Aku
tidak pernah tahu rasanya dicintai lelaki. Aku tidak tahu rasanya ditunggu oleh
seseorang yang melihatku begitu berharga. Sejak kecil aku telah ditinggal oleh
ayahku. Ayah adalah satu-satunya lelaki yang selalu menatapku layaknya aku tuan
putri yang paling berharga dalam dunianya. Kemudian ketika ayahku mati, aku
tidak pernah merasa berharga lagi. Tidak ada seorang lelaki yang
memperlakukanku demikian berharganya. Mereka semua selalu memiliki alasan untuk
meninggalkanku.
Namaku Intan. Aku dikenal sebagai
pribadi yang supel, mudah bergaul dengan siapapun, termasuk berteman dengan
laki-laki. Aku suka berteman dengan laki-laki karena dengan mereka, aku tidak
perlu menghabiskan banyak waktu untuk menggosipkan orang yang tidak ada seperti
ketika aku harus berkumpul dengan perempuan-perempuan pada umumnya. Meskipun
aku dikenal sebagai orang yang mudah bergaul, aku tetap tidak memiliki teman
yang bisa kubagi segala hal tentang hidupku. Mereka—teman-temanku melihatku
sebagai apa yang terlihat dalam diriku dari kejauhan saja.
Sampai suatu hari aku bertemu dengan
seorang lelaki yang dengannya aku bisa berbagi berbagai hal dalam hidup. Aku
bisa bercerita apapun, tidak hanya tentang hidupku dan hidupnya. Kami bertukar
cerita mengenai dunia dan hal-hal kecil lainnya yang luput dibicarakan orang
banyak. Kami sering ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan klasik seperti, “Jika
kita bisa menghitung nikmat yang diberikan-Nya sejak kita lahir sampai
sekarang, berapa harga yang harus kita bayar?” kemudian kami berusaha
menjawabnya dengan menghitung biaya operasi mata, operasi tangan, operasi kaki,
biaya oksigen di apotek, dan berbagai hal lainnya. Sampai kami pada akhirnya
tertawa bersama karena tidak pernah berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan
yang kita buat sendiri. Tidak menemukan jawaban adalah hal biasa bagi kami.
Kami biarkan jawaban apapun menggantung sehingga ia bisa berkembang sendiri
menjadi bentuk pemahaman baru. “Intinya kita harus banyak bersyukur,” begitu
katanya. Aku tersenyum. Daripada aku harus bilang aku mencintainya, aku lebih
bersyukur meski sekadar bisa mengenalnya.
Hari demi hari kami bercerita, hingga obrolan
kami mungkin terasa lebih dalam. Tentang pemahaman hidup bagaimana kami
masing-masing dapat menerima masa lalu, berdamai dengan masa lalu yang paling
kami benci. Ia telah berdamai dengan masa lalunya sehingga ia bisa
menceritakannya padaku. Ia bercerita betapa ‘preman’ hidupnya dulu, berlari
mendobrak segala aturan dan tidak mementingkan apapun selain kesenangan
sekejapnya. Ia juga sempat ditangkap polisi tapi segera dibebaskan dengan
alasan masih di bawah umur. Oh, aku merasa aku tidak sendiri. Ternyata bukan
hanya aku seseorang yang memiliki masa lalu buruk. Aku jadi ingin berbagi
dengannya tentang suatu hal di masa lalu yang masih membenciku sehingga aku
selalu dihantui olehnya. Malam demi malam aku berusaha memberanikan diri
mengatakan hal itu, “Aku mau ngomong sesuatu…” kemudian ia terdiam. Bersiap mendengarkan
apapun yang hendak kusampaikan. “Nggajadi,” kataku. Mungkin esok hari aku lebih
siap mengatakannya. Ya, hal sulit bagiku ketika harus menceritakan masa lalu
itu yang tidak ada seorangpun yang tahu.
Setiap malam aku selalu bertingkah
sama dan membuatnya penasaran, sebenarnya apa yang hendak aku katakan? Kemudian
waktu membuat segalanya berubah. Waktu juga yang mengintervensi pikirannya
sehingga berpikiran bahwa aku sudah merasakan hal yang di luar batas
‘kesepakatan’ pada awalnya. Ya, awalnya kami memang hanya bersepakat untuk
menjadi teman berbagi satu sama lain. Teman bercerita tentang dunia dan
semesta, bukan bercerita tentang keburukan orang lain.
Tiba-tiba malam itu ia berubah jadi
lebih banyak diam. Kemudian waktu membantunya pergi. Ia pergi sebelum aku
berkata apapun. Aku menangis dan kesulitan menjalani hidupku selanjutnya. Aku
kembali asing dan tidak memiliki teman berbagi.
Waktu membantunya pergi, waktu juga
yang membantuku kembali bisa menjalani hidupku lagi. Dan, waktu juga
membantunya kembali. Suatu hari ia kembali mengabariku, barangkali hendak
menanyakan satu hal yang belum sempat ditanyakan sebelum perpisahan. Ia
bertanya apakah aku menyukainya atau tidak, hanya untuk memastikan bahwa
kepergiannya adalah hal yang tepat. Ah, aku jadi tahu alasan dulu ia pergi.
Barangkali pembicaraan yang tidak pernah aku rampungkan dulu ia anggap sebagai
pengakuan perasaanku terhadapnya dan ia tidak pernah bisa mencintaiku sebagai
‘perempuan’ di matanya. Sejak itu kami berubah asing kembali.
Aku menjalani hidupku seperti biasa,
seseorang yang supel dan mudah berteman dengan siapapun. Sesuatu yang baik
menurut orang lain ternyata bisa membangun boomerang
bagi diriku sendiri. Aku mudah berteman, tapi aku juga mudah nyaman ketika ada
seorang teman yang mau mendengarkan apapun yang kuceritakan dan menanggapinya
dengan baik.
Aku bertemu dengan banyak lelaki
baik. Mereka menanggapi berisikku dengan baik. Ah, aku lupa bahwa selama ini
justru aku akan tersakiti dengan orang-orang baik. Orang-orang baik selalu bisa
mengangkatku ke ketinggian, membantuku terbang, sehingga tanpa sadar aku
menjadi bergantung pada kebaikan hatinya. Aku terlalu nyaman dan bersandar
padanya. Rasanya aku ingin habis-habisan membagikan apa yang kumiliki hanya
padanya. Hal itu hanya mengantarku pada kesakitan-kesakitan berikutnya.
Sampai aku berulang kali jatuh hati
pada temanku sendiri. Tidak sengaja. Kubilang ini kecelakaan yang tidak
kurencanakan. Kecelakaan parah yang tidak tahu harus diobati dengan operasi apa
sehingga aku bisa kembali berdiri tegak sendiri lagi.
Suatu hari aku jatuh hati pada
temanku sendiri dan aku menyadari pola-pola yang tak ada ujungnya ini. Aku
seperti bisa melihat bahwa nanti setelah ia tahu perasaanku, aku akan
ditinggalkan lagi. Lelaki itu barangkali sederhana, mereka ingin berbuat baik
pada semua orang termasuk pada perempuan-perempuan. Tapi kebaikannya tidak
memandang bahwa yang di hadapannya adalah perempuan-perempuan berhati lembut
yang bisa membungkus hal-hal biasa menjadi luar biasa. Seperti halnya
membungkus kebaikan menjadi sebuah cinta.
Pada akhirnya ia mengetahui
perasaanku dan aku melakukan sebuah pencegahan agar tidak ditinggalkan lagi.
Aku berjanji tidak akan memaksa apapun kecuali ingin tetap berteman seperti
biasanya. Anggap saja perasaan ini tidak pernah ada dan kami berhubungan
seperti sedia kala. Ia menyepakatinya dan kupikir aku berhasil mengubah pola
takdirku sebelumnya. Barangkali kali ini berhasil. Ia mengetahui perasaanku
tanpa khawatir akan dijauhi lagi.
Ah, tapi, barangkali kalimat klasik
itu benar, “Kita tidak pernah bisa menjadi hanya teman dengan seseorang yang
kita cintai,”. Aku harus melakukan berbagai perjalanan rasa, menghadapi
kenyataan bahwa aku tidak boleh berharap apapun dengan perasaan yang terus berkembang
ini. Tapi itu sulit untuk manusia lemah sepertiku. Sampai akhirnya aku merasa
frustasi dan bertanya, “Tuhan, apakah aku memang tidak pantas dicintai sebagai
perempuan?” seperti biasa, aku membiarkan pertanyaan itu menggantung di
langit-langit. Berharap jawabannya diganti menjadi sebuah pemahaman baru.
Setelah pertanyaanku usai, aku seperti
diarahkan untuk berkenalan dengan seorang perempuan yang memiliki kesamaan
denganku. Kami tidak suka membicarakan orang lain. Obrolan kami seringkali
banyak tentang dunia dan semesta. Prinsip kami memang sama dan sesederhana itu,
tapi jalan hidup kami mengenai asmara barangkali jauh berbeda. Ia terlahir
sebagai perempuan cantik dalam pandangan masyarakat, maksudku ia memiliki kulit
putih, rambut bagus, hidung mancung, dan perawakannya cukup tinggi. Secara
fisik, kubilang ia sempurna. Jauh berbeda denganku yang standar, kulitnya
biasa, rambut ikal sering kusut, dan hidung seadanya. Belum lagi kepribadiannya
yang memang anggun dan lemah lembut. Hal itu yang membuatnya selalu dicintai
oleh lelaki sebagai perempuan yang pantas untuk ditunggu. Ia bilang bahwa ia
tidak pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Ia selalu mencintai orang
yang datang membawa kebaikan padanya. Ia tidak pernah mencintai seorang lelaki
lebih dulu. Dan lelaki yang menunggunya tidak hanya satu-dua, tapi ia memutuskan
tidak memilih siapapun dulu sebelum kuliahnya usai.
Cerita baru sampai di situ dan aku
merasa semakin bertanya-tanya kepada-Nya tentang betapa tidak adilnya hidup
ini. Ada perempuan yang dicintai banyak lelaki dan ada perempuan yang tidak
dicintai seorang lelaki pun. Bahkan perempuan itu sampai kini masih bisa
merasakan cinta lelaki terbaik di rumahnya—ayahnya. Aku?
Suatu hari perempuan itu datang ke
rumahku. Ia tiba-tiba menangis dan memelukku. Ketika seorang perempuan
menangis, barangkali pertanyaan “kenapa?” hanya akan membuat isaknya semakin
keras. Maka kubiarkan saja ia berlama-lama memelukku, kuusap punggungnya pelan
semoga bisa membuatnya lebih tenang. Kemudian ia menatapku dengan tatapan
paling sedih.
“Aku telah melakukan dosa besar..”
katanya. Aku terdiam, menatapnya, mencari penjelasan.
“Aku hamil,” ia menundukkan
wajahnya. Aku meneguk ludah.
Barangkali aku memang tidak pernah
merasa dicintai oleh lelaki, barangkali memang aku tidak menarik sebagai
perempuan. Tapi setidaknya kali ini aku merasakan telah dicintai-Nya seumur
hidupku karena dilindungi dari ujian-ujian yang mungkin tidak sanggup aku
lewati. Setidaknya aku tahu bahwa Tuhan selalu mencintaiku meskipun dengan cara
yang seringkali tidak aku mengerti—tidak aku sukai.
“Bila
aku boleh meminta dilahirkan kembali, aku memilih menjadi wanita biasa saja
yang tidak cantik fisik sesuai standar manusia..” ucapnya lirih.
Komentar
Posting Komentar