Setelah pulang seleksi tahap II, saya pulang dengan
perasaaan bensar-benar pasrah. Tidak mengharapkan apapun meski saya sudah
mengorbankan pekerjaan saya. Dan saya harus berpikir cepat mempergunakan waktu
dengan sebaik-baiknya dan gaji terakhir saya untuk membuka warung. Jatah waktu
mengajar saya pun yang biasanya hanya pagi saja, saya jadi bisa mengajar pagi,
sore, dan malam. Dan saya merasa lebih tenang dan damai dengan mengajar. Dengan
melihat kebahagiaan dan kelucuan anak-anak, merupakan kebahagiaan tersendiri
yang tidak pernah bisa tergambarkan kecuali kamu wanita dan mengalaminya
sendiri.
Kata panitia, pengumuman diumumkan satu minggu setelahnya.
Satu minggu setelahnya siang hari, saya coba cek web pcmijabar tapi belum ada
apa-apa. Yasudah, toh saya memang tidak berharap banyak dan hanya penasaran.
Sore hari, teman saya tiba-tiba menelpon dengan 2 missed
call. Tumben-tumbenan.
“Halo?”
“Far, selamat ih! Kamu lolos ke seleksi tiga!”
Tahu apa yang pertama kali saya katakan saat itu?
“ASTAGFIRULLAH?!”
Reflex sebenarnya, karena memang saya merasa belum siap
untuk ke seleksi tiga yang tentunya lebih “sesuatu” daripada seleksi dua.
Beruntung saya melihat pengumumannya di hari pertama
diposting, kalau telat kan repot juga mengingat salah satu tugasnya
adalah......
Membuat PROPOSAL PPA.
Yang of course bahasa inggris.
Tiba-tiba seperti tertimpa batu kepala ini.
Mundur? Ah, pecundang sekali kalau mundur.
Maju? Tapi bagaimana caranya?
Kurang dari satu minggu persiapan, dengan keadaan berat
kepala, sulit tidur.
Sebenarnya apa sih yang membuat saya berat? Ya, PPA saya itu
terlalu besar untuk diwujudkan. Sehingga kalau saya harus bikin proposalnya,
saya harus tuliskan sedetail mungkin strategi saya. Boro-boro.. L
Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja, saat itu
keterbatasan saya yaitu laptop saya yang rusak. Untuk membuat proposal, kayanya
boros kalau harus bulak-balik ke warnet, walhasil saya minjam laptop kepala
sekolah DTA (malu sih sebenarnya, cuma
ya da butuh, semoga amalnya dibalas oleh Allah, Aamiin). Akhirnya saya
menargetkan proposal jadi dalam semalam supaya bisa tidur tenang setelahnya dan
tinggal memikirkan yang lainnya.
Ohiya, saya belum cerita ya.. jadi Seleksi tahap tiga ini
adalah seleksi terakhir, dipilih 54 orang dari sekitar 160 peserta tahap 2
(belum di tahap 1 loh). Dan 54 di antara 15,5 juta pemuda Jabar! Maka nikmat
Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Akhirnya, saya memilih untuk maju terus, dengan niat untuk
belajar, belajar, kalau pun nanti harus malu-maluin lagi, saya harus belajar
banyak hal dari seleksi tiga ini.
Proposal pun satu malam beres. Selanjutnya tugas membuat
portofolio diri dan memperisapkan penampilan kesenian untuk ditampilkan nanti.
Oh iya, seleksi tiga ini diadakan di sebuah hotel di Cimahi
selama tiga hari dua malam. Tak terbayang tiga hari dua malam yang seperti apa
yang akan saya jalani..
Saya langsung saja ke setip testnya ya..
1. Focus Group
Discussion (FGD)
Kami dipilih menjadi beberapa group dan mendiskusikan
tentang masalah-masalah Indonesia hingga dunia (Full English). Juri yang
menilai pun benar-benar menilai sangat detail dan teliti per individu. Disini
pesimis saya tiba-tiba muncul. Karena berada di antara orang-orang aktif yang
hebat dan memiliki banyak pengalaman di bidangnya. Kembali lagi, da saya mah
apa atuh..
Dari hasil diskusi, kami disuruh memilih satu orang untuk
mempresantasikan hasilnya selama 1 menit. Dan terlihat lah orang-orang hebat
yang fasih bahasa inggrisnya. Saya mah ikut komentar satu kalimat dua kalimat
juga udah uyuhan...
Lucunya, ketika kami mau memilih siapa yang akan
mempresentasikan, mereka meminta gambreng, dan saya sudah mundur duluan. “I
don’t want.”
“Why?” seseorang bertanya.
“She doesn’t feel ready yet.” Alhamdulillah ada akang-akang
yang mengerti. Bayangin presentasi 1 menit full english, takutnya apa yang saya
bicarakan malah ga nyampe, dan gatau apa yang saya sampaikan. Yah daripada
malu-maluin lagi, saya bilang belum siap aja.
Lebih lucunya lagi, ketika itu saya menemukan satu vocab
yang saya gatau (maklum bahasa inggrisnya beneran minim euy), sampai berakhir
diskusi itu saya baru tahu artinya setelah menyimpulkan sendiri. Mau nanya da
malu, masa gitu aja gatau? Jangan ditiru ya. Eh, boleh sih.
FGD selanjutnya adalah menguji kekompakkan team. Saat itu
kami disuruh menyusun menara dari apa saja yang ada disitu, dan Alhamdulillah
kelompok saya dan teman-teman menang! Yeay! –bagian ini bagian FGD yang paling
kukuasai :D (enggak juga sih).
FGD dilakukan hingga pukul setengah 10 malam, dan kami pun
dipersilakan tidur untuk menghadapi hari esok yang akan terasa lebih panjang.
2. PPA Interview
Disini kita akan ditanya tentang PPA kita dari proposal yang
telah kita kumpulkan. Kita hanya perlu jujur dengan PPA kita saja,
alhamdulillahnya pakai bahasa Indonesia (?). Karena jurinya ada yang dari
kepemudaan, maka ditanyalah wawasan kita tentang itu. Persiapkan ya!
3. Art and Culture
Performances
Di tahap ini adalah tahap yang mempermalukan diri sendiri
(kalau memang belum persiapan).
Tiba-tiba panitia mengumumkan bahwa kita tidak boleh tampil sama dengan
yang di video. Omo, paniklah semuanya dan berusaha untuk banting setir dengan
persiapan seadanya.
Akhirnya saya memilih membaca puisi andalan saja sejak SMP,
“Seuneu Bandung”. Ruangan itu sesaat tiba-tiba membekukan otak kita,
sehingga.... hahaha benar-benar seperti mempermalukan diri. Saya sadar bahwa
saya tidak tahu apa-apa tentang kebudayaan. Tahu sih dikit, tapi tiba-tiba
blank aja gitu, gatau kenapa, kaya pertanyaan metafisika tea.. (di tahap II)
Sebelumnya saya mau cerita percakapan saya dengan ibu waktu
itu,
“Ibu ajarin nari atuh, emang bisa?”
“Ibu bisa tari dari Jawa Tengah, Gambyong. Mau belajar?”
“Engga, pengen Sunda.”
Selesai.
Dan pertanyaan yang diajukan kepada saya saat itu adalah,
“Tari yang berasal dari Jawa Tengah?”
Omo, beku seketika otak saya. Tiba-tiba kesensor satu kata
“Gambyong” itu. pasrah dah, mana ga minta ajarin banget. Saat itu saya juga
diminta mempraktekkannya.
Waduh, kualat saya tidak mendengarkan orang tua L
Jangan gitu yah, kawan. Jangan sepelekan seni dan budaya
kitaL
4. Bahasa Inggris
Test ini adalah interview menggunakan bahasa inggris.
Biasanya seperti studi kasus, kalau kita dihadapkan pada situasi begini, akan
bagaimana. Tahap ini mengandalkan imajinasi liar berpikir kita. Karena
kebanyakan pertanyaannya tidak logis, dan memang sepertinya menguji EQ kita(?)
Lucunya, saya yang anak bawang ini masuk ke ruangan dengan
anak ITB, saya sudah wanti-wanti ke teteh itu, “Teh, kalau saya malu-maluin,
tolong jangan bilang siapa-siapa ya..” dan tetehnya men-sip-kan.
Benar saja, saya memang memalukan. Kalau orang yang paling
memalukan itu di babak art & culture, bagi saya dua-duanya juga memalukan,
dan yang paling memalukan itu ya di bahasa inggris ini.
Kenapa? Karena pertama kali masuk sudah deg-degan, kaya
nge-blank aja apa yang harus saya lakukan nanti. Dan ketika lihat jurinya,...
hehehehe juri yang waktu itu di panel interview! (di tahap II). Maluuuu banget
ketemu kakak itu lagi. Ciut deh, jadi ngerasa Cuma butiran MarimasL
Kedua, jawaban yang saya kasih capruk, dan ganyambung
setelah dipikir-pikir lagi, ini teh apa sih yang saya omongin? Rasanya saat itu
saya ingin menghilang sehilang-hilangnya dari juri itu, yang kedua kalinya
mempermalukan diri sendiri di depan orang pinterL
5. Test Psikologi
Di sini kita lebih tepatnya diuji tentang komitmen kita di
PPAN ini. Sama seperti test interview tahap II sih, berjalan seruuuuu banget.
Kita hanya perlu jadi diri sendiri dan ceritain kehidupan kita. Saya mau tulis beberapa percakapan saya
dengan kakak panitia,
“Faridah Nur Azizah, lulusan SMF ya? Wow, ujian SAA itu
susah loh,”
“Hehe, iya kak.”
“Sekarang kegiatannya apa aja?”
“Dulu saya bekerja sambil mengajar, sekarang saya mengajar
saja.”
“Ngajar di DTA? Kaya TPA gitu kan? Wow, yang saya tahu gaji
guru TPA itu kecil loh. Selama ini cukup buat kehidupan Faridah?”
“Alhamdulillah kak, blablabla..” saya ceritakan bagaimana
excitednya saya dengan hidup saya, meskipun sebenarnya peluang saya untuk
melihat pesimis itu besar karena jujur saya memang bukan siapa-siapa. Saya
bukan mahasiswa di kampus keren. Saya bukan pekerja profesional juga. Saya
hanya cinta mengajar. Saya hanya cinta anak-anak dan itupun pengalaman kegiatan
saya di dunia mereka belum banyak.
“Kalau kamu gagal di tahap ini bagaimana?”
“Tidak apa-apa. Bisa coba tahun depan. Nothing to lose.
Sudah banyak hal yang bisa didapatkan sampai tahap ini, blablabla...” pokoknya
jawabnya enjoy banget, karena saatnya jadi diri sendiri itu memang
menyenangkan.
“Jalan kamu masih panjang loh, Faridah. Kamu masih delapan
belas tahun, pemuda itu sampai 30 tahun. Masih banyak hal yang akan dan dapat
kamu hadapi di depan. Jangan pernah menyerah. Jangan putus asa. Di usia delapan
belas kamu sudah ada disini itu sudah kehebatan tersendiri.”
Hampir saja berlinang lagi.
Terharu banget sama kakaknya, kakak-kakak PCMI itu adalah
orang-orang terpilih, pantas saja mereka orangnya menyenangkan. Para juri tidak
pernah salah memilih orang. Rata-rata mereka yang terpilih adalah memang layak
untuk dihadapkan pada situasi-situasi yang akan dihadapkan. Yang pandai
mengerti perasaan, memiliki empati tinggi, dan entah apalagi penilaian para
juri mengenai psikologis seseorang.
6. Focus Group
Discussion
Di FGD yang ini, kita per team diharuskan menampilkan
hiburan apapun. Disini babak enjoy, karena semua test yang bikin deg-degan
sudah terlewatkan. Disini saya sadar satu hal, Ya Allah, saya mencintai mereka.
Mencintai semangat mereka. Mencintai mereka yang ramah dan menghargai satu sama
lain. Mereka yang melangit, tapi tetap membumi. Saya mencintai mereka bahkan
hanya dalam hitungan beberapa jam kebersamaan kami. Euforia kebersamaan yang
tak kan pernah saya lupakan, saat itu saya belajar bahwa apapun hasilnya nanti,
siapapun nanti yang akan terpilih mewakili Indonesia di dunia luar, mereka
adalah orang-orang yang memang pantas terpilih. Saya percaya mereka semua.
Besoknya pengumuman delegasi PPAN untuk masing-masing negara
tujuan. Tentunya saya tidak terpilih :D tapi toh dari awal memang saya niat
datang ke tempat ini untuk belajar, belajar, dan belajar banyak hal. Benar,
saya benar-benar mendapatkan berkali-kali lipat banyaknya dari yang saya
pikirkan. Dan saya benar-benar harus memperbaiki diri lagi sepulang dari sini.
1. Harus lebih peka terhadap sekecil apapun ilmu dan wawasan
yang ada di sekeliling.
2. Harus lebih cinta budaya sendiri dan tidak malas untuk
mempelajarinya.
3. Harus belajar bahasa inggris! Terutama speaking.
4. Harus lebih bermanfaat buat sesama!
5. Harus pandai membawa diri dan selalu menjadi diri
sendiri.
6. Harus selalu bersyukur dengan apa yang telah didapatkan
hari ini.
7. Harus selalu bisa mengambil hikmah terhadap sekecil
apapun kejadian dan tanda yang Allah kasih.
Terakhir, penutupan acara seleksi ketiga PPAN JAWA BARAT
2016 ditutup oleh yel-yel kami.
“Kita disini bukan
untuk bertanding, kita disini untuk bersaudara..”
-Seleksi PPAN JAWA BARAT 2016, SAMPAI DISINI-
Sampai bertemu di kisah BPUN! Insyaallah!
Komentar
Posting Komentar