Katanya, jika kita menutup mata kita, kita dapat mendengar
dengan lebih jelas. Tentang hal-hal yang tidak kita dengar ketika kita membuka
mata. Aku ingin membuktikannya.
Kupejamkan mata, di depan jendela sebuah ruangan yang sedang dipakai pertemuan belajar.
Kupejamkan mata, di depan jendela sebuah ruangan yang sedang dipakai pertemuan belajar.
Aku bisa mendengar suara air sungai dengan lebih jelas.
Suara kendaraan dengan lebih bising. Suara-suara aneh yang tidak aku dengar
ketika membuka mata. Juga, suara anjing menggonggong yang mengganggu
pendengaran. Terakhir, kudengar mungkin suara pekikan hati yang... cemburu.
Sengaja aku punggungi ruangan ini, tidak tahan dengan
sesuatu yang berasal dari dalam diriku sendiri. Perasaan berharap berlebihan kepada
seorang manusia yang tak hiraukanku. Sesuatu yang menyalahkan sesuatu yang lain
karena langkah kaki kesini adalah sebuah niat yang salah karena ingin bertemu
dengannya. Aku bermaksud untuk berada di sini dan menahan segalanya, dengan
memecahkan segenap perasaan kepada alam, agar diangkatnya dan dibiarkan
mengalir seperti air hingga pada batasnya.
Aku masih fokus dengan pendengaranku dan gelapnya
penglihatanku. Seseorang tiba-tiba menganggetkanku.
“Kenapa tidak masuk?” Kata seorang Pria, salah seorang tutor
yang tadinya di dalam ruangan.
“Tak apa, Kak. Lagi ingin sendiri.”
“Jangan buang-buang waktu, ayo belajar.” Katanya dengan
senyum manisnya –yang tidak aku rasakan.
Buang-buang waktu? Apakah perasaan ingin dekat dengan Allah,
dengan alam, adalah sesuatu yang membuang-buang waktu? Aku tak bisa
merasakannya di tengah keramaian. Hanya doakan aku agar aku tak luput dari
mengingat-Nya, sekalipun jika aku hanya mengeluh dan mengeluh tentang
pengharapanku kepada manusia, minta dijaga hatinya agar lurus.
Pria itu masih menunggu jawabanku. Padahal aku tidak ada
niat untuk menjawabnya. Malah sesuatu yang terlintas.
“Apakah dunia ini adil?” Pria yang tadinya mau kembali ke
ruangan itu, tiba-tiba menoleh, tertarik dengan pertanyaannya.
“Maksudmu?”
“Di dunia ini ada yang dominan, dan ada yang “resesif”. Ada
yang cantik dan dipuji banyak orang dan ada yang memiliki dua-tiga teman saja
sudah susah payah dan butuh waktu yang lama. Ada yang taat ibadah namun
hidupnya selalu susah, doanya jarang terkabul. Ada yang ahli maksiat tapi
dipenuhi keberuntungan hidup dan kesuksesan. Bagaimana bisa dikatakan adil?”
setelah mengatakannya, aku membuang muka, merasa menyesal dan berharap ia tidak
melihat air mataku.
Apa-apaan sih? Padahal tidak lagi ada ujian yang berat yang
kualami. Aku hanya sedang memikirkan hidup dan kehidupan yang mungkin
sebenarnya tak harus kupikirkan.
Pria itu berjalan menuju pagar di depan kursi yang kududuki.
Menghadap sungai.
“Apakah kamu percaya Allah itu ada?” spontan aku mengangguk.
“Apakah kamu bisa melihatnya?” aku menggeleng.
“Mungkin belum.”
“Kenapa kamu sekarang tidak bisa melihatnya? Karena kamu
terbatas. Hanya seorang manusia biasa. Kamu hanya perlu mempercayai bahwa Allah
itu ada..”
“Apakah hidup ini adil? Kita juga hanya harus mempercayainya
meski kita tidak bisa melihat letak keadilannya dimana. Karena kita hanya
manusia. Manusia yang terbatas. Yang semakin kita berpikir, semakin kita merasa
bodoh dan terbatas.”
“Seperti jawaban kamu, “mungkin belum”. Mungkin kamu juga
memang hanya belum tahu letak kedilannya di mana. Tapi yang tak terlihat oleh
mata, bukan berarti tak pernah ada, bukan?”
Aku masih menatap lurus ke depan. Enggan menatap matanya
yang tengah menatapku. Tapi pria ini enggan berhenti sebelum menyelesaikan
penjelasannya.
“Untuk masalah seorang yang taat ibadah namun doanya jarang
dikabulkan, dan yang ahli maksiat keberuntungan menyelimutinya, mari kita lihat
satu-satu sudut pandangnya..”
Aku menoleh, merasa tertarik dengan penjelasannya.
“Untuk seorang yang taat ibadah namun doanya jarang
dikabulkan, dan hidupnya terlihat selalu susah, pertama mungkin Allah sedang mencintainya
dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan. Allah ingin dia bersih dari
dosa-dosa sehingga ibadahnya menjadi penebus dosanya di dunia dan selamat di
akhirat nanti. Bukankah itu kabar baik?
“Kedua, mungkin Allah sedang menyusun tangga-tangga doa kita
menuju tempat tertinggi sehingga Allah akan kabulkan lebih dari yang kita
doakan.
“Dan yang terakhir, untuk orang-orang yang ingin sekali
hidupnya istiqamah, untuk orang yang selalu berdoa minta dijadikan sebagai
orang yang selalu di jalan yang benar, apakah Allah tidak akan menguji lagi?
Bagaimana cara Allah mengabulkan doa-doa ukhrawi kita kalau tidak dengan
ujian-ujian? Dan Allah Maha Baik, selalu berikan hikmah dengan tanda-tanda yang
harus kita pikirkan sendiri, sehingga hikmah itu terasa sangat besar.
“Lalu tanda-tanda apa lagi yang membuktikan bahwa Allah
tidak cinta hanya karena penilaian pendek kita tentang ketidakadilan dunia?”
Pria di hadapanku ini masih menatapku, mencari bola mataku yang mungkin hilang.
Tidak perlu dijelaskan lagi. Aku mengerti. Dan Ingin
menambahkan sepatah-dua patah.
Namun sepertinya semua bagian tubuhku sudah patah.
“Alangkah kasiannya aku terhadap yang ahli maksiat namun
penuh keberuntungan hidup. Itu seperti bom waktu. Semua dosanya ditebus di
akhirat nanti. Sesuatu yang akan lebih berat daripada di dunia. Itu kenapa aku
sering mendengar sanggahan para perokok atau siapapun yang tidak menjaga
tubuhnya dari makanan-makanan yang tidak baik, mereka bilang, contoh seorang
temannya dia selalu menjaga tubuhnya tapi pada akhirnya dia menderita penyakit
yang sama berbahayanya dengan orang-orang yang tidak menjaga tubuhnya. Aku tahu
sekarang, itu hanya ujian semata. Dan semoga saja ujian penyakitnya menebus
dosanya ” Aku menambahkan.
“You got it, well.” Tanggapnya masih dengan senyum manisnya
–yang tak kurasakan.
“Menurutku yang lebih menyedihkan lagi adalah yang penuh
maksiat dan doanya selalu tertolak karena dibentengi oleh dosa-dosanya..” Pria
itu tiba-tiba menunduk, membalik badan, entah apa maksudnya.
Aku hendak mencegahnya, namun tiba-tiba mataku terbuka.
Melihat seorang masih di dalam ruangan. Bukan yang
kuceritakan tadi, tapi seorang di sebelahnya. Aku tersenyum, atau meringis. Melihat
ternyata dalam halusinasiku, bukanlah orang yang kupikirkan dalam nyataku.
Aku beranjak, dan mencoba berserah terhadap jalan kehidupan
yang selama ini tidak pernah bisa kulihat dengan jernih. Tugasku hanya belajar taat,
semua jalan kehidupan terserah Allah.
Subhanallah.... :)
BalasHapusSubhanallah.... :)
BalasHapus