Pernahkah
kamu merasa bahwa dunia diciptakan hanya untuk orang-orang ekstrovert?
Ada yang pernah merasa demikian—mungkin kamu introvert, ada
pula yang tidak—mungkin kamu ekstrovert.
Tapi
itu realitas yang tidak bisa dipisahkan. Ketika seorang introvert memilih
mengisi energi dengan berdiam diri, kemudian orang-orang membicarakannya “sombong” atau bahkan “anti sosial lu!” Kemudian banyak introvert yang tidak nyaman dengan dirinya
sendiri. Selalu berusaha memenuhi ekspektasi orang lain yang haha-hihi
sana-sini. Seolah ada sistem yang mengharuskan seluruh manusia di dunia ini
untuk menjadi pribadi yang bersinar dan jadi pusat perhatian sebagaimana
ekstrovert menyukainya. Seolah menjadi pendiam sama halnya dengan antisosial. Padahal
aku adalah seorang pengamat sosial yang dalam, yang membuatku berpikir seribu
kali untuk mengambil bagian dalam masyarakat. Apakah kehadiranku akan
mengacaukan keseimbangan atau justru membantu?
Perkenalkan, aku seorang introvert. Aku sering berusaha menjadi ekstrovert. Aku ingin diterima oleh sosialku sehingga aku butuh energi berdiam diri yang cukup banyak sebelum memutuskan bertemu dengan orang banyak—apalagi orang baru. Aku ingin diterima bukan semata-mata hanya ingin diterima, tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk mencapai keseimbangan di seluruh alam semesta.
Perkenalkan, aku seorang introvert. Aku sering berusaha menjadi ekstrovert. Aku ingin diterima oleh sosialku sehingga aku butuh energi berdiam diri yang cukup banyak sebelum memutuskan bertemu dengan orang banyak—apalagi orang baru. Aku ingin diterima bukan semata-mata hanya ingin diterima, tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk mencapai keseimbangan di seluruh alam semesta.
Tapi
keseimbangan itu nampaknya mustahil kulakukan dengan tanganku sendiri. Sebab
aku masih sering bergelut dengan diriku
sendiri. Diriku sendiri saja masih tidak seimbang. Dan keresahan-keresahan di
luar diriku juga membuatku semakin tidak seimbang. Aku bisa menangis tiba-tiba
ketika melihat berita atau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku bisa tiba-tiba
bahagia dan excited bertemu dengan
seseorang. Setelahnya aku bisa sekejap berubah menjadi seorang yang sangat
pemurung. Aku sempat berpikir, apa aku ini bipolar?
Terlalu
banyak perubahan emosiku. Terjun bebas. Kemudian bangkit terbang lagi. Sampai
permasalahan-permasalahan dari dalam itu terlalu kompleks. Aku menyakiti diriku
sendiri. Aku seolah memiliki seorang teman yang menemaniku ke mana-mana, tapi
temanku itu selalu mengejekku. Payahnya, temanku itu adalah aku sendiri. Sedang
teman-teman di sekelilingku adalah teman yang baik, yang memandangku “hebat”, mengira aku seorang ekstrovert
yang mengisi energi dengan bersosialisasi. Meskipun begitu, di lingkungan lain
aku dipandang dengan orang yang berbeda. Aku sering dibilang “cengeng” sebab menangis karena hal-hal
yang menurut mereka sepele. “Ah lebay lu!”
Apapun hal sepele menurut orang lain, aku selalu memandangnya besar. Aku selalu
bisa melihat masalah filosofis dibalik masalah permukaan yang terlihat
kebanyakan orang. Aku bisa dikenal sebagai orang yang terbuka dan menyenangkan
atau tertutup dan pendiam tergantung lingkungan. Dulu aku sempat mengamini
kedua kepribadian itu. Makanya aku membuat nama lain “Wiwi Jingga”. Wiwi adalah
seorang yang ceria sebab kau akan memanggilku berakhir dengan senyuman huruf “I”, sedang Faridah adalah seorang yang
lebih serius dan formal.
Aku seroang
introvert intuitif. Aku suka menyelami pikiranku sendiri. Tapi seiring
penyelamanku, aku malah sering tenggelam dan tak tertolong. Toh, orang tahunya
aku sedang menyelami pikiran. Kalau tiba-tiba aku tenggelam karena kehilangan kontrol,
tak ada yang tahu juga. Dari situ aku sering merasa terasing dan tidak cocok
untuk berada di kutub manapun. Maka aku sering memilih untuk menyesuaikan saja
apa yang dunia harapkan terhadapku. Meskipun itu melelahkan dan menghabiskan
energiku.
Aku sering
mengamati pola-pola perilaku manusia sampai aku sering tiba-tiba tahu
informasi-informasi tentang mereka tanpa perlu mereka beri tahu. Mereka sering
terkejut kepadaku yang bisa menelusup ke “dark
side”nya mereka seolah-olah aku telah meramalnya. Aku sungguh bukan peramal.
Penilaianku juga sering salah. Tapi ada suatu intuisi yang sering tepat sasaran
yang bisa membuatku mengetahui pola-pola apa saja yang akan terjadi bila aku
menjalin hubungan dengan orang yang baru kutemui tersebut. Aneh memang. Aku juga
bingung ini kemampuan atau keanehan.
Ada lagi
hal aneh lainnya, yaitu aku memiliki sesuatu yang membuatku cukup sering lelah.
Apa ya, seperti roller coaster
perasaan? Padahal sedang tidak ada masalah besar yang terjadi padaku. Aku bingung
bagaimana menjelaskannya. Belakangan aku tahu, bahwa aku bisa menyerap emosi
sekitar. Benar saja. Setelah kureka ulang, aku memang tidak bisa menghindar
bahwa aku selalu berusaha menyelami kejiwaan orang lain. Aku terlalu peduli dan
sering menyelami psikologi orang lain hingga aku lupa akan jiwaku sendiri. Aku
merasa aku ini nol. Semua hanya tentang orang-orang yang kucintai.
Seiring
berjalannya waktu, aku sadar aku keliru. Aku keliru bahwa dunia hanya
diciptakan untuk orang-orang ekstrovert. Dunia membutuhkan orang-orang yang
bekerja di balik layar panggung juga. Bila semua orang berdiri di depan
panggung, panggung bisa runtuh. Tapi bila satu persatu orang dibalik panggung
itu disuruh maju, tidak masalah. Itu bisa dikondisikan. Begitu kupikir
seharusnya dunia bekerja.
Kubilang
aku sering tenggelam dan tak tertolong di dalam pikiranku sendiri sehingga
membuatku selalu menyakiti diriku sendiri. Tapi kegagalan menyelami pikiran
yang berulang kali itu membuat aku terus belajar memahami lautan pikiranku. Bagaimana
seharusnya aku menyelam?
Setelah
aku mengetahui betul seluk-beluk lautan pikiranku, aku mulai berbenah
segalanya. Kuuraikan benang-benang kusut dalam pikiran. Kubenarkan hinaan-hinaan
kekurangan, lalu menamparnya dengan ikan-ikan potensi yang Allah berikan. Kuakui semuanya. Termasuk aku yang selalu
melihat orang lebih superior dariku. Termasuk aku yang selalu menganggap diriku
nol dan tidak ada. Yang ada hanyalah orang lain dan orang lain. Kuakui semuanya.
Semuanya. Aku mengetahui lebih banyak kekuranganku dibanding kelebihanku. Dan mengetahui
lebih banyak kelebihan orang lain dibanding kekurangannya. Seolah setiap orang
yang kutemui adalah superman yang
membuatku berdecak kagum. Dan tanpa sadar kukerdilkan diriku sendiri. Saat itu
terjadi, aku tahu, aku selalu menghujam diri sendiri dengan kalimat, “Mereka semua manusia biasa, Wi, sama
sepertimu. Perlakukan mereka sebagai manusia. Manusiakanlah manusia, Wi.”
Ah, ini
mungkin baru sepersekian dari kompleksitas diriku. Tapi aku hanya ingin sedikit
berbagi sesuatu yang relatif ini. Aku cuma ingin dipandang sebagai seorang
manusia. Bila kelak mereka membaca ini, kuharap mereka mau mamahami bahwa meski
aku sering tak bisa menahan air mata, “cengeng”ku
tak seremeh itu, itu hanya bagian dari kompleksitas pikiran yang sulit kubendung.
Aku harap mereka kelak bersyukur memilikiku meski dengan beribu kekuranganku
ini. Aku harap aku bisa lebih mencintai diriku sendiri sebelum mencintai orang
lain. Sebab pasangan yang mengerti dan menemani proses langkah kakiku sampai detik
ini adalah diriku sendiri.
“Kamu keren, tapi aku belum mencintaimu. Tunggu
ya, sampai aku bisa mencintaiku dulu. Agar ketika aku mencintaimu, aku tidak
perlu menyakitiku. Apalagi menyakitimu.”
-faridahnuraz/Wiwi Jingga yang sedang mengembarai diri sendiri-
Komentar
Posting Komentar