Langsung ke konten utama

Day 1 Skripsi: Drama di Sebuah Kampung

                Pagi ini aku berusaha terus-menerus mensugesti diri untuk kembali bergerak produktif menjalankan apa yang sudah kurencanakan. Ya, dari dua hari yang lalu sebenarnya aku sudah seharusnya mencari data penelitian ini. Tapi karena alasan penyakit M ku kambuh, aku mengundur-ngundur waktu kemudian menyesal betapa dua hari terakhir aku sangat terlena. Tidak hanya karena M sih, tapi juga karena memang keadaanku sedang tidak baik dari segi fisik maupun segi mental.

                Hari ini aku tidak mau terlalu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekurangan. Ada banyak tanggung jawab yang harus segera diselesaikan. Meski dengan sangat slow motion, aku bersiap-siap berangkat mencari data ke kampung cingcin seorang diri.
                Ketika mau berangkat, ibu menawarkan untuk mengantarku sampai ke tujuan. Aku setuju. Ibu sebenarnya menawarkan untuk menungguiku sampai bertemu informan yang tepat. Tapi aku tahu penelitian lapangan dan mempelajari budaya setempat itu tidak mudah. Pasti ada saja kejadian yang tak terduga atau suatu kelelahan dan kehabisan energi bagi dua orang introvert seperti kami. Jadi daripada ibuku ikutan susah, biar aku saja yang payah. Aku menyuruh ibuku pulang duluan dan membiarkanku tertinggal di kampung yang tak kukenali itu seorang diri.
                Sebelumnya, aku mengalami dilema tentang topik penelitian ini.  Aku mendapatkan topik ini menarik dan disetujui oleh semua dosen sastra klasik. Mereka tertarik dan ingin tahu lebih dalam. Aku dilema karena tahu akan sesulit apa aku menjalankannya dan apa kemungkinan tantangan yang harus aku hadapi. Mungkin kesulitan ini tiap orang akan berbeda karena topik penelitian mau tidak mau bisa disesuaikan dengan karakter orang. Aku yang introvert ini bukannya tidak mau bersosialisasi, cuma aku butuh energi yang banyak dan mood yang baik agar pengambilan data bisa berlangsung mudah dan menyenangkan. Sedangkan penelitian skripsi pasti bukan sekali dua kali, bukan sehari dua hari. Kalau aku meneliti selama sebulan-dua bulan, maka kiranya aku butuh persiapan energi berapa lama?
                Dengan mempertimbangkan semuanya dan niat ingin selalu belajar mengenali diri sendiri dengan cara mengembarai kampung orang, aku mantap memilih topik yang penuh tantangan ini. Sebelumnya aku sudah pernah melakukan penelitian ini, tapi aku sadar ada beberapa kekeliruan yang kulakukan sebelumnya sehingga aku harus mengambil ulang data dengan metode baru. Dengan pertimbangan tersebut juga aku semakin mantap mengambil topik ini. Meski aku belum terjun ke lapangan kembali dan tidak tahu bagaimana kabar Abah Enjang sekarang—terakhir aku ke sana tahun 2017.
                Hari ini aku mencoba memulainya. Awal-awal aku kikuk. Aku terbiasa berjalan sendirian. Tapi jalan sendirian di suatu kampung rasanya berbeda dengan jalan sendirian di kota—karena tiap orang kampung bertanya kepadaku. Apalagi berjalan sendirian untuk sebuah penelitian—karena tiap orang juga harus kutanyai. Aku digusur sana-sini, disuruh ke sana ke mari. Dari mulai Abah Enjang, Mak Ios, Pak RT, Bu RW, Pak RW sebelah, Pak Jajang, tetangganya Bu RW, sampai mantan suaminya tetengganya Bu RW. Tapi pada akhirnya aku belum juga mendapatkan informan yang tepat. Padahal aku sudah seperti tikus lihai yang hapal seluk-beluk gorong-gorong gang kecil itu. Asli. Aku jadi ingat ketika SD aku tidak pernah takut tersesat di gang padahal aku tidak kenal sama sekali gang itu. Aku jalan aja terus dengan keyakinan nanti juga ada jalan keluar.
                Sebenarnya aku sudah memiliki satu informan yang pasti, tapi beliau lagi istirahat dan aku bilang nanti sore akan ke situ lagi sambil aku mencari narasumber lain. Berarti hari itu harusnya sampai sehabis Ashar aku masih di kampung itu.
                Hari sudah semakin siang. Kalau aku teruskan juga sepertinya akan percuma karena biasanya informanku seorang sepuh dan biasanya sepuh siang-siang lagi istirahat. Akhirnya aku mengikuti mereka untuk tidur siang di sebuah masjid. Sesungguhnya bertamu di kampung orang itu membuatku kikuk karena mau tidak mau harus selalu ramah dan menjelaskan tujuanku meskipun saat itu aku berada di masjid sepi dan sekadar ingin mencari tempat wudhu. Pasti saja ada yang tanya. Padahal aku lagi lelah dan ingin sendiri dulu gitu. Sebenarnya aku pernah mengalami pengalaman serupa waktu pulang ke kampung halaman di Purworejo, tapi di sana aku lebih sering jalan-jalan ke hutan dan sungai jadi tidak terlalu banyak orang harus kusapa. Aku juga pernah mengikuti Spectra yang mengharuskanku pandai bersosialisasi di masyarakat. Sejak saat itu aku mulai bisa membawa diri dan beradaptasi di masyarakat meskipun tetap beda ya (saat itu aku masih punya banyak teman yang bisa back up kekuranganku di masyarakat). Sekarang ini aku benar-benar sendiri membawa diri. Jadi pasti setiap warga hanya fokus tertuju kepadaku.
                Baiklah kembali ke masjid. Untungnya masjid itu memang sepi dan aku bisa istirahat dengan tenang. Tapi sayangnya aku malah tidur di lantai pojok karena malu kalau di karpet bisi ada warga kampung yang liat dari jendela. Aku udah kaya maling yg gamau ketawan gitu ya. Padahal ngga sih, aku cuma ingin istirahat sebentar dan merasa invisible.
                Setelah sejam setengah tidur di lantai, aku terbangun dan merasa ada yang tidak beres. Apa itu? Ya, perutku mengamuk lagi. Jadi sebenarnya tiga hari terakhir perutku sangat sensitif. Ia tidak bisa diberi asupan yang ekstrem atau tidak bisa “disenggol” sedikit. Nah, salahnya aku yang tidur di lantai membuat aku mudah masuk angin. Aku tetiba diare (lagi). Sensitif banget kan. Jadi perutku tuh suka tiba-tiba merasa mulas padahal ngga ingin buang air. Udah mah sensitif, PHP pula. Atau kadang ga kerasa ingin, malah keluar karena diare. Jadi mudah diare, tapi juga mudah sembelit gitu. Pokoknya pukul 14.38 itu keadaanku udah kacau banget. Keringat dingin, lemas, dan menahan buang air. Ada sih toilet, tapi nggak enak gitu kalau belum akrab sama tempatnya. Pokoknya ini sudah tidak benar kalau aku melanjutkan penelitian padahal kagok sih bentar lagi Ashar dan bisa coba lagi berkunjung ke rumah-rumah yang tadi lagi istirahat. Tapi apa daya takdir menyuruhku menyerah.
                Akhirnya aku meminta ibuku untuk menjemputku lagi di tempat yang sama, tapi di masjid sebelum tempat tadi. Di sebelah tempat tadi ibuku mengantar. Persis. Ibuku mengiyakan. Aku sibuk mondar-mandir menahan gejolak. Sampai aku tidak tahan lagi dan pergi ke toilet sana, tapi gagal. Iya, aku tidak sadar bahwa aku telah gagal (sedikit) dalam menahannya. Bagian ini tidak akan lebih kuperjelas karena nanti bisi bau.
                Mood-ku semakin kacau. Lalu aku pamitan kepada Abah yang tadi aku janjikan bahwa aku belum bisa melanjutkan hari ini dan meminta nomor kontaknya saja. Setelah itu aku berjalan pergi sedikit demi sedikit tidak jauh dari masjid itu.
                Sejam berlalu. Kok ibuku belum sampai? Perasaan jaraknya bila naik motor tidak sampai sejam. Aku mulai curiga. Ada apa? Aku mulai maju perlahan-lahan dan pandanganku tetap melihat ke tempat perjanjian kita. Di sebuah warung aku menunggu ibuku cukup lama. Hingga akhirnya aku tidak sabar lagi dan memilih terus maju. Aku menemukan ada sebuah masjid dan di dekatnya ada warung. Aku mulai curiga. Jangan-jangan….

(bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa. 

MENJADI MUSLIM SEJATI

Menjadi muslim sejati bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani. Apalagi di zaman teknologi ini, selain bahayanya lidah tidak bertulang, juga sama berbahayanya jari yang tanpa kendali. Apa saja bisa dituliskan. Termasuk seorang muslim yang memilih dakwah dengan tulisan. Tapi hal yang seringkali luput dari pendakwah baru adalah adab dalam berdakwah itu sendiri.

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.