Langsung ke konten utama

Sepasang Kekasih

Sumber gambar: google.com
Tulisan ini terinspirasi dari lagu Frau – Sepasang Kekasih yang Pernah Bercinta di Luar Angkasa. Boleh sambil diplay video beserta liriknya di atas. Memang, pertama mendengar, imajinasi yang dibuat oleh lagu ini bagi beberapa orang terkesan liar, tapi saya mencoba mencari imajinasi yang tidak kalah liarnya, meskipun hasilnya.... hm mungkin jauh berbeda dari interpretasi sastra sesungguhnya bagi pemiliknya.

Baiklah, selamat menikmati sastra ini.

*** 

Kuhamparkan sebuah tikar di atas tanah, membawa sepiring-dua piring berisi makanan yang akan kubagi bersamamu. Biasanya kita menyebutnya botram. Botram sempat kupikir berasal dari singkatan, “buat rame-rame”, artinya sudah menjadi kaidahnya kalau botram itu dilakukan bersama-sama.

Kuletakkan sepiring-dua piring itu, bersama segelas-dua gelas air mineral. Dengan cangkir kering berisi kopi bubuk disamping termos hijau. Menyeduhnya bersamamu pasti akan terasa berbeda. Aku melepas alas kakiku di pinggir tikar, mulai duduk, memasang senyum lebar-lebar, bersiap menyambut kedatanganmu.

Aku menggeser sesuatu yang ada di belakang termos, dari “close” menjadi “open”, menuangkan air panasnya ke dalam kopi yang telah kusiapkan.

Crrrrt.

Uap mengepul, mengubah bening cangkir menjadi putih, membentuk embun, sisanya terhempas di udara, membuat siluetmu, semakin tinggi, senyumku semakin lebar. Sebentar lagi.

Akhirnya, kau datang.

Di rentang waktu yang berjejal dan memburai kau berikan...

Aku menutup mataku, membukanya kembali, menutup lagi, membukanya kembali. Tetap sama.

Kau menuju ke arahku, mengajakku bermain bersama. Aku menolak. Perutku sudah lapar, makan dahulu, kataku.

Kau mengangguk, menuruti kemauanku. Kita makan bersama, saling memandang. Aku tak ingin kau hilang lagi.

Aku makan, dan hanya fokus dengan satu pikiran, yaitu untuk tidak kehilangan jejakmu. 
Kemudian aku lupa, bahwa posisiku kian detik kian tinggi.

Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan...

Aku telah terbawa olehnya, terbang bersamanya, makananku tertinggal di beberapa meter di bawah. Aku tidak peduli.

Aku mencoba menjamah tanganmu yang terbuka lebar untukku. Di atas langit yang biru. Ku coba genggam, enggan. Tanganmu kembali membiru. Aku cemas. Aku tidak ingin menyentuhmu, atau semuanya menjadi biru. Dan aku kehilanganmu.

Di gigir yang curam dan dunia tertinggal kelak membeku...

Seketika kau menghentikan kepakkanmu, baling-balingmu, udaramu, atau apalah itu yang membuatku bisa sampai disini. Terhenti di sini, mengehentikan seluruh waktu yang ada di bumi dan di langit, tinggal tersisa aku dan mungkin juga kamu. Jelaskan padaku, kita tidak akan berhenti sampai di sini.

Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh...

Duniaku sudah tertinggal jauh di sana, aku lupa kemana aku harus pulang, lewat mana, dari mana, arah mana, setiap satu jengkal ketidakberpijakan kita bertambah, satu jengkal itu pula jejak terbakar habis oleh seluruh sepi.

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa...

Bukankah kita adalah sepasang kekasih? Kekasih yang tak lama jumpa. Adalah udara hampa. Adalah uap. Adalah panas. Adalah gejolak. Adalah ketinggian. Adalah ruang antah berantah.

Seperti takkan pernah pulang...

Ajarkan aku caranya pulang. Oh, aku lupa, bahwa kau tak punya tempat asal. Dan membiarkanku mengikuti jejakmu hingga sampai di sini. Di luar angkasa, dengan membakar seluruh tempat pulang dengan sepi yang semakin tinggi. Menerbangkanku. Bersamamu.

Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya...

Aku terlontar, seribu meter jauh ke belakang. Terdepak cahayamu. Kau membias, ku terbias. 
Kau menghilang, aku terkenang.

Seperti takkan pernah pulang...

Ya aku seperti takkan pernah pulang, karena kau hanya ajarkanku caranya terbang, aku tak pernah tahu bagaimana jalan pulang.

Ketuk langkahmu menarilah jauh di permukaan...

Aku melompati satu titik udara menuju titik udara lainnya, membentuk sudut-sudut rasio bintang yang mungkin bisa menggambarkanmu. Semakin kencang langkah pantulanku, semakin kunikmati candunya, semakin ku jauh dari tempat itu, mengikuti tarianmu yang baru saja kulepaskan.

Jalan pulang tlah menghilang, tertulis dan menghilang, karena kita, sebab kita, telah bercinta, di luar angkasa..

Aku melepas kacamataku, meneguk segelas kopi panas yang masih mengepul, uapnya kembali menutupi penglihatan kacamata beningku. Berharap kau kembali lagi, dan membawaku pergi lagi.



*** 

NB: pengen aja judulnya sepasang kekasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.