Pagi ini, saya merasa telah membuat kesalahan besar.
Saya... Membuat seorang anak kecil menangis.
Dia murid saya. Kelas 4SD.
Saat itu, saya lagi kewalahan banget mengurusi banyaaak anak. Antrian tes mengaji dan hafalan masih banyak, buku belum saya nilai, anak-anak keluar kelas. Rasanya saya ingin meminjam mata, tangan, dan otak orang lain agar bisa mengawasi mereka lebih maksimal.
Akhirnya saya menyuruh mereka untuk bersiap pulang dengan membaca surat-surat pendek dan doa akhir majelis. Yang sudah melaksanakan semua tugasnya, saya izinkan pulang. Tersisalah 4 anak yang belum hafalan (3 perempuan, 1 laki-laki). Mereka rebutan untuk hafalan duluan. Saya pun memutuskan untuk memilih anak dari yang urutannya pertama sampai terakhir berdasarkan urutan mengaji sebelumnya.
3 anak perempuan sudah hafalan. Sisanya seorang anak laki-laki yang saya lihat hidungnya sudah memerah, matanya berlinang, napasnya tak beraturan menahan tangis. Sampai saya berkata, "sok tenangin dulu.", berjatuhanlah air matanya. Tersedu-sedan. Hingga air liurnya berhujanan ke baju muslimnya.
Saya tidak bisa mengatakan apa-apa, selain mengelus punggungnya. Rasanya sakiiiit sekali. Lebih sakit daripada ketika kita yang merasa tersakiti.
Apakah ini salah saya? Apakah saya berlaku tidak adil? Apakah saya telah menyentuh bagian sentimentilnya? Apakah saya benar-benar melukai hatinya? Apakah ia merasa terpojokkan? Apakah ia merasa tidak dianggap? Apakah saya yang telah membuatnya merasa seperti itu? Ataukah ia lelah? Ataukah ia sungguh-sungguh lelah?
Saya hanya bisa mengelus pundaknya, bahunya, apapun yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Memberikan air minum, meminta maaf, sungguh-sungguh minta maaf kalau saya salah, meloloskannya supaya tidak hafalan hari itu, menyuruhnya langsung pulang saja, tapi ia masih menutupi wajahnya dengan tangannya.
Sungguh, rasanya saya adalah guru yang tidak tahu apa-apa tentangnya. Terlalu banyak kemungkinan terhadap jatuhnya air mata seorang anak. Saya ternyata belum mengerti banyak tentang mereka.
Sakit, sungguh rasanya sakit sekali melihat "anak sendiri" menangis di depan saya. Rasanya ingin ikut menangis, tapi itu rasanya tidak membuat keadaan lebih baik.
Akhirnya dia mundur perlahan dan bersiap pulang, masih dengan membawa misteri apa yang sebenarnya ada dalam hatinya. Saya manatap kepulangannya dari balik punggungnya dengan.. Entahlah.
Sampai di rumah, saya tidak tahan lagi untuk menangis.
Saya cari ibu saya yang lagi di dapur dan berkata dengan susah payah,
"Oh.. Ibu.. Maaf. Ternyata ini rasa sakitnya ketika seorang ibu membuat anaknya patah hati karena tidak bisa menjadi ibu yang anaknya harapkan. Patahnya hati seorang anak, akan lebih meremukkan hati ibunya. Aku merasakan itu, Ibu."
Komentar
Posting Komentar