Tahun 1970 pemerintahan
orde baru mencanangkan program Keluarga Berencana (KB) karena dinilai program
ini sangat membantu perkembangan pembangunan ekonomi. Berangkat dari teori
Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari
kebutuhan hidup, untuk itu perlu diadakan pembatasan angka kelahiran agar
pertumbuhan penduduk tidak membludak. Kini program KB bertumbuh sangat cepat
meski dengan pro-kontra masyarakatnya. Kali ini saya tidak akan membahas
pro-kontra tersebut. Saya ingin memberikan persepsi lain tentang program KB
yang belakangan terjadi secara alami yang dilakukan oleh Sang Pencipta.
Dua ribu delapan belas
Indonesia sedang berduka. Atau kubilang tahun ini adalah tahun kesedihan bagi
negri. Di awal tahun per Januari-Maret 2018 saja tercatat 513 bencana alam
sudah terjadi. Bencana alam terus terjadi. Hingga puncak kedukaan Indonesia yaitu
ketika gempa di Lombok yang berbarengan dengan hingar-bingar Asian Games 2018. Para
relawan berlomba-lomba menggalang dana, termasuk para atlet yang turut simpati
mendukung penggalangan dana untuk korban gempa Lombok. Belum juga korban gempa
Lombok pulih total, Indonesia kembali dirundung duka yang lebih dahsyat. Gempa kali
ini diiringi dengan tsunami berikut likuifasinya. Tak terhitung berapa jumlah
korban yang meninggal. Ada yang tercatat, ada yang menghilang dan dibiarkan
begitu saja. Bukan karena dzolim, tapi proses evakuasi sudah berlangsung lama
sehingga rehabilitasi harus lebih fokus kepada korban yang selamat. Mengetahui fakta
bahwa masih banyak mayat yang tidak teridentifikasi, saya sadar betapa manusia
selemah itu untuk merencanakan kematiannya sendiri. Kita tidak pernah tahu
apakah kematian kita kelak akan masih bisa dikenang kuburannya atau tanah tanpa
nisanlah sebaik-baik kuburan kita. Belum kesaksian para korban yang membuat
saya semakin yakin bahwa manusia memang selemah itu apabila dihadapkan pada
kebesaran-Nya.
Itu baru kuceritakan
bencana alam besar. Belum bencana-bencana “kecil” lainnya yang juga sama,
memakan korban jiwa. Terakhir saya lihat berita angin puting beliung. Kemudian kecelakaan
bus. Dan baru saja… pesawat terjatuh. Sungguh ini duka mendalam bagi Indonesia.
Ada apa dengan Indonesiaku?
Bencana-bencana alam
itu tentu memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Belum lagi berita kematian
tetangga-saudara-kerabat yang baru saja bertemu, tahunya sudah membeku kelu. Tinggal
jasad yang terkujur kaku. Saya merenungi betapa ini sungguh tahun Allah meng-KB
negri ini. Barangkali Allah sedang “membatasi” perkembangan pertumbuhan manusia
sebagaimana yang manusia inginkan dengan program KB. Program KB mengatakan
tujuannya adalah baik karena takut suatu hari di masa depan kebutuhan manusia
tidak bisa seimbang dengan perkembangan pertumbuhannya. Allah juga bisa
berdalih tujuannya “meng-KB” adalah baik karena takut suatu hari di masa depan
manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya lagi di dunia karena terlalu melejit
perkembangan penduduknya.
Bila mempromosikan
program KB butuh waktu 30 tahun agar masyarakat mau menerimanya dan menjalankan
programnya, Allah hanya perlu waktu satu tahun atau barangkali sekejap untuk
mencanangkan program “KB-Nya”. Agaknya setelah ini program KB sudah tidak
dihiraukan lagi, karena saat ini justru kelahiran bayi-bayi suci yang
dibutuhkan menjadi perencana, pengembali keadaan, pemulih, pembantu
rehabilitasi bagi negri ini. Lupakan program KB dulu, ini sudah terlalu banyak
korban jiwa yang meninggal. Saya butuh kelahiran satria-satria piningit yang mampu mengembalikan kondisi Indonesia
pulih dalam segala aspeknya, baik fisik, mata pencaharian, sampai trauma-trauma
psikisnya.
Yaa Rabb, Yaa Ghafuur, ampuni
kami. Ampuni negri ini. Kami telah dzolim dan lalai terhadap bumi-Mu. Ampuni kami.
Sungguh, jangan beri kami bencana lagi yang lebih besar dari ini.
“Semua
musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan kemaksiatan yang kalian lakukan.
Dan
Dia telah mengampuni banyak dosa.” (QS. Asy-Syura: 30).
“Allah
tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak
akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun.”
(QS. Al-Anfal: 33).
Ayo temen-temen.. sudah
bukan saatnya diam. Berperanlah dengan kapasitasmu. Kapasitasmu menulis,
menulislah untuk kebaikan. Kapasitasmu di bidang ilmu eksak, ciptakanlah
sesuatu untuk kemaslahatan umat. Kapasitasmu di organisasi, berjuanglah dengan
selurusnya niat untuk mencegah kemunkaran. Bahkan bila kapasitasmu adalah
menyingkirkan duri di jalan saja, bisa jadi keselamatan orang karena perilakumu
itu penyebab keridhoan-Nya kepadamu.
Saat ini sudah bukan
saatnya berdoa hanya untuk diri sendiri dan keridhoan-Nya kepadamu saja. Setidaknya
bila tidak tahu harus berbuat apa, mari bantu beristighfar untuk negri ini. Agar
Allah ampuni kita semua hingga negri ini kembali pulih.
Hari ini.. Allah masih
selamatkan kita. Sampai detik ini kita masih bukan bagian dari program “KB-Nya”.
Pertanyaannya, orang-orang yang tersisa seperti kami apakah orang-orang pilihan
untuk memperbaiki kerusakan ataukah kami sengaja disisakan karena kamilah penyebab
kerusakan sebagai fitnah akhir zaman?
Wallahu a’lam
bish-shawabi.
Komentar
Posting Komentar