Langsung ke konten utama

Untuk Orang-orang Jenuh

Untuk orang-orang jenuh yang sering mengeluh,
Aku senang mendengar kabar bahwa kamu mengeluh
Setidaknya aku bisa memandangmu sebagaimana manusia seperti aku
Setidaknya aku tidak lagi berekspektasi berlebihan, salah sangka bahwa kamu ini seperti malaikat yang selalu taat




Padahal apa spesialnya malaikat yang selalu taat? Toh mereka memang tidak punya hawa nafsu sepertimu. Mereka memang diciptakan untuk selalu taat
Kamu bisa lebih mulia dari malaikat!
Kamu punya emosi dan keinginan, tapi kamu masih berada di jalan ketaatan
Bukankah itu hebat?
“tapi aku bukan orang yang selalu taat,” katamu
Dan aku semakin kagum, kamu berbicara seperti itu saja aku sudah bisa melihat kasih sayang-Nya yang masih mau menunjukkan keberadaan iman dalam hatimu
Lihat! orang tukang mengeluh sepertimu saja masih dibelai-Nya dengan membuat jiwaku yang masih bisa merasakan setitik keimananmu
Meski mengeluh, jangan pernah menyesal telah menjadi orang baik!
“tapi aku bukan orang baik,” katamu
Kupikir, menjadi sok baik lebih baik daripada menjadi sok jahat
Maka meski kau sering merasa munafik, pura-pura semangat bertahan di rutinitas itu, jangan pernah berhenti berusaha menjadi orang baik
Sebentar lagi, kubilang sebentar lagi
Tabahlah sebentar lagi

Untuk orang-orang tabah yang masih merangkak payah meski bilang sudah menyerah,
Aku tahu jiwamu berkata lelah, tapi tanggungjawabmu yang membuatmu tetap melangkah
Berulang kali kamu berkata tidak sanggup dan tidak tahu harus bagaimana lagi, sedang sekelilingmu masih memercayai bahwa kamu mampu
Dan kamu tidak tahu bagaimana lagi menjelaskan kepada mereka bahwa kamu tidak mampu lagi, sedang sekelilingmu masih juga keukeuh percaya bahwa kamu masih mampu
Maka kamu memilih pura-pura mampu meski harus sambil merangkak,
Bukankah merangkak juga sebuah kemampuan yang luar biasa bagi yang sudah tidak bisa berjalan?
Dan aku mengagumi cara merangkakmu yang payah tapi enggan henti,
Kamu tidak punya pilihan selain sabar, meski kau sering bilang, “aku terpaksa bertahan”
Padahal kau tahu?
Dalam keadaan terpaksa sekalipun, kamu tetaplah menjadi orang-orang ikhlas selama kau berada di jalan-Nya
Sebagaimana mukhlisiina lahuddiin
Orang-orang ikhlas adalah orang-orang yang tetap di jalan-Nya meski dalam keadaan terpaksa
Dan aku mengagumi setiap selangkah demi selangkah perjuanganmu
Lebih-lebih aku melihat kasih sayang-Nya terhadapmu yang masih mengawasimu sebagaimana mengawasi seorang bayi yang belajar merangkak—terus gagal tapi diam-diam menyimpan kebanggaan atas setiap usahamu

Kamu sudah berjalan sejauh ini
Silakan mengeluh, silakan memaki, silakan menggerutu, silakan mengutuk!
Akuilah bahwa kau memang manusia lemah yang tidak bisa menanggung semua beban sendiri!
Akuilah di hadapan-Nya kalau kau hendak menyerah!
Salahmu sendiri, bebanmu tidak kau bagi-bagi kepada-Nya!
Sudah tahu lemah, masih sering sok kuat dengan menanggung semuanya sendiri
Padahal Dia memang sedang menunggumu menyerahkan bagian-Nya!

Tabahlah sebentar lagi, sebentar lagi
Hanya sampai mati
Kalau esok kamu mati,
Maka hanya sampai esok perjuanganmu segera berakhir
Sebentar lagi, bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.