Langsung ke konten utama

Tantangan Bandung-Tasik: 50K. Berhasil?


Hari Ahad lalu, 17 Februari 2019. Aku dan temanku—Azmi memutuskan untuk mengambil rezeki tiket Kereta  Api Galunggung yang sedang promo alias gratis. Rencana dan keputusan itu baru dibuat 2 hari sebelumnya. Waktu itu temanku membuat WA-story tentang perpanjangan tiket gratis KA Galunggung dengan caption kira-kira seperti ini, “Gaada yang mau ngajak aku gitu?” Lalu dengan isengnya kubalas, “Hayu laah gaaasss.” Kemudian obrolan kami berlanjut perihal komitmen dan keseriusan kami dalam melakukan perjalanan ini. Tadinya mau hari Sabtu, tapi tidak jadi karena saat kami membicarakannya itu sudah Jum’at sore dan aku masih banyak urusan ini-itu. Alhasil kami memutuskan untuk berangkat Ahad pagi saja.

Keputusan itu mungkin keputusan yang sembrono. Atau ibuku bilang, “Sa-endang Sa-enya” alias kalau mau saat itu ya harus segera terjadi padahal persiapan matang belum dilakukan. Aku tak ambil pusing. Masih ada waktu mempersiapkan semuanya. Meski ibu sudah mencercaku dengan berbagai pertanyaan. Aku masih selow aja.

Dalam percakapan dengan temanku, kami berkomitmen untuk mengeluarkan kocek tidak lebih dari 50k bagaimanapun keadaannya. Kalaupun harus mencari uang di perjalanan, mari kita lakukan! Malah, kuminta perjalanan ini takkan mengurangi uang bahkan menambah uang kita seperti halnya yang selalu dilakukan oleh keluarga Gen Halilintar setiap mereka travelling—mereka  berdagang. Jadi aja mereka kaya raya seperti sekarang. Oke skip.

Tantangan diterima. Mungkin niat kami belum mantep karena awalnya memang bermodal tiket gratis pulang pergi saja tanpa ada niat lain. Maka sebelum perjalanan direncanakan lebih jauh, kami berbenah untuk meluruskan niat dan mencari tujuan sesungguhnya dari perjalanan ini.

Ohiya, di obrolan WA, kami juga mencari saudara yang ada di Tasik untuk ditumpangi. Tapi ternyata kami sama-sama tidak memiliki saudara di Tasik. Tadinya kalau bisa menginap, kami berangkat hari Sabtu. Tapi karena tidak memungkinkan, jadi hari Ahad kami berangkat dengan konsekuensi harus pulang hari Ahad juga—mengingat kami harus kuliah senin pagi pukul 7.00.

Sampai H-1 pun kami belum memiliki tujuan konkrit atau tujuan secara “surface”. Kami belum fix menentukan tempat yang akan kami kunjungi meski beberapa pilihan sudah kami cari. Untungnya prinsip-prinsip perjalanan kami sama yaitu suka perjalanan yang menguji kesabaran wkwkwk (teu kitu oge sih). Intinya, dibanding keramaian alun-alun kota, kami lebih suka tempat sepi.

H-1 aku berangkat nyubuh ke UPI dengan nekat membawa dagangan moci dan kawan-kawannya yang harus langsung habis. Kalau tidak, moci akan langsung basi karena mocinya tanpa bahan pengawet. Aku cukup banyak membawa makanannya. Nekat sekali aku. Yaitu 7 box moci, 3 minuman, 1 cake, dan 5 keripik. Rincinya bisa kauperiksa di ig-story-ku wkwk. Menurut orang dan beberapa pedagang lain, barang daganganku sangat sedikit. Padahal menurut ukuranku, modal yang dikeluarkan sudah cukup banyak. Lebih dari target perjalanan ini malah.

Aku memanfaatkan peluang pasar di Sabtu pagi yaitu ketika pembukaan tutorial UPI sehingga banyak orang di sana. Prinsip bisnis: keramaian adalah pasar. Sebelum berangkat, ibuku malah mengajakku ke pasar dan ibu membelikan perbekalan roti satu kresek yang membuat aku tiba di UPI semakin telat. Orang jualan mah harusnya datang sepagi mungkin ya, ini aku tiba ketika pembukaan tutorial sudah berlangsung. Alhasil daganganku sepiiii.

Mungkin kesempatan bisa kuraih ketika mahasiswa pulang dari acara ini yaitu pukul 12.00. Tapi untuk menunggu dari pukul 7 sampai pukul 12 itu kan cukup lama. Aku menyibukkan diri dengan berbagai hal yang bisa kulakukan salah satunya nge-chat salah satu temenku—Yunita kalau aku sedang mencari ongkos ke Tasik.

“Ngapain ke Tasik?” tanyanya.

Oiyaiya, ngapain aku ke Tasik?
Sejak pertanyaan itu ditanyakan kepadaku, aku baru benar-benar menyusun rapi tujuan-tujuan aku pergi.

Aku ingin belajar banyak hal dari perjalanan. Perjalanan selalu membuatku berada pada kondisi dan keadaan baru yang membuatku belajar banyak hal. Sebenarnya tidak masalah tujuanku secara konkrit itu tempat apa yang akan kami kunjungi. Apapun yang menantiku di depan, kuakan sambut dengan syukur yang bahagia. Yang penting aku sudah memiliki tujuanku sesungguhnya dari perjalanan. Aku sadar kalau aku belum cukup kompeten dalam bersosialisasi. Maka dengan perjalananlah aku dipaksa bertemu dengan orang-orang baru dan di situlah aku belajar aplikasi menghadapi berbagai macam orang di perjalanan. Mungkin pembelajaran-pembelajaran itu sederhana bagi orang lain, tapi bagiku itu luar biasa. Ketika aku berhasil menghadapi berbagai karakter orang lain tanpa mempengaruhi kondisi hatiku sediri. Ketika aku berhasil menghadapi kondisi sulit tapi ternyata tidak mempengaruhi kondisi tentramnya hatiku sediri. Hal itu yang sedang dan akan terus menerus aku cari dalam diri: memiliki hati yang tentram bagaimanapun dunia berusaha menjatuhkanku.

Aku juga teringat dua ayat dalam Qur’an surat Al-Mulk (67) ayat 15 dan Qur’an surat Al-Ankabut (29) ayat 20.

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangitkan.

Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ayat-ayat itu menggelorakan semangatku untuk terus berjalan di muka bumi. Tujuan perjalanan kami ya hanya perjalanan itu sendiri dengan harapan mempelajari manusia dan seluruh alam semesta dari hikmah-hikmah yang bisa dipetik dari setiap kesulitan yang pasti segera dimudahkan oleh-Nya.

Bersambung..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa. 

MENJADI MUSLIM SEJATI

Menjadi muslim sejati bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani. Apalagi di zaman teknologi ini, selain bahayanya lidah tidak bertulang, juga sama berbahayanya jari yang tanpa kendali. Apa saja bisa dituliskan. Termasuk seorang muslim yang memilih dakwah dengan tulisan. Tapi hal yang seringkali luput dari pendakwah baru adalah adab dalam berdakwah itu sendiri.

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.