Langsung ke konten utama

SELEKSI PPAN JAWA BARAT 2016 TAHAP I DAN II [SHARE PENGALAMAN]

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat umumnya untuk teman-teman yang berencana mengikuti seleksi PPAN tahun berikutnya, dan khususnya untuk diriku sendiri.

PPAN singkatan dari Pertukaran Pemuda Antar Negara yang diadakan setiap tahun oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (info selengkapnya bisa langsung dicek di pcmijabar.org)

Sebelumnya saya dapat info PPAN ini sangat mendadak dari teman sekolah saya, yang kakak kelas kita pernah terpilih jadi delegasi PPAN ke Canada. Walhasil, dengan tanpa persiapan yang panjang kami bertekad untuk memperjuangkannya. Meskipun saat itu waktunya lumayan mepet.

Kita langsung saja share pengalaman tiap seleksinya ya.


I. seleksi tahap I (daerah/regional)

Seleksi ini diadakan di Kota/Kabupaten masing-masing. Tapi ada beberapa daerah juga yang tidak melakukan seleksi (tergantung kebijakan daerahnya, biasanya tergantung kuota yang terpenuhi juga, dan beberapa hal lain yang terserah mereka sebenarnya). Saran buat yang berencana ikut, kita harus aktif sendiri datang ke dispora setempat mencari info tentang PPAN ini. Biasanya seleksi daerah dibuka sekitar awal maret.

Untuk daerahku, Alhamdulillah(?) tidak ada seleksi kabupaten (jangan tanya kabupaten mana) (padahal quota kelebihan), dan aku tinggal menunggu mengambil surat rekomendasi dari dispora. Alhamdulillah sampai disini belum ada aral melintang kecuali beberapa hal yang kecil seperti ban motor (temen) bocor, etc, etc.

Di waktu yang ditentukan, kami datang ke dispora kabupaten untuk mengambil surat rekomendasi, dan dapatlah kita tiket menuju pintu yang lebih “mantap”.
II. seleksi tahap II

Seleksi ini mulai agak klimaks. Pengumuman tugas saat itu saya baca hari Kamis malam, sedangkan testnya dilakukan hari sabtunya. Saat itu saya punya aktivitas yang cukup padat dan penting juga yang membuat darahku mengalir lebih kencang(?). Lalu, saya dan teman (yang sudah meminta tukar jadwal kerja jadi sama-sama siang) memiliki waktu kosong bersama pada hari Jum’at selama tiga jam untuk mengerjakan SELURUH tugas. Itu pun dengan catatan power point PPA harus sudah dikirim ke email pcmi jabar sebelum pukul 23.59 AM.

Apa itu PPA? PPA adalah Post Program Activity berupa social project yang akan kita jalankan rutin setelah pulang nanti. Jadi, program ini tidak main-main. Salah saya yang menganggapnya sepele, dengan iseng-iseng mengikuti program ini. Tapi kita lihat dulu kelanjutan ceritanya...

Malam Jum’at itu saya panik, tidak bisa tidur, memikirkan PPA. PPA OH PPA. Yang bikin pusing itu tentang konsepnya, bikin power point mah insyaallah 10 menit juga jadi.
Tiba-tiba saya terigat rencana saya (yang terlalu besar sih)yang nekat saya pikirkan dan saya pun mencoba menuangkannya pada ppa (saat itu saya pikir, untung cuma power point, jadi Cuma gambaran globalnya saja). Walhasil tiga jam di hari Jum’at itu hanya berhasil mengerjakan SATU tugas, belum tugas yang lain.

Tugas selanjutnya adalah membuat video Art & Culture Performances. Saya berpikir keras akan membuat video apa. Karena saya tidak memiliki banyak pengalaman di kesenian. Jadi kelimpungan sendiri. Saya mengakui sih, saya memang agak apatis dengan seni dan budaya daerah Indonesia. Perasaan saya saat itu tidak karuan, antara menyerah atau harus terseok-seok. Tapi bukan Wiwi Jingga namanya kalau tidak penasaran dengan apa yang selanjutnya harus dihadapi. Lebih baik malu karena ketahuan belum mampu daripada malu karena mundur sebelum mencoba untuk pada akhirnya menyesal sepanjang hidup karena PENASARAN. Karena saat itu sudah jam kerja, kami memutuskan untuk kerja masing-masing dilanjutkan nanti malam.

Pulang kerja saya jam 10 malam, siap-siap untuk menginap di rumah teman melanjutkan tugas. Dan teman saya menjemput jam setengah 11 malam. Kami sama-sama belum ngeprint dan fotocopy berkas-berkas yang dibutuhkan. Walhasil malam-malam jam segitu hingga pukul setengah 12 malam kami mencari tukang fotocopy dan print, tapi tidak ketemu. Kami pulang dengan perasaan, entahlah..
Kami berniat membuat video malam hari, teman saya mempersiapkan semuanya, saya menunggu hingga ketiduran (bisa-bisanya ya). Pukul tiga saya bangun, dan begitulah kalau bangun kepagian di rumah orang, bingung harus gimana, padahal was-was tugas belum beres. Akhirnya saya memutuskan mengingat-ngingat kembali gerakan silat yang waktu ujian praktek olahraga SMK. Alhamdulillah saya ingat hingga durasi 2 menit (karena maksimal durasi video juga 2 menit). Kami pun mulai mengambil video pukul setengah 4 hingga jam 5 subuh (padahal durasi video hanya 2 menit per orang, yah begitulah banyak gagal dan segala macemnya).

Kemudian kami berangkat pukul 6 pagi (padahal rencana disana jam 6 loh, karena registrasi ulang dimulai pukul 06.30) dengan keadaan belum ngeprint berkas yang dibutuhkan. Parah banget kan?
Pertama saya lihat kondisi, wah-wah para peserta sepertinya sudah siap semuanya, dan kami yang panik sendiri karena masih terlalu pagi untuk ada tukang print dan fotocopy-an juga, dan disorda jabar itu letaknya jauh kemana-mana. Bahkan mau keluar gerbang juga terasa jauh bagi pejalan kaki. Singkat cerita (eh maaf padahal udah kepanjangan :D) kami lari-lari nyari tukang ngeprint sampai ke deket ITB. Pas pulang lagi, ditanya sama dari dinasnya “Habis dari mana?” saya pun menjawab habis ngeprint, padahal –kaduhung- katanya tinggal bilang saja kan datanya sudah ada kemarin saya kirimkan sebelumnya. GUBRAK.

Ohiya, ada yang ga kalah serunya BUAT SAYA. Karena kebanyakan para peserta adalah mahasiswa/i maupun profesional yang sudah banyak pengalaman. Usianya rata-rata matang, di atas 20-an. Saya apa? Hehehehehe. Dengan bangganya (sekaligus sedikit malu sih) kami memperkenalkan diri bahwa kami baru 18 tahun, belum kuliah, dan baru lulus SMK tahun 2015. Tapi ditahap dua ini saya tidak sendirian sih. Jadi tidak terlalu begitu berarti.

EH, belum mulai-mulai seleksinya ya? Kebanyakan curhat, ampun-_-

Oke, seleksi pertama yaitu written test. Jadi kaya ujian gitu tentang seni dan budaya Indonesia khususnya Jawa Barat dan durasi waktunya SANGAT SEDIKIT. Jadi jangan kebanyakan mikir ya, tulis saja apa yang terlintas ketika membaca pertanyaannya.

Sebelumnya, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang selama seleksi berjalan akan bersama-sama. Jadi setiap kelompok jadwalnya berbeda-beda. Ada yang personal interview dulu, presentasi PPA, atau pun panel interview.

Yap, seperti yang telah ditulis di atas, seleksi selanjutnya terdiri dari :

1. Personal Interview

Disini bagian yang paling saya sukai. Karena kita hanya perlu jujur tentang diri sendiri. Tentang komitmen kita mengikuti PPAN dan selanjutnya akan tergabung di organisasi PCMI Jabar. Tentang pribadi, kisah hidup, kekurangan, kelebihan, dan lain sebagianya. Meskipun banyak pertanyaan skak mat buat saya. Seperti ini,

“Apa rencanamu dua tahun ke depan?”

“Saya rencana mau kuliah dulu..”

“Oh, berarti kamu rencana tahun ini daftar PTN juga?”

“Iya, Kak.”

“Kalau kamu diterima di PPAN, terus bagaimana? Yakin mau ninggalin kuliah? Pengurusan berkas itu bersamaan loh, kamu pasti harus memilih salah satunya..”

Dan seterusnya.. pokoknya pikirkan pertanyaan-pertanyaan yang bikin skak mat antara komitmen seperti itu. Tapi jawaban juga jangan dibuat-buat. Just be yourself. Karena mereka juga pandai menilai siapa yang jawabannya dibuat-buat hanya untuk menyenangkan hati mereka, dan siapa yang benar-benar menjawabnya dari hati.

Filosofinya sederhana saja, kalau kamu sudah jujur dan mereka tidak memilihmu, berarti itu belum menjadi tempat yang tepat saat itu, entah untuk tahun depan. Kalau kata salah satu panitianya begini, “kalau kamu belum terpilih, positif thinking saja, mungkin kamu terlalu overqualify buat PPAN” :D
Dan personal interview saya diakhiri dengan pertanyaan yang cukup menusuk hati saya, membuat saya berpikir banyak hal,

“Apa kegagalan terbesar kamu?”

Dan kemudian mata saya berlinang... –padahal tidak ada di skenarioL


2. Panel Interview

Di test ini untuk menguji pengetahuan dan wawasan kita. Yang membuat saya mempermalukan diri saya sendiri.

Yang masuk ke ruangan itu ada 7 orang, kami disuruh menentukan siapa yang pertama dan terakhir untuk mendapatkan pertanyaan giliran dengan tema yang kita pilih. Ada ekonomi, sejarah, budaya, sastra dan filsafat, dan lain-lain. Rata-rata di ruangan itu adalah mahasiswa yang SUPER DUPER KEREN dengan jawabannya masing-masing, sedangkan saya hanyalah seonggok kulit pembungkus tulang yang olohok :o

Kami dipersilakan untuk menambahkan jawaban teman apabila juri belum puas dengan jawabannya. Saya yang pura-pura ngacung terakhir dan menyesal tidak kebagian, hanya bisa berpasrah saja, saya sampai yakin tidak lolos, dan pasrah saja, berharap tidak bertemu jurinya lagi, karena malu banget-nget-nget.

Alhamdulillah, Allah yang Maha Baik, ketika giliran saya, saya memilih bidang Sastra dan Filsafat (HAHAHAHA SOSOAN BANGET, padahal berapa banyak sih buku sastra yang saya baca? Paling Tere Liye-_-). Dan Alhamdulillah, saya berhasil menjawab satu pertanyaan tanpa direbut orang dari tiga pertanyaan. Itu merupakan pencapaian yang luar biasa menurut saya. Karena ketika masuk pun, saya akan pasrah jika semua pertanyaan saya olohok-kan. Dan saya dapat pertanyaan...

“Apa yang kamu ketahui tentang Dewi Lestari?”

ALHAMDULILLAH YA ALLAH, KALAU PERLU SAAT ITU SAYA SUJUD SYUKUR. Untung saya mengenalnya –ga juga sih. Setidaknya saya bisa menceritakan sedikit banyak tentang karya-karyanya (padahal, FYI, belum ada satu buku pun karyanya yang saya baca atau tonton._. nanti kalau ada yang minjemin mah, saya baca).

Dengan 1 jawaban itu, saya lumayan lega (padahal yang lainnya banyak menjawab). Da saya mah 1 juga udah uyuhan lah.

Babak selanjutnya yaitu babak rebutan, kemudian diskusi grup.

Diskusi grup ini ada yang pengetahuan tentang nasionalisme, maupun wawasan tentang dunia. Dan alhamdulillah saya berhasil menjawab satu lagi (di antara mereka yang menjawab banyak). Apa cik yang saya jawab?

Ya, benar, terlalu mudah, orok baru lahir pun tahu, bahwa ibukota China adalah Beijing.

Dari diskusi panel ini, beberapa hal harus saya petik hikmahnya. Yap, kalau selama ini saya ngerasa pintar, pintar darimananya coba? Ah, disini saya merasa benar-benar bodoh dan perlu membaca lebih banyak. Jangan menyepelekan hal-hal kecil, karena mungkin itu akan jadi pertanyaan di seleksi PPAN-mu :p dan ujian-ujian kehidupan yang menanti di depan.

Ohiya, cerita terakhir di panel interview ini, ketika babak rebutan, kami saling berebut ingin menjawab, aktif lah kami dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan juri, hingga pada suatu ketika juri memberikan pertanyaan,

“Apa yang kamu ketahui tentang metafisika?”

Hening. Seperti ada sesuatu yang tertahan disana.


3. Presentasi PPA

Disini itu yang katanya paling menegangkan (bagiku sih tidak) – GAYA. Padahal mah tidak menegangkan teh gara-gara saya kebagian presentasi terakhir, jam 5 sore ketika gedung sudah sepi. 
Jadi deg-degan apalagi yang tersisa? Justru itu lah sisa tenaga dan energi saya.

Disini kita diharuskan presentasi PPA yang sudah dikirim ke email dengan durasi 2 menit. Dan saya presentasi kurang dari itu –karena sisa tenaga tea, padahal latihan mah lama terus. Dan ditanya-tanya tentang sospro yang mau kita buat itu.

Dan saya keluar dengan perasaan, entahlah, sambil menarik napas panjang antara lega atau harus beban baru...

Jadi sebelum saya masuk ke panel interview, saya tahu kalau jadwal saya akan hingga sore sehingga saya memutuskan untuk menelpon tempat kerja dan meminta izin untuk mewakili kabupaten di seleksi provinsi ini. untuk meyakinkan, bahkan saya meminta dari dinas untuk berbicara langsung.

Apa hasilnya? Saya dan bapak dinas itu dimarahin habis-habisan ditelpon.

Hingga beliau bertanya pada saya, “Kamu mau pergi?”

Well, saya merasa terusir. Lebih baik pergi sekalian, malu juga sekaligus tidak enak membuat bapak itu malah dimarahi juga, padahal apa salahnya?

Dan kalaupun saya tidak bertanggung jawab, saya tidak akan pernah menelponnya. Tapi niat baik 
malah terlihat buruk di matanya. Dan ini lah batasnya.

Saya memilih resign pekerjaan demi satu hari mengikuti seleksi PPAN ini yang belum tentu akan mengantarkan saya ke luar negri juga, tapi saya mendapatkan banyak hal hari itu..

Hari itu, saya belajar tentang kepedulian terhadap sosial, terhadap sesama, semangat yang tidak boleh pudar, terus maju walau terseok-seok, walau takut, walau cemas, semuanya harus dihadapi.
Maka saya menghadapinya malam itu juga, saya datang ke tempat meminta resign saat itu juga.

Sekian, to be continued... (SELEKSI PPAN JAWA BARAT 2016 TAHAP III)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.