Langsung ke konten utama

Menumbang diri sendiri


Apakah sebuah pohon tumbang karena apa yang dihasilkannya sendiri?

Sebuah pohon melahirkan oksigen. Oksigen bertemu kawan-kawannya dalam udara. Ada debaran, desiran, kehangatan, kerinduan, yang menggerakkan mereka sehingga menjelma menjadi angin.

Ternyata rindunya terlalu besar. Desiran cintanya terlalu besar. Pertemuan terlalu lama. Pelampiasan terlalu berlebihan.

Sehingga angin yang seharusnya bertiup lembut, menjadi angin yang tak terkendali dalam menyampaikan perasaan-perasaannya. Sehingga tanpa disadari, ia telah menumbangkan sesuatu yang berperan banyak pada keberadaannya.


Bukankah itu yang sering terjadi pada kita? Kita sering menumbangkan apa yang membuat kita tumbuh. Atau menumbang diri kita sendiri karena terlalu berlebihan menggerakkan rindu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.