Malam yang sama, tempat yang sama. Walau dengan suasana hati
yang berbeda. Tepat dihadapanku ada seorang pria yang pernah kuceritakan dalam
halusinasiku, tengah mengerjakan angka-angka yang terpaksa mulai kusukai lagi.
Ia tengah serius mengerjakan soal sementara aku serius dengan pikiranku. Masih
dilema tentang memilih jurusan yang sesuai.
Pria itu seketika menoleh, seperti teringat sesuatu. Seperti
tahu apa yang tengah kupikirkan saat itu.
“Pilihan pertama itu, sesuatu yang benar-benar kamu
impikan.” Katanya mantap.
“Aku tidak punya impian. Mungkin mimpiku adalah mewujudkan
mimpi orang tua.”spontan aku menjawab.
“Itu juga mimpi, bukan?” ia menggodaku. Benar juga.
Aku sendiri bingung. Apakah itu menyedihkan ketika dalam
hidup, seseorang tidak memiliki mimpi? Seseorang tidak tahu apa yang egonya
impikan? Aku sendiri bingung –bahkan terkadang sedih ketika mengakui bahwa aku
tidak memiliki mimpi spesifik seperti kebanyakan orang.
Bagiku, yang utama adalah bakti. Bakti terhadap siapa-siapa
yang rela membaktikan hidupnya untukku. Misalnya orang tuaku. Mereka rela
membaktikan seluruh harta dan waktunya untuk kepentinganku, lalu tugasku di
dunia ini hanyalah bakti menjadi seperti apa yang mereka impikan.
“Lalu apa yang harus kulakukan dengan mimpi yang seperti itu?”
aku sebenarnya tidak tahu apa yang kupertanyakan, namun aku hanya bingung saja
tentang keberadaanku di dunia ini.
“Katanya, seseorang yang tidak memiliki mimpi, lebih baik
tidak usah hidup.” Aku menambahkan lagi.
Pria itu menatapku dengan ekspresi khasnya –datar. Namun aku
bisa membaca ketertarikannya dalam kalimatku.
“Kamu sudah memiliki mimpi, hanya saja mimpi kamu terlalu
spesial. Mimpi kamu terlalu mulia.”
Aku baru saja hendak menangis, kemudian dia melanjutkan
kalimatnya. Sementara aku mendengarkan dengan posisi tertunduk.
“Kakak bilang, pilihan satu adalah apa yang paling kamu
impikan. Kemudian kamu bilang, bahwa impian kamu adalah mewujudkan impian
orangtuamu. Maka wujudkanlah mimpi itu.
Kakak yakin, tidak ada orangtua yang
ingin anaknya menderita, kamu yakin bahagia dengan apa-apa pilihan orangtua?”
Aku mengangguk. Insyaallah. Untuk apa lagi sih hidupku kalau
bukan untuk membahagiakan Ibu?
“Aku... sudah cukup...”
Tiba-tiba suaraku tersedak, oleh air mata, mungkin. Pria itu
masih diam, berusaha mendengarkan penjelasanku.
“Cukup apa?” akhirnya dia bertanya. Walau pertanyaannya
malah semakin membuatku sesak.
“Cukup kehilangan satu orang yang sangat mencintaiku sebelum
aku sempat membalasnya. Sudah cukup membuatnya kecewa dengan dosa-dosaku di
dunia. Tapi lagi-lagi aku masih menjadi anak yang seperti ini.”
Aku tahu, saat ini dia sedang kehabisan ide untuk membalas
kalimatku. Terpaksa, untuk menghindari kecanggungan, aku lanjutkan saja.
“Aku harus bagaimana untuk mendapatkan mimpi itu seperti
sesuatu yang kakak impikan juga?”
Aku menatapnya dengan wajah memelas. Benar-benar ingin
mengetahui identitas diri, berharap pria di hadapanku ini dapat membantu.
“Kamu ini mau apa lagi? Kamu sudah memiliki semua yang tidak
aku punya!”
Aku mengerutkan kening. Tidak kumengerti.
“Banyak orang di luar sana –bahkan kakak sendiri yang masih
kesulitan bakti terhadap orang tua. Tidak sejalan dengan apa-apa yang orangtua
impikan, meskipun sebenarnya kakak ingin. Kakak justru sedih ketika apa yang
kakak inginkan tidak sejalan dengan keinginan orangtua. Dan kamu telah
memilikinya. Apa yang kamu inginkan hanyalah orangtuamu bahagia. Kamu seperti
daun yang rela terjatuh dibawa angin kemanapun ia mau, kamu ikhlas terjatuh
sejatuh-jatuhnya dari ketinggian terjun, terbawa arus, mengalir lagi ke tempat
yang lebih rendah. Sementara orang di luar sana berlomba-lomba menaiki puncak
tertinggi, kamu justru dengan lapang dada sudah menuruninya duluan. Kamu sudah
sampai jauh sebelum orang lain berpikiran akan menuju kepadanya, dan kamu sudah
pulang ketika orang baru melakukan perjalanan.”
Pria dihadapanku ini selesai dengan kalimatnya. Dan aku
seperti terhiponotis. Berusaha mencerna setiap katanya.
“Jadi.. maksud kakak, aku sudah sampai duluan? Kemana?”
“Tujuanmu. Tujuanmu adalah pulang, sementara tujuan
kebanyakan orang adalah menuju puncaknya. Urusan pulang bisa dipikirkan
nanti-nanti. Tapi kamu justru semangat ketika diajak pulang, meski untuk sampai
puncaknya, kamu butuh tenaga dan motivasi lebih dari orang lain, karena tujuan
kamu adalah pulang, bukan sampai di puncak. Kamu paham sekali untuk bisa
pulang, kamu harus pergi sejauh-jauhnya. Meski pergi sejauh-jauhnya bukan
alasan utamamu, karena kamu harus pulang.”
“Kakak terlalu berbelit-belit.” Ucapku, terlalu jujur.
Kepalaku semakin pening.
Pria itu tersenyum. Senyum yang jarang sekali kulihat. Apa
maksudnya?
“Kamu mungkin belum sampai, Far. Tapi kamu sudah memulainya
duluan. Kamu hanya perlu menyimpan baik-baik kalimat itu. Suatu saat, ketika
kamu sudah sampai, ketika kamu hendak pulang, kamu mungkin bisa mengingat lagi
kalimat-kalimat itu, dan kamu bisa kembali kesini, jika pernyataan kakak salah
besar.”
“Kalau benar?”
“Kalau benar, kamu hanya tinggal melanjutkan perjalananmu.
Jika di depan sana ternyata kita berpapasan, mungkin itu yang dinamakan takdir.
Seperti bakti nomor satumu selama ini.”
Aku tersenyum. Menepuk kecil bahunya. Senang bisa memiliki
teman sepertinya. Yang sepemahaman, bahwa kita dijalankan oleh takdir. Kita
hanya perlu menjalankan apa-apa yang sudah menjadi ketentuan kita. Meski
harapan itu selalu ada.
“Terima kasih telah mengajarkan kakak tentang nomor satumu.
Tetaplah jadikan bakti menjadi nomor satu, dan nomor dua sepertinya tidak
terlalu buruk.”
Aku menoleh. Menatapnya penuh pertanyaan. Yang ditatap malah
menantang menatap balik, kemudian pergi. Meninggalkan perasaan tertinggal, yang
entahlah.
Komentar
Posting Komentar