Langsung ke konten utama

Untuk Orang-orang Tangguh

Teruntuk orang-orang tangguh yang selalu ingin menanggung beban orang lain.



Aku tahu pundakmu tak setangguh itu, punggungmu tak setegap itu,  dan hatimu tak sebaja itu.

Kamu lebih baik tidak makan daripada harus lalai dalam kewajiban. Karena kamu pikir,  mendapatkan makan adalah hak,  dan bekerja keras adalah kewajiban.

Kamu selalu membeli beban orang lain dengan waktu istirahatmu.

Orang seolah melihat waktumu banyak,  selalu ada ketika dibutuhkan,  selalu ingin menjadi pelayan bagi orang lain,  meski ada saja kekuranganmu yang sering terlihat lebih besar dari pengorbanan dan niat baikmu selama ini.

Aku tahu itu tidak mudah untuk kamu lalui,  tapi kamu cukup melihat orang tersenyum karenamu,  seolah-olah itu bisa mempermudah segala urusanmu.

Kamu yakin,  segala urusan orang-orang terdekatmu,  adalah segala urusanmu.

Kamu tidak ingin melihat orang keberatan dengan hidupnya,  meski sungguh,  hidupmu lebih berat dari hidup orang lain.

Tapi kamu seperti tidak memiliki kehidupan sendiri untuk diberatkan.

Masalahmu bukan lagi masalah pribadi, masalahmu selalu saja menyangkut masalah orang lain.  Masalahmu selalu saja menyangkut umat.

Kamu menjadi orang terpercaya di sekelilingmu, mendapat banyak beban dan amanah dari orang lain. Orang percaya bahwa kamu mampu menanggung semuanya.   Dan kamu menerimanya bukan karena kamu merasa mampu,  melainkan karena kamu tidak ingin mengecewakan harapan orang lain.

Kamu sebenarnya ragu terhadap apa yang sedang kamu jalankan, tapi suara hati itu kau coba hiraukan agar ia akan mati sendiri.  Apakah kamu bisa?  Tanyamu dalam hati.

Kemudian seolah ada yang membisikkanmu,  Kamu tidak memiliki jaminan apa pun bahwa kamu akan selalu bisa menghadapi beban yang akan menujumu.  Hanya saja,  kamu harus yakin,  bahwa bila Dia berkehendak kamu bisa,  maka seluruh alam akan membantumu hingga kamu bisa melalui semuanya.

Kamu kuat,  bukan berarti kamu tidak pernah mengeluh.  Kamu mengeluh.  Mungkin hampir setiap hari hatimu ingin mengeluh. Karena itu sama-sama sifat alamiah kita,  berkeluh kesah.

Tapi sahabatku,  keluhanmu tak pernah kudengar sedikitpun. Tapi aku yakin, kamu sering mengeluh sepertiku. Pasti,  keluhanmu hanya terdengar oleh penghuni langit kan?

Bolehkah aku mendengar keluhanmu sekali saja?  Pasti keluhanmu itu adalah bentuk syukur yang paling panjang.

Saudaraku,  ajari aku untuk selalu syukur dalam ujian. Karena ujian seringkali membuatku lupa bahwa aku akan segera lulus. Dan ajari aku untuk selalu sadar dalam terpaan.  Barangkali seluruh terpaan itu adalah bentuk kesalahanku sebelumnya yang belum pernah kubayar.

Saudaraku,  ajari aku untuk selalu sabar dalam senang.  Karena senang selalu sulit kita kendalikan,  sehingga barangkali aku sering berbagi kebahagiaan di tengah penderitaan orang lain. Barangkali ada yang pernah diam-diam iri terhadap kesenanganku sehingga menghabiskan keberkahan hidupku.

Tetaplah kuat dengan tidak melemahkan orang lain. Sampai bertemu di tujuan kita. Maukah kita berjalan bersama-sama dan saling menguatkan?

Salam.
-Wiwi Jingga-
Untuk sahabat seperjuanganku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.