Pagi
ini aku berusaha terus-menerus mensugesti diri untuk kembali bergerak produktif
menjalankan apa yang sudah kurencanakan. Ya, dari dua hari yang lalu sebenarnya
aku sudah seharusnya mencari data penelitian ini. Tapi karena alasan penyakit M
ku kambuh, aku mengundur-ngundur waktu kemudian menyesal betapa dua hari
terakhir aku sangat terlena. Tidak hanya karena M sih, tapi juga karena memang
keadaanku sedang tidak baik dari segi fisik maupun segi mental.
Hari ini
aku tidak mau terlalu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekurangan. Ada banyak
tanggung jawab yang harus segera diselesaikan. Meski dengan sangat slow motion,
aku bersiap-siap berangkat mencari data ke kampung cingcin seorang diri.
Ketika mau
berangkat, ibu menawarkan untuk mengantarku sampai ke tujuan. Aku setuju. Ibu sebenarnya
menawarkan untuk menungguiku sampai bertemu informan yang tepat. Tapi aku tahu
penelitian lapangan dan mempelajari budaya setempat itu tidak mudah. Pasti ada
saja kejadian yang tak terduga atau suatu kelelahan dan kehabisan energi bagi
dua orang introvert seperti kami. Jadi daripada ibuku ikutan susah, biar aku
saja yang payah. Aku menyuruh ibuku pulang duluan dan membiarkanku tertinggal
di kampung yang tak kukenali itu seorang diri.
Sebelumnya,
aku mengalami dilema tentang topik penelitian ini. Aku mendapatkan topik ini menarik dan
disetujui oleh semua dosen sastra klasik. Mereka tertarik dan ingin tahu lebih
dalam. Aku dilema karena tahu akan sesulit apa aku menjalankannya dan apa
kemungkinan tantangan yang harus aku hadapi. Mungkin kesulitan ini tiap orang
akan berbeda karena topik penelitian mau tidak mau bisa disesuaikan dengan
karakter orang. Aku yang introvert ini bukannya tidak mau bersosialisasi, cuma
aku butuh energi yang banyak dan mood
yang baik agar pengambilan data bisa berlangsung mudah dan menyenangkan. Sedangkan
penelitian skripsi pasti bukan sekali dua kali, bukan sehari dua hari. Kalau aku
meneliti selama sebulan-dua bulan, maka kiranya aku butuh persiapan energi
berapa lama?
Dengan mempertimbangkan
semuanya dan niat ingin selalu belajar mengenali diri sendiri dengan cara mengembarai
kampung orang, aku mantap memilih topik yang penuh tantangan ini. Sebelumnya aku
sudah pernah melakukan penelitian ini, tapi aku sadar ada beberapa kekeliruan
yang kulakukan sebelumnya sehingga aku harus mengambil ulang data dengan metode
baru. Dengan pertimbangan tersebut juga aku semakin mantap mengambil topik ini.
Meski aku belum terjun ke lapangan kembali dan tidak tahu bagaimana kabar Abah
Enjang sekarang—terakhir aku ke sana tahun 2017.
Hari ini
aku mencoba memulainya. Awal-awal aku kikuk. Aku terbiasa berjalan sendirian. Tapi
jalan sendirian di suatu kampung rasanya berbeda dengan jalan sendirian di kota—karena
tiap orang kampung bertanya kepadaku. Apalagi berjalan sendirian untuk sebuah
penelitian—karena tiap orang juga harus kutanyai. Aku digusur sana-sini,
disuruh ke sana ke mari. Dari mulai Abah Enjang, Mak Ios, Pak RT, Bu RW, Pak RW
sebelah, Pak Jajang, tetangganya Bu RW, sampai mantan suaminya tetengganya Bu
RW. Tapi pada akhirnya aku belum juga mendapatkan informan yang tepat. Padahal
aku sudah seperti tikus lihai yang hapal seluk-beluk gorong-gorong gang kecil
itu. Asli. Aku jadi ingat ketika SD aku tidak pernah takut tersesat di gang
padahal aku tidak kenal sama sekali gang itu. Aku jalan aja terus dengan
keyakinan nanti juga ada jalan keluar.
Sebenarnya
aku sudah memiliki satu informan yang pasti, tapi beliau lagi istirahat dan aku
bilang nanti sore akan ke situ lagi sambil aku mencari narasumber lain. Berarti
hari itu harusnya sampai sehabis Ashar aku masih di kampung itu.
Hari sudah
semakin siang. Kalau aku teruskan juga sepertinya akan percuma karena biasanya
informanku seorang sepuh dan biasanya sepuh siang-siang lagi istirahat. Akhirnya
aku mengikuti mereka untuk tidur siang di sebuah masjid. Sesungguhnya bertamu
di kampung orang itu membuatku kikuk karena mau tidak mau harus selalu ramah
dan menjelaskan tujuanku meskipun saat itu aku berada di masjid sepi dan
sekadar ingin mencari tempat wudhu. Pasti saja ada yang tanya. Padahal aku lagi
lelah dan ingin sendiri dulu gitu. Sebenarnya aku pernah mengalami pengalaman
serupa waktu pulang ke kampung halaman di Purworejo, tapi di sana aku lebih
sering jalan-jalan ke hutan dan sungai jadi tidak terlalu banyak orang harus
kusapa. Aku juga pernah mengikuti Spectra yang mengharuskanku pandai
bersosialisasi di masyarakat. Sejak saat itu aku mulai bisa membawa diri dan
beradaptasi di masyarakat meskipun tetap beda ya (saat itu aku masih punya
banyak teman yang bisa back up
kekuranganku di masyarakat). Sekarang ini aku benar-benar sendiri membawa diri.
Jadi pasti setiap warga hanya fokus tertuju kepadaku.
Baiklah
kembali ke masjid. Untungnya masjid itu memang sepi dan aku bisa istirahat
dengan tenang. Tapi sayangnya aku malah tidur di lantai pojok karena malu kalau
di karpet bisi ada warga kampung yang liat dari jendela. Aku udah kaya maling
yg gamau ketawan gitu ya. Padahal ngga sih, aku cuma ingin istirahat sebentar
dan merasa invisible.
Setelah
sejam setengah tidur di lantai, aku terbangun dan merasa ada yang tidak beres. Apa
itu? Ya, perutku mengamuk lagi. Jadi sebenarnya tiga hari terakhir perutku
sangat sensitif. Ia tidak bisa diberi asupan yang ekstrem atau tidak bisa “disenggol”
sedikit. Nah, salahnya aku yang tidur di lantai membuat aku mudah masuk angin. Aku
tetiba diare (lagi). Sensitif banget kan. Jadi perutku tuh suka tiba-tiba merasa
mulas padahal ngga ingin buang air. Udah mah sensitif, PHP pula. Atau kadang ga
kerasa ingin, malah keluar karena diare. Jadi mudah diare, tapi juga mudah
sembelit gitu. Pokoknya pukul 14.38 itu keadaanku udah kacau banget. Keringat dingin,
lemas, dan menahan buang air. Ada sih toilet, tapi nggak enak gitu kalau belum
akrab sama tempatnya. Pokoknya ini sudah tidak benar kalau aku melanjutkan
penelitian padahal kagok sih bentar
lagi Ashar dan bisa coba lagi berkunjung ke rumah-rumah yang tadi lagi
istirahat. Tapi apa daya takdir menyuruhku menyerah.
Akhirnya
aku meminta ibuku untuk menjemputku lagi di tempat yang sama, tapi di masjid
sebelum tempat tadi. Di sebelah tempat tadi ibuku mengantar. Persis. Ibuku mengiyakan.
Aku sibuk mondar-mandir menahan gejolak. Sampai aku tidak tahan lagi dan pergi
ke toilet sana, tapi gagal. Iya, aku tidak sadar bahwa aku telah gagal
(sedikit) dalam menahannya. Bagian ini tidak akan lebih kuperjelas karena nanti
bisi bau.
Mood-ku semakin kacau. Lalu aku pamitan
kepada Abah yang tadi aku janjikan bahwa aku belum bisa melanjutkan hari ini
dan meminta nomor kontaknya saja. Setelah itu aku berjalan pergi sedikit demi
sedikit tidak jauh dari masjid itu.
Sejam berlalu.
Kok ibuku belum sampai? Perasaan jaraknya bila naik motor tidak sampai sejam. Aku
mulai curiga. Ada apa? Aku mulai maju perlahan-lahan dan pandanganku tetap
melihat ke tempat perjanjian kita. Di sebuah warung aku menunggu ibuku cukup
lama. Hingga akhirnya aku tidak sabar lagi dan memilih terus maju. Aku menemukan
ada sebuah masjid dan di dekatnya ada warung. Aku mulai curiga. Jangan-jangan….
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar