“Waktu akan membuat kita lupa. Tapi tulisan akan membuat kita ingat,” begitu kira-kira kalimat dari Ayah PIdi Baiq sebagai biografi Instagram The Panas Dalam Publishing-nya.
Hari ini aku baru mengakui keabsahan dari kalimat itu. Aku sempat membaca tulisan temanku, Amel, yang isinya jurnal kejadian-kejadian kecil kami watu di SMP. Jujur saja aku banyak melupakan detailnya saat ini. Tapi setelah kubaca tulisan itu kembali, aku jadi tertawa snediri. Oh aku pernah melewati masa-masa indah ini. Menertawakan detail-detail lucu yang pernah kulalui bersama teman-temanku.
Saat itu aku menyadari betapa pentingnya menulis jurnal harian. Kalau dulu aku menulis di buku diary. Kalau sekarang sudah saatnya mengetik, bukan menulis tangan lagi. Karena dengan mengetik, tulisan bisa lebih banyak berkembang dan tidak terbatas dengan alasan pegal tangan hehe. Aku juga sempat membaca tulisan diary-ku yang kutulis sejak sebelum TK. Random sih isinya. Tapi membuatku geli sendiri. Lucu. Dan terharu. Benar-benar penting menulis itu ya. Meski saat ini mungkin kita menganggapnya sepele. Suatu saat, kita akan mencari tulisan kita sendiri sebagai penghargaan bagian dari proses tumbuh-kembangnya diri kita sendiri.
Ohiya, berbicara mengenai jejak keabadian berupa tulisan, aku sempat membayangkaan bagaimana kelak cucu moyangku mencari jejak nenek moyangnya seperti aku lewat tulisan. Wkwkwk. Abisnya, akhir-akhir ini aku harus menelaah naskah-naskah kuno zaman nenek moyangku. Aku mempelajari bahan naskahya, bahan tintanya, cara mereka menulis, sampai kandungan-kandungan atau materi apa saja yang mereka tulis. Dari situ, aku bisa belajar berbagai kebudayaan dan membayangkan bagaimana sejarah masa lalu berlangsung.
Aku takjub sekali. Ternyata, di zaman nenek moyang dulu, “teknologi” penulisannya lebih “canggih.” Bayangkan, tulisan yang ditulis berabad-abad lalu masih bisa bertahan hingga saat ini dengan tulisan yang masih sangat jelas tintanya dan kertasnya belum rusak. Pokoknya jejaknya masih abadi hingga saat ini. Bandingkan dengan kertas-kertas zaman sekarang yang sudah lebih banyak bahan kimianya yang justru membuat kertas tidak tahan lama. Aku pernah menyimpan tiket perjalanan kereta api sebagai kenang-kenangan perjalanan. Beberapa bulan kemudian, tulisan dalam kertas itu sudah hilang tak berbekas. Hanya tinggal kertas saja. Beberapa catatanku di buku tulis juga sudah lapuk, rusak kertasnya, luntur tintanya, hilang jejaknya. Sedih banget. Padahal umurnya belum ada satu abad.
Jadi di zaman yang katanya maju ini, justru dalam teknologi kertas nampaknya banyak kemunduran. Aku tidak bisa lagi banyak mengandalkan kertas-kertas putih yang banyak Clorin-nya itu untuk meninggalkan jejak abadi tulisanku. Maka kuharap media internet ini bisa lebih abadi dalam menyimpan jejak-jejak kehidupanku. Karena sebuah tulisan se-random apapun, akan merepresentasikan budaya pada masanya. Barangkali tulisan remehku bisa jadi bahan penelitian cucu moyangku seperti halnya aku yang sedang meneliti tulisan nenek moyangku wkwkwk.
Dengan keyakinan besar bahwa tidak ada tulisan remeh yang sia-sia, aku ingin lebih banyak menulis jurnal harian lagi. Baik itu pengalaman dengan bebagai hikmah, pengalaman sepele, kata-kata bijak, pemikiran-pemikiran selintas, pemikiran mendalam, atau apapun itu.
Kalau suatu saat anakku, cucuku, cicitku, cucu moyangku membaca tulisanku, semoga kalian bangga punya nenek moyang seperti aku. Wkwkwk. Dah ah.
Selamat berkaryaa kembali!
Komentar
Posting Komentar