Aku mencari-Nya di cahaya terakhir yang menyilaukan sebelum mengunjungi dunia mimpi.
Berusaha menuntaskan kitab dengan hanya membaca sebuah surat terindah dari-Nya sebanyak tiga kali.
Berusaha menyembuhkan seluruh luka yang terlanjur kering.
Berusaha menghitung-hitung nikmat yang tak terbeli, seperti menghitung para domba sebelum tidur yang tiada habisnya, hingga saatnya aku pergi.
Hanya dengan satu gerakan kelopak mata turun ke bawah, ruh bisa saja tiba-tiba terangkat dari raga, mungkin saat itu kupikir sekedar bermimpi terpeleset sebelum tidur.
Padahal setiap lelap tak menjamin kita kembali terjaga.
Padahal setiap lelap tak menjamin kita terjaga kembali.
Aku berusaha melihat yang terbaik sebelum tidur, takut-takut itu pemandangan terakhirku.
Aku berusaha mendengar yang indah-indah kudengar di telingaku, takut-takut aku tak bisa mendengar lagi sesaat setelah ini.
Aku berusaha menangis di penghujung lelahku, menangis bahagia karena ternyata hatiku masih berfungsi dengan baik. Aku takut, esok lusa hatiku tak berfungsi lagi dan malah mati yang kan jadi penghambatku menerima kebenaran.
Aku enggan tertawa bersamamu kawan, maaf. Karena katanya, malaikat izroil mengunjungiku sebanyak 70kali dalam sehari, menatap wajahku lamat-lamat. Mungkin berulang kali ia bergumam padaku setiap kali ia menatapku, "kapan taubat, sayang?"
Maaf kawan, bukannya aku tidak mau tertawa bersama, aku hanya malu dengan malaikat izroil yg sedang menatapku lamat-lamat, aku takut ketika aku berbahagia sementara pada urusan dunia bersamamu, tiba-tiba Dia menyuruh malaikat izroil yg sedang menatapku itu untuk menuntaskan tugasnya.
Dari semua itu, masalah seluruh manusia di dunia kupikir hanya satu. Yaitu pembersihan hati. Hati yang mudah keras dan mati dengan tawa duniawi, dan mudah lunak pula dengan air mata rindu pada pertemuan terindah setelah kehidupan dunia.
Apapun yang terjadi pada kehidupanku, seburuk apapun itu, sekelam dan semenjijikan apapun itu, kupikir aku tidak butuh seorang teman lagi untuk berbagi aib-aibku itu, aku hanya butuh Dia yang mau membantuku untuk selalu mempercantik hatiku tiap kali ia tergelincir untuk merutuk kehidupan.
Tapi aku selalu butuh teman, untuk aku perkenalan Dia yang selalu membantuku membersihkan hatiku yang selalu mudah tercemar oleh hal-hal remeh yang tidak semestinya.
Aku ingin berbagi kesedihanku, masa laluku yang penuh kemuraman, tapi aku takut mengecewakan-Nya yang sudah menjaga aibku sendiri.
Maaf teman, aku tidak baik. Karena yang baik itu Dia yang selama ini sudah menjaga aibku sehingga aku tampak baik di matamu.
Kuharap, aku selalu bisa menjaga apa yang selama ini Dia juga untukku.
Kuharap, Dia selalu mau mendidikku langsung untuk bisa memiliki hati yang cantik. Hati yang tidak memiliki kesombongan meski sebesar biji dzarrah. Hati yang tidak iri pada apa yang dimiliki orang lain. Hati cantik yang tidak pernah mengetahui dan diketahui manusia lain. Tidak mengapa. Karena aku hanya butuh ketenangan dan rasa damai saja.
Agar aku siap menghadapi apapun yang akan kuhadapi nanti. Sekalipun rasanya akan seperti menggenggam bara api.
2017
W.J
Berusaha menuntaskan kitab dengan hanya membaca sebuah surat terindah dari-Nya sebanyak tiga kali.
Berusaha menyembuhkan seluruh luka yang terlanjur kering.
Berusaha menghitung-hitung nikmat yang tak terbeli, seperti menghitung para domba sebelum tidur yang tiada habisnya, hingga saatnya aku pergi.
Hanya dengan satu gerakan kelopak mata turun ke bawah, ruh bisa saja tiba-tiba terangkat dari raga, mungkin saat itu kupikir sekedar bermimpi terpeleset sebelum tidur.
Padahal setiap lelap tak menjamin kita kembali terjaga.
Padahal setiap lelap tak menjamin kita terjaga kembali.
Aku berusaha melihat yang terbaik sebelum tidur, takut-takut itu pemandangan terakhirku.
Aku berusaha mendengar yang indah-indah kudengar di telingaku, takut-takut aku tak bisa mendengar lagi sesaat setelah ini.
Aku berusaha menangis di penghujung lelahku, menangis bahagia karena ternyata hatiku masih berfungsi dengan baik. Aku takut, esok lusa hatiku tak berfungsi lagi dan malah mati yang kan jadi penghambatku menerima kebenaran.
Aku enggan tertawa bersamamu kawan, maaf. Karena katanya, malaikat izroil mengunjungiku sebanyak 70kali dalam sehari, menatap wajahku lamat-lamat. Mungkin berulang kali ia bergumam padaku setiap kali ia menatapku, "kapan taubat, sayang?"
Maaf kawan, bukannya aku tidak mau tertawa bersama, aku hanya malu dengan malaikat izroil yg sedang menatapku lamat-lamat, aku takut ketika aku berbahagia sementara pada urusan dunia bersamamu, tiba-tiba Dia menyuruh malaikat izroil yg sedang menatapku itu untuk menuntaskan tugasnya.
Dari semua itu, masalah seluruh manusia di dunia kupikir hanya satu. Yaitu pembersihan hati. Hati yang mudah keras dan mati dengan tawa duniawi, dan mudah lunak pula dengan air mata rindu pada pertemuan terindah setelah kehidupan dunia.
Apapun yang terjadi pada kehidupanku, seburuk apapun itu, sekelam dan semenjijikan apapun itu, kupikir aku tidak butuh seorang teman lagi untuk berbagi aib-aibku itu, aku hanya butuh Dia yang mau membantuku untuk selalu mempercantik hatiku tiap kali ia tergelincir untuk merutuk kehidupan.
Tapi aku selalu butuh teman, untuk aku perkenalan Dia yang selalu membantuku membersihkan hatiku yang selalu mudah tercemar oleh hal-hal remeh yang tidak semestinya.
Aku ingin berbagi kesedihanku, masa laluku yang penuh kemuraman, tapi aku takut mengecewakan-Nya yang sudah menjaga aibku sendiri.
Maaf teman, aku tidak baik. Karena yang baik itu Dia yang selama ini sudah menjaga aibku sehingga aku tampak baik di matamu.
Kuharap, aku selalu bisa menjaga apa yang selama ini Dia juga untukku.
Kuharap, Dia selalu mau mendidikku langsung untuk bisa memiliki hati yang cantik. Hati yang tidak memiliki kesombongan meski sebesar biji dzarrah. Hati yang tidak iri pada apa yang dimiliki orang lain. Hati cantik yang tidak pernah mengetahui dan diketahui manusia lain. Tidak mengapa. Karena aku hanya butuh ketenangan dan rasa damai saja.
Agar aku siap menghadapi apapun yang akan kuhadapi nanti. Sekalipun rasanya akan seperti menggenggam bara api.
2017
W.J
Komentar
Posting Komentar