Langsung ke konten utama

Tantangan Bandung-Tasik: 50K. Berhasil? (Part 2)

Aku kembali menunggui daganganku sembari mengobrol dengan ibu pedagang di sebelahku. Ternyata beliau orang Tasik juga. Dan aku ditawari untuk menginap di rumahnya. Aku senang sekali. Tapi hari itu sudah hari Sabtu dan kembali pada komitmen bahwa Senin kami harus kuliah. Jadi tidak memungkinkan untuk menginap. Ibu itu ingin ikut ke Tasik, katanya. Tapi aku khawatir, sungguh khawatir. Aku belum tau medan perang seperti apa. Jadi aku takut membawa orang tua, takut banyak hal tak terduga terjadi di perjalanan yang mengecewakan ekspektasinya. Awalnya aku dan temanku juga mau membawa ibu kami, tapi aku tidak meng-iya-kan, takut-takut malah merepotkan orangtua bukan melayaninya dengan baik.

Siangnya, Alhamdulillah daganganku minimal bisa balik modal. Sisa makanannya kumakan sendiri agar tidak perlu jajan atau makan malam lagi.

Malamnya, bukannya menyelesaikan rencana perjalanan, kami malah membuat video promosi moci untuk Instagramku dari sisa dagangan tadi siang. Hal yang lebih menyenangkan bagiku hehe. Baru pas sebelum tidur, kami mulai serius menentukan tempat apa yang ingin kami kunjungi. Tempat terdekat dulu dari Stasiun Tasikmalaya yaitu Alun-alun Kota Tasikmalaya, Taman Kota, dan Karang Resik.
Subuhnya, kami berangkat dari kosan menuju Stasiun Kiaracondong pukul 04.00. Kami naik angkot biasa dan menghabiskan kocek 10k. Sampai di stasiun sekitar setengah 5 lewat dan yang mengantri tiket belum banyak. Jadi, mendapatkan tiket berangkat hari itu cukup mudah bagi kami. Kami pun menunggu keberangkatan kereta pukul 06.00.

Di perjalanan, aku lebih banyak tidur. Padahal yang semalam tidak tidur itu Azmi. Yaa anggap saja aku baik hati membayar hutang tidurnya. Kami tiba pukul 09.25. Sesuai saran temannya temanku, setibanya di Stasiun Tasikmalaya, kita dianjurkan untuk mengantri tiket pulang untuk sorenya. Akhirnya kami mengantri dan tidak menyangka antrian sudah begitu panjang dan menyesakkan. Stasiun Kiaracondong ternyata berbeda jauh dengan Stasiun Tasikmalaya. Tapi kami berusaha untuk beradaptasi sebaik mungkin. Kami bergantian mengantri. Dua jam antrian kami mungkin hanya maju beberapa senti. Kami mengantri dari pukul 09.30 hingga pukul 14.30 baru berhasil mendapat tiket pulang. Ya, kami menghabiskan waktu di Stasiun Tasikmalaya selama 5 jam untuk mengantri saja. Untung saja tidak jadi membawa orangtua kan. Aku takut mendengar banyak keluhan. Dengan menikmati antrian yang panjang di tengah terik matahari yang begitu menyengat, kami masih bisa tersenyum menikmti es krim Aice rasa semangka seharga 2ribu rupiah. Makan es krim manis malah membuat kami merasa semakin haus. Air bekal kami juga sudah menjadi air hangat akibat cuaca. Alhasil kami membeli air dingin seharga 5k untuk menyemangati kesabaran antrian ini.

Sampai di titik ini berarti kami sudah menghabiskan uang sebanyak 17k. Oiya, masalah makan pagi dan makan siang, kami sudah membawa cukup banyak perbekalan makanan dari rumah jadi tidak perlu jajan di sana. Amanlah.

Waktu sudah mendapat tiket, aku memutuskan untuk ke toilet. Tidak kusangka, aku haid. Padahal tidak ada tanda-tanda yang kurasakan seperti biasanya. Aku benar-benar kaget karena belum persiapan sebelumnya. Padahal selama aku mengantri 5 jam, aku tidak ada perasaan ingin marah-marah, lebih sensitif, atau bagaimana. Hari itu aku cukup sabar sebagai perempuan yang mengalami haid. Makanya aku kaget.

Mengetahui itu, aku menjadi tidak tenang. Masalahnya aku harus membersihkan diri tapi tidak membawa pakaian dalam bersih dan pembalut wanita. Karena memang segalanya serba mendadak. Tapi aku tidak mau ambil pusing dulu mengenai hal itu karena kami hanya memiliki waktu satu jam untuk menikmati Kota Tasikmalaya. Tidak mungkin kan aku pergi ke Gunung Galunggung atau pantai di Cipatujah?

Akhirnya kami memutuskan jalan ke alun-alun kota dekat sana. Kami menempuhnya hanyaa 5 menit. Sesuai yang kami inginkan, alun-alun ini sangat sepi. Mungkin karena mendung dan gerimis jadi sepi. Kami tidak peduli. Kami mencari spot foto terbaik di tengah hujan dan petir. Bahagia kami sesederhana itu. Bisa tertawa bersama di tengah alun-alun Kota Tasikmalaya yang sepi bersama hujan dan petir. Dengan kesulitan mengambil foto berdua. Mencari penopang agar HP bisa berdiri tegak untuk foto timer. Menegakkan payung agar hp yang sedang berdiri tidak kehujanan. Tidak masalah bila kami yang basah.

Kami berfoto di depan tugu Mak Eroh dan Abdul Rozak. Tugu di pusat kota tentu merepresentasikan kota tersebut. Aku belajar banyak hal hanya dari tugu dan relief-relief di alun-alun kota tersebut. Belakangan aku tahu cerita tentang Mak Eroh dan Abdul Rozak yang menjadi sosok pahlawan lingkungan hidup di Tasikmalaya pada masa orde baru itu.

Mak Eroh adalah seorang petani di Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Wanita yang saat itu berusia 51 tahun ini diuluki tangan besi karena mampu membuat irigasi pada gunung cadas selama 45 hari dengan alat belincong dan cangkul. Wanita keren!

Pada masa itu, pastilah bukan hal lumrah seorang wanita bekerja keras membuat irigasi. Ia mendapat berbagai cibiran. Tapi Mak Eroh tak putus asa dan berhasil membuat saluran air. Warga melihat keberhasilan tersebut dan turut membantu menyalurkan air lebih jauh 4,5km lagi ke persawahan sekitarnya. Perjuangan Mak Eroh hingga kini masih terasa manfaatnya. Lahan pertanian dan sawah sekitar daerah tersebut mendapat air dan bisa panen 3 kali dalam setahun. Wah keren!

Abdul Rozak juga sama-sama keren. Ia menerima penghargaan Kalpataru tahun ’87 dari Presiden Soeharto. Ia seorang petani di perbukitan, kampung Pesanggrahan, Kelurahan Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya. Ia pernah membuat terowongan pada sebuah bukit untuk mengalirkan air pada sawah warga. Ia berjuang membuat terowongan itu denga mengandalkan dananya sendiri di samping bantuan masyarakat. Tantangan justru datang dari istrinya yang minta cerai karena hartanya terlalu banyak dihabiskan untuk membuat terowongan ini.

Wah, wah, mendengar cerita ini, aku jadi teringat kata-kata Tan Malaka ketika menaggapi pertanyaan Adam Malik tentang kehidupan cintanya.

Pernah (jatuh cinta). Tiga kali malahan. Sekali di Belanda. Sekali di Filipina dan sekali lagi di Indonesia. Tapi semuanya itu katakanlah hanya cinta yang tidak sampai. Perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan.

Cowok semisal Tan Malaka dan Abdul Rozak ini nih yang keren. Fokusnya pada perjuangan dan kebermanfaatan. Meskipun harus mengorbankan kisah cintanya.

Awalnya kukira Mak Eroh dan Abdul Rozak ini suami istri. Kan aku sudah membayangkan romansa sepasang suami istri yang berjuang bersama menjadi pahlawan Tasikmalaya. Ya, itu haya idealismeku semata. Nyatanya yang terjadi banyak pahlawan yang harus memilih mengorbankan salah satunya. Tapi tidak ada yang tidak mungkin loh berjuang bersama pasangan ketika memang sebelumnya memilih pasangan yang memiliki satu visi fokus pandangan untuk mau berjuang bersama. Loh kok ke sini sih?

Oke kembali lagi ke Tasik ya. Setelah tugu itu, aku mengamati relief-relief di bawahnya. Di tugu utara ada relief yang menggambarkan pria dan wanita yang bekerja keras dengan otot-ototnya sambil memegang belicong. Juga ada relief yang menggambarkan alam priangan yang disinari matahari terang. Di sebelah selatan juga ada relief yang meggambarkan kelompok warga yang sedang membuat kerajinan payung geulis, membatik, dan kerajinan tangan lainnya. Kulihat juga ada relief sekelompok muslim yang sedang sholat berjamah diabadikan dalam relief tersebut. Keren. Seolah benar kota Tasik sedang memperkenalkan bahwa inilah Kota Pesantren yang identitas kesundaannya ditunjukkan dengan menjadi seorang muslim. Orang sunda akan aneh bila bukan seorang muslim. Karena muslim dan sunda sudah sangat melekat. Dengan relief ini juga menunjukkan upaya orang Tasik untuk tetap melestarikan kebiasaan dan budaya produktivitasnya sesuai dengan potensi masyarakatnya yaitu dengan kerajinan payung dan alat belincong untuk membantu produktivitas masyarakatnya.

Dengan satu jam kesempatan ini, aku mendapat berbagai pembelajaran yang barangkali suatu saat bisa berharga ketika dihubungkan dengan pengalaman-pengalamanku nantinya. Semoga ada hikmah yang lebih besar yang bisa kupetik. Aku merasa tidak ada konstruksi sosial dari ikon Tasikmalaya ini sebagaimana biasanya. Antara kesetaraan hak perempuan dan lelaki menjadi sama. Sama-sama memiliki kesempatan menjadi pahlawan untuk daerahnya masing-masing. Aku menjadi lebih bersemangat untuk berkarya meskipun sebagai perempuan!

Lupakan sejenak idelisme tersebut. Kami harus berlari menuju stasiun kembali agar tidak tertinggal kereta. Gawat kalau tertinggal. Akhirnya kami menaiki Kereta Api Pangandaran menuju Stasiun Bandung dengan fasilitas kelas eksekutif tanpa membayar sepeserpun.

Sebagai orang kampung yang gak pernah naik kereta api kelas eksekutif, aku sangat takjub dan melihat-lihat sekitar. Aku mempelajari setiap detail fasilitas yang ada. Barangkali ada banyak fasilitas tersembunyi yang tidak kutahu. Jadi aku memerhatikan kereta api ini dengan seksama dan membandingkannya dengan kereta api ekonomi yang kami naiki ketika berangkat. Sedikit banyak juga aku membandingkan dengan kereta api kelas premium yang pernah terpaksa kutumpangi bersama Yunita—kalau sempat nanti akan kuceritakan bagian terpaksa naik kereta premium ini.

Pokoknya di situ aku takjub sekaligus kedinginan karena AC lebih dingin dua kali lipat, ditambah keadaan baju dan kaos kaki kami yang basah akibat mencari spot foto terbaik di tugu Tasik tadi. Tapi aku tidak lelah mengamati sekitar. Aku mencoba memakai meja lipat yang ‘disembunyikan’ di dudukan tangan kursi kami. Dudukan tangan penyekat kami berdua juga ternyata bisa dilipat wkwkwk. Lalu ada dudukan kaki yang bisa kami atur ketinggiannya sesuai yang diinginkan. Juga ada lampu tidur agar tidur lebih nyenyak. Lalu gorden eksekutif juga lebih canggih dibanding gorden yang ekonomi. Kemudian tempat menyimpan tas juga berbeda. Apakah memiliki fungsi yang bebeda atau hanya materialnya saja dibuat lebih mahal? Apakah tempat menyimpan tas itu bisa berfungsi lain sebagai lemari pendingin minuman gitu seperti bus eksekutif yang pernah kutumpangi? Maaf atas ke-udikan ini tapi bagi yang tahu boleh komentar ya.

Kemudian aku sempat menggerutu perihal TV yang ada di depan tapi tak bisa kudengar suaranya. Padahal tayangannya nampak menarik sekali. Aku protes, “Ngapain ada TV kalau tidak bisa kudengar?

Kemudian aku melihat di kanan kursi orang-orang ada sebuah lubang kecil. Kuperhatikan ada gambar headset. Waah, baru kusadari itu tempat colokan headset agar kita bisa mendengar suara dari TV tanpa harus mengganggu orang lain yang tidak ingin mendengarkannya. Maaf ya aku udik L sayangnya saat itu kami tidak membwa headset jadi tidak bisa benar-benar mencoba fasilitas tersebut. Lain kali, we will!

Dari situ aku bisa mengambil hikmah bahwa barangkali segala yang kita rutuki, segala yang kita protes, amarah dan kekesalan kita, hanya karena kebodohan dan ketidaktahuan kita sendiri. Padahal ada manfaatnya, padahal ada fungsinya, padahal didesain sesuai kebutuhan dan kenyamanan kita, tapi kita saja yang tidak tahu letak kebaikannya di mana, tidak mencari tahu, atau belum sampai ilmunya. Barangkali hidup terasa tidak adil, padahal hidup selalu adil. Hanya kita sendiri saja yang belum tahu letak keadilannya di mana.

Sesampainya di Stasiun Bandung, aku sudah tidak nyaman dengan pakaianku yang serba anyep apalagi pakaian yang sudah banjir darah. Akhirnya aku menemukan al*amart di Stasiun Bandung dan terpaksa membeli pakaian dalam sekaligus pembalut wanita. Sudah seperti orang kaya saja membeli di supermarket. Terbuanglah uangku sebanyak 40k di detik-detik terakhir tantangan hari itu. Untungnya pulang ke kosan dibayari g*ab dengan o*o oleh ibunya Azmi. Alhamdulillah. Jadi total hari itu aku menghabiskan 57k.

Dengan 57k Bandung-Tasik di tanggal 17 Februari 2019 kamu bisa mendaptakan apa saja?

Ongkos Ledeng-Stasiun Kiara Condong, es krim Aice, sebuah botol mineral, pakaian dalam dan pembalut wanita. Hehehehe.

Tantangan Bandung-Tasik 50K. Berhasil tidak ya?


Tergantung cara hitung-hitungannya bagaimana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa. 

MENJADI MUSLIM SEJATI

Menjadi muslim sejati bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani. Apalagi di zaman teknologi ini, selain bahayanya lidah tidak bertulang, juga sama berbahayanya jari yang tanpa kendali. Apa saja bisa dituliskan. Termasuk seorang muslim yang memilih dakwah dengan tulisan. Tapi hal yang seringkali luput dari pendakwah baru adalah adab dalam berdakwah itu sendiri.

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.