![]() |
| Sumber gambar: google.com |
Tulisan ini terinspirasi dari lagu Frau – Sepasang Kekasih
yang Pernah Bercinta di Luar Angkasa. Boleh sambil diplay video beserta liriknya di atas. Memang,
pertama mendengar, imajinasi yang dibuat oleh lagu ini bagi beberapa orang
terkesan liar, tapi saya mencoba mencari imajinasi yang tidak kalah liarnya,
meskipun hasilnya.... hm mungkin jauh berbeda dari interpretasi sastra
sesungguhnya bagi pemiliknya.
Baiklah, selamat menikmati sastra ini.
Kuhamparkan sebuah tikar di atas tanah, membawa sepiring-dua
piring berisi makanan yang akan kubagi bersamamu. Biasanya kita menyebutnya
botram. Botram sempat kupikir berasal dari singkatan, “buat rame-rame”, artinya
sudah menjadi kaidahnya kalau botram itu dilakukan bersama-sama.
Kuletakkan sepiring-dua piring itu, bersama segelas-dua
gelas air mineral. Dengan cangkir kering berisi kopi bubuk disamping termos
hijau. Menyeduhnya bersamamu pasti akan terasa berbeda. Aku melepas alas kakiku
di pinggir tikar, mulai duduk, memasang senyum lebar-lebar, bersiap menyambut
kedatanganmu.
Aku menggeser sesuatu yang ada di belakang termos, dari “close”
menjadi “open”, menuangkan air panasnya ke dalam kopi yang telah kusiapkan.
Crrrrt.
Uap mengepul, mengubah bening cangkir menjadi putih, membentuk
embun, sisanya terhempas di udara, membuat siluetmu, semakin tinggi, senyumku
semakin lebar. Sebentar lagi.
Akhirnya, kau datang.
Di rentang waktu yang
berjejal dan memburai kau berikan...
Aku menutup mataku, membukanya kembali, menutup lagi, membukanya
kembali. Tetap sama.
Kau menuju ke arahku, mengajakku bermain bersama. Aku menolak.
Perutku sudah lapar, makan dahulu, kataku.
Kau mengangguk, menuruti kemauanku. Kita makan bersama,
saling memandang. Aku tak ingin kau hilang lagi.
Aku makan, dan hanya fokus dengan satu pikiran, yaitu untuk
tidak kehilangan jejakmu.
Kemudian aku lupa, bahwa posisiku kian detik kian
tinggi.
Sepasang tanganmu
terbuka dan membiru, enggan...
Aku telah terbawa olehnya, terbang bersamanya, makananku
tertinggal di beberapa meter di bawah. Aku tidak peduli.
Aku mencoba menjamah tanganmu yang terbuka lebar untukku. Di
atas langit yang biru. Ku coba genggam, enggan. Tanganmu kembali membiru. Aku cemas.
Aku tidak ingin menyentuhmu, atau semuanya menjadi biru. Dan aku kehilanganmu.
Di gigir yang curam
dan dunia tertinggal kelak membeku...
Seketika kau menghentikan kepakkanmu, baling-balingmu,
udaramu, atau apalah itu yang membuatku bisa sampai disini. Terhenti di sini,
mengehentikan seluruh waktu yang ada di bumi dan di langit, tinggal tersisa aku
dan mungkin juga kamu. Jelaskan padaku, kita tidak akan berhenti sampai di
sini.
Sungguh, peta melesap
dan udara yang terbakar jauh...
Duniaku sudah tertinggal jauh di sana, aku lupa kemana aku
harus pulang, lewat mana, dari mana, arah mana, setiap satu jengkal
ketidakberpijakan kita bertambah, satu jengkal itu pula jejak terbakar habis
oleh seluruh sepi.
Kita adalah sepasang
kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa...
Bukankah kita adalah sepasang kekasih? Kekasih yang tak lama
jumpa. Adalah udara hampa. Adalah uap. Adalah panas. Adalah gejolak. Adalah ketinggian.
Adalah ruang antah berantah.
Seperti takkan pernah
pulang...
Ajarkan aku caranya pulang. Oh, aku lupa, bahwa kau tak
punya tempat asal. Dan membiarkanku mengikuti jejakmu hingga sampai di sini. Di
luar angkasa, dengan membakar seluruh tempat pulang dengan sepi yang semakin
tinggi. Menerbangkanku. Bersamamu.
Kau membias di udara
dan terhempaskan cahaya...
Aku terlontar, seribu meter jauh ke belakang. Terdepak cahayamu.
Kau membias, ku terbias.
Kau menghilang, aku terkenang.
Seperti takkan pernah
pulang...
Ya aku seperti takkan pernah pulang, karena kau hanya
ajarkanku caranya terbang, aku tak pernah tahu bagaimana jalan pulang.
Ketuk langkahmu
menarilah jauh di permukaan...
Aku melompati satu titik udara menuju titik udara lainnya,
membentuk sudut-sudut rasio bintang yang mungkin bisa menggambarkanmu. Semakin kencang
langkah pantulanku, semakin kunikmati candunya, semakin ku jauh dari tempat
itu, mengikuti tarianmu yang baru saja kulepaskan.
Jalan pulang tlah menghilang, tertulis dan menghilang, karena kita, sebab kita, telah bercinta, di luar angkasa..
Aku melepas kacamataku, meneguk segelas kopi panas yang
masih mengepul, uapnya kembali menutupi penglihatan kacamata beningku. Berharap
kau kembali lagi, dan membawaku pergi lagi.

Komentar
Posting Komentar