Langsung ke konten utama

Resensi Buku Puisi iaku Ari Kpin: BERBAGAI EKSPRESI UNTUK MENCINTAI

 
Judul: iaku, Buku Puisi
ISBN: 978-602-60309-3-1
Penulis: Ari Kpin
Penerbit: Rumput Merah
Tahun Terbit: 2018
Cetakan: Pertama, September 2018
Tebal Buku: 112 + iv halaman
Iaku. Ia dan aku melekat tanpa jarak. Barangkali itu yang hendak dimaknai oleh penulisnya, Ari Kpin. Ari Kpin adalah seorang pria kelahiran Garut yang bergelut di bidang musik dan sastra. Bukti kiprahnya di musik dan sastra adalah 11 album musikalisasi puisinya yang banyak dijadikan sumber dan media pembelajaran di berbagai sekolah di seluruh Indonesia. Puisi-puisi dan musikalisasi Ari Kpin pernah dijadikan bahan penelitian disertasi program doktor UGM. Berbagai tulisannya pun banyak dimuat di berbagai media seperti Majalah Pusat terbitan pertama, dalam RUMAH PERADABAN, Bunga Rampai Puisi, Cerpen & Esai Silaturahim Sastrawan Indonesia 2014 (Penerbit Padasan, cetakan pertama Agustus 2015), dan media lainnya.  Karya-karyanya di media cetak sastra kerap jadi perbincangan tim Penerbit Rumput Merah sehingga tim penerbit berniat untuk membukukan puisi-puisi Ari Kpin.
Kumpulan puisi Ari Kpin yang Penerbit Rumput Merah bukukan dalam satu buku iaku ini memuat sembilan puluh sembilan puisi dengan beragam tema. Ada yang mengangkat tema sosial politik seperti dalam puisi “Wakil Rakyat 1” ataupun tema asmara. Tema-tema asmara yang diangkat Ari Kpin dalam buku puisi ini disajikan dalam berbagai gaya pengungkapan. Ada puisi asmara yang diungkapkan dengan menyisipkan unsur-unsur lokal Sunda. Agaknya tempat kelahiran Ari Kpin berpengaruh banyak pada buku puisi ini sehingga nuansanya terasa berbeda. Unsur lokal Sunda dalam beberapa puisi dalam buku ini bisa mendekatkan penulis dengan pembacanya yang orang Sunda ketika mengekspresikan rasa seperti dalam puisi “Fragmen Nyamuk” halaman 5.
kemarin malam
tepat sebelum aku reup peureum
seekor nyamuk berbisik padaku:
“Malam ini
tak ada lagi seseorang yang merindukanmu
apalagi mencintai.
Maka akan kubiarkan kau tibra
sebab nadimu tak lagi mengandung cinta
hingga darahmu henteu matak uruy deui.
lalu ngiung-ngiung-ngiung
sang reungit pergi tanpa sempat kukepruk
menghilang seperti mimpi tentangmu, tentang rumah
tentang kanak-kanak berwajah kukau.
                                    (Ari Kpin, “Fragmen Nyamuk”)
            Ari Kpin pandai mengekspresikan kerinduan terhadap seseorang dengan cara sederhana yaitu dengan kosa kata bahasa Sunda yang nilai rasanya akan berbeda bila harus diganti menjadi bahasa Indonesia. Nilai rasa itulah yang dimanfaatkan Ari Kpin agar puisinya bisa lebih dekat dengan pembaca dan pembaca bisa merasakan perasaan cinta dan rindu dengan cara berbeda. Biasanya perasaan cinta dan rindu disampaikan dengan rasa haru, serius, manis dan romantis. Puisi ini disampaikan dengan memanfaatkan fragmen yang tidak begitu serius—yaitu ketika nyamuk datang, terasa lucu, tanpa meninggalkan kesan romantisnya. Namun, puisi ini cukup ironi sebab di tengah nilai rasa humor yang kental karena unsur lokalnya, makna kesedihannya begitu dalam. Bila orang jatuh cinta, biasanya seseorang lebih banyak terjaga. Hal itu disandingkan dengan kenyataan bahwa seseorang terjaga juga bisa karena banyak nyamuk yang mengganggu. Kesedihan dan patah hati digambarkan dalam puisi ini dengan memanfaatkan persamaan dua keadaan tersebut dan membalikkan situasinya. Tidur lelapnya akulirik karena tidak diganggu nyamuk menandakan sudah tidak ada nyamuk yang berselera dengan darah akulirik. Itu dikuatkan dengan dua bait terakhir.
…/menghilang seperti mimpi tentangmu, tentang rumah/tentang kanak-kanak berwajah kukau.//
            Pada akhirnya kepergian nyamuk sama dengan kepergian kaulirik yang sudah sama-sama tidak berselera dengan akulirik. Puisi ditutup dengan ungkapan akulirik yang menganggap kaulirik seperti “rumah” tempat pulang dengan kanak-kanak berwajah “kukau” (selayaknya aku dan kau).
            Nilai rasa menggelitik karena unsur lokalnya juga tampak dalam puisi “Aku Hanya Ingin Mengecup” halaman 7.
aku hanya ingin mengecup barusuhmu
bukan bibirmu
namun kau malah menggerimiskan kata-kata
meski muruhpuy tapi peureus
lalu aku nyiwit ceuli saeutik
sebab kulihat
hari gerimis masih ada poyannya
….
selain menyamarkan lekuk mulut
pun efektif menutupi bekas bibirnya di bibirmu.
                        (Ari Kpin, “Aku Hanya Ingin Mengecup”)
            Puisi “Aku Hanya Ingin Mengecup” adalah bentuk ekspresi cinta beserta kemirisannya dengan cara lain lagi. Bila orang ingin mengecup bibir orang yang dicintainya, akulirik lebih ingin mengecup barusuh-nya karena bibirnya sudah pernah dikecup oleh orang lain. Dalam puisi ini juga terlihat sisi humorisnya Ari Kpin yang cukup serius. Ia ingin menyajikan ironi bahwa bibirnya telah dikecup oleh orang lain, tapi sekaligus membuat pembaca tergelitik dengan bahasa Sundanya. Ada juga puisi “Kuseduh Senyummu” halaman 22 yang romantis juga menggelitik.
di penjara waktu
detik ogah ciling-cingcat
fotomu yang ngagantung kabaseuhan
tak biasanya kekejot jiga hayang diaplot
                        (Ari Kpin, “Kuseduh Senyummu”)
            Lewat beberapa puisi dalam buku Iaku ini, Ari Kpin berhasil mengoyak-ngoyak emosi pembacanya tidak dengan satu ekspresi rasa cinta. Sebuah kesedihan yang diekspresikan dengan sisipan unsur Sunda membuat kesedihan itu terasa lucu kemirisannya. Namun ironi, nilai rasa humornya itu untuk menunjukkan makna kesedihan dalam puisi-puisinya. Tapi ada juga cara berkespresi lain untuk mencintai salah satunya disajikan dalam judul puisi yang dijadikan judul buku iaku ini. Puisi “Iaku” ini berbeda dengan beberapa puisi yang telah diberikan contoh di atas. Puisi “Iaku” lebih serius dalam menggambarkan metaforanya.
di teras rumah
kucing tetangga singgah
meninggalkan penanda wilayah
baunya sampai ke goah
                        (Ari Kpin, “Iaku”)
            Penanda wilayah yang ditinggalkan kucing di teras rumah biasanya adalah kotorannya. Terdapat pengulangan bait ini yang dibedakan dengan perbedaan kucing yang singgah, jumlahnya, dan akibat dari kesinggahan kucing tersebut. Awalnya kucing tetangga, kemudian kucing tetangga lain, dan diakhiri dengan kucing-kucing tetangga. Artinya ada banyak kucing yang singgah dan meninggalkan kotoran di teras rumahnya. Teras rumah juga merupakan metafora dari permukaan luar tubuhnya yang kotoran itu baunya sampai ke goah (hatinya). Pada akhirnya polusi dari kucing itu bisa berdampak tidak hanya sampai ke goah (hatinya), tapi juga ke komplek sebelah (orang lain). Ari Kpin sungguh serius menggarap puisi “Iaku” ini dengan metafora dan kesabarannya menciptakan suasana atau wujud aku yang sulit dikenal lagi oleh akulirik. Kali ini ekspresi keputusasaan akulirik yang berusaha digambarkan tidak lagi dibumbui dengan unsur-unsur yang menggelitik, tapi digambarkan puitis dan cukup mencekam dengan suasana seorang yang kesepian. Pantaslah puisi “Iaku” yang akhirnya dijadikan judul kumpulan buku puisi ini.
            Buku puisi ini menyajikan berbagai ekspresi untuk mencintai tidak hanya dari satu sudut pandang romantis pada umumnya. Artinya, berbagai tema dengan berbagai ekspresi perasaan ada dalam buku ini. Namun sayangnya, penyusunannya belum rapi karena tidak ditentukan beberapa subtema yang bisa memudahkan pembaca menginterpretasi tema besarnya. Terlepas dari penyusunan, buku puisi ini tepat untuk dijadikan teman ngopi di sore hari.*** (Faridah Nur Azizah)
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.