa untuk kembali bersama.
Pergilah, berlarilah, cari keridhoan alam. Jika di depan sana kau temukanku di tujuan yang sama, bolehkahku menjadi teman hidupmu mencari keridhoan alam yang belum pernah kita dapati?
위위 Jingga
Irama hujan yang menghujam, tetesan hujan yang bersamaan, berlari menuju sesuatu untuk kembali berlari menuju sesuatu. Mengejar sang mata angin yang hingga kapanpun tak dapat digenggamnya.
Bagaimana bisa? Hujan tak pernah menyangka, hingga kapanpun tak akan memiliki ide tentang wujud Angin! Tapi Hujan selalu saja berlarian, rusuh, mengejar atau dikejar, bergerak atau digerakkan bersama Angin.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita membayangkan wujud sesuatu yang tak bisa kita lihat? Dia yang menggerakkan, kita dapat rasakan, hanya itu kodrat kita. Jangan coba-coba lagi!
Kita hanya sekeping uang logam dari jumlah harta karun di dunia, lalu kenapa masih dongakkan kepala?
Pening sekali kepala ini, tapi Angin masih menggerakkan kita yang ringan ini. Angin macam apa yang membuat payung kita berubah menjadi mangkuk (penadah harta?).
Kemudian kamu menyerah, aku pasrah. Kita bersama pun tak ada gunanya lagi jika alam tetap murka. Jika alam masih tidak ridho dengan kebersamaan kita.
Hingga payung naungan kita ikut bersekongkol.
Kamu boleh balik arah, pulanglah. Atau aku yang berlari duluan?
Pergilah, berlarilah, minta padaNya untuk kita bisa saling mengenang dengan baik, tidak dengan secuil asa untuk kembali bersama.
Pergilah, berlarilah, cari keridhoan alam. Jika di depan sana kau temukanku di tujuan yang sama, bolehkahku menjadi teman hidupmu mencari keridhoan alam yang belum pernah kita dapati?
위위 Jingga
Komentar
Posting Komentar