Selalu ada seribu tanya...
Kenapa cinta ditakdirkan ada...
Satu kayuhannya, meneteskan satu tetes keringatnya.
Melunturkan satu kekurangannya, menjadikannya telaga peluh suci yang berharga.
Lelah di wajahnya, tak membuatnya berhenti mengayuh. Sebelum ia sampai pada
tujuannya, bukan saatnya untuk menarik napas panjang. Tarikan nafas panjang ia
kumpulkan di ujung sana. Bersama kawan-kawan yang telah menantinya, telah
sampai duluan diantar seonggok mesin.
Tuk dirimu yang tiada...
Yang kuterka di alam maya...
Ia masih tersenyum diujung sana, walau keringat sudah sampai
mata kakinya. Dengan cengiran khas, lega sekali melihat kawan-kawannya bahagia
mendirikan tenda. Sambil menunggu sekelompok orang yang sedang memasak, ia
iseng ingin menyalakan api unggun. Sedang api tak kunjung nyala juga, karena
ini musim hujan.
Untukmu, yang tak pernah nyata...
“Tidak ada bintang malam ini.” ucapku, mengganggunya yang
sedang serius meniup-niup suluh, konyol.
“Iya, musim hujan.” Jawabnya tanpa melihat sedikitpun ke
arahku.
“Nanti malam pasti ada.” Ucapku mantap, iseng saja
sebenarnya.
“Insyaallah.” Singkatnya tanpa mengindahkan ucapanku.
Aku pun menengadahkan tangan di kepala, tertidur di atas
matras. Memejamkan mata. Berharap bintang gemintang muncul dari balik dedaunan
di pohon itu. Pemandangan ini indah sekali. Tak ada kamera seindah mata
ciptaan-Nya.
Aku memejamkan mata, melantunkan sholawat yang kusukai.
Bersenandung sendiri. Kalau aku diam saja, takut ada hal-hal lain yang masuk.
Betapa baiknya Allah hijrahkan aku dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari
satu teman ke teman lainnya. Pertemuan dan perpisahan yang begitu cepat.
Sekarang aku sudah bersama orang baru lagi, tapi seperti teman lama.
Jika rasa tertakdirkan...
Akankah bertemu...
Aku membuka mata, “sudah besar apinya?”
“Sudah dong.” Jawab kawan-kawanku serentak.
“Iya, kan aku sholawatin.” Aku nyengir.
“Ye, bukannya dari tadi atuh.”
Pria itu mulai lelah dengan unggun-nya yang tak kunjung
nyala, kini sibuk memainkan SLRnya dan memotret dengan cahaya seadanya.
Tersenyum melihat hasilnya. Waktunya makan. Hasil masakan team koki, dengan
nasi, mie, dan tahu seadanya. Di atas selembar daun pisang, untuk bersama. Kami
tertawa. Terlebih, renyah sekali melihat tawanya. Lebih tepatnya tawanya yang
tak bersuara, senyumnya yang... tulus. Aku bisa merasakan senyum itu berbeda,
senyum yang tersenyum melihat orang lain dapat tersenyum. Dan aku tersenyum,
dapat melihat senyum itu.
Dalam angan yang tak terpikirkan...
Atau mimpi yang tak tergambar...
Kulihat bintang bertambah banyak. Pertanda malam semakin
pekat. Beberapa teman telah tertidur duluan di tenda. Tenda kami hanya 2, untuk
laki-laki dan perempuan. Yang tersisa, terpaksa tidur di luar dengan sleeping bag. Aku tidur di luar.
Sengaja, agar sebelum memejamkan mata, aku dapat melihat bintang-gemintang di
antara pepohonan. Indah sekali melihatnya dari atas gunung, tanpa terhalangi
apapun kecuali dedaunan.
Apakah ada di alam semesta...
Cerita tentang kita...
Aku merasa ada seorang di atas kepalaku, tertidur. Mengira
mungkin aku ini laki-laki, atau sudah sadar bahwa aku di sini? Tanpa
berlama-lama aku langsung tahu siapa dia. Dari hembusan nafasnya aku bisa
langsung mengenalnya. Ternyata, ini yang dimaksud syukur berada di atas bumi
yang sama, dan di bawah langit yang sama. Berada melihat bintang yang sama,
dengan gejolak rasa yang mungkin berbeda. Kata siapa kita berbeda? Kita adalah
sama, sama-sama berbeda. Apakah kisah kita pernah ada? Atau bahkan akunya yang
tak terlihat?
Tersembunyi di antara galaksi...
Atau di suatu tempat di bumi...
Aku mendengar surat-surat pendek yang dibacakan olehnya
sebelum tertidur. Aku seperti terjatuh-sejatuh-jatuhnya. Semakin ingin
memanjati benteng yang kian tinggi ia bangun, namun aku pikir-pikir lagi,
mungkin ia bahkan risih jika ada yang menyentuh bentengnya. Aku diam saja.
Mendengarkannya dengan seksama. Karena suaranya kecil sekali, aku semakin
memejamkan mata. Agar indra pendengaranku semakin tajam.
Aku percaya cinta...
Mendoakan dirinya...
Ketika hampir saja roh-ku terlepas, ketika hampir saja aku
terpeleset sebelum tidur, aku bisa mendengarkan itu. Kalimat terakhir yang
semakin kecil suaranya, semakin dapat kudengar.
.
.
.
.
.
“Semoga Kita Ada.” Ucapnya, rilih. Di ujung (nafas)
terakhirnya.
Memeluk dirimu
Semoga kita ada
Ya Allah, aku ingin memeluknya sekali saja. Dan biarkan doa
jadi perantara kita.
Kemudian hujan turun, membasahi tanah yang (kami) pijaki.
Mematikan api unggun yang dibuat oleh(nya). Dan melunturkan bayangannya dari
ujung kaki, hingga ujung kepala yang berada di dekatku.
***
note: dibuat dengan lirik lagu Semoga Kita Ada - Bradercoy
ini dia lagunyaaa aku unggah di 4shared.. (sudah diberi izin loh)
Semoga Kita Ada - Bradercoy
Selamat mendengarkan, dan kade baper :(
Thanks to Azura Elska and Bradercoy!
ini dia lagunyaaa aku unggah di 4shared.. (sudah diberi izin loh)
Semoga Kita Ada - Bradercoy
Selamat mendengarkan, dan kade baper :(
Thanks to Azura Elska and Bradercoy!
Komentar
Posting Komentar