Langsung ke konten utama

SELEKSI PPAN JAWA BARAT 2016 TAHAP III [SHARE PENGALAMAN]

Setelah pulang seleksi tahap II, saya pulang dengan perasaaan bensar-benar pasrah. Tidak mengharapkan apapun meski saya sudah mengorbankan pekerjaan saya. Dan saya harus berpikir cepat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan gaji terakhir saya untuk membuka warung. Jatah waktu mengajar saya pun yang biasanya hanya pagi saja, saya jadi bisa mengajar pagi, sore, dan malam. Dan saya merasa lebih tenang dan damai dengan mengajar. Dengan melihat kebahagiaan dan kelucuan anak-anak, merupakan kebahagiaan tersendiri yang tidak pernah bisa tergambarkan kecuali kamu wanita dan mengalaminya sendiri.

Kata panitia, pengumuman diumumkan satu minggu setelahnya. Satu minggu setelahnya siang hari, saya coba cek web pcmijabar tapi belum ada apa-apa. Yasudah, toh saya memang tidak berharap banyak dan hanya penasaran.
Sore hari, teman saya tiba-tiba menelpon dengan 2 missed call. Tumben-tumbenan.


“Halo?”

“Far, selamat ih! Kamu lolos ke seleksi tiga!”

Tahu apa yang pertama kali saya katakan saat itu?

“ASTAGFIRULLAH?!”

Reflex sebenarnya, karena memang saya merasa belum siap untuk ke seleksi tiga yang tentunya lebih “sesuatu” daripada seleksi dua.

Beruntung saya melihat pengumumannya di hari pertama diposting, kalau telat kan repot juga mengingat salah satu tugasnya adalah......

Membuat PROPOSAL PPA.

Yang of course bahasa inggris.

Tiba-tiba seperti tertimpa batu kepala ini.

Mundur? Ah, pecundang sekali kalau mundur.

Maju? Tapi bagaimana caranya?

Kurang dari satu minggu persiapan, dengan keadaan berat kepala, sulit tidur.

Sebenarnya apa sih yang membuat saya berat? Ya, PPA saya itu terlalu besar untuk diwujudkan. Sehingga kalau saya harus bikin proposalnya, saya harus tuliskan sedetail mungkin strategi saya. Boro-boro.. L

Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja, saat itu keterbatasan saya yaitu laptop saya yang rusak. Untuk membuat proposal, kayanya boros kalau harus bulak-balik ke warnet, walhasil saya minjam laptop kepala sekolah DTA  (malu sih sebenarnya, cuma ya da butuh, semoga amalnya dibalas oleh Allah, Aamiin). Akhirnya saya menargetkan proposal jadi dalam semalam supaya bisa tidur tenang setelahnya dan tinggal memikirkan yang lainnya.

Ohiya, saya belum cerita ya.. jadi Seleksi tahap tiga ini adalah seleksi terakhir, dipilih 54 orang dari sekitar 160 peserta tahap 2 (belum di tahap 1 loh). Dan 54 di antara 15,5 juta pemuda Jabar! Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Akhirnya, saya memilih untuk maju terus, dengan niat untuk belajar, belajar, kalau pun nanti harus malu-maluin lagi, saya harus belajar banyak hal dari seleksi tiga ini.

Proposal pun satu malam beres. Selanjutnya tugas membuat portofolio diri dan memperisapkan penampilan kesenian untuk ditampilkan nanti.

Oh iya, seleksi tiga ini diadakan di sebuah hotel di Cimahi selama tiga hari dua malam. Tak terbayang tiga hari dua malam yang seperti apa yang akan saya jalani..

Saya langsung saja ke setip testnya ya..

1. Focus Group Discussion (FGD)

Kami dipilih menjadi beberapa group dan mendiskusikan tentang masalah-masalah Indonesia hingga dunia (Full English). Juri yang menilai pun benar-benar menilai sangat detail dan teliti per individu. Disini pesimis saya tiba-tiba muncul. Karena berada di antara orang-orang aktif yang hebat dan memiliki banyak pengalaman di bidangnya. Kembali lagi, da saya mah apa atuh..

Dari hasil diskusi, kami disuruh memilih satu orang untuk mempresantasikan hasilnya selama 1 menit. Dan terlihat lah orang-orang hebat yang fasih bahasa inggrisnya. Saya mah ikut komentar satu kalimat dua kalimat juga udah uyuhan...

Lucunya, ketika kami mau memilih siapa yang akan mempresentasikan, mereka meminta gambreng, dan saya sudah mundur duluan. “I don’t want.”

“Why?” seseorang bertanya.

“She doesn’t feel ready yet.” Alhamdulillah ada akang-akang yang mengerti. Bayangin presentasi 1 menit full english, takutnya apa yang saya bicarakan malah ga nyampe, dan gatau apa yang saya sampaikan. Yah daripada malu-maluin lagi, saya bilang belum siap aja.

Lebih lucunya lagi, ketika itu saya menemukan satu vocab yang saya gatau (maklum bahasa inggrisnya beneran minim euy), sampai berakhir diskusi itu saya baru tahu artinya setelah menyimpulkan sendiri. Mau nanya da malu, masa gitu aja gatau? Jangan ditiru ya. Eh, boleh sih.

FGD selanjutnya adalah menguji kekompakkan team. Saat itu kami disuruh menyusun menara dari apa saja yang ada disitu, dan Alhamdulillah kelompok saya dan teman-teman menang! Yeay! –bagian ini bagian FGD yang paling kukuasai :D (enggak juga sih).

FGD dilakukan hingga pukul setengah 10 malam, dan kami pun dipersilakan tidur untuk menghadapi hari esok yang akan terasa lebih panjang.


2. PPA Interview

Disini kita akan ditanya tentang PPA kita dari proposal yang telah kita kumpulkan. Kita hanya perlu jujur dengan PPA kita saja, alhamdulillahnya pakai bahasa Indonesia (?). Karena jurinya ada yang dari kepemudaan, maka ditanyalah wawasan kita tentang itu. Persiapkan ya!


3. Art and Culture Performances

Di tahap ini adalah tahap yang mempermalukan diri sendiri (kalau memang belum persiapan).  Tiba-tiba panitia mengumumkan bahwa kita tidak boleh tampil sama dengan yang di video. Omo, paniklah semuanya dan berusaha untuk banting setir dengan persiapan seadanya.

Akhirnya saya memilih membaca puisi andalan saja sejak SMP, “Seuneu Bandung”. Ruangan itu sesaat tiba-tiba membekukan otak kita, sehingga.... hahaha benar-benar seperti mempermalukan diri. Saya sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang kebudayaan. Tahu sih dikit, tapi tiba-tiba blank aja gitu, gatau kenapa, kaya pertanyaan metafisika  tea.. (di tahap II)

Sebelumnya saya mau cerita percakapan saya dengan ibu waktu itu,

“Ibu ajarin nari atuh, emang bisa?”

“Ibu bisa tari dari Jawa Tengah, Gambyong. Mau belajar?”

“Engga, pengen Sunda.”

Selesai.

Dan pertanyaan yang diajukan kepada saya saat itu adalah,

“Tari yang berasal dari Jawa Tengah?”

Omo, beku seketika otak saya. Tiba-tiba kesensor satu kata “Gambyong” itu. pasrah dah, mana ga minta ajarin banget. Saat itu saya juga diminta mempraktekkannya.

Waduh, kualat saya tidak mendengarkan orang tua L

Jangan gitu yah, kawan. Jangan sepelekan seni dan budaya kitaL


4.  Bahasa Inggris

Test ini adalah interview menggunakan bahasa inggris. Biasanya seperti studi kasus, kalau kita dihadapkan pada situasi begini, akan bagaimana. Tahap ini mengandalkan imajinasi liar berpikir kita. Karena kebanyakan pertanyaannya tidak logis, dan memang sepertinya menguji EQ kita(?)

Lucunya, saya yang anak bawang ini masuk ke ruangan dengan anak ITB, saya sudah wanti-wanti ke teteh itu, “Teh, kalau saya malu-maluin, tolong jangan bilang siapa-siapa ya..” dan tetehnya men-sip-kan.

Benar saja, saya memang memalukan. Kalau orang yang paling memalukan itu di babak art & culture, bagi saya dua-duanya juga memalukan, dan yang paling memalukan itu ya di bahasa inggris ini.

Kenapa? Karena pertama kali masuk sudah deg-degan, kaya nge-blank aja apa yang harus saya lakukan nanti. Dan ketika lihat jurinya,... hehehehe juri yang waktu itu di panel interview! (di tahap II). Maluuuu banget ketemu kakak itu lagi. Ciut deh, jadi ngerasa Cuma butiran MarimasL

Kedua, jawaban yang saya kasih capruk, dan ganyambung setelah dipikir-pikir lagi, ini teh apa sih yang saya omongin? Rasanya saat itu saya ingin menghilang sehilang-hilangnya dari juri itu, yang kedua kalinya mempermalukan diri sendiri di depan orang pinterL


5.  Test Psikologi

Di sini kita lebih tepatnya diuji tentang komitmen kita di PPAN ini. Sama seperti test interview tahap II sih, berjalan seruuuuu banget. Kita hanya perlu jadi diri sendiri dan ceritain kehidupan kita.  Saya mau tulis beberapa percakapan saya dengan kakak panitia,

“Faridah Nur Azizah, lulusan SMF ya? Wow, ujian SAA itu susah loh,”

“Hehe, iya kak.”

“Sekarang kegiatannya apa aja?”

“Dulu saya bekerja sambil mengajar, sekarang saya mengajar saja.”

“Ngajar di DTA? Kaya TPA gitu kan? Wow, yang saya tahu gaji guru TPA itu kecil loh. Selama ini cukup buat kehidupan Faridah?”

“Alhamdulillah kak, blablabla..” saya ceritakan bagaimana excitednya saya dengan hidup saya, meskipun sebenarnya peluang saya untuk melihat pesimis itu besar karena jujur saya memang bukan siapa-siapa. Saya bukan mahasiswa di kampus keren. Saya bukan pekerja profesional juga. Saya hanya cinta mengajar. Saya hanya cinta anak-anak dan itupun pengalaman kegiatan saya di dunia mereka belum banyak.

“Kalau kamu gagal di tahap ini bagaimana?”

“Tidak apa-apa. Bisa coba tahun depan. Nothing to lose. Sudah banyak hal yang bisa didapatkan sampai tahap ini, blablabla...” pokoknya jawabnya enjoy banget, karena saatnya jadi diri sendiri itu memang menyenangkan.

“Jalan kamu masih panjang loh, Faridah. Kamu masih delapan belas tahun, pemuda itu sampai 30 tahun. Masih banyak hal yang akan dan dapat kamu hadapi di depan. Jangan pernah menyerah. Jangan putus asa. Di usia delapan belas kamu sudah ada disini itu sudah kehebatan tersendiri.”

Hampir saja berlinang lagi.

Terharu banget sama kakaknya, kakak-kakak PCMI itu adalah orang-orang terpilih, pantas saja mereka orangnya menyenangkan. Para juri tidak pernah salah memilih orang. Rata-rata mereka yang terpilih adalah memang layak untuk dihadapkan pada situasi-situasi yang akan dihadapkan. Yang pandai mengerti perasaan, memiliki empati tinggi, dan entah apalagi penilaian para juri mengenai psikologis seseorang.


6. Focus Group Discussion

Di FGD yang ini, kita per team diharuskan menampilkan hiburan apapun. Disini babak enjoy, karena semua test yang bikin deg-degan sudah terlewatkan. Disini saya sadar satu hal, Ya Allah, saya mencintai mereka. Mencintai semangat mereka. Mencintai mereka yang ramah dan menghargai satu sama lain. Mereka yang melangit, tapi tetap membumi. Saya mencintai mereka bahkan hanya dalam hitungan beberapa jam kebersamaan kami. Euforia kebersamaan yang tak kan pernah saya lupakan, saat itu saya belajar bahwa apapun hasilnya nanti, siapapun nanti yang akan terpilih mewakili Indonesia di dunia luar, mereka adalah orang-orang yang memang pantas terpilih. Saya percaya mereka semua.

Besoknya pengumuman delegasi PPAN untuk masing-masing negara tujuan. Tentunya saya tidak terpilih :D tapi toh dari awal memang saya niat datang ke tempat ini untuk belajar, belajar, dan belajar banyak hal. Benar, saya benar-benar mendapatkan berkali-kali lipat banyaknya dari yang saya pikirkan. Dan saya benar-benar harus memperbaiki diri lagi sepulang dari sini.

1. Harus lebih peka terhadap sekecil apapun ilmu dan wawasan yang ada di sekeliling.
2. Harus lebih cinta budaya sendiri dan tidak malas untuk mempelajarinya.
3. Harus belajar bahasa inggris! Terutama speaking.
4. Harus lebih bermanfaat buat sesama!
5. Harus pandai membawa diri dan selalu menjadi diri sendiri.
6. Harus selalu bersyukur dengan apa yang telah didapatkan hari ini.
7. Harus selalu bisa mengambil hikmah terhadap sekecil apapun kejadian dan tanda yang Allah kasih.

Terakhir, penutupan acara seleksi ketiga PPAN JAWA BARAT 2016 ditutup oleh yel-yel kami.


“Kita disini bukan untuk bertanding, kita disini untuk bersaudara..” 


-Seleksi PPAN JAWA BARAT 2016, SAMPAI DISINI-

Sampai bertemu di kisah BPUN! Insyaallah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.