Langsung ke konten utama

Jiwamu yang Terpenting!

Setiap manusia menyukai kejutan. Dan begitulah biasanya cara Allah memanjakan hamba-hambanya dengan skenario-skenario-Nya yang tidak pernah terduga. Seringkali skenario-skenario-Nya membuat kita terhenyak, “aku tidak pernah menyangka ada dalam situasi seperti ini,”dan berbagai keheranan maupun kebingungan yang seringkali tak kita temukan jawabannya. Namun, apakah setiap yang tidak kita temukan jawabannya, sesungguhnya memang tidak ada jawabannya? Atau jiwa kita saja yang belum terlatih peka menangkap setiap kode-kode yang Dia tebarkan di seluruh penjuru muka bumi?

Setiap manusia menyukai kejutan yang baik. Hal biasa bisa menjadi spesial dan luar biasa tergantung pengemasan-Nya memberikan kita pemahaman-pemahaman kecil itu dengan cara apa dan bagaimana. Orang-orang beriman tentulah adalah para pengembara dalam jiwanya. Jiwanya yang hanif, tidak pernah puas dengan pemahaman yang dimiliki saat ini tentang kebenaran hakiki. Tidak mau melewatkan sedetik pun dengan percuma dan sia-sia tanpa mengambil hikmah dan mempertanyakan takdirnya yang tidak pernah kebetulan dan selalu memiliki alasan. Dan aku ingin kita semua lebih terasah jiwa-jiwanya dengan secarik kertas dan petunjuk yang meski sepele dan sering kita baca barangkali, tapi ternyata ada pemahaman-pemahaman yang luput kita tangkap selama ini.

Terkadang juga manusia tidak suka kejutan manakala kejutan itu terlalu timpang dengan harapannya. Kita lebih sering tidak mau tahu kelanjutan cerita setelah menerima cerita yang begitu menyakitkan. Padahal, kalau kita mau sedikit lebih berani untuk tetap membuka mata dan mencari tahu keadaan yang sesungguhnya, kita seharusnya sudah sampai pada perjalanan yang sangat jauh melampaui tujuan-tujuan kita sebelumnya. Inilah pengembaraan jiwa, penyembuhan luka batin, yang jauh lebih penting daripada penyembuhan luka-luka fisik. Kalau boleh dan bisa diterima, aku ingin mendonasikan puisi-puisi, syair, dan karya sastra yang banyak untuk korban bencana di Palu. Orang pasti akan menertawanku. Bagaimana mungkin? Aku tidak rasional!

Padahal di balik seluruh luka lebam di tubuhnya yang terlihat menyedihkan itu, ada luka yang lebih parah, lebih lebam, dan lebih mengerikan di dalam jiwa-jiwa korban bencana Palu. Aku yakin mereka mengalami trauma-trauma psikologis. Dan para relawan dan donatur itu tidak begitu menganggap penting terhadap penyakit traumatis yang juga membutuhkan obatnya! Mereka lebih sibuk memberikan bantuan obat kimia dan banyak asupan untuk raganya. Sedangkan jiwanya yang telah benar-benar terguncang itu, adakah relawan yang benar-benar peduli terhadap ini? Maksudku adakah sebuah tim khusus yang memikirkan obat-obat psikologis untuk mereka?

Aku tidak ingin jauh-jauh memikirkan saudaraku yang di Palu dulu. Aku mendengar beberapa teman-teman di sekelilingku yang ternyata sedang mengalami kejenuhan luar biasa akan rutinitasnya. Mungkin penyakit tidak merasa bahagia dan selalu bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya aku lakukan dan mengapa hatiku tidak ada di jalan yang mulia ini? Apa yang salah? Dan begitu banyak pertanyaan lainnya yang mungkin dirasakan oleh mereka. Aku tidak memiliki banyak jawaban atas segala pertanyaan mereka, tapi aku ingin menjadi jembatan atas jawaban-jawaban itu.

Ada istilah mensana in corporesano: di balik raga yang kuat ada jiwa yang sehat. Padahal bukankah seharusnya terbalik? Kupikir di balik jiwa yang kuat, insyaallah raganya juga sehat! Maka masalah jiwa ini adalah yang terpenting. Jiwa kita adalah penggerak dan penentu seluruh aktivitas kita. Jiwa kita juga yang mengukur kadar lelah atau tidaknya aktivitas tersebut. Maka penting sekali kita untuk selalu bisa mengelola energi dalam jiwa.

Aku juga pernah jatuh-bangun. Mencari kekuatan dan jawaban atas segala pertanyaan. Tersungkur dan merendahkan diri serendah-rendahnya. Dan yang paling parah dari semua itu adalah ketika aku merasa berjuang sendiri dan lelah sendiri. Maka kubuat ini untukmu, untuk mereka yang juga sering merasa berjuang dan lelah sendirian. Aku ingin kamu selalu ingat bahwa ada orang-orang yang selalu mendoakanmu dan diamini oleh para malaikat. Dengan kapsul-kapsul ini, semoga kamu tidak pernah lagi merasa sedang berjuang sendirian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.