Langsung ke konten utama

Mengupas Buah "Fiksi" Rocky Gerung

Kitab suci adalah fiksi”(Rocky Gerung, 2018).
            Begitulah kalimat Rocky Gerung yang banyak menuai pro dan kontra sejak sepuluh bulan lalu hingga saat ini. Dalam kasus ini, diperlukan konteks yang utuh untuk memahami dan menilai sebuah tuturan bahasa sehingga data-data yang mendukung haruslah berupa kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya beserta konteks situasi tuturannya. Leech (1993, hlm. 19) membagi aspek situasi tutur menjadi lima bagian yaitu (1) penutur dan lawan tutur; (2) konteks tuturan; (3) tindak tutur sebagai bentuk tindakan; (4) tujuan tuturan; dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Dari teori tersebut dapat terlihat bahwa adanya konflik pro dan kontra disebabkan oleh ketidaksinkronan beberapa aspek dalam situasi tuturan Rocky Gerung tersebut.
            Pertama, adanya ketidaksepakatan bahasa antara penutur dan lawan tutur. Salah satu ciri bahasa adalah konvensional yang artinya disepakati bersama. Kata “fiksi” yang dituturkan oleh Rocky Gerung belum disepakati definisi yang dimaksudkan penutur (Rocky Gerung) dengan lawan tuturnya. Kesepakatan itu diupayakan oleh Rocky Gerung dengan tuturan penjelasan setelahnya mengenai maksud “fiksi” yang berbeda dengan “fiktif”. Menurutnya, fiksi diambil definisi dari fungsinya yaitu untuk mengaktifkan imajinasi yang artinya “belum selesai” (masih terus berlanjut menuju sampai). Sedangkan “fiktif” barulah artinya bohong. Tuturan memang sangat terikat dengan penuturnya. Sehingga tidak bisa dipaksakan benar dan salahnya tuturan bila memaksakan dengan definisi pengamat atau definisi KBBI. Karena definisi KBBI juga berdasarkan definisi konvensi umum. Bila Rocky Gerung memiliki definisi lain yang lebih filosofis tapi belum disepakati, maka itu tinggal masalah lawan tuturnya hendak bersepakat atau tidak. Sayangnya, lawan tuturnya memilih untuk tidak menyepakati definisi yang dimaksudkan Rocky Gerung. Hal itu karena ia menuturkan definisi filosofis tersebut di forum hiburan televisi bukan di kelas filsafat Universitas Indonesia.
            Kedua, konteks tuturan. Sudah jelas bahwa ada perbedaan konteks tuturan makna “fiksi” dari Rocky Gerung dengan lawan tuturnya. Menurutnya, Rocky Gerung hanya jengkel dengan makna peyorasi yang diberikan kepada kata “fiksi” sehingga orang-orang anti dengan “fiksi” seolah itu bersebrangan dengan “fakta”. Padahal “fiksi” lawan katanya adalah “realitas” bukan “fakta”. Pemikirannya lebih jauh lagi—yang bisa dimaklumi karena ia seorang filsuf, fiksi yang mengaktifkan imajinasi itu adalah proses menuju “sampai” yang artinya itu baik. Sebagaimana sastra yang baik adalah yang tidak membatasi imajinasi—selalu masih ada proses menuju sampai. Kemudian hal itu ditanggapi oleh Felix Siaw dalam video Youtube bahwa fiksi adalah ranah manusia sedangkan kitab suci itu adalah ranah Allah. Menurutnya, tidak boleh menurunkan derajat kalamullah menjadi sejajar dengan ranahnya manusia. Dan tidak semua isi kitab suci itu adalah sesuatu hal yang belum sampai seperti surga dan neraka, kitab suci juga berisi kisah-kisah terdahulu yang pasti sudah terjadi sehingga tidak bisa dikatakan fiksi.
            Melihat percekcokan tersebut, ada ketidaksinkronan lagi antara premis yang diajukan Rocky Gerung dengan komentar Felix Siaw. Pasalnya, Rocky Gerung tidak menyebutkan nama kitab sucinya sehingga tidak ada bayangan konkret kitab suci tersebut. Kemudian mengenai kitab suci tidak hanya berisi surga dan neraka yang belum bisa dibuktikan saat ini, tetapi juga berisi kisah-kisah terdahulu, itu adalah premis benar yang sebenarnya tidak berkaitan dengan maksud premis yang dikomentari. Sebab yang dimaksud “fiksi” menurut Rocky Gerung adalah fungsi fiksi yang untuk mengaktifkan imajinasi. Bahkan kisah-kisah terdahulu yang sudah pasti terjadi juga mengaktifkan imajinasi. Meskipun ada beberapa hal yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa ada yang tidak boleh kita bayangkan atau apa yang kita bayangkan kenyaataannya lebih dari itu—nalar kita yang tidak akan sampai membayangkannya. Tetap saja tidak berimajinasi atau membayangkan kosong adalah imajinasi/bayangan itu sendiri.
            Ketiga, tindak tutur sebagai bentuk tindakan. Dalam konteks kalimat tersebut, bisa dikaji sebenarnya apa bentuk tindakannya. Tindakannya adalah memberikan informasi dari kumpulan pengalaman dan pengetahuan penutur bahwa kitab suci adalah “fiksi” yang merupakan kata benda, bukan kata sifat. Tidak bisa disamakan premis tersebut dengan premis “Fulan adalah bodoh.” yang kalimatnya terdengar merendahkan. Sebab “kitab suci” tidak merujuk pada benda apapun alias tidak spesifik. Sedangkan Fulan langsung spesifik merujuk pada nama seseorang. Bila yang terlontar “fiktif”, baru bisa disandingkan dengan “bodoh” untuk menghakimi bahwa itu bentuk merendahkan kitab suci.
            Memang dalam ranah nasihat dengan pemikiran seharusnya diambil dua sikap yang berbeda. Bila kalimat itu bentuknya nasihat, lihat apa isinya bukan siapa yang menyampaikannya. Tapi bila kalimat itu bentuknya pemikiran atau pernyataan seperti kasus ini, lihat siapa yang menyampaikannya sebelum lihat apa yang disampaikannya. Sebab bahasa itu dinamis dan arbitrer—manasuka. Apapun bentuk istilahnya, terserah, asal sebelumnya ada satu frekuensi bahasa yang sama antar penutur dengan berbagai latar belakangnya.
         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa. 

MENJADI MUSLIM SEJATI

Menjadi muslim sejati bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani. Apalagi di zaman teknologi ini, selain bahayanya lidah tidak bertulang, juga sama berbahayanya jari yang tanpa kendali. Apa saja bisa dituliskan. Termasuk seorang muslim yang memilih dakwah dengan tulisan. Tapi hal yang seringkali luput dari pendakwah baru adalah adab dalam berdakwah itu sendiri.

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.