Sudah lama sekali tidak menulis. Biasanya untuk membuat seseorang menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis adalah dengan membuatnya merasakan sebuah perasaan yang ingin sekali diceritakan, tapi tidak ada tempat mencurahkannya. Maka mungkin saja menulis adalah pekerjaan orang-orang kesepian. Mungkin.
Tapi kali ini, ketika kamu membaca cerita ini, kamu tidak akan menganggapku orang kesepian. Aku bertemu banyak orang, berbicara dengan banyak orang, meski selewat dan pada akhirnya aku berjalan sendiri lagi.
Pagi ini, seperti setiap sabtu biasanya, aku mengurusi peserta bimbingan tahfidz di pekan terakhir ini. Aku memanggil banyak orang, dipanggil dan ditanya oleh banyak orang. Sampai panggilanku yang terakhir di lantai 4 itu, seorang perempuan dengan kerudung sederhana memanggilku dengan tatapan paling menyedihkan yang pernah aku lihat, "Teh..," aku menoleh, tanpa berpikir panjang menghampirinya dan mendekat sedekat-dekatnya. Tiba-tiba saja aku khawatir melihat wajahnya yang sangat sedih itu, "Iya? Kenapa?" Aku tidak tahu siapa namanya, belum sempat menanyakannya, ia sudah bertanya duluan,
"Teh kalau pekan ini belum setoran semua gimana? Aku masih bisa ikut wisuda nggak teh?"
"Teh, aku takut gabisa selesai target hafalan. Aku takut ngecewain ayah aku teh. Aku udah janji mau selesain juz 30. Masa juz 30 aja nggak bisa teh,"
"Teh, kenapa ya aku teh? Katanya susah menghafal itu karena banyak maksiat yang belum ditaubati, karena ada salah sama orang lain mungkin yg belum memaafkan aku,"
"Aku punya dosa apa ya teh?"
"Tehhh, aku beneran takut ngecewain orang tua aku teh. Aku ingin wisuda."
Jawabanku saat itu tidaklah penting. Semua pertanyaan retoris itu yang membuat aku tertohok pertama kali di hari ini. Bagaimana tidak tertohok? Perempuan itu sungguh menangis di hadapanku! Aku yang tidak ia kenali siapa namanya dan aku juga belum menanyakan siapa namanya, tapi hari ini, kami ditakdirkan untuk saling mendengarkan perihal keluh kesah susah payahnya menghafal ayat Allah.
Pertanyaan-pertanyaan retoris itu seolah dikirimkan Allah kepadaku melalui perantara perempuan itu. Seolah Allah mengingatkanku akan banyak hal yang aku lupakan,
"Apa yang sudah kamu berikan untuk ayah kamu? Apakah kamu tahu gimana nasib ayahmu sekarang? Apa yang bisa kamu banggakan? Dari semua lakumu itu, apa kamu benar-benar bisa menyelamatkan ayahmu, Wi?"
"Kamu punya dosa apa? Sampai-sampai kamu tidak bisa seperti perempuan itu yang berjuang payah, hingga menangis, karena tidak mampu menghafal ayat itu."
"Dosamu segitunya banyaknya ya? Sampai-sampai menangis saja tidak mampu seperti perempuan itu, yang susah payah menghapal. Kamu melangkah saja belum? Hafalanmu masih sama dengan semester kemarin ya?"
Ah, pagi itu aku melanjutkan perjalananku sendirian menuju perpustakaan.
Di perpustakaan aku mengunjungi rak novel. Aku menemukan novel Andrea Hirata yang berjudul "Ayah". Tiba-tiba saja ada ilham yang lewat, membuatku teringat sesuatu. "Bukankah ini hari...."
Ah.
Kawan, kau tahu ini hari apa?
Iya, kata banyak orang ini hari Kartini.
Tapi bagiku, ini hari Ayah.
Tepat 12 tahun yang lalu, 21 April 2006 ayahku meninggalkanku dengan segala penyesalan yang aku bawa sampai mati.
Dan, kau tahu? Ini juga hari yang bersejarah tepat 27 tahun yang lalu, 21 April 1991 ayah dan ibuku menikah.
Iya, benar. Di tanggal ini ayah dan ibuku dipertemukan, dan di tanggal ini pula ayah dan ibuku dipisahkan.
Miris, tapi romantis.
Aku terduduk di perpustakaan itu. Memikirkan sesuatu yang tidak jelas pastinya. Aku hanya tidak menyangka, 12 tahun sudah aku dan keluargaku bertahan. Bukankah dulu kami amat ragu untuk melanjutkan hidup tanpa seorang pencari nafkah? Bukankah dulu kami amat ragu untuk bertahan hidup tanpa tulang punggung keluarga? Bukankah dulu kami amat ragu?!
Lihat. Hari ini, tepat 12 tahun tidak terasa kami telah bertahan hidup dengan sangat amat baik!
Bila kebahagiaan bagi orang lain adalah memenuhi semua keinginannya, bagi kami bertahan hidup saja sudah sesuatu yang membahagiakan dan tidak terbayangkan!
Kami dulu berpikir bahwa ayah adalah seorang yang memberi kami nafkah selama ini. Tapi setelah melalui 12 tahun ini, kami sangat yakin, bahwa Allah yang memberi kami nafkah! Bukan ayah. Ayah adalah perantara nafkah-Nya. Allah yang selama ini menafkahi kami dengan segala cara-Nya.
Dia Maha Romantis.
Kalau kata temanku yang pernah bertanya, "Lebih memilih mana, ditampar tapi buat sadar atau dibelai tapi buat lalai?" Maka tanpa berpikir, kujawab saja, "Aku lebih memilih dibelai dan buat sadar!"
Dan selama ini itulah yang aku rasakan. Aku tidak merasakan harus "ditampar" dulu oleh-Nya lalu sadar. Selama ini aku "dibelai"nya dengan kejadian-kejadian yang membuat aku berpikir, merefleksikan diri bagaimana kehadiran-Nya di setiap titik detail kehidupanku. Aku merasa seolah-olah, akulah satu-satunya hamba-Nya. Padahal mana mungkin.
Setelah dari perpustakaan dan meminjam novel itu, aku pulang dengan Damri menuju leuwi panjang. Sebelum bus berangkat, ada pengamen yang menyanyikan lagu kenanganku bersama Ayah dulu.
Ya, judulnya "Ayah". Dulu aku sering karaoke dengan ayah menggunakan lagu itu. Kenapa hari ini begitu tersusun seolah Allah hanya memperhatikanku yang benar-benar memiliki hari khusus mengenang Ayah?
Begini penggalan lagu favoritku itu:
Untuk... ayah tercinta,
Aku... ingin bertemu,
Walau... hanya dalam mimpi.
Hehehehe. Iya aku ingin bertemu ayah dalam mimpi. Bagi orang terdekatku pasti tahu kalau aku ini seorang pemimpi. Maksudku aku pasti bermimpi ketika tidur dan terkadang bisa merencanakan apa yang ingin aku mimpikan, atau mimpiku tergantung apa yang aku pikirkan ketika sadar. Tapi aku jarang memimpikan ayah :(
Ini apa yang salah? Apa aku memang kurang mendoakannya? Kurang memikirkan nasib ayahku sekarang? Kurang mengingatnya dan tidak menolong apapun untuk ayahku kelak?
Ayah, maafkan aku. Aku sering berpikir untuk mencarikan ibu jodoh lagi agar ia tak kesepian. Aku takut pada akhirnya ibu hidup sendiri ketika kami anak-anaknya sibuk masing-masing. Aku takut tidak ada lagi semangatnya memasak, tidak ada lagi yang mau memimpinnya menjadi lebih baik sampai akhir hayatnya.
Maafkan aku. Padahal aku ingat bahwa dulu ayah tidak ingin ibu menikah lagi meskipun ayah sudah tidak di sisinya. Mungkin itu doa ayah yang terkabul sampai saat ini ya?
Ayah, sungguh aku tak sedih lagi, 12 tahun sudah berlalu, dan aku sudah tumbuh menjadi seorang anak yang tak pernah ayah bayangkan! Maafkan bila konteks tak pernah terbayangkan itu negatif, tapi aku berusaha dan mau terus berusaha untuk menjaga nama baikmu.
Ayah, aku masih selalu mencari sosok sepertimu. Ayah adalah contoh sosok pria terbaik dalam hidupku.
Selamat hari Kartini Ayah.
Aaaa terharu hu,hu
BalasHapusAyah teteh sangat beruntung punya anak yang kuat kayak teteh💕