Langsung ke konten utama

OBROLAN KITA SEMALAM

Sepertinya tadi malam ada angin yang bertiup sangat lembut dan membawa keajaiban bagi setiap bualan-bualan frekuensi suara yang dilaluinya. Sayang sekali angin lembut itu hanya bertiup pada obrolan kita. Ah, sayang sekali, ia bertiup pada saat yang tidak tepat. Tapi aku bersyukur angin itu menelusuri pori-pori terkecil obrolan kita, membawanya menuju dimensi keajaiban, hingga terkabul menjadi nyata. Kalau tahu akan jadi seperti ini, seharusnya dari awal kita hanya membicarakan mimpi-mimpi indah masa depan, bukan seperti obrolan kita semalam.


Malam itu kita membicarakan berbagai hal, mulai dari masalah rumah tangga tetangga, perihal rindu yang harus selalu ingin kubayar tuntas, sampai ajakan pertemuanku. Ya, kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi obrolan kita semalam seolah-olah teman lama yang baru bertemu kembali. Aku merasa mengenalmu, mungkin jauh-jauh hari setelah kitab lauh mahfudz kita tertulis dan sebelum kita berpijak di alam ini. Mungkin saat itu aku berusaha menandai ciri-cirimu agar ketika di dunia kita bertemu, aku tak pernah asing dengan kehadiranmu. Mungkin debaran-debaran jantung kita tak pernah ada karena kita memang telah terbiasa bersama bahkan sebelum kita mengerti apa itu kebersamaan. Mungkin debaran jantung pertama itu telah kita rasakan di pertemuan pertama kita sebelum kita menapaki alam ini. Ya, kita tidak merasakan apa-apa. Tapi aku ingin bersamamu, dan mungkin kamu begitu, entah dengan alasan apa. Kau bilang hanya alasan pertemanan. Ah, lagipula pertemanan bukan sebuah hanya, karena yang paling menyedihkan hidup di dunia adalah tidak punya teman, bukan? Itu kenapa kita lebih lazim mendengar ‘teman hidup’ daripada ‘pacar hidup’, karena teman selalu membuat kita semakin hidup, sedangkan pacar mungkin perlahan mematikan karena merenggut jantung kita yang hanya satu-satunya. Mungkin.

Baiklah kita kembali pada obrolan kita semalam. Pertama perihal masalah rumah tangga tetangga. Sekali lagi aku menceritakan semuanya padamu seolah-olah teman lama yang baru bertemu. Aku lupa bahwa teman lama yang telah terpisah jarak dan waktu begitu jauh dan lama barangkali bukan teman seperti yang dulu kukenal. Barangkali selama perjalanan ia menemuiku ada tujuan yang berubah, ada misi yang harus dijalankan ketika ia kembali pulang setelah bertemu denganku. Maksudnya, aku lupa bahwa aku bukanlah lagi tujuan terakhirnya. Dan begitu pula dengan kita. Obrolan kita semalam tentang masalah rumah tangga tetangga itu ternyata kau salurkan pada telinga tetangga yang kita obrolkan semalam. Aku ingin tertawa, bagaimana bisa aku mengobrolkan hal ini setelah sekian banyak obrolan kita bertekad untuk tidak ikut campur pada urusan orang lain? Ah, padahal awalnya aku hanya ingin membahas perihal kita, kita, dan kita. Tapi pertanyaanmu malam itu mendesakku untuk menceritakan perihal sesuatu di luar kita. Padahal kupikir tidak semua fakta harus disuarakan karena setiap fakta adalah samar-samar, ia bisa berubah seketika sedetik setelah fakta itu disuarakan bagaimanapun caranya. Mungkin ini keajaiban pertama dari obrolan kita semalam. Empat kepercayaan yang dikhianati, dan aku tokoh terbodoh dalam cerita ini.

Obrolan kedua kita perihal rindu yang harus selalu ingin kubayar tuntas. Aku orang yang ekspresif dan tidak menyangka bahwa aku seekspresif itu padamu. Tidak menyangka aku seekspresif itu ketika aku merindukanmu padahal perihal rindu sebelumnya tak pernah berani aku mengungkapkannya, apalagi pada seseorang yang jelas-jelas tidak merindukanku. Aku bilang aku selalu ingin membayar tuntas setiap rinduku dengan menelepon, itu kenapa aku selalu memaksamu untuk melakukannya. Kemudian kamu berusaha menolakku dengan cara terhalus yang kamu bisa. Kamu bilang, “tidak setiap rindu harus dibayar tuntas,” dan beberapa petuah-petuahmu lainnya mungkin agar aku tidak mengganggumu lagi.

Kamu benar, tidak setiap rindu harus dibayar tuntas. Setelah kejadian hari ini, aku mengevaluasi diri betapa polos, terbuka, dan ekspresifnya aku sampai-sampai orang meremehkanku. Tidak hanya meremehkan kepercayaanku, tapi juga meremahkan kekecewaanku. Aku terbiasa memaafkan orang lain dan seharusnya tidak ada satupun orang yang mengetahuinya karena itu hanya akan membuat orang meremehkan setiap kecewa dan marahnya aku. Satu hal yang orang tahu, bahwa aku memaafkan orang lain bukan karena orang itu pantas kumaafkan, tapi karena aku berhak mendapatkan kedamaian hati dan kebahagiaan. Aku ingin menyayangi diri sendiri dengan tidak membenci orang lain, tapi tolong sekali lagi, jangan remehkan rasa kecewaku, dan jangan pernah menyerah terhadapku. Aku juga perempuan biasa yang kalau kecewa ingin dikejar, ingin dicari-cari, dan ingin diberi penjelasan. Tapi bila kamu memang benar-benar tidak ingin mencariku, tidak apa-apa. Mungkin aku memang sudah terlalu mengganggumu. Sekali lagi kutegaskan pada diriku sendiri, kamu benar, setiap rindu tidak harus dibayar tuntas dan mungkin setiap ekspresi tak harus diekspresikan.

Perihal obrolan ketiga kita yaitu ajakanku yang tiba-tiba meminta bertemu. Dengan reflek dan seperti biasanya kamu menolakku dengan segala rasionalitas alasanmu itu. Aku diam saja. Barangkali saat diam itu ada angin yang bertiup dan membawa ajakanku itu pada keajaiban. Aku suka keajaiban itu, tapi aku menyesal harus melaluinya dengan cara seperti ini. Itulah pertemuan pertama kita yang kurencanakan menjadi pertemuan terakhir. Meskipun kamu bilang, kita tidak pernah tahu masa depan. Aku setuju. Tapi, bukankah masa depan juga perlu di jemput? Aku tidak menyangka, ajakanku yang iseng di obrolan kita semalam bisa dengan mudah dikabulkan keesokan harinya begitu saja padahal kupikir pertemuan itu tidak pernah mungkin terjadi. Aku jadi teringat di pertemuan itu kamu bertanya, “Apa yang kamu pikirkan sekarang?” sungguh, saat itu aku belum terpikirkan apa yang kupikirkan saat itu meski aku benar-benar telah berpikir. Maksudku, saat pertanyaan itu kau tanyakan, aku sedang tidak sadar bahwa aku sedang berpikir. Kau tahu apa yang aku pikirkan saat itu?

Aku tidak pernah menyangka bisa sampai sejauh ini. Semua pertemuan kita didasarkan pada ketidakmungkinan-ketidakmungkinan bila dipikirkan berdasarkan akal kita sebelumnya. Ah, ini aku saja yang merasa sudah jauh. Kamu mungkin merasa masih di tempat.

Sudahlah. Aku tidak boleh terlalu banyak berharap karena tanpa berharap pun harapan selalu ada. Yang jelas, kita semua korban di sini, kita semua sama-sama tersakiti. Sebenarnya tidak perlu ada lagi benci, dendam, kekecewaan. Karena mungkin kita semua kecewa dan sudah merasakan balasannya masing-masing. Hahaha, ini menyadarkanku bahwa… ya! Kita ini memang manusia biasa yang diciptakan untuk saling melukai. Masalahnya dengan kewajaran saling melukai itu, apakah kita masih mau bertahan?

Aku tidak pernah berniat pergi, tapi aku tetap ingin kaucegah agar tidak pergi. Barangkali suatu saat tali itu terlepas begitu saja tanpa kusadari karena pemahaman baru yang kautanami padaku, bahwa rindu tidak harus dibayar tuntas, bahkan bila aku menginginkan pertemuan selanjutnya.


Ok. I am enough. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.