Menjadi
muslim sejati bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani.
Apalagi di zaman teknologi ini, selain bahayanya lidah tidak bertulang, juga
sama berbahayanya jari yang tanpa kendali. Apa saja bisa dituliskan. Termasuk seorang
muslim yang memilih dakwah dengan tulisan. Tapi hal yang seringkali luput dari
pendakwah baru adalah adab dalam berdakwah itu sendiri.
Awal dakwah
seorang pemuda biasanya menggebu-gebu. Mengaku sudah berhijrah, mengubah
penampilan secara total, merasa bahwa ia sudah paling nyunnah. Setiap perkara yang tidak diajarkan rasul, ia cap langsung
sebagai bid’ah. Seolah islam hanya
tentang fiqih, lupa ada pondasi bab tauhid yang panjang lebar untuk dipelajari
beserta amalan akhlak dan adab-adabnya.
Hingga suatu
ketika seorang perempuan mengunggah foto selfie cantik dirinya di akun
instagram. Pemuda ini langsung membuat sebuah postingan di snapgramnya:
JANGAN
MAU MENIKAHI PEREMPUAN YANG HOBI UPLOAD FOTO SELFIE KARENA ITU ADALAH MUSIBAH!
Atau barangkali ada yang menulis begini
PEREMPUAN
YANG HOBI UPLOAD FOTO SELFIE ADALAH PARA ‘PELACUR’ TERSEMBUNYI. MEREKA
MEMPROMOSIKAN DIRINYA DI MEDIA SOSIAL. HATI-HATILAH IKHWAN! JANGAN MAU MENIKAH
DENGAN PEREMPUAN MODEL BEGITU!
Izinkan
saya beristighfar sejenak.
.
.
.
Mungkin
maksudnya adalah baik. Berdakwah agar perempuan lebih terjaga, tersembunyi, dan
rahasia. Tapi begitukah dakwah seorang muslim? Begitukah seorang muslim dalam
memandang seorang perempuan—baik yang sudah hijrah (pakaian) maupun yang belum
hijrah sama sekali?
Mengapa
kalimat “Jangan mau menikahi perempuan yang hobi upload foto selfie karena itu
adalah musibah” tidak diganti dengan “Nikahilah perempuan yang tidak pernah
upload foto selfie karena fotonya hanya akan diberikan kepadamu saja”? Itu
lebih enak dibaca, bukan? Alih-alih melarang menikahi perempuan seperti itu,
seolah perempuan yang suka upload foto memang tidak pantas sama sekali untuk
dinikahi oleh lelaki. Saya mencium bau-bau patriarki di sini. Perempuan model
apapun, hemat saya, mereka pantas dinikahi karena mereka hanya tulang rusuk
yang bengkok. Mereka rapuh dan bisa berubah selama pemimpinnya mau bersabar.
Masa iya
sebuah pernikahan hanya ditentukan oleh suka tidaknya seorang perempuan upload
selfie? Pernikahan tidak sereceh itu, bukan?
Setiap
manusia punya pilihannya masing-masing. Perempuan yang suka upload foto selfie
punya pendapatnya sendiri bahwa wajah dan telapak tangan bukan aurat. Dan perempuan
yang tidak upload foto selfie punya pendapatnya bahwa seluruh bagian perempuan
adalah aurat. Begitu pula perempuan yang upload foto selfie dengan auratnya
adalah pilihan dan konsekuensinya. Bukankah semua hanya tentang proses? Dan setiap
manusia pastilah sedang memproses diri menuju taat. Masalahnya kamu tidak tahu
saja bagaimana babak belurnya seseorang menuju itu.
Janganlah
menjadi tinggi dengan merendahkan yang lain. Janganlah menjadi besar dengan
mengecilkan yang lain. Janganlah menjadi kuat dengan melemahkan yang lain. Janganlah
menjadi muslim dengan mengkafirkan yang lain. Janganlah menjadi nyunnah dengan mem-bid’ah-kan yang lain. Janganlah mengambil bagian Tuhan dalam
menilai manusia. Cukuplah menjadi manusia yang memandang manusia lainnya
sebagai manusia.
Kita sama-sama
rapuh dan butuh pertolongan-Nya. Bukankah kita yang sudah berada di jalan
dakwah juga tidak punya kepastian akan dimatikan dalam keadaan apa kita nanti?
Jadilah muslim
sejati sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Yang
disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya
dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah
dari perkara yang dilarang oleh Allah.” (HR, Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)
Sudahkah
kita menyelamatkan lingkungan kita dari lisan dan tangan buruk kita?
Sudahkah
kita berhijrah dari kesombongan hati?
Komentar
Posting Komentar