Sebelum saya menulis gagasan dan memisau masalah, izinkan saya curhat sedikit dulu. Hari ini saya menangis sepanjang hari, baik secara harfiah dengan air mata, atau sekadar dalam hati. Apapun yang saya lihat menjadi amat sentimental. Saya lihat perpecahan di mana-mana, meski tidak secara harfiah di depan mata secara fisik. Maka semoga tulisan ini bisa menjadi senjata saya untuk turut berkontribusi mencari solusi untuk negri dan agama. Bilapun tidak, setidaknya saya pernah berusaha turut andil untuk mencari kebenaran, agar saya tidak terlalu malu ketika suatu saat saya ditanya oleh Allah, “Ketika pertikaian itu terjadi, apa kontribusimu? Sudahkah kamu menjadi ummatan wasathon yang Kuperintahkan kepadamu?”
Menyandang tugas ummatan wasathon (umat pertengahan) itu ternyata tidak mudah. Umat pertengahan artinya kita harus siap menjadi penengah di antara pertikaian. Bisa berjalan tegak di atas jalan yang lurus. Menemukan solusi paling adil untuk dua pihak yang bertikai. Tidak letoy di kiri atau ekstrim di kanan. Islam ya jalan yang paling lurus. Dengan toleransi paling tinggi sehingga pantaslah disebut agama rahmatan lil alamin. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam—bukan bagi umat islam saja atau bagi manusia saja.
Maka kita tengok pertikaian yang sedang hangat terjadi. Perpecahan dan perpecahan. Sedihnya, perpecahan itu malah antar umat islam. Bagaimanalah kami bisa memerangi mereka? Perihal bagaimana sesungguhnya keyakinan mereka, saya tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui isi hati mereka. Tapi selama pengakuan mereka adalah seorang muslim, seharusnya saya selalu berusaha merentangkan tangan saya tanda penyambutan kepada saudara seiman.
Tapi ketika saya berusaha merentangkan tangan hendak menyambut, saya malah merasa ditusuk. Nyeri rasanya ketika mereka membanggakan diri di hadapan saya, “Saya NKRI, Saya Pancasila”. Bukankah kalimat itu seharusnya ditujukan kepada warga asing? Atau lebih wajar lagi kalau mereka pergi ke luar negeri, kemudian memperkenalkan identitasnya sebagai NKRI dan Pancasila. Bila kalimat itu dilempar kepada kami yang dari lahir sudah jadi warga negara Indonesia, bukankah itu amat menyakitkan? Saya dari lahir juga langsung NKRI dan Pancasila dan berusaha saya tanam nilai-nilai kebaikan di dalamnya dalam diri saya. Terus untuk apa pengakuanmu di depan kami warga Indonesia?
Mungkin kami yang mengaku sering ngaji juga harus banyak introspeksi diri. Kami juga terpancing emosi saat kalimat tauhid dibakar masal dengan penuh nafsu dan sorak-sorai seperti berbahagia usai merayakan sesuatu. Dan katanya emosi karena agama itu sangat boleh, bahkan harus. Tapi dengan dalih seperti itu, emosi kami jadi tidak elegan dan malah seperti menjatuhkan harga diri kami sendiri selaku ikon dari agama islam.
Saat ini setan mungkin sedang tertawa, baik itu setan dalam bentuk jin atau dalam bentuk manusia. Ini memang rencana mereka. Membuat orang sabar menjadi marah tak terkendali. Dan setan-setan itu memanfaatkan momen ini untuk terus gencar bekerja, menaik-turunkan emosi kami hingga terlontarlah kalimat-kalimat doa kejelekan bahkan kutukan yang bergumul di langit dan barangkali akan menjadi bom waktu. Saya tanya, makhluk bernama apa yang selalu ingin kejelekan dan menjerumuskan manusia ke neraka? Makhluk bernama apakah yang telah berjanji sampai hari kiamat akan menjerumuskan manusia ke neraka? Lalu apakah kita seorang makhluk yang juga sering mendoakan seseorang atau sekelompok orang agar mereka masuk neraka? Lalu apa bedanya kita dengan…… :(
Mungkin kita yang mengaku sering ngaji juga harus banyak introspeksi diri. Barangkali kita juga sering mengibar-ngibar bendera tauhid itu dengan kebanggaan dan nafsu padahal di hadapan pasukan sendiri. Di depan kaum sendiri, sesama muslim. Barangkali ada yang sakit hati juga, bagaimana bisa membanggakan bendera tauhid kepada kami yang dari lahir juga sudah dididik dengan kalimat tauhid? Bukankah bendera itu harusnya disandingkan dengan penuh bangga dan nafsu di hadapan mereka yang tidak bertauhid dan memerangi tauhid? Akan lebih tepat lagi bila membentangkan bendera jelas-jelas ketika sudah ada pasukan di depan yang hendak memerangi umat islam. Mungkin ini akibat dari kesalahan-kesalahan kami yang luput dari menjaga perasaan masing-masing golongan padahal masih mengaku berislam. Akibatnya ada saja yang islamophobia seolah yang membentangkan kalimat tauhid berarti tidak Pancasila tidak NKRI dan yang Pancasila-NKRI tidak bertauhid dan tidak pernah ngaji. Indonesia tidak sehitam-putih itu.
Barangkali kita juga perlu banyak belajar dari sejarah. Bagaimana ada saja kekacauan menjelang pilpres dari pilpres tahun 2014 lalu. Semakin mendekati pilpres 2019 ini juga, semakin banyak perpecahan seolah ada yang menyetir kami agar terbagi menjadi dua kubu yang harus bertikai. Sabar kawan. Jangan-jangan ada yang sedang tertawa melihat pertikaian ini, pihak di luar dua kubu yang kita elu-elukan. Entah yang tertawa itu setan dari golongan jin atau setan dari golongan manusia.
Yang jelas kita tidak mau mereka tertawa karena keberhasilannya menjadikan kami domba-domba yang bisa diadu, kan? Pilihannya ada dua: rela menjadi domba atau bangkit jadi penengah! (ummatan wasathon).
*kalimat tauhid bukan simbol HTI dan saya masih bagian dari NKRI
*umat pertengahan yang kumaksud bukan umat yang apatis. tapi sebenar-benarnya definisi umat pertengahan seperti yang telah dijelaskan.
Pertanyaan saya kepada diri sendiri: bagaimana saya sebagai umat islam menjadi penengah di antara pertikaian antar umat islam sendiri? Seharusnya kami bersatu dan menjadi penengah bagi pertikaian eksternal, bukan internal seperti ini :(
Semoga Allah memaafkan kami dan selalu beri kami petunjuk.
Komentar
Posting Komentar