Seharusnya, semakin dewasa kita,
semakin pintar kita dalam memahami orang lain.
Seharusnya, semakin dewasa kita,
semakin paham kita akan pentingnya kejujuran, terlebih kepada diri sendiri.
Setidaknya, begitulah pemahaman
yang berusaha seseorang tanamkan kepadaku.
“Wi.” Seorang lelaki yang sangat
kukenali itu tiba-tiba berada di depan pagar rumahku, setelah sekian lama kita
tak saling mengabari.
“Yaaa?” jawabku. Berusaha tidak
terlihat kaget, bahkan berusaha untuk tidak tertarik akan keberadaannya. Bukan
apa-apa, aku hanya sedang menjaga hati, barangkali ia hendak terjatuh lagi.
“Ada yang mau aku omongin.”
Sebenarnya kalimat itu menambah seratus persen kekagetanku. Perutku tiba-tiba
mulas. Hampir saja aku meminta izin untuk buang air besar karena reaksi alami
tubuhku benar-benar di luar kendali akibat keberadaannya malam ini.
“Ya, silakan masuk dulu.” Tapi sebenarnya
kami tidak benar-benar masuk. Tempat favorit kami dulu duduk-duduk di teras
rumah sambil menatap rembulan dan langit malam. Aku menyilakannya duduk. Di kursi
yang diselimuti udara kerinduan. Lelaki itu, Aldo, terburu-buru duduk. Aku memandangnya
dengan tatapan bertanya-tanya. Yang ditatap malah melihat ke atas, melihat
rembulan, mungkin sedang bertanya ‘apakah
aku bisa mengatakannya sekarang?’
“Baiklah, saya cuma butuh jawaban
kamu ‘ya’ atau ‘tidak’. Saya tidak butuh penjelasan apapun. Saya juga tidak
butuh pertanyaan balik.”
“Apa yang mau kamu tanyakan?” aku
tak sabar, maksudnya apa?
“Kamu...” aku menatapnya dengan
seksama, menunggu kata selanjutnya yang tidak bisa kutebak itu.
“Kamu suka sama saya?”
Hah?
Iya sih.
Tapi ini pertanyaan macam apa?
Aku tidak tahu, bagaimana tampak
wajahku di hadapannya saat ini. Apakah memalukan? Aku seperti seorang pencuri
yang tertangkap basah oleh pemilik rumah.
“Kenapa kamu tanya itu?”
“Kubilang, hanya jawab ‘ya’ atau ‘tidak’.”
Otakku seperti kehilangan
oksigen. Aku tidak tahu apakah ya atau
tidak jawaban yang terjujur, atau
jawaban yang ia inginkan? Kenapa aku harus menjawab pertanyaan seperti ini sih?
Yang aku tahu, aku seperti telah menemukan seorang yang bisa kubagi
cerita, tentang apapun, tentang aku, tentang dunia, tentang mimpi, tentang
kesedihan, semuanya, semuanya. Aku sangat sedih ketika tiba-tiba kamu pergi,
menghilang begitu saja, berjalan mundur tanpa penjelasan apa-apa.
Kemudian sekarang, kamu juga dengan tiba-tiba datang dan bertanya
apakah aku suka kamu? Mau kamu apa?
“Ya.” Jawabku tanpa ragu. Sebenarnya
bukan tanpa ragu karena aku mengatakan kebenaran, tapi karena aku benar-benar
ingin tahu apa yang akan dia lakukan setelahnya jika aku benar-benar mengatakan
ya, karena jika aku mengatakan tidak, mungkin Aldo akan mengakhiri
percakapan dan pamit pulang.
Aku hanya ingin kamu tetap di sini, apakah itu artinya aku suka sama
kamu? Aku tidak tahu, kuanggap saja itu jawabannya.
Lalu apa yang dia katakan
selanjutnya?
“Wi, kita sudah besar.” Jawabnya,
entah itu benar-benar jawabannya atau tidak atas pengakuan tergila yang pernah
kulakukan itu.
Lalu, apakah menyukaimu pertanda bahwa aku masih kekanak-kanakan?
“Iya, lalu?” aku menunggu ia
membicarakan semuanya, apa yang sebenarnya mengganggu hati dan pikirannya
selama ia memutuskan pergi, dan kembali lagi ke sini.
“Siapa sangka kita sudah tumbuh
bersama beberapa tahun terakhir, kita sudah 19 tahun. Sayangnya, kita belum
cukup dewasa hanya karena kita terlihat sudah tumbuh besar.” Seperti biasanya, Aldo
memulai prolog sebelum ia menceritakan inti pembicaraan. Aldo telah kembali
seperti dulu.
“Justru semakin bertambah usia,
kita malah lebih kekanak-kanakan dibanding kanak-kanak. Ah, iya, bukan kita,
melainkan saya. Saya yang datang tanpa permisi, dan pergi tanpa salam.”
Aku mengangguk dalam hati. Akhirnya
ia mengakuinya.
“Wi, kamu tahu kan, dari dulu,
yang saya ceritakan ke kamu adalah perempuan yang sama. Saya masih belum bisa
mencintai siapapun selainnya. Saya masih tergugu dalam penjara yang sama, yang
saya sendiri tidak tahu kapan berakhirnya masa hukuman saya sebagai tahanannya.
Padahal saya tahu percis, dia sama sekali tidak mengingat saya.”
Ah, jadi ini yang mau kamu jelaskan?
“Iya, aku mengerti. Aku tidak
pernah meminta apapun dari kamu, bukan? Termasuk hati kamu.”
“Iya. Maaf. Ternyata saya yang
kekanak-kanakan, yang memilih diam seolah-olah itu yang terbaik. Padahal diam
bisa menyebabkan hati seorang terluka, membuatnya menerka-nerka apa yang
sebenarnya terjadi, membuatnya tergugu dalam imaji dan ilusi yang ia buat
sendiri.” Aldo menatapku kali ini, memberikan senyuman bersahabat yang lama
kurindukan.
You got it, Al! Aku mengangguk, tidak tahu harus membalas dengan
kata-kata seperti apa.
“Kita sudah besar, Wi. Sudah seharusnya
kita juga menjadi dewasa. Seorang yang dewasa tahu pentingnya kejujuran,
terlebih pada diri sendiri. Kita buat perasaan itu sesederhana mungkin, ya? Mencintai
itu hak kita masing-masing, bukan? Lalu apa salahnya kita memperjuangkan hak
kita? Tapi jangan lupa, untuk memperjuangkan hak kita dalam mencintai
seseorang, kita melibatkan hak orang lain dalam menentukan apakah ia mau
memberikan cinta yang sama kepada kita atau tidak.” Aldo sudah kembali menjadi
Aldo yang dulu kukenal.
“Iya aku tahu, Al.” Perasaanku kali
ini jauh lebih tenang. Rasanya darahku mulai mengalir kembali. Inilah yang aku
inginkan, mencintai tanpa dihindari. Maksudku, apakah perasaan seseorang itu ibarat
monster yang harus dihindari jauh-jauh-jauh sekali?
Aku tidak pernah memaksa apapun. Aku
tidak pernah memaksa agar hatimu diberikan kepadaku, nanti apa dong yang
mengolah racun tubuhmu?
“Mari kita berjalan kembali
masing-masing. Saya sibuk dengan perasaan saya sendiri, kamu sibuk dengan
perasaanmu sendiri. Kita biarkan hak kita dalam mencintai, terbang
sebebas-bebasnya. Kita sepakati, perlakuan baik kita masing-masing, bukan
bagian dari harapan palsu, ya? Kita masih dua orang sahabat yang bisa berbagi
cerita, apapun, termasuk perasaan kita masing-masing. Bukankah kita sama-sama
(benar-benar) bahagia ketika salah satu di antara kita bahagia?”
Aku mengangguk kuat-kuat. Selama ini,
aku tidak pernah sedih ketika mendengar Aldo bercerita tentang perempuan itu.
Aku hanya sedih ketika Aldo justru tidak bercerita apa-apa lagi.
“Omong-omong, apa yang membuatmu
tiba-tiba dewasa seperti ini?” aku sungguh penasaran.
“Ah, iya, tadi malam, aku mimpiin
almarhum ayah kamu. Ia bilang, aku telah mengecewakanmu.”
Aku nyengir selebar-lebarnya. Memberikan
angka dua padanya, tanda perdamaian.
Ah, bagiku, andai semua lelaki
seperti Aldo saat ini. Setiap perempuan siap belajar penerimaan, selama ia
mendapat penjelasan.
Ah, bagiku, andai semua lelaki
tahu, bahwa diamnya mereka akan lebih melukai perempuan daripada penjelasan
pahit sekalipun.
Komentar
Posting Komentar