Langsung ke konten utama

Kita?

Kita adalah dua insan yang tercipta untuk saling bertemu, sekejap, kemudian saling melupakan. Melepaskan. Hingga abunya menyatu bersama debu dan iringan angin yang tak tentu arah.
Irama hujan yang menghujam, tetesan hujan yang bersamaan, berlari menuju sesuatu untuk kembali berlari menuju sesuatu. Mengejar sang mata angin yang hingga kapanpun tak dapat digenggamnya.
Bagaimana bisa? Hujan tak pernah menyangka, hingga kapanpun tak akan memiliki ide tentang wujud Angin! Tapi Hujan selalu saja berlarian, rusuh, mengejar atau dikejar, bergerak atau digerakkan bersama Angin.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita membayangkan wujud sesuatu yang tak bisa kita lihat? Dia yang menggerakkan, kita dapat rasakan, hanya itu kodrat kita. Jangan coba-coba lagi!
Kita hanya sekeping uang logam dari jumlah harta karun di dunia, lalu kenapa masih dongakkan kepala?
Pening sekali kepala ini, tapi Angin masih menggerakkan kita yang ringan ini. Angin macam apa yang membuat payung kita berubah menjadi mangkuk (penadah harta?).
Kemudian kamu menyerah, aku pasrah. Kita bersama pun tak ada gunanya lagi jika alam tetap murka. Jika alam masih tidak ridho dengan kebersamaan kita.
Hingga payung naungan kita ikut bersekongkol.
Kamu boleh balik arah, pulanglah. Atau aku yang berlari duluan?
Pergilah, berlarilah, minta padaNya untuk kita bisa saling mengenang dengan baik, tidak dengan secuil asa untuk kembali bersama.
Pergilah, berlarilah, cari keridhoan alam. Jika di depan sana kau temukanku di tujuan yang sama, bolehkahku menjadi teman hidupmu mencari keridhoan alam yang belum pernah kita dapati?




위위 Jingga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.