Sastra
belum utuh bila hanya tersimpan di folder document
dan hanya diri sendiri yang menjadi pembaca setia. Penerbitan sering luput
dibahas dalam kajian sastra, padahal keberadaannya sangat penting bagi
perkembangan sastra. Penerbitan itulah yang menentukan bagaimana sastra
“dipasarkan” kepada masyarakat dan sastra yang bagaimana saja yang layak
menjadi konsumsi massa. Strategi pemasaran dalam penerbitan merupakan hal
penting bergantung pada ideologi atau image
yang ingin dibangun oleh penerbit itu sendiri. Misalnya sebuah penerbit baru
yang akan dipaparkan dalam tulisan berikut ini.
“Waktu akan membuat kita lupa. Tapi yang kita tulis akan membantu
membuat kita ingat”
Begitu ditulis dalam salah satu bio Instagram penerbit buku garapan Pidi Baiq. Sudah familiar
dengan penerbit tersebut? Sepertinya banyak yang belum sebab penerbit ini baru
lahir di akhir 2016 lalu. Followers di
Instagram pun baru mencapai 16,7rb.
Masih jauh untuk menyaingi penerbit mayor yang familiar di telinga kita seperti
gramediabooks yang followers-nya sudah mencapai 106rb. Penerbit
yang dimaksud adalah The Panasdalam. Memang nama ini sudah besar lebih dulu
sebagai nama band yang juga digarap oleh Pidi Baiq. Kemudian melalui akun
twitternya @pidibaiq pada 20 November 2016 mengumumkan dimulainya The
Panasdalam Publishing yang bekerjasama
dengan Penerbit Mizan. Pidi Baiq juga mempersilakan pengikutnya untuk
mengirimkan naskah bukunya. Postingan tersebut dikirim ulang di akun Instagram @thepanasdalam_publishing yang
mengumumkan sedang membuka rekruitmen untuk penulis muda yang sudah memiliki
naskah rampung dan ingin diterbitkan di The Panasdalam.
Tidak berapa lama setelah pengumuman diresmikannya penerbit
The Panasdalam, muncul seorang tokoh selebritas yang tak asing. Prilly
Latuconsina diumumkan akan bekerja sama dengan The Panasdalam Publishing untuk menerbitkan buku
kumpulan puisinya yang berjudul 5 Detik
dan Rasa Rindu. Semenjak saat itu promosi besar-besaran dilakukan bahkan
sebelum bukunya rampung diterbitkan. Mereka memakai nama besar Prilly yang
memiliki followers 24,2juta itu agar
terus gencar memposting buku barunya di Instagram
pribadinya sehingga tak heran banyak followers
The Panasdalam Publishing adalah
pengaruh Prilly di samping pengaruh Pidi Baiq. Memang, di era revolusi industri 4.0 ini, brand diharuskan membangun image mereka pada dunia digital, terlebih pada platform yang
langsung terkait dengan konsumen, salah satunya Instagram. Penggunaan influencer
marketing atau dikenal sebagai KOL (Key
Opinion Leader) kian marak untuk mempromosikan sesuatu. Berdasarkan laporan
dari Allison+Partners Asia Influence Impact, November 2017, sebanyak 95% para
netizen yang sangat antusias dengan brand
tertentu ternyata mengikuti para KOL atau influencer marketing terkait dalam jejaring sosial mereka
(marketeers.com). KOL dapat lebih efektif dibandingkan iklan konvensional. Maka
dari itu brand harus selektif dalam
memilih influencer marketing-nya. The Panasdalam Publishing nampaknya
memilih influencer yang tepat. Prilly
dalam The Panasdalam Publishing ini tidak hanya berperan sebagai marketing influencer, ia jauh lebih
terhormat lagi berperan sebagai ‘produsen’ atau penulis dari penjualan buku di penerbit
ini.
Penjualan
buku 5 DETIK dan Rasa Rindu ini
terbilang cukup sukses. Buku pertama The Panasdalam Publishing ini 1 bulan terjual 15rb eksemplar, 1 tahun terjual 31rb
eksemplar, dan sempat masuk deretan buku terlaris. Namun, dengan penjualan yang
cukup fantastis di buku pertama The Panasdalam Publishing ini, apakah berbanding lurus dengan kefantastisan
puisi-puisi di dalamnya?
Saya
rasa tidak. Pasalnya, Prilly sendiri yang menyebutnya bahwa puisi-puisi dalam
buku ini adalah puisi yang instan. Tertulis di judul buku puisi ini, “5 Detik
dan Rasa Rindu” maksudnya hanya dengan 5 detik Prilly bisa menuangkan rasa
rindunya menjadi sebuah puisi. Kespontanan puisi-puisi itu juga yang membuat
isi puisinya sederhana dan tidak banyak memakai gaya bahasa yang rumit. Atau
kalaupun memakai gaya bahasa, perumpamaan yang dibuat Prilly bisa dimaknai
secepat lima detik juga setelah membacanya. Berbeda dengan karya-karya puisi
pada umumnya yang satu puisi pendek saja bisa direnungkan lama.
Ambil
saja contoh puisi “Rindu Membusuk” di halaman 118.
Jangan ke rumahku
Tak akan betah walau hanya singgah sebentar
Jika memaksa
Kamu kan dapati banyak peti disana,
Jangan kau buka!
Yang paling bau
Isinya Rindu (Prilly Latuconsina, “Rindu Membusuk”)
Prilly
menggunakan perumpamaan rindu sebagai makhluk hidup yang bisa membusuk.
Diperkuat dengan indra penglihatan dengan menggambarkan beberapa peti di dalam
rumahnya dan indra penciumannya dengan menjelaskan bau busuk dalam peti
tersebut. Secara singkat pembaca bisa menangkap inti yang ingin Prilly
sampaikan bahwa rindunya sudah lama mengendap dalam hatinya. Namun ada
kontradiksi kalimat di dalamnya yang awalnya menyuruh tidak membuka peti itu,
tapi malah dijelaskan apa isi di dalamnya.
Buku
pertama The Panasdalam Publishing ini
adalah buku instan dengan pemasaran gencar. Tapi tidak bisa dibilang salah
juga, sebab target pasarnya memang untuk remaja-remaja pada masanya. Dengan
memanfaatkan target pasar yang sudah ada yaitu fans-nya Prilly, The Panasdalam Publishing
meluncurkan buku selanjutnya dari Prilly. Kali ini berupa novel yang
berjudul Fatamorgana. Oktober lalu The Panasdalam Publishing membuat kiriman di Instagram tentang apa yang disuka dari
buku Fatamorgana. Ternyata beberapa
menjawab menyukai tokoh Gana, beberapa juga menjawab menyukai penulisnya.
Benarlah bahwa sosok penulis yang memiliki banyak fans sangat berpengaruh terhadap penjualan bukunya terlepas dari
isinya disukai atau tidak. Selanjutnya bila Fatamorgana
ini sesukses 5 Detik dan Rasa Rindu,
apakah The Panasdalam Publishing terus
mendukung Prilly segera menulis buku baru?
Mari
lupakan sejenak persoalan Prilly. Baru-baru ini nampaknya penerbit ini juga
sedang bekerja sama dengan artis lain untuk menulis. Ialah Aura Kasih yang
menulis bersama Faisal Syahreza. Aura
kasih juga memiliki banyak pengaruh karena pengikutnya juga sudah mencapai
8,4juta di Instagram. Namun, meski di
akun The Panasdalam Publishing dan di
akun Faisal Syahreza sudah diumumkan bahwa Aura Kasih tengah menjalani proses
kepenulisan, Aura Kasih belum terlihat mengumumkan apapun di Instagram
pribadinya. Dari sini bisa terlihat bagi The Panasdalam Publishing, yang penting pemasaran dulu, karya konkretnya menyusul.
Satu
hal terakhir yang cukup menarik perhatian yaitu kiriman oprec naskah yang sempat di-post
di Instagram akhir 2016 lalu
sudah dihapus. Kiriman itu sudah tidak ada lagi. Kiriman pertama di akun The
Panasdalam Publishing ini berganti
menjadi kiriman kerjasamanya dengan Prilly. Buku-buku selanjutnya yang
diterbitkan pun banyak dari penulis yang cukup punya nama seperti Pidi Baiq
sendiri, Aristavee (penulis populer di Wattpad), Kurnia Effendi, dan sebagainya—meskipun
promosinya tidak segencar buku-buku Prilly. Dengan dihapusnya kiriman oprec naskah dan fakta-fakta di atas, Apakah
berarti oprec naskah penulis pemula
(bukan selebritas) sudah tidak sesuai lagi dengan strategi pemasaran penerbit
ini?
Komentar
Posting Komentar