Langsung ke konten utama

PERHITUNGAN USIA


Tadi siang saya mengikuti mata kuliah bahasa Inggris yang seperti biasa diliputi gelak tawa lucu maupun garing di dalamnya. Saat itu topiknya tentang deskripsi dasar seseorang, salah satunya adalah usia. Jadi usia itu ada young, midle age, dan old. Kemudian pembahasan sampai pada pertanyaan, berapa usia midle age? Jawabannya, cara menghitungnya adalah maksimal 10 tahun dari angka usia kematian rata-rata di sebuah negara. Rata-rata batas usia harapan hidup di Indonesia mencapai angka 65 tahun, berarti midle age itu antara 45 sampai 55 tahun.

LALU FAEDAHNYA APA NGITUNG GINIAN? HEHEHE SABAR.

Meskipun suasananya saat itu penuh canda, ketika pulang ke rumah, saya seperti banyak berpikir tentang fakta yang sebenarnya sudah sering saya dengar, yaitu batas hidup seseorang kira-kira di usia segitu. Itu pun kalau maksimal, kita belum perhitungkan kemungkinan terburuk kalau detik setelah inilah batas usia kita.

Pemikiran selanjutnya terarah pada usia ibu saya. Tahun ini beliau menginjak 47 tahun. Saya menghitung 65-47=18 tahun. Kira-kira saya memiliki waktu 18 tahun untuk bisa membahagiakannya, itu pun kalau Allah berkehendak sampai batas itu. Sekali lagi, saya belum perhitungkan kemungkinan terburuknya. Ini adalah kemungkinan terbaik, 18 tahun! (meskipun bisa saja lebih dari perkiraan, tapi itu jarang, karena kita ambil data rata-rarta penduduk indonesia) Apakah cukup? Apakah saya mampu dalam 18 tahun melakukan perbaikan hidup dan membahagiakan ibu saya? Itu menjadi PR besar bagi saya yang harus segera diselesaikan.

Lalu saya jumlahkan usia saya sekarang dengan waktu tersebut, 19+18=37 tahun. Jadi, kira-kira, batas maksimal saya membahagiakan ibu saya di usia saya ketika 37 tahun. Itu kemungkinan terburuknya, karena saya tidak ingin terlalu lama membuat ibu menunggu, atau saya sendiri yang menunggu memberikan banyak hal untuk ibu. Apalagi kalau cita-cita saya menghajikan ibu, masa harus menunggu beliau tua? Kan kasian L

Jadi sudah sejauh mana usahamu, Wi?

Jawablah pertanyaan di atas dengan tepat dan lantang.

L

Usaha saya? Sekarang saya lagi di mana? Saya masih kuliah semester 2, artinya kalau semuanya lancar, saya butuh waktu 3 tahun lagi untuk menyelesaikan studi S1 saya. Apakah 3 tahun waktu yang lama? Jangankan 3 tahun, 11 tahun saja terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin ayah saya terbaring di rumah sakit, menghembuskan nafas terakhirnya, setelah sebelumnya berpesan pada saya untuk tidak nakal dan berbakti pada ibu. 11 tahun saja rasanya seperti baru kemarin. Lalu tidak akan ada bedanya dengan 3 tahun masa studi, atau 18 tahun sisa waktu.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang menjadi parameter saya untuk membuktikan bahwa saya sudah membahagiakan ibu? Saya ingin menghajikan ibu. Pertanyaan selanjutnya, jika saya menabung dari sekarang untuk menghajikan ibu saya, apakah 18 tahun menabung adalah waktu yang cukup? Oke, kita harus paksakan cukup tidak cukup, harus cukup. Pertanyaan selanjutnya, berapa biaya tabungan yang harus disisihkan dalam sehari bila 18 tahun lagi kita mau berhaji? Hmm. Kita asumsikan biaya segala macam 50 juta/18 tahun=2.778.000. Jadi satu tahun kita harus menyisihkan kira-kira 2.778.000/12 bulan=231.500/bulan. Jadi saya harus menyisihkan segitu setiap bulan, kalau bisa lebih banyak, karena saya juga tidak ingin menunggu selama itu.

Hmm, masih terlalu berat kayanya kalau dihitung perbulan karena saya tidak punya uang bulanan. Jadi saya hitung perhari deh, 231.500/20=11.575. Kenapa dibagi 20, karena saya memang dikasihnya seminggu 5x4minggu=20 hari. Dan... whuttt? Sehari saya harus menyisihkan 12.000 ya, hehe. Itu melebihi bekel saya. Lalu, bukankah ini PR besar selanjutnya buat saya?

Nah, perhitunan di atas adalah perhitungan dengan kemungkinan rata-rata, dengan harapan terbaik. Kita tidak pernah tahu usia kita maupun orangtua kita. Contohnya saja, meskipun angka harapan hidup rata-rata di Indonesia itu 65 tahun, tapi ayah saya meninggal pada usia 35 tahun. Hehe...................

Sepertinya kalau kita selalu berhitung seperti ini, tidak akan pernah habis. Yang ada malah kita sibuk berhitung tapi lupa melakukan sesuatu di sisa-sisa hidup kita, atau sisa-sisa hidup orang yang kita cintai.

Terkadang kita menginginkan banyak hal untuk diberikan ke orang tua kita, tapi bukankah kebahagiaannya adalah selalu diperlakukan dengan hormat dan baik? Ah, ini PR besar juga mengingat saya masih sering mengecewakannya, dan beberapa hal masih harus tergantung pada ibu saya.

Nah, sekarang giliran kamu yang membaca ini untuk lebih memperhitungkan sisa umurmu dikaitkan dengan sisa usia orangtuamu, kira-kira berapa tahun lagi batas maksimalnya? Dan apa yang harus kita lakukan selama (sependek) itu?


Oh iya, selagi orang tua kamu masih ada, atau siapapun deh orang di dunia ini yang kamu cintai masih ada, cepet katakan! Sebelum kamu menyesal seperti aku yang dulu pernah lama sekali menangis, menyesali tidak pernah mengungkapkan sepatah kata maafpun atau terima kasih kepada orang yang paling mencintai dan kita cintai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.