Semoga tulisan ini bisa bermanfaat umumnya untuk teman-teman
yang berencana mengikuti seleksi PPAN tahun berikutnya, dan khususnya untuk
diriku sendiri.
PPAN singkatan dari Pertukaran Pemuda Antar Negara yang
diadakan setiap tahun oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (info selengkapnya bisa
langsung dicek di pcmijabar.org)
Sebelumnya saya dapat info PPAN ini sangat mendadak dari
teman sekolah saya, yang kakak kelas kita pernah terpilih jadi delegasi PPAN ke
Canada. Walhasil, dengan tanpa persiapan yang panjang kami bertekad untuk
memperjuangkannya. Meskipun saat itu waktunya lumayan mepet.
Kita langsung saja share pengalaman tiap seleksinya ya.
I. seleksi tahap I (daerah/regional)
Seleksi ini diadakan di Kota/Kabupaten masing-masing. Tapi
ada beberapa daerah juga yang tidak melakukan seleksi (tergantung kebijakan
daerahnya, biasanya tergantung kuota yang terpenuhi juga, dan beberapa hal lain
yang terserah mereka sebenarnya). Saran buat yang berencana ikut, kita harus
aktif sendiri datang ke dispora setempat mencari info tentang PPAN ini.
Biasanya seleksi daerah dibuka sekitar awal maret.
Untuk daerahku, Alhamdulillah(?) tidak ada seleksi kabupaten
(jangan tanya kabupaten mana) (padahal quota kelebihan), dan aku tinggal
menunggu mengambil surat rekomendasi dari dispora. Alhamdulillah sampai disini
belum ada aral melintang kecuali beberapa hal yang kecil seperti ban motor
(temen) bocor, etc, etc.
Di waktu yang ditentukan, kami datang ke dispora kabupaten untuk
mengambil surat rekomendasi, dan dapatlah kita tiket menuju pintu yang lebih
“mantap”.
II. seleksi tahap II
Seleksi ini mulai agak klimaks. Pengumuman tugas saat itu
saya baca hari Kamis malam, sedangkan testnya dilakukan hari sabtunya. Saat itu
saya punya aktivitas yang cukup padat dan penting juga yang membuat darahku
mengalir lebih kencang(?). Lalu, saya dan teman (yang sudah meminta tukar
jadwal kerja jadi sama-sama siang) memiliki waktu kosong bersama pada hari
Jum’at selama tiga jam untuk mengerjakan SELURUH tugas. Itu pun dengan catatan
power point PPA harus sudah dikirim ke email pcmi jabar sebelum pukul 23.59 AM.
Apa itu PPA? PPA adalah Post Program Activity berupa social project yang akan kita jalankan
rutin setelah pulang nanti. Jadi, program ini tidak main-main. Salah saya yang
menganggapnya sepele, dengan iseng-iseng mengikuti program ini. Tapi kita lihat
dulu kelanjutan ceritanya...
Malam Jum’at itu saya panik, tidak bisa tidur, memikirkan
PPA. PPA OH PPA. Yang bikin pusing itu tentang konsepnya, bikin power point mah
insyaallah 10 menit juga jadi.
Tiba-tiba saya terigat rencana saya (yang terlalu besar
sih)yang nekat saya pikirkan dan saya pun mencoba menuangkannya pada ppa (saat
itu saya pikir, untung cuma power point, jadi Cuma gambaran globalnya saja).
Walhasil tiga jam di hari Jum’at itu hanya berhasil mengerjakan SATU tugas,
belum tugas yang lain.
Tugas selanjutnya adalah membuat video Art & Culture Performances. Saya berpikir keras akan membuat
video apa. Karena saya tidak memiliki banyak pengalaman di kesenian. Jadi
kelimpungan sendiri. Saya mengakui sih, saya memang agak apatis dengan seni dan
budaya daerah Indonesia. Perasaan saya saat itu tidak karuan, antara menyerah
atau harus terseok-seok. Tapi bukan Wiwi Jingga namanya kalau tidak penasaran
dengan apa yang selanjutnya harus dihadapi. Lebih baik malu karena ketahuan
belum mampu daripada malu karena mundur sebelum mencoba untuk pada akhirnya
menyesal sepanjang hidup karena PENASARAN. Karena saat itu sudah jam kerja,
kami memutuskan untuk kerja masing-masing dilanjutkan nanti malam.
Pulang kerja saya jam 10 malam, siap-siap untuk menginap di
rumah teman melanjutkan tugas. Dan teman saya menjemput jam setengah 11 malam.
Kami sama-sama belum ngeprint dan fotocopy berkas-berkas yang dibutuhkan.
Walhasil malam-malam jam segitu hingga pukul setengah 12 malam kami mencari
tukang fotocopy dan print, tapi tidak ketemu. Kami pulang dengan perasaan,
entahlah..
Kami berniat membuat video malam hari, teman saya
mempersiapkan semuanya, saya menunggu hingga ketiduran (bisa-bisanya ya). Pukul
tiga saya bangun, dan begitulah kalau bangun kepagian di rumah orang, bingung
harus gimana, padahal was-was tugas belum beres. Akhirnya saya memutuskan
mengingat-ngingat kembali gerakan silat yang waktu ujian praktek olahraga SMK.
Alhamdulillah saya ingat hingga durasi 2 menit (karena maksimal durasi video
juga 2 menit). Kami pun mulai mengambil video pukul setengah 4 hingga jam 5
subuh (padahal durasi video hanya 2 menit per orang, yah begitulah banyak gagal
dan segala macemnya).
Kemudian kami berangkat pukul 6 pagi (padahal rencana disana
jam 6 loh, karena registrasi ulang dimulai pukul 06.30) dengan keadaan belum
ngeprint berkas yang dibutuhkan. Parah banget kan?
Pertama saya lihat kondisi, wah-wah para peserta sepertinya
sudah siap semuanya, dan kami yang panik sendiri karena masih terlalu pagi
untuk ada tukang print dan fotocopy-an juga, dan disorda jabar itu letaknya
jauh kemana-mana. Bahkan mau keluar gerbang juga terasa jauh bagi pejalan kaki.
Singkat cerita (eh maaf padahal udah kepanjangan :D) kami lari-lari nyari
tukang ngeprint sampai ke deket ITB. Pas pulang lagi, ditanya sama dari
dinasnya “Habis dari mana?” saya pun menjawab habis ngeprint, padahal
–kaduhung- katanya tinggal bilang saja kan datanya sudah ada kemarin saya
kirimkan sebelumnya. GUBRAK.
Ohiya, ada yang ga kalah serunya BUAT SAYA. Karena
kebanyakan para peserta adalah mahasiswa/i maupun profesional yang sudah banyak
pengalaman. Usianya rata-rata matang, di atas 20-an. Saya apa? Hehehehehe.
Dengan bangganya (sekaligus sedikit malu sih) kami memperkenalkan diri bahwa
kami baru 18 tahun, belum kuliah, dan baru lulus SMK tahun 2015. Tapi ditahap
dua ini saya tidak sendirian sih. Jadi tidak terlalu begitu berarti.
EH, belum mulai-mulai seleksinya ya? Kebanyakan curhat,
ampun-_-
Oke, seleksi pertama yaitu written test. Jadi kaya ujian
gitu tentang seni dan budaya Indonesia khususnya Jawa Barat dan durasi waktunya
SANGAT SEDIKIT. Jadi jangan kebanyakan mikir ya, tulis saja apa yang terlintas
ketika membaca pertanyaannya.
Sebelumnya, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang
selama seleksi berjalan akan bersama-sama. Jadi setiap kelompok jadwalnya
berbeda-beda. Ada yang personal interview
dulu, presentasi PPA, atau pun panel
interview.
Yap, seperti yang telah ditulis di atas, seleksi selanjutnya
terdiri dari :
1. Personal Interview
Disini bagian yang paling saya sukai. Karena kita hanya
perlu jujur tentang diri sendiri. Tentang komitmen kita mengikuti PPAN dan
selanjutnya akan tergabung di organisasi PCMI Jabar. Tentang pribadi, kisah
hidup, kekurangan, kelebihan, dan lain sebagianya. Meskipun banyak pertanyaan
skak mat buat saya. Seperti ini,
“Apa rencanamu dua tahun ke depan?”
“Saya rencana mau kuliah dulu..”
“Oh, berarti kamu rencana tahun ini daftar PTN juga?”
“Iya, Kak.”
“Kalau kamu diterima di PPAN, terus bagaimana? Yakin mau
ninggalin kuliah? Pengurusan berkas itu bersamaan loh, kamu pasti harus memilih
salah satunya..”
Dan seterusnya.. pokoknya pikirkan pertanyaan-pertanyaan
yang bikin skak mat antara komitmen seperti itu. Tapi jawaban juga jangan
dibuat-buat. Just be yourself. Karena
mereka juga pandai menilai siapa yang jawabannya dibuat-buat hanya untuk
menyenangkan hati mereka, dan siapa yang benar-benar menjawabnya dari hati.
Filosofinya sederhana saja, kalau kamu sudah jujur dan
mereka tidak memilihmu, berarti itu belum menjadi tempat yang tepat saat itu,
entah untuk tahun depan. Kalau kata salah satu panitianya begini, “kalau kamu
belum terpilih, positif thinking saja, mungkin kamu terlalu overqualify buat
PPAN” :D
Dan personal interview
saya diakhiri dengan pertanyaan yang cukup menusuk hati saya, membuat saya
berpikir banyak hal,
“Apa kegagalan terbesar kamu?”
Dan kemudian mata saya berlinang... –padahal tidak ada di
skenarioL
2. Panel Interview
Di test ini untuk menguji pengetahuan dan wawasan kita. Yang
membuat saya mempermalukan diri saya sendiri.
Yang masuk ke ruangan itu ada 7 orang, kami disuruh
menentukan siapa yang pertama dan terakhir untuk mendapatkan pertanyaan giliran
dengan tema yang kita pilih. Ada ekonomi, sejarah, budaya, sastra dan filsafat,
dan lain-lain. Rata-rata di ruangan itu adalah mahasiswa yang SUPER DUPER KEREN
dengan jawabannya masing-masing, sedangkan saya hanyalah seonggok kulit
pembungkus tulang yang olohok :o
Kami dipersilakan untuk menambahkan jawaban teman apabila
juri belum puas dengan jawabannya. Saya yang pura-pura ngacung terakhir dan
menyesal tidak kebagian, hanya bisa berpasrah saja, saya sampai yakin tidak
lolos, dan pasrah saja, berharap tidak bertemu jurinya lagi, karena malu
banget-nget-nget.
Alhamdulillah, Allah yang Maha Baik, ketika giliran saya,
saya memilih bidang Sastra dan Filsafat (HAHAHAHA SOSOAN BANGET, padahal berapa
banyak sih buku sastra yang saya baca? Paling Tere Liye-_-). Dan Alhamdulillah,
saya berhasil menjawab satu pertanyaan tanpa direbut orang dari tiga
pertanyaan. Itu merupakan pencapaian yang luar biasa menurut saya. Karena
ketika masuk pun, saya akan pasrah jika semua pertanyaan saya olohok-kan. Dan
saya dapat pertanyaan...
“Apa yang kamu ketahui tentang Dewi Lestari?”
ALHAMDULILLAH YA ALLAH, KALAU PERLU SAAT ITU SAYA SUJUD
SYUKUR. Untung saya mengenalnya –ga juga sih. Setidaknya saya bisa menceritakan
sedikit banyak tentang karya-karyanya (padahal, FYI, belum ada satu buku pun
karyanya yang saya baca atau tonton._. nanti kalau ada yang minjemin mah, saya
baca).
Dengan 1 jawaban itu, saya lumayan lega (padahal yang
lainnya banyak menjawab). Da saya mah 1 juga udah uyuhan lah.
Babak selanjutnya yaitu babak rebutan, kemudian diskusi
grup.
Diskusi grup ini ada yang pengetahuan tentang nasionalisme,
maupun wawasan tentang dunia. Dan alhamdulillah saya berhasil menjawab satu
lagi (di antara mereka yang menjawab banyak). Apa cik yang saya jawab?
Ya, benar, terlalu mudah, orok baru lahir pun tahu, bahwa
ibukota China adalah Beijing.
Dari diskusi panel ini, beberapa hal harus saya petik
hikmahnya. Yap, kalau selama ini saya ngerasa pintar, pintar darimananya coba?
Ah, disini saya merasa benar-benar bodoh dan perlu membaca lebih banyak. Jangan
menyepelekan hal-hal kecil, karena mungkin itu akan jadi pertanyaan di seleksi
PPAN-mu :p dan ujian-ujian kehidupan yang menanti di depan.
Ohiya, cerita terakhir di panel interview ini, ketika babak
rebutan, kami saling berebut ingin menjawab, aktif lah kami dengan
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan juri, hingga pada suatu ketika juri
memberikan pertanyaan,
“Apa yang kamu ketahui tentang metafisika?”
Hening. Seperti ada sesuatu yang tertahan disana.
3. Presentasi PPA
Disini itu yang katanya paling menegangkan (bagiku sih
tidak) – GAYA. Padahal mah tidak menegangkan teh gara-gara saya kebagian
presentasi terakhir, jam 5 sore ketika gedung sudah sepi.
Jadi deg-degan
apalagi yang tersisa? Justru itu lah sisa tenaga dan energi saya.
Disini kita diharuskan presentasi PPA yang sudah dikirim ke
email dengan durasi 2 menit. Dan saya presentasi kurang dari itu –karena sisa
tenaga tea, padahal latihan mah lama terus. Dan ditanya-tanya tentang sospro
yang mau kita buat itu.
Dan saya keluar dengan perasaan, entahlah, sambil menarik
napas panjang antara lega atau harus beban baru...
Jadi sebelum saya masuk ke panel interview, saya tahu kalau
jadwal saya akan hingga sore sehingga saya memutuskan untuk menelpon tempat
kerja dan meminta izin untuk mewakili kabupaten di seleksi provinsi ini. untuk
meyakinkan, bahkan saya meminta dari dinas untuk berbicara langsung.
Apa hasilnya? Saya dan bapak dinas itu dimarahin
habis-habisan ditelpon.
Hingga beliau bertanya pada saya, “Kamu mau pergi?”
Well, saya merasa terusir. Lebih baik pergi sekalian, malu
juga sekaligus tidak enak membuat bapak itu malah dimarahi juga, padahal apa
salahnya?
Dan kalaupun saya tidak bertanggung jawab, saya tidak akan
pernah menelponnya. Tapi niat baik
malah terlihat buruk di matanya. Dan ini lah
batasnya.
Saya memilih resign pekerjaan demi satu hari mengikuti
seleksi PPAN ini yang belum tentu akan mengantarkan saya ke luar negri juga,
tapi saya mendapatkan banyak hal hari itu..
Hari itu, saya belajar tentang kepedulian terhadap sosial,
terhadap sesama, semangat yang tidak boleh pudar, terus maju walau
terseok-seok, walau takut, walau cemas, semuanya harus dihadapi.
Maka saya menghadapinya malam itu juga, saya datang ke
tempat meminta resign saat itu juga.
Sekian, to be
continued... (SELEKSI PPAN JAWA BARAT 2016 TAHAP III)
Hey, maaf mengganggu. Boleh tanya?
BalasHapus