Ruang
pribadi saat ini seolah tidak memiliki batas. Kita bisa dengan mudah mengetahui
keseharian hidup orang yang kita suka atau bahkan kita benci lewat media sosial.
Kemudahan itu yang membuat kita gatal ingin menilai kehidupan orang lain
meskipun kita juga benci dinilai hidupnya hanya dari apa yang terlihat. Tapi
memang begitulah siklus dunia berputar sekarang. Setiap manusia membentuk
citranya sendiri, menyajikan apa yang ingin orang lain lihat dalam diri kita
dari citra yang paling sempurna hingga citra yang paling apa adanya. Kesemuanya
itu merupakan pilihan hidup masing-masing.
Pilihan
setiap manusia dalam menampilkan citranya di hadapan publik tidak lepas dari
fitrahnya manusia yang selalu ingin dikenal. Manusia melakukan berbagai cara
agar dirinya diakui publik. Dulu ketika SD banyak yang mempromosikan namanya
bahkan disandingkan dengan nama kekasih khayalannya di WC umum. Atau hingga
kini masih zaman mengabadikan nama di dinding toilet? Umumnya generasi milenial
biasa seperti kita saat ini mempromosikan diri di media sosial.
Media
sosial agaknya istilahnya sudah kurang relevan dengan pemanfaatan para
penggunanya. Secara logika frasa media sosial seharusnya adalah media untuk
bersosialisasi. Mungkin maksudnya bukan media untuk saling berhubungan dan
berkomunikasi dengan kerabat, melainkan media untuk menyosialisasikan dirinya
sendiri. Setiap pengguna sosial sadar tidak sadar sedang berkampanye dengan
partai identitasnya masing-masing. Bagaimana seorang pengguna Instagram
menjadikan profilnya sebagai profil bisnis dan menuliskan bahwa dirinya seorang
Penulis atau lainnya. Ditambah serangkaian prestasi dan organisasi yang diembannya
seperti yang biasa dituliskan di lembaran CV. Pasalnya sederhana, manusia hanya
ingin diakui sebagaimana ia mencitrakan dirinya di hadapan publik.
Seharusnya
perubahan media mengabadikan nama dari dinding toilet menuju profil Instagram
dengan serangkaian CV di kolom bionya merupakan sebuah kemajuan keberadaban
manusia itu sendiri. Dinding toilet milik publik bukan tempat yang legal untuk
kita tulis begitu saja. Lain halnya dengan profil bisnis Instagram kita yang
legal kita tulis pencitraan bentuk apapun. Masalahnya, apakah cukup manusia dikenal
hanya dengan menulis nama di dinding toilet atau menulis CV di bio Instagram?
Bagaimana
seorang pemuda seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang namanya
masih sering disebut, ajarannya masih sering dipraktikkan, perilakunya masih
sering dikenang oleh manusia-manusia 14 abad setelahnya, tapi tidak pernah
sekalipun menulis namanya di dinding toilet atau menulis CV di bio
Instagramnya. Bagaimana seorang pemuda seperti Soekarno yang perjuangan
kemerdekaannya masih bisa dirasakan oleh bangsa Indonesia setidaknya 73 tahun
ke belakang, tapi bukan dengan cara menulis nama di bangku SD dengan tipe-x atau membeli followers Instagram agar jadi pemuda hits. Bagaimana seorang Chairil Anwar namanya masih terus
dibicarakan meskipun ia menuliskan keinginan eksistensinya di media puisinya, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi,” katanya.
Tapi bila kita menulis kalimat yang sama saat ini, belum tentu nama kita
berusia panjang hingga seribu tahun lagi sebagaimana panjangnya nama Chairil
Anwar di ranah sastra. Lalu sebenarnya
di media mana mereka menulis namanya dan mengeksistensikan dirinya?
Sebenarnya di tengah beribu masalah yang terjadi di Indonesia saat ini, bisakah
kita menulis nama kita di media yang sama dengan mereka sehingga nama kita
abadi dan layak dikenang sebagai pemuda pembawa perubahan dan kesejahteraan? Di
mana media itu?
Setiap
dari kita memiliki jawabannya masing-masing.
(ditulis di
Masjid Salman ITB selepas kajian mabit GSJN Oktober 2018)
Barakallah, in jumuah mubarak
BalasHapus